
Setelah pertemuan yang tak di sengaja di toko buku, hubungan pertemanan Nabila dan Arsha berlanjut.
Keduanya jadi sering bertemu, bahkan Nabila sudah seperti bagian dari keluarga Wijaya.
Kini hampir setiap hari Nabila akan selalu bertemu dengan Arka. Bila tidak di kantor, maka ia akan bertemu dengan Nabila di rumah.
Izzah pun merasa senang akan kehadiran Nabila. Izzah sudah merasa klop dengan Nabila. Izzah bahkan berencana untuk menjadikan Nabila menantunya.
Izzah pergi ke kantor Arka untuk menjemput Nabila, mengajaknya untuk pergi ke suatu tempat.
Nabila berjalan tergesa mengikuti langkah Izzah, di belakang mereka ada satu pengawal pribadi berbadan tegap yang setia mengikuti ke mana pun Izzah pergi jika sedang tidak keluar rumah bersama Rayhan.
Mereka langsung disambut mobil mewah berwarna hitam saat sampai di luar gedung. Tanpa diperintah, sang pengawal membuka pintu mobil untuk mereka.
"Ayo masuk," ajak Izzah saat melihat Nabila terlihat ragu mendekat.
"Saya ... anu, itu ...." Nabila bingung, haruskah ia mengikuti Izzah atau tidak. Ini benar-benar di luar dugaan gadis itu.
"Kita bicarakan rencana selanjutnya nanti, Oke? Masuklah," bujuk Izzah dengan tersenyum manis.
Wajah teduh dan sikap ramah Izzah membuat Nabila tak tega menolak, akhirnya ia mengangguk pasrah. "Baik, Bu." Lalu, ia mengikuti Izzah masuk ke mobil.
'Aku merasa lagi syuting drama Korea ini,' batin Nabila saat duduk di samping Izzah. 'Jangan-jangan ... ini mimpi!'
"Ada apa?" Izzah bingung melihat Nabila yang melakukan gerakan membuka tutup mata secara cepat.
"Ah, tidak, Bu. Ini ... sepertinya saya kelilipan buaya."
Izzah terbahak. "Ada ada saja kamu ini," ucap Izzah, lalu memerintahkan supirnya untuk menjalankan mobil.
****************
Tiga puluh menit kemudian, mobil mulai memasuki pelataran parkir sebuah butik terkenal di kota ini. Mobil berhenti tepat di depan pintu utama salon, Izzah langsung mengajak Nabila turun. Lantas mereka berjalan bersisian masuk ke butik yang sudah menjadi langganan Izzah.
Bangunan kokoh bertingkat dua yang didominasi warna merah muda dan putih itu membuat Nabila berdecak kagum. Rasanya baru sekarang, ia masuk ke butik sebesar ini, biasanya gadis itu hanya pergi ke mall yang tengah memberi diskon besar-besaran untuk membeli pakaian.
"Selamat datang, Bu Izzah. Wah sudah lama ya nggak ke sini, apa kabar?" sapa Luna, salah satu pegawai di butik. Wanita cantik berpakaian muslimah itu, memeluk Izzah erat.
"Baik, alhamdulillah. Biasalah ibu-ibu dengan dua anak yang sudah dewasa, sibuk nyariin mantu yang pas buat mereka," balas Izzah dengan senyum mengembang.
"Wah ... Bu Izzah lagi nyariin Arka dan Arsha jodoh ya? Coba saya belum menikah, saya mau kok jadi calon istri Arka." balas wanita itu tertawa.
__ADS_1
Izzah tersenyum.
Nabila yang ada di belakang hanya tersenyum tipis, karena tidak paham apa yang tengah mereka bicarakan. Ia memilih memanjakan mata dengan melihat setiap sudut butik mewah yang di datanginya.
"Mau nyari pakaian, mukenah, atau hijab Bu?" tanya Luna.
"Iya. Oh, ya, kenalkan ini Nabila, calon mantu saya, calon istrinya si Arka." Izzah menarik lengan Nabila pelan dan merangkul pundaknya.
"Ya ampun, si Arka mau nikah? Akhirnya, setelah sekian lama. Syukurlah ada yang mau sama pria galak macam dia," balas Luna, diiringi dengan tawa.
"Salam kenal, Nabila. Saya Luna." Diulurkannya tangan ke arah Nabila dengan senyum ramah.
Nabila mengangguk sopan, sembari membalas uluran tangan itu. "Nabila."
"Nama yang cantik, seperti orangnya," puji Luna yang membuat pipi Nabila merona malu.
"Kalau begitu, mari saya tunjukkan beberapa koleksi terbaru kami," ajak Luna yang langsung diiyakan oleh Izzah.
Saat berjalan masuk mereka melewati banyak kaca, iseng Nabila berdiri di depan salah satu kaca besar, ia menatap wajahnya sendiri dengan tersenyum malu-malu. "Ternyata aku beneran cantik, Syahrini kalah jauh ini mah."
***************************
Setelah satu jam memilih pakaian berupa gamis dan hijab besar, Izzah mengajak Nabila, pengawal, serta supirnya untuk makan dulu. Dengan patuh Nabila mengiyakan ajakan wanita bermata teduh itu.
"Samakan dengan Anda saja, Bu. Saya apa-apa mau kok, pemakan segala. Asal halal dan tidak makan teman saja," jawab Nabila.
Izzah tertawa. "Ada-ada saja kamu ini." Lalu, ia memanggil salah satu pramusaji dan membacakan menu yang dipesan.
Sang pengawal dan supir, duduk tak jauh dari meja Izzah dan Nabila, mereka tengah menikmati minuman serta makanan pembuka yang disediakan gratis oleh restoran ini.
Nabila sempat takjub dengan perlakuan Izzah pada mereka, seperti kepada saudara bukan atasan pada bawahan. Pantas saja perusahaan mereka berkembang pesat, ternyata mereka memanusiakan manusia.
'Tapi, kenapa Pak Arka judes dan galak banget? Beda jauh gini sama ibunya. Jangan-jangan dia anak pungut. Galaknya melebihi cewek saat PMS!' umpat gadis berlesung pipit itu dalam hati.
Tanpa Nabila sadari, Izzah mengibas-ngibaskan tangan di hadapannya yang tengah melamun. "Halo, Nabila?"
Nabila segera tersadar dari lamunan. "Eh, ada apa, Bu? Maaf." Ia menggaruk kepala yang tak gatal.
Izzah yang masih terlihat cantik itu terkekeh. "Ngelamunin apa?"
Nabila menggeleng cepat. "Bukan apa-apa, Bu. Maaf."
__ADS_1
"Baiklah," balas Izzah, lalu menghela napas panjang. "Sebelumnya, saya mau minta maaf jika perkataan saya ini akan membuat kamu bingung dan mungkin kamu akan kaget." ucap Izzah yang membuat Nabila semakin penasaran.
"Ada apa sebenarnya Bu?" tanya Nabila.
"Nabila, semenjak pertama kali melihat kamu di kantor Arka, saya sudah merasa bahwa kamu akan menjadi menantu saya."
Deg!
"Me-me-menantu?" Nabila tiba-tiba gagap.
"Iya." balas Izzah. "Saya sangat menyukai kamu, dari wajah kamu, tutur katamu, hingga gesture kamu. Sampai kamu datang ke rumah saat membantu Arsa waktu itu, membuat saya semakin yakin untuk menjadikan kamu menantu. Arka tidak pernah mengenalkan gadis manapun kepada saya dan ayahnya. Tapi, setelah saya melihat kamu, saya yakin kamu adalah wanita yang tepat untuknya. Nah untuk itu Nabila, saya ingin bertanya, apa kamu mau menikah dengan Arka?"
"Ta-tapi....."
"Apa kamu tidak tertarik dengan Arka? Atau kamu sudah punya calon lain," ucap Izzah.
"Eh, bukan seperti itu, Bu. Ini ... terlalu sulit untuk saya jawab sekarang. Karena bagi saya menikah itu bukan sesuatu yang bisa dibuat main-main, Bu. Saya, sih, maunya sekali seumur hidup dan dengan orang yang saya cintai," balas Nabila mantap.
"Berarti kamu tidak ada rasa sama Arka?"
"Ada sih Bu, tapi ... Pak Arka nggak bakalan setuju dengan pernikahan ini dan dia juga nggak bakal suka sama gadis seperti saya."
"Jangan mikirin itu. Saya dulu juga nggak cinta sama ayahnya Arka. Kami menikah karena terpaksa, tapi sekarang sehari nggak ketemu ayahnya Arka, saya ngerasa bagaikan ada yang kurang dalam diri saya.."
Kinan tersenyum. "Ibu bisa aja, tapi saya bukan gadis baik-baik dan juga bukan dari keluarga kaya."
"Kamu tahu, kadang kebetulan-kebetulan yang terjadi di sekitar kita itu takdir yang menyamar. Dan saya ingat hari itu, entah kenapa saya pengen sekali mampir ke kantor Arka dan akhirnya kita bertemu. Mungkin saja ini memang jalan dari Allah untuk menjodohkan kalian."
Nabila bergeming sejenak. 'Kenapa nggak dari dulu aja takdir ini datang, ya Allah?' gumam Nabila dalam hati.
"Dan saya itu punya keahlian melihat bagaimana sifat seseorang hanya dari sorot matanya saja."
"Benarkah?" Nabila merasa takjub.
Izzah mengangguk pasti. "Saya yakin kamu gadis yang baik. Masalah harta, tahta, dan cinta itu bisa dicari, nanti juga datang sendiri."
Nabila bergeming, mencoba mencerna semua perkataan wanita di hadapannya. Menimang-nimang sebentar, lalu akhirnya mengangguk, tanda setuju dengan tawaran itu.
"Nah gitu dong, setelah ini kita atur rencana biar Arka bertekuk lutut sama kamu," ucap Izzah bersemangat dan membuat Nabila kembali mengangguk.
'I love you, Boss galak!' teriak Nabila dalam hati.
__ADS_1
Bersambung