Aku Wanita Simpanan

Aku Wanita Simpanan
14. Cinta


__ADS_3

Di taman...


Dafa tampak mulai bermain dengan anak-anak lainnya di taman. Dafa dengan cepat bisa akrab dengan anak seusianya. Mereka tengah bermain bola bersama.


Sementara Arka dan Alia, mereka berdua tengah melihat Dafa yang bermain dengan penuh keceriaan bersama dengan anak-anak lainnya dengan senyuman yang menghiasi wajah mereka.


"Dia bisa berbaur dengan mudah bersama anak-anak lainnya." ucap Alia dengan melihat kearah Dafa dan tersenyum.


"Iya sama seperti dia." Balas Arka dan juga tampak tersenyum.


Wajah Alia langsung berubah menjadi sedih. Dia tidak mengatakan apapun, tanpa berbicara dia langsung menjauh dari Arka.


'Dia itu pasti Nabila kan?' pikir Alia.


Arka langsung menatap Alia yang berjalan menjauh darinya.


'Arka kau seharusnya mengontrol ucapan mu. Tetap saja pada akhirnya kau malah membuat masalah. Alia pasti sudah melihat berita itu sekarang dan aku rasa, aku sudah membuatnya kesal.' ucap Arka dalam hati dan begitu kesal dengan dirinya sendiri.


Kemudian Arka juga menjadi sedih setelah melihat wajah Alia yang tampak sedih tadi.


"Papa aku mau ke pipis." Ucap Dafa dengan matanya yang menyipit.


Arka mengangguk lalu menggandeng tangan Dafa berjalan mendekat ke arah Alia.


"Alia, tetaplah di sini. Aku akan kembali beberapa menit lagi. Aku harus membawa Dafa ke toilet." Ucap Arka kepada Alia dan kemudian bergegas pergi ke toilet bersama dengan Dafa.


Sementara Alia sendiri hanya mendengar apa yang diucapkan Arka tapi dia tidak mengatakan apapun.


Alia lalu berjalan melihat sekeliling.


"Wow... mereka mengadakan barbeque di sini." Ucap Alia setelah melihat kearah sekumpulan keluarga yang tengah menikmati waktu mereka di taman itu.


"Iya, istriku masih hidup."


Tiba-tiba sebuah suara terdengar di telinga Alia. Itu adalah suara Arka dan Alia dapat mendengarnya dengan jelas. Alia lalu berbalik untuk melihat dan seketika dia langsung menjadi begitu terkejut.


Sebuah Billboard menayangkan video siaran langsung tentang Arka yang tengah berada di Rumah Sakit bersama dengan Nabila.


"Bagaimana mungkin ini bisa terjadi?" Ucap Alia dan tampak terkejut setelah melihat acara siaran langsung itu.


"Apalagi yang kau inginkan Dafa?" Tanya Arka.


Arka dan Dafa kembali dari toilet. Alia kemudian berbalik dan menjadi semakin kebingungan.


"Arka, apa yang terjadi sebenarnya?" Tanya Alia dengan ekspresi yang begitu serius.


"Apa maksudmu?" Tanya Arka dan kemudian melihat berita siaran langsung itu.


'Oh sial!' ucap Arka dalam hati dan kemudian tersenyum ke arah Alia.


"Itu bukanlah siaran langsung. Jangan pernah percaya kepada para pembawa berita." Ucap Arka dan kemudian menggendong Dafa. "Dan tentang Nabila...."


Arka hendak mengatakan sesuatu, tapi kemudian Alia menghentikan ucapannya dan berkata, "Ayo kita kembali ke rumah."


Alia berjalan menjauh dari Arka dan langsung menuju mobilnya dengan wajah yang sedih.


'Cintanya. Istri tercintanya juga sudah ada di sini. Aku seharusnya tidak masuk ke dalam kehidupan mereka. Akan lebih baik jika aku bercerai dengannya.' ucap Alia dalam hati dengan tersenyum, namun perasaannya begitu sedih dan hal itu tampak jelas di wajahnya.


Alia membuka pintu mobilnya dan duduk di kursi kemudi. Sementara Arka berada di belakangnya dan membuat Dafa duduk di bangku belakang. Arka melihat ke arah Alia dan merasa begitu sakit dalam hatinya setelah melihat Alia dengan ekspresinya yang seperti itu.


'Alia, kau adalah istriku dan kau akan menjadi satu-satunya istriku. Aku harap kau tidak akan pernah berpikir tentang merusak pernikahan kita apalagi sampai bercerai karena semua hal ini. Aku tidak akan membiarkanmu untuk meninggalkan aku. Kau adalah istriku.' ucap Arka dalam hati seraya melihat ke arah Alia.


Alia kemudian mengendarai mobilnya kembali ke kediaman mereka.


>>>>>>>>>>>>


Mereka akhirnya tiba di rumah. Alia langsung keluar dari dalam mobil dan masuk ke dalam rumah tanpa mengatakan apapun. Dia bahkan tidak melihat ke arah Arka.


"Papa, kenapa Mama terlihat marah?" Tanya Dafa kepada Arka saat Arka hendak mengeluarkan Dafa dari dalam mobil.


Arka lalu menurunkan Dafa ke tanah dan memegang tangan kecilnya.


"Mama tidak marah, Mama hanya kesal dengan Papamu ini." Ucap Arka dan tersenyum kepada Dafa seraya masuk ke dalam rumah.


'Bagaimana aku bisa menghadapinya jika seperti ini terus. Dia bahkan tidak mengatakan apapun. Dia juga tidak bertanya apapun padaku. Kebisuan ini sangat tidak baik, aku tidak suka.' ucap Arka dalam hati dan dia benar-benar dalam kebingungan.

__ADS_1


Sementara itu, Alia tengah duduk di tempat tidurnya. Dia tengah memikirkan tentang sesuatu, sehingga dia tidak menyadari bahwa Arka tengah masuk kedalam kamarnya. Arka lalu duduk disamping dirinya di atas tempat tidur dan melihat ke arah Alia.


" Alia...." Ucap Arka perlahan dan kemudian Alia melihat kearahnya dengan mata yang terkejut.


'Huh, kapan dia masuk ke dalam sini?' pikir Alia.


Mereka berdua saling melihat kearah mata masing-masing.


Tiba-tiba Alia mengingat tentang Nabila, dia pun langsung berdiri dan hendak pergi.


Namun Arka dengan cepat menghalanginya keluar.


"Kenapa kau begitu diam padaku?" Tanya Arka dengan memegang tangan Alia.


Alia tetap diam. Dia mencoba untuk melepaskan tangannya dari genggaman Arka.


"Aku tidak punya apapun untuk dikatakan padamu." Balas Alia dan menarik tangannya dengan penuh paksaan kemudian berjalan keluar dari dalam kamar.


Sementara Arka bangun dari atas tempat tidur dan dia tampak tidak senang.


"Bagaimana aku bisa menenangkan kemarahan mu itu?" Tanya Arka pada dirinya sendiri seraya melihat ke arah lantai.


>>>>>>>>>>>


Beberapa saat pun berlalu....


Alia tengah bermain bersama Dafa di ruangan bermain. Dafa tengah bermain dengan berbagai model mainannya.


"Mama.... Lihatlah, ini diberikan oleh Papa." Ucap Dafa dengan memegang sebuah mobil mainan di tangannya dan menunjukkannya pada Alia.


Alia tersenyum dan berkata, "Wow itu sangat keren."


"Tentu saja itu sangat keren, karena aku yang memberikannya." Ucap Arka dan tengah berjalan masuk ke dalam ruangan dengan senyuman mengembang di wajahnya.


Ekspresi di wajah Alia yang tadinya ceria langsung berubah menjadi marah. Dia mengusap kepala Dafa lembut dan berkata, "sayang bermainlah dulu ya, Mama harus melakukan sesuatu."


Setelah mengatakan hal itu, Alia lalu berdiri dan berjalan melewati pintu.


Arka mencoba untuk menghalangi langkah Alia, tapi Alia tidak menghiraukannya. Alia terus berjalan menuju lantai bawah. Arka pun bergegas untuk mengikuti dirinya.


'Bicara denganmu? Apalagi yang ingin kau perdengarkan kepadaku. Nabila mu itu sudah kembali dan itulah alasan kenapa kau begitu bahagia sejak kemarin. Tapi, apakah Dafa akan berhenti memanggilku sebagai Mama karena Mama kandungnya sudah kembali lagi?' ucap Alia dalam hati dan berjalan ke arah taman belakang rumah.


Alia duduk di sebuah bangku di sekitar taman dan sedikitpun dia tidak terganggu dengan hal lainnya. Dia tidak mengetahui apa yang harus dia lakukan selanjutnya. Tidak tahu bagaimana harus menghadapi situasi yang tengah dihadapinya saat ini. Alia menjadi begitu kebingungan, sedih, kacau, semua emosinya menjadi satu.


'Ibu mertua ku bilang bahwa Nabila memang sudah meninggal. Lalu kenapa dia bisa kembali saat ini? Sebenarnya apa yang sedang terjadi? Kalau memang Nabila masih hidup, lalu apa artinya aku disini? Arka selama ini tetap mencintai Nabila. Jadi, statusku saat ini, hanyalah istri kedua. Ya Tuhan, takdir macam apa ini?' pikiran Alia benar-benar kacau.


"Apa aku harus menelepon Ibu mertua ku dulu untuk menanyakan semua ini?" Ucap Alia pada dirinya sendiri.


Dari dalam rumah, Arka berjalan mendekat ke arah Alia dengan membawa sebuah gelas berisi jus jeruk di tangannya.


Arka mencoba untuk memberikan jus itu kepada Alia dan berkata, "Lihatlah, aku sudah membuatkan jus jeruk spesial untukmu. Minumlah dan katakan kepadaku, apakah kau menyukainya atau tidak?"


Alia melihat kearah Arka dengan wajah yang penuh kemarahan lalu dia mengambil gelas itu dari tangan Arka dengan kasar. Untuk beberapa detik, Arka merasa bahagia. Tapi kemudian dia menjadi sedih kembali ketika Alia menaruh gelas jus itu di atas meja dan berjalan menjauh dari dirinya.


Arka langsung memeluk Alia dari belakang. Hal itu malah membuat Alia menjadi semakin kesal.


"Apa yang kau lakukan?" Ucap Alia dengan suara yang terdengar begitu marah.


"Berhentilah menjadi marah padaku dan maafkan lah aku. Jangan abaikan aku, kumohon. Bicaralah denganku, marah lah kepadaku, tampar lah aku. Tapi jangan diam seperti ini. Kumohon... Aku tidak bisa melihatmu seperti ini..." Ucap Arka dengan suara yang terdengar sedih.


Arka menaruh kepalanya di pundak Alia dari belakang. Dia begitu frustrasi dengan menghadapi Alia yang mendiamkan dirinya terus menerus.


'Hei Arka, kau membuatku bingung. apa sebenarnya yang kau inginkan?' ucap Alia dalam hati dan merasakan rasa sakit yang dirasakan Arka.


Alia berbalik dan melihat kearah Arka dengan ekspresi yang begitu serius.


"Kau menjadi orang yang begitu egois." Ucap Alia dan perlahan mundur ke belakang.


"Aku bisa menjadi lebih egois dari yang kau pikirkan." Ucap Arka dan menarik Alia secara tiba-tiba kemudian mencium Alia tepat di bibirnya dengan penuh hasrat.


Alia pun menjadi semakin kesal. Dia mencoba untuk mendorong Arka. Tapi Arka memegang tangannya dengan begitu erat dan tidak membiarkan Alia untuk bisa lepas dari genggamannya.


'Jangan buat aku untuk membencimu Arka.' ucap Alia dalam hati dan kemudian air matanya jatuh lalu mendarat di pipi Arka.


Arka pun lantas melepaskan ciumannya dari bibir Alia dan tampak begitu terkejut setelah melihat air mata Alia.

__ADS_1


"Aku minta maaf." Ucap Arka dan mengusap air mata Alia dengan jemarinya.


Tapi yang terjadi, tiba-tiba Alia malah memeluknya dengan erat.


"Aku tidak bisa membencimu. Kenapa.... Kenapa aku tidak bisa membencimu?" Ucap Alia dengan keras seraya menangis.


Arka menjadi terkejut, dia sekaligus merasa bahagia. Tapi di saat yang bersamaan hatinya terasa berdenyut karena melihat air mata Alia. Dia kemudian mengusap punggung Alia dengan perlahan dan lembut.


"Aku sangat minta maaf Alia, dan bahkan jika kau membenciku, aku tidak akan membiarkan dirimu untuk meninggalkan aku." Ucap Arka dengan suara yang penuh dengan keseriusan.


Alia semakin menangis dan terisak bahkan pelukannya semakin erat pada Arka.


"Aku tidak bisa meninggalkanmu dan aku juga bahkan tidak bisa membencimu." Ucap Alia lagi dengan suaranya yang masih sesenggukan.


"Aku tahu bahwa kau mencintai aku." Ucap Arka dan memegang kedua tangan Alia.


"Siapa yang mengatakan bahwa aku mencintaimu hah?" Ucap Aliya dan melihat kearah Arka dengan bibir yang cemberut.


"Dari matamu, hatimu dan tubuhmu. Cinta itu bisa terlihat sangat jelas." Balas Arka kemudian mendekat kearah telinga Alia dan berbisik yang membuat Alia merona malu.


"Omong kosong... Aku tidak mencintaimu." Ucap Alia seraya mendorong Arka perlahan dengan wajahnya yang merona malu.


Arka tersenyum dan mengunci tubuh Alia dengan pelukannya.


"Aku ingin mengatakan kepadamu tentang sesuatu." Ucap Arka seraya mengusap wajah Alia.


Alia melihat ke arah Arka dengan wajah yang penuh keseriusan.


"Hal pertama adalah, aku mencintaimu dan yang kedua adalah Nabila yang ada di rumah sakit itu bukan lah istriku." Ucap Arka yang membuat Alia menjadi begitu terkejut.


Alia langsung mematung dan tidak bisa berkata apa-apa dengan pengakuan yang diucapkan Arka kepadanya. Semua itu terasa seperti Alia sudah ingin mendengarkan hal itu sejak saat lama. Wajah Alia langsung berubah cerah karena penuh kebahagiaan.


Alia hendak mengatakan sesuatu kepada Arka, tapi kemudian Dafa datang mendekati mereka seraya berteriak.


"Mama..... Papa...." Teriak Dafa.


'Dafa! Apa yang terjadi kepadanya? Oh ya Tuhan." ucap Alia dalam hati dan tampak begitu khawatir.


Alia dan Arka saling melihat satu sama lain dan menjadi khawatir. Mereka bergegas berlari mendekat kearah Dafa yang juga berlari mendekat ke arah mereka berdua. Dafa langsung memeluk Alia dengan erat begitu bertemu dengannya.


Alia kemudian bertanya kepada Dafa.


"Ada apa anakku sayang?" Tanya Alia.


"Iya, ada apa Dafa? Kenapa kau berteriak? Apakah kau baik-baik saja?" Arka berjongkok dan bertanya dengan ekspresi yang terlihat begitu khawatir.


Dafa tertawa kecil dan berkata, "berjanjilah dulu padaku."


"Janji?" Tanya Alia dengan wajah penuh kebingungan.


Dafa menganggukkan kepalanya dengan penuh kebahagiaan dan berkata, "kita pergi belanja."


Alia menghela napas lega bersamaan dengan Arka. Keduanya melihat satu sama lain dan kemudian melihat kearah Dafa dengan ekspresi yang serius.


"Lain kali jangan berteriak seperti itu lagi." Ucap mereka berdua secara bersamaan.


Wajah Dafa langsung berubah sedih.


"Kenapa?" Tanya Dafa dengan bibirnya yang mulai tampak menggantung dan bergetar.


Dafa mulai menangis dan berpikir bahwa kedua orangtuanya itu tengah marah kepadanya. Alia lantas memeluk Dafa dan berkata, "kenapa kau menangis sayang? Mama dan Papa tidak marah padamu. Kami hanya khawatir kepadamu sayang. Ucap Alia sementara Arka mengusap kepala Dafa.


Arka kemudian menggendong Dafa di lengannya dan bertanya kepada Dafa.


"Apakah kau ingin pergi berbelanja?"


Dafa tersenyum dan berkata, "Iya Pah."


Arka dan Dafa lalu saling bertengkar dengan beradu hidung mereka dengan gemas. Sementara Alia tengah menatap mereka berdua dengan senyuman di wajahnya.


'Dia begitu tampan dan senyumannya juga begitu indah dan dia.... dia... mengakui cintanya padaku.'


Ucap Alia dalam hati dan pipinya menjadi merah secara tiba-tiba.


Bersambung......

__ADS_1


__ADS_2