Aku Wanita Simpanan

Aku Wanita Simpanan
CINCIN BERLIAN


__ADS_3

Pagi-pagi sekali pak Haris sudah meninggalkan rumah karena ada urusan penting dikampung sebelah. Izzah tengah sibuk merapikan taman depan rumah, mencabuti rumput-rumput liar yang mulai mengganggu tanaman lain. Suara teriakan bu Novi memanggil namanya membuat Izzah kaget.


"Izzah.....Izzah.... cepat kemari." teriak bu Novi.


Dengan segera Izzah masuk ke dalam rumah.


"Ada apa bu?" tanya Izzah.


"Hei, mana cepat uang yang Ibu minta." ucap Ibu Novi.


"Izzah kan udah bilang dari kemarin bu, Izzah lagi gak pegang uang sekarang." jawabnya.


"Halaah bohong kamu." ucap Hani ikut-ikutan. "Eehh bu itu ambil aja cincin emas di jarinya, kan bisa ibu jual tuh." sambung Hani.


"Tapi bu..." ucap Izzah.


"Sudah sini serahin cincin kamu itu biar Ibu jual, kita lagi butuh uang buat bayar listrik." bentak bu Novi.


Izzah ragu memberikan cincinnya, karena cincin bertahtakan berlian itu pemberian dari Rayhan.


"Ayo cepat, sini serahin." ucap bu Novi.


"Iiihhh lama amat sih, tinggal lepas aja." ucap Hani sembari menarik paksa cincin di jari manis Izzah. Setelah berhasil Hani tersenyum penuh kemenangan lalu menyerahkan pada bu Novi.


"Tapi bu, tolong cincin itu jangan dijual ya, tolong ibu gadaikan saja. Biar nanti kalau Izzah udah pegang uang bisa Izza tebus." ucap Izzah.


"Iya terserah kamu aja, yang penting bisa jadi duit. Ya udah kalau gitu ibu sama Hani mau pergi dulu. Kamu cuci piring, bersih-bersih rumah yaa, dan itu sekalian setrikain baju-baju didalam keranjang itu." ucap bu Novi sambil menunjuk keranjang berisi tumpukan baju.


"Kerja yang baik ya Izzah, awas kalau sampai bajuku kusut gak bagus kamu setrika." ucap Hani.

__ADS_1


Bu Novi dan Hani melongos pergi sambil sesekali terdengar cekikikan.


"Kamu yang kuat ya nak." ucap Izzah sambil mengelus perutnya.


Bu Novi dan Hani segera menuju pegadaian yang ada di desa. Tak lama setelah mengambil nomor antrian cincin Izzah diperiksa petugas pegadaian lalu tak berselang lama nama bu Novi dipanggil kasir.


"Maaf bu Novi kami tidak bisa menerima cincin ini." ucap seorang kasir.


Bu Novi dan Hani saling pandang dengan raut wajah yang kaget.


"Loh loh kenapa kok gak bisa? Apa jangan-jangan emasnya palsu ya Bu." ucap Hani.


"Awas aja kamu Izzah, jadi malu-maluin gini." ucap bu Novi penuh emosi.


"Bukan begitu bu, masalahnya ini cincin berlian dan harganya ratusan juta bu." ucap kasir itu menjelaskan.


"Apa?" teriak Hani dan bu Novi bersamaan.


"Terus sekarang bagaimana bu?" tanya Hani.


"Gini aja mas, gimana kalau cincin ini tetap saja saya gadaikan tapi harganya mas yang atur." ucap bu Novi.


"Tapi bu bukan begitu prosedur nya." jawab kasir itu.


"Aduh mas tolong deh, bila perlu mas panggil aja bosnya mas biar kami yang bicara langsung." ucap bu Novi.


Kemudian kasir itu segera menemui pimpinan kantor pegadaian. Sementara Hani menarik ibunya menjauh dari meja kasir.


"Bu lebih baik kita jual aja yuk cincin itu. Ibu dengerkan tadi kasir itu bilang harganya ratusan juta." bujuk Hani.

__ADS_1


"Hani dengerin ibu ya, itu cincin berlian. Siapa yang sanggup beli cincin begitu dengan harga ratusan juta dikampung ini? Lagian kamu denger sendiri tadi si Izzah bilang jangan dijual, tapi digadaikan saja."


"Jadi ibu takut sama Izzah makanya sampai nurutin kata-katanya dia?"


"Aduh Hani bukan gitu, ibu cuma takut sama suaminya Izzah. Sepertinya dia orang penting dan kaya raya. Liat saja ngasih Izzah cincin ratusan juta terus nanti kalau dia pulang dari luar negeri terus nanya sama Izzah dimana cincinnya gimana? Ibu gak mau ambil resiko." ucap bu Novi panjang lebar.


"Ya udah deh, terserah ibu aja. Pokoknya yang penting kita dapat uang."


Kasir itu kembali memanggil bu Novi meminta untuk menemui pimpinannya didalam ruangan. Bu Novi dan Hani masuk ke dalam ruangan pimpinan kantor pegadaian. Setelah negosiasi yang alot akhirnya cincin Izzah dihargai senilai lima puluh juta.


"Gini bu Novi, uang ini adalah uang pribadi saya. Bukan milik pegadaian, karena cincin ini terlalu mahal. Jadi untuk surat menyuratnya akan berbeda dengan sistem pegadaian. Bu Novi harus segera mengembalikan uang saya dengan bunga sepuluh juta dalam satu bulan, jika tidak maka cincin ini akan menjadi milik saya."


"Ya pak, tenang aja kalau sampai satu bulan kedepan saya gak datang-datang buat mengembalikan uang bapak silahkan aja bapak ambil cincin itu." ucap bu Novi.


Setelah itu bu Novi membubuhkan tanda tangannya disebuah kertas yang merupakan surat gadai cincin Izzah. Setelah itu bu Novi dan Hani keluar dari kantor pegadaian dengan membawa uang sejumlah lima puluh juta, mereka segera menuju toko-toko perhiasan dan butik-butik yang ada di desa.


Setelah puas berbelanja bu Novi dan Hani berjalan pulang ke rumah.


"Wahhh keren banget hasilnya bu, aku posting yang ini di medsos. Atau yang ini aja, soalnya yang ini kelihatan banget kalung baru aku." ucap Hani yang sedari tadi sibuk ber-selfie.


"Terserah kamu aja." jawab bu Novi.


"Eeh bu gak nyangka ya cincinnya Izzah itu mahal juga, sampai kita bisa belanja sepuasnya gini." ucap Hani.


"Iya Han, ibu kira harganya cuma lima juta, gak taunya kita bisa dapat lima puluh juta. Wah rejeki nomplok kita. Tapi ingat jangan sampai ayah kamu tau." ucap bu Novi.


"Tenang aja bu. Awalnya aku sebel banget Izzah pulang lagi, tapi kalau dipikir-pikir enak juga ada dia, dia bisa kita suruh-suruh sekarang, gak kayak waktu dia datang sama wanita sangar itu." celetuk Hani.


"He'em kamu benar banget." balas bu Novi.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2