
Setelah selesai sarapan bersama semua keluarga, memilih untuk kembali ke kamarnya dengan alasan lelah dan ingin beristirahat. Begitu pula dengan Nabila.
Arka terlihat begitu perhatian terhadap wanita yang kini sudah menjadi isterinya itu. Dengan penuh perhatian, Arka mengajak Nabila menuju kamarnya. Sejak kejadian semalam, wajah Nabila terlihat begitu lelah, hingga membuat Arka merasa bersalah.
Dibaringkannya tubuh sang isteri diatas tempat tidur.
"Kamu istirahat aja ya, aku mau ngobrol-ngobrol sama Ayah, Kakek sama si Devan juga." Ucap Arka.
"Iya Mas." Balas Nabila.
Arka lalu menciumi kening isterinya itu, kemudian beranjak keluar kamarnya.
Sementara di kamar lain, Arsha tengah berdiri di depan cermin. Melihat pantulan bayangan dirinya yang mengenakan jilbab berwarna maroon.
Sejenak ia larut dalam pikirannya.
'Aku memang salah karena tidak memberikan hak Devan. Tapi jujur, aku belum sanggup, aku malu. Jangankan untuk melakukan hal itu, untuk melepas hijabku dihadapannya saja, aku tak mampu.'
Arsha menghembuskan nafasnya dengan berat.
"Sampai kapan aku harus seperti ini?"
Tiba-tiba saja dari belakang, Devan memeluk Arsha.
Arsha mematung, pandangannya lurus ke depan. Dari cermin, ia dapat melihat dengan jelas bahwa Devan tengah menatap pantulan dirinya lalu mengerlingkan mata.
"Van, lepasin." Ucap Arsha dengan detak jantung yang sudah tak karuan. "Malu, nanti dilihat orang." Lanjut Arsha.
"Orang yang mana? Pintu sudah aku tutup, jadi gak akan ada yang liat. Lagian, ngapain harus malu, kita kan udah halal. Noh, coba kamu lihat ayah dan ibu kamu, hubungan mereka awet dan langgeng sampai sekarang, karena mereka gak malu-malu mencurahkan kasih sayang mereka masing-masing. Nah, aku mau kita kayak gitu juga." Ucap Devan. "Itu juga, kamu tadi udah liatkan perlakuan Arka ke istrinya. Sepertinya mereka sudah...."
"Please Van, lepasin. Aku belum siap." Potong Arsha.
"Iya-iya, aku janji gak akan ngapa-ngapain sebelum kamu ikhlas." Ucap Devan seraya melepaskan pelukannya. "Tapi kalau hanya cium pipi, boleh 'kan?"
__ADS_1
Arsha tak mampu berkata, ia juga tak mampu bergerak. Diam mematung dengan wajah memanas dan jantung yang berdetak hebat.
***************************
Sore hari.....
Izzah, Arsha dan Nabila tengah sibuk untuk mempersiapkan makan malam mereka. Sedangkan para lelaki tengah mengobrol di taman samping rumah.
"Van, bagaimana keputusan kamu tentang tempat kau dan Arsha akan tinggal?" Tanya Arka.
"Arsha inginnya tinggal disini." Balas Devan.
"Tapi sebagai suami, kamu berhak membawanya kemanapun kamu mau." Ucap Rayhan ikut mengomentari obrolan anak dan juga menantunya itu.
"Nah itu dia, siapa tahu Devan teh tidak betah tinggal disini sama kita. Devan teh mau berdua-dua. Biar lebih mantap atuuh." Sambung Mang Diman.
Devan hanya tersenyum, lalu Rayhan menepuk pundak menantunya itu.
"Kamu sendiri yang tau apa yang nyaman buat kamu. Kalau kamu nyaman tinggal disini, ayah dan ibu sama sekali tidak akan keberatan. Tapi, kalau kamu sendiri ingin memboyong isteri kamu, ya tidak jadi masalah juga untuk ayah." Ucap Rayhan.
"Tinggal disini saja atuh, biar kita ramai-ramai disini." Ucap Mang Diman dibalas senyuman Devan.
Setelah selesai makan malam, Devan dan Arsha duduk berjarak di pinggiran kolam.
Devan mendekat, mengulurkan tangannya dan membelai lembut kepala Arsha yang tertutup jilbab hitam.
"Bakda Isya aku ada acara. Kamu tidur aja duluan. Jangan menunggu takutnya terlalu larut." Ucap Devan.
"Emangnya siapa yang mau nungguin kamu? Ge'er banget!" Balas Arsha sewot.
Bukannya marah, Devan malah tertawa. Refleks, dia mencubit pipi Arsha karena gemas.
"Aww. Sakit, Van!"
__ADS_1
"Ah. Maaf, sayang. Aku emang sengaja. Mana yang sakit? Sini aku elus-elus."
"Gak usah!"
"Ya sudah. Ini pipi aku, cubit balik nih. Biar impas." Devan menyodorkan pipinya mendekat ke wajah Arsha.
"Iiihh, gak usah!" Ucap Arsha seraya mendorong Devan agar menjauh.
"Gak papa. Nih, cubit aja."
"Aneh. Pengen dicubit kok maksa sih. Ya sudah sini aku cubit." Arsha kemudian mencubit keras pipi Devan.
"Aww. Sakit banget." Ucap Devan sambil memegang pipinya yang barusan di cubit Arsha.
"Kan maunya dicubit," jawab Arsha ketus.
"Iya sih. Gak papa. Aku 'kan kuat. Iya 'kan?" Devan berkata dengan tatapan yang menggoda.
Wajah Arsha yang semakin memerah itu, sengaja ia palingkan wajah agar tidak bersitatap dengan Devan.
"Aku beneran kuat loh. Mau tes kekuatan aku gak?"
"Kheemm.... Khemmm... Cie-cie yang sudah halal, mau tes kekuatan itu teh jangan disini atuh. Nanti diliat orang yang lewat. Di kamar kan bebas." Goda Mang Diman yang kebetulan melihat keduanya tengah duduk di piggiran kolam, lalu pergi lagi.
"Aaaahh Kakek." Teriak Arsha. "Udah deh Van, mending segera deh berangkat. Tuh adzan udah kedengeran."
"Iya, sayang. Aku pergi, ya. Sekalian mau ke mesjid dan dilangsung ke tempat acara yang tadi aku bilang. Paling pulang jam 10. Kamu gak apa-apa aku tinggal kan?"
"Gak papa," jawab Arsha. "Nanti hati-hati di jalan."
"Iya. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
__ADS_1
Terdengar langkah kaki menjauh dan Arsha pun kembali ke kamarnya.