Aku Wanita Simpanan

Aku Wanita Simpanan
7. Cemburu


__ADS_3

Pagi itu Sheila sudah pergi ke kampus dan dia tengah berdiri bersama Marissa di taman kampus. Tiba-tiba seorang laki-laki mendekati dirinya.


"Sheila, aku ingin mengatakan sesuatu kepadamu. Bisakah kau ikut denganku?" Ucap pria itu.


"Kau bisa mengatakannya disini." Balas Sheila.


"Emmm... Baiklah, aku ingin kau mengajariku perhitungan matematika. Tentu saja jika itu tidak mengganggu dirimu. Ngomong-ngomong namaku Kenzo."


"Tidak masalah, kita bisa menentukan waktunya nanti." Balas Sheila.


"Te... Terima kasih." Balas Kenzo gugup.


Saat itu Sheila merasa seseorang tengah memandangnya dengan tatapan mematikan dari arah belakang. Tapi itu bukanlah tatapan dari para gadis yang menyukai Dafa. Sheila menatap ke arah belakang dan melihat Dafa tengah menatap kearah Kenzo dan juga dirinya, seolah mereka berdua telah melakukan suatu kejahatan.


'Kenapa dia terus menatapku? Aku tidak melakukan apapun bukan.' ucap Sheila dalam hati.


Kenzo lalu pergi, sementara Sheila dan Marissa kembali melanjutkan obrolan mereka dengan duduk di sebuah bangku.


Sheila dan Marissa kemudian masuk ke dalam kelas. Jam kuliah dimulai, Sheila mulai fokus. Hingga jam kuliah usai, Sheila lalu keluar kelas bersama dengan Marissa.


Kenzo datang menghampiri Sheila dan memberikannya sebotol minuman.


"Aku baru dari kantin kampus. Ini untukmu. Aku masih ada kelas, setelah itu kau bisa mengajariku bukan?" Ucap Kenzo.


"Tentu saja." Balas Sheila.


Kenzo lalu pergi, sementara Sheila dan Marissa beranjak menuju kantin.


Saat Sheila hendak membuka botol minuman yang diberikan Kenzo, dari arah belakang Dafa tiba-tiba merampas botol minuman itu dan menumpahkan seluruh isinya ke dalam tong sampah.


"Hei... Apa yang kau lakukan?" Teriak Sheila.


Dafa tidak mengatakan apapun dan terus saja menumpahkan minuman itu hingga tak tersisa.


"Ada apa dengannya?" Tanya Marissa.


"Sudahlah." Balas Sheila.


Sheila tak mau memperpanjang masalah dengan Dafa dan memutuskan untuk pergi membeli minuman yang lainnya. Tapi Dafa lebih dulu memberikan sebuah botol minuman padanya dengan menaruhnya di tangan Sheila.


'Apa-apaan ini? Apakah dia sedang bercanda? Kenapa dia mengambil botol minumanku tadi dan membuangnya kalau pada akhirnya dia memberikan ku minuman yang lain? Apakah minuman ini beracun? Tapi tidak mungkin kan? Lalu kenapa dia melakukan ini?' pikir Sheila.


"Hmmmm.... Terima kasih, aku rasa." Ucap Sheila.


Dafa lalu melepaskan tangan Sheila kemudian pergi.


Setelah itu Sheila pergi ke perpustakaan untuk belajar matematika bersama Kenzo.


"Sekali lagi terima kasih Sheila!" Ucap Kenzo.


"Tidak masalah. Sekarang ayo belajar." Balas Sheila.


.....PAIN! YOU MADE ME A YOU MADE A BELIEVER! BELIEVER!!!.....


Seseorang memainkan musik dengan keras di dalam perpustakaan tapi tidak ada orang lain yang melakukan apapun.


'Apa itu? Biarkan aku melihat siapa orang bodoh itu.' pikir Sheila.


Sheila lantas mencari asal suara dan seperti yang dia pikirkan.


"DAFA!!! Apa yang kau lakukan?" Ucap Sheila.


Dafa tidak mendengarkan Sheila. Sheila pun mematikan musik Dafa.


"Kenapa kau mematikannya?" Ucap Dafa tampak marah.


"Kau tahu bahwa disini bukan tempat untuk ber'disko bukan?" Balas Sheila.


"Tidak, aku tidak tahu. Tapi aku akan tetap mendengarkan musik." Balas Dafa santai.


'Dia benar-benar sakit.' ucap Sheila dalam hati.


Sheila berbalik menatap Kenzo.


"Maafkan aku Kenzo, aku rasa hari ini kita tidak bisa belajar bersama." Ucap Sheila.


Sheila mulai mengambil barang-barangnya dan saat dia melihat ke arah Dafa, dia tengah menyeringai ke arah Kenzo.


'Eh, apakah dia marah pada Kenzo? Apa yang sudah Kenzo lakukan pada Dafa hingga membuatnya marah?' pikir Sheila.


Sheila lalu keluar dari perpustakaan.


Setelah jam perkuliahan selesai, keyla dan marissa memutuskan untuk keluar bersama mereka berjalan this jalanan yang dekat dengan area tempat berbelanja, dan jalanan itu begitu ramai oleh orang-orang.


"Sheila, apa kau tahu setelah ujian nanti akan ada sebuah pesta di kampus semua orang akan menggunakan gaun yang sangat indah dan akan ada barangnya ke makanan ayo kita mencari gaun terbaik kita." Ucap Marissa.


Sheila tidak suka hal-hal seperti itu. Dia memang berasal dari keluarga kaya, tapi dia tidak hidup seperti seorang putri. Orang tua Sheila tidak pernah memberikan dia terlalu banyak hal. Sheila sendiri sudah terbiasa hidup seperti gadis normal lainnya dan bagi Sheila, semuanya akan lebih baik seperti ini. Jika saja Sheila hidup seperti seorang putri, maka dia tidak akan sama dengan dirinya seperti saat ini.


"Kau bisa membeli gaunnya, tapi aku tidak." Balas Sheila.


"Kenapa tidak? Di sana ada banyak yang menjualnya. Dan ada banyak gaun yang sangat indah, yang bahkan membuatku ingin berteriak histeris." Ucap Marissa.


Marissa terlihat seperti gadis kecil yang melihat gaun Tuan Putri. Terlihat jelas dari matanya yang berbinar. Sheila ingin membantu Marissa untuk memilih gaunnya karena dia tidak memerlukan gaun baru. Dia sudah mempunyai gaunnya sendiri yang diberikan seseorang sebagai hadiah di rumahnya. Sheila tidak pernah menggunakannya karena dia tidak menyukai hal yang berbau pesta.


"Aku sudah punya gaun di rumah, jadi ayo kita lihat gaun yang sempurna untukmu sekarang." Ucap Sheila.


"Baiklah." Balas Marissa.


Mereka berdua memilih sebuah gaun berwarna pink yang sangat indah gaun itu sangat cocok untuk marissa mereka lalu keluar dari dalam toko pakaian dan keduanya bertemu dengan beberapa gadis dari kampus mereka.


Salah satu dari mereka berkata kau, "kita tidak beruntung kita bertemu dengan wanita ****** ini!"


Sheila dan marissa pergi menjauh dari sana. Sheila tidak ingin membuang waktunya dengan para gadis itu. Tapi para gadis itu malah mengikuti mereka. Mereka menghentikan sheila dan marissa.


Salah satu dari mereka berkata, "karena kau adalah wanita ******. Kenapa kau tidak melakukan apa yang dilakukan oleh wanita ******?"

__ADS_1


Setelah 2 detik, ada 4 orang pria yang mendekat ke arah mereka. Para wanita itu ingin membuat keempat pria itu mengganggu sheila dan marissa tapi mereka tidak tahu bahwa Sheila membunuh mereka dengan sekali sentuhan saja.


Para pria itu mendekat dan mencoba untuk menyentuh sheila tapis ayolah menendang mereka seperti dia tengah menendang sebuah bola.


"Ah kau, beraninya kau!" Teriak salah seorang pria.


Marissa yang berdiri dibelakang Sheila berteriak, "sekarang giliran kalian."


Para gadis itu tampak terkejut. Tapi mereka lebih terkejut lagi setelah melihat bagaimana bodohnya mereka ada banyak kamera di mana-mana dan satu menit kemudian seorang polisi datang dan membawa para gadis dan pria itu pergi.


'Sangat puas sekali.' ucap Sheila dalam hati.


Sheila melihat ke sekeliling dan dia mendapati sekelompok orang orang menatap ke arah mereka dan mereka bertepuk tangan. Sheila lalu menarik tangan marissa dan menyeret nya keluar dari dalam area berbelanja.


'Ya tuhan bahkan tidak bisa kah kami tenang bahkan saat tidak berada di kampus.' pikir Sheila.


Sheila lalu menemani marissa pulang ke rumahnya dan dia sendiri langsung kembali ke rumahnya. Itu sudah gelap dan tidak ada banyak orang di jalanan. Silat tiba di rumah setelah 5 menit saat dia masuk ke rumah, kakaknya langsung melompat ke arah Sheila, yang membuatnya hampir saja terjatuh.


"Sheila kau dari mana saja aku khawatir kepadamu." Ucap Sara, kakak Sheila.


"Aku ada sedikit masalah tadi. Maaf karena sudah membuatmu khawatir Kak." Balas Sheila.


"Kau tahu bahwa kakak sangat mengkhawatirkan dan menyayangimu bukan? Jangan pernah melakukan hal itu lagi dan jika kau terlambat teleponlah ke rumah." Ucap Sara.


"Baiklah Kak, maafkan aku." Balas Sheila.


**************


Sementara itu saat kelas Amira berakhir, dia meminta kepada Cindy dan Ariel untuk pergi ke arah belakang kampus.


"Hai Amira, apakah aku bisa ikut juga?" Tanya Calvin kepada Amira.


Amira melihat kearah Calvin dan berkata, "ya tentu saja kau boleh ikut."


'Apakah dia akan marah lagi seperti yang terakhir kalinya biarkan aku melihat apa yang akan kau lakukan kali ini Ariel.' ucap Amira dalam hati.


"Calvin kau bisa duduk di kursi belakang." Ucap Amira.


Setelah beberapa menit, mereka semua lalu pergi.


"Oh ya tuhan Amira, apakah ini sungguhan ini sangat keren ini sama persis seperti dirimu." Ucap Cindy.


Amira menggelengkan kepalanya dan menghela napas.


"Masuklah." Ucap Amira.


"Apa yang dia lakukan disini tanya Ariel dengan marah.


"Aku juga ikut." Balas Calvin.


Amira menatap ariel dia lalu masuk ke dalam mobil dan duduk di kursi depan. Ariel terlihat marah, dia juga duduk di kursi belakang dengan Calvin.


"Kelinci, apa yang kau tertawa kan?" Tanya Cindy kepada Amira.


"Kelinci?" Ucap Calvin.


"Hmmm... Benar, aku memanggilnya kelinci." Ucap Cindy.


"Bisakah aku juga memanggilmu kelinci?" Ucap Calvin.


Cindy berbalik dan menatap kearah Calvin.


"Hanya aku dan Kak Dafa yang boleh memanggil dia seperti itu." Ucap Cindy.


"Duduk sekarang dan gunakan sabuk pengaman mu bodoh." Ucap Amira kepada Cindy.


'Kenapa dia sangat diam?' pikir Amira.


Amira melihat kearah Ariel dari cermin. Mata keduanya bertemu. Ariel menyeringai ke arah Amira.


"Hei lampu meraaah..." teriak Cindy.


"Arrgghh... Tidak bisakah kau mengatakannya lebih pelan." Ucap Amira marah.


"Apa yang kau lihat dari tadi?" Tanya Cindy.


"Api." Balas Amira.


"Api! Dimana?" Tanya Cindy lagi.


Ariel tertawa dari arah belakang mobil.


"Hei, apa yang lucu, katakan padaku." Ucap Cindy.


"Diam lah." Ucap Amira.


"Hmmm.... Kau jahat." Balas Cindy memalingkan wajahnya ke arah jendela.


'Apakah aku orang ketiga diantara mereka. Tapi aku pikir mereka tidak berpacaran. Aku merasakan sakit di hatiku setelah melihat mereka berdua seperti ini. Aku seharusnya tidak ikut.' pikir Calvin.


"Masuklah kedalam, aku akan memarkirkan mobil lalu masuk." Ucap Amira.


"Tidak, kita akan masuk bersama." Ucap Cindy.


Setelah Amira memarkirkan mobilnya, mereka masuk ke dalam mall bersama.


"Ayo beli sesuatu untuk orang tuamu dan juga orang tua ku." Ucap Amira.


"Baiklah, kapan Om dan Tante akan datang?" Tanya Cindy.


"Minggu depan." Balas Amira.


Mereka lalu pergi ke toko hadiah. Amira membeli hadiah untuk orang tua Cindy.


"Apa kau mau mengunjungi rumahku hari ini kelinci?" Tanya Cindy.

__ADS_1


"Hmmm..." Balas Amira.


"Hei lihat, bukankah para gadis itu tampak menggemaskan."


"Tutup mulutmu, tidak bisakah kau melihat bahwa mereka bersama kekasih mereka."


Dua orang laki-laki tengah membicarakan Amira dan Cindy.


Ariel menatap mereka berdua, dan kedua pria itu langsung kabur. Ariel menarik tangan Amira dan berkata, "aku ingin menunjukan sesuatu untukmu, ikutlah denganku."


"Tapi aku harus, tapi sesuatu...." Ucap Amira


"Nanti saja." Balas Ariel.


"Aaahh, mereka berdua tampak bagus untuk bersama. Bukankah kau berpikir begitu Calvin?" Ucap Cindy.


Calvin melihat ke arah Cindy dan berkata, "aku bukan orang jahat."


"Hah, apa maksudmu?" Tanya Cindy


Calvin tidak mengatakan apapun dan langsung masuk ke dalam sebuah toko diikuti oleh Cindy.


""Apa yang ingin kau bicarakan?" Tanya Amira kepada Ariel.


"Kenapa kau membawa dia ikut bersama kita?" Ucap Ariel.


Amira menghela napas dan berkata, "itu keputusanku." Balas Amira.


Ariel menjadi marah dan berkata, "aku pergi saja kalau begitu."


"Baiklah." Balas Amira.


Amira oergi ke sebuah toko dimana Cindy fan Calvin tengah berbelanja.


"Amira, lihatlah. Bukankah ini bagus?" Tanya Cindy pada Amira.


Itu adalah sebuah patung yang terbuat dari batu dan permata.


"Iya, itu sangat bagus." Balas Amira.


Cindy membeli hadiah itu untuk Mama Amira.


Amira dan Cindy adalah sahabat sejak kecil jadi keluarga mereka juga sangat dekat. Cindy tidak sekaya Amira. Dia bekerja paruh waktu. Kadang-kadang Amira juga membantunya.


"Pyuuhh.... Akhirnya selesai membeli hadiah." Uca Cindy


Mereka semua lelah, dan hari sudah beranjak sore.


"Duduklah disini sebentar, aku akan kembali." Ucap Amira oada Cindy dan Calvin.


"Apakah dia benar-benar pergi? Aku todak melihatnya sejak tadi. Maksudku... Aku benci perasaan ini. Kenapa aku merasa bersalah sekarang." Ucap Amira.


Disisi lain, Ariel tengah bersembunyi dibelakang sebuah toko dan memperhatikan Amira.


"Bodoh... Apa kau pikir aku akan pergi? Bagaimana mungkin aku bisa meninggalkanmu bersama pria bodoh itu. Aku tidak akan menyerah untuk mengejarmu." Ucap Ariel.


'Ayo coba telepon dia.' pikir Amira.


Amira lalu menelepon Ariel. Ponsel Ariel berdering dan Amira mendengar suaranya dan pergi mendekat ke arah Ariel dari belakang. Ariel tengah melihat ke arah depan tanpa menyadari apapun.


"Siapa yang kau lihat?" Ucap Amira pada Ariel dengan begitu dekat.


Ariel terkejut dan berbalik.


"Ya Tuhan, ku pikir kau adalah hantu." Ucap Ariel.


"Hahahahahaha.... Kau benar-benar seperti kucing penakut Riel."


Amira tidak dapat menahan tawanya. Ariel menjadi marah dan menarik pinggang Amira mendekat yang membuat Amira terkejut


"Apa yang kau... Lepaskan aku dasar bodoh." Teriak Amira berusaha melepaskan dirinya dari Ariel.


"Aku tidak memegangmu untuk melepaskanmu." Ucap Ariel dengan tersenyum.


Pipi Amira mulai memerah yang membuat Ariel semakin menggodanya. Ariel semakin menarik Amira mendekat kearahanya.


"Aku... Aku akan membunuhmu." Ucap Amira gugup.


"Ehemmm.... Kenapa kalian berdua tidak menyewa kamar saja." Ucap Cindy.


Cindy dan Calvin datang dari arah lain. Amira langsung mendorong Ariel dengan keras.


"Aaaa... Kelinciku merona malu." Ucap Cindy mulai menggoda Amira.


"Diam lah!!" Teriak Amira.


Banyak orang yang mulai melihat ke arah mereka. Amira lalu meminta maaf pada mereka. Cindy dan Ariel tertawa, sementara Calvin merasa tidak nyaman.


Amira melihat ke arah Calvin dan berkata, "hanya kau satu-satunya orang yang bisa mengerti aku."


Ariel tampak kesal, dia lalu memegang tangan Amira dan berkata, "ini sudah terlambat. Kakak akan khawatir."


Amira menepis tangan Ariel dan berkata, "aku sudah memberitahunya."


Amira lalu beralih menatap Calvin dan berkata, "aku akan menunjukanmu sekeliling, karena kau orang baru disini."


Calvin akhirnya tersenyum dan berkata, "tidak apa-apa. Aku sudah sering datang kesini, jadi aku sudah tahu."


Ariel menyela perbincangan Amira dan Calvin.


"Ayo pergi, kita seharusnya makan sesuatu. Aku yang traktir." Ucap Ariel seraya menarik tangan ira dan berjalan lurus.


'Aku merasa sangat senang sekarang, hehehehe... Dia merasa cemburu.' ucap Amira dalam hati.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2