
"Sha. Bangun, Sayang." Suara romantis yang diiringi elusan di kepala membuat mata Arsha perlahan terbuka.
Meskipun masih samar, terlihat Devan sudah rapi dengan setelan Koko nya. Wajahnya tersenyum kala melihat mata Arsha terbuka.
"Sudah mau subuh. Aku ke masjid dulu, ya."
Arsha mengangguk kemudian beranjak duduk, tapi ia merasakan kepala pening sekali, akhirat tidur terlalu larut semalam. Melihat wajah Arsha sedikit meringis Devan terlihat khawatir.
"Kenapa, Sha?"
"Tidak apa-apa, sedikit pening saja."
"Kalau sudah salat Subuh tidur lagi saja, istirahat."
"Aku gak papa, Van. Habis mandi juga nanti seger lagi."
"Ya sudah. Aku berangkat, ya." Devan mendekatkan wajahnya dan mencium kening Arsha.
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Devan selalu seperti itu. Ia tetap bersikap manis seolah semalam tidak terjadi apa-apa diantara keduanya. Pandangan mata Arsha mengikuti punggung Devan menuju pintu, ketika pintu itu hendak ditutup Devan melihat dulu ke arah Arsha yang sedang mematung memperhatikannya. Wajahnya tersenyum, membuat Arsha membalas senyuman itu.
Sudah satu minggu setelah pernikahan anak-anak Izzah. Keluarga Izzah dan Rayhan tampak semakin bahagia. Hubungan Arka dan Nabila semakin kuat, ikatan pernikahan membuat cinta keduanya mengembang. Keduanya tak lagi malu-malu mengumbar kemesraan mereka di depan keluarga.
__ADS_1
Berbeda halnya dengan Arsha dan Devan. Hingga satu minggu pernikahan, keduanya sama sekali belum pernah berhubungan suami isteri. Entah kenapa Arsha masih saja malu, tapi meski begitu perlakuan manis Devan tidak berubah. Bahkan sekarang ia jadi lebih sering memeluk dan mencium Arsha jika ada kesempatan.
Perlahan, Arsha mulai tak malu-malu lagi dan ia terlihat menikmati setiap perlakuan lembut Devan.
Malam ini seperti biasa, sebelum tidur Arsha memolesi krim di wajahnya sambil berdiri di depan cermin. Devan yang baru saja keluar dari kamar mandi mencolek pinggang Arsha sontak badan gadis itu mengerjap geli. Matanya melotot, membuat Devan tertawa. Lagi, untuk kedua kalinya dia melakukan hal yang sama. Arsha langsung mencubit tangannya gemas.
"Devan, ih!"
Lagi, Devan hanya tertawa menanggapinya. Tak jera meski tangannya merah karena cubitan Arsha, Devan kembali melakukan hal yang sama untuk ketiga kalinya. Arsha bersiap untuk mencubit tangannya lagi, tapi gagal malah tangannya yang ditarik oleh Devan. Dengan satu tarikan, Arsha langsung berada dalam pelukan hangat Devan.
Devan tersenyum penuh arti. Dia mulai mendekatkan wajahnya. Arsha akhirnya menyerah. Diiringi debar jantung yang luar biasa Arsha memejamkan mata.
Devan mencium pipi Arsha lembut. Gadis itu semakin membeku dan perlahan membuka matanya. Keduanya saling menatap dengan jarak yang sangat dekat.
Arsha tak dapat melanjutkan kata-katanya, karena mulutnya ditutup Devan yang tiba-tiba mencium bibirnya dengan cepat. Tidak kuasa menolak, akhirnya Arsha dan Devan menikmati keheningan dengan bibir yang menyatu.
Pelukan Devan semakin erat, dengan refleks Arsha mengalungkan tangannya di leher Devan. Keduanya berpelukan erat sambil bibir terus menyatu dengan mesra. Arsha merasakan pelukan Devan begitu hangat. Keduanya menyatu dalam diam, sambil menstabilkan debar jantung yang sudah tak terkendali.
Perlahan pelukan keduanya terlepas, bersamaan dengan wajah yang menjauh. Mata keduanya bersitatap, bahagia memenuhi relung hati keduanya. Keduanya sama-sama tersenyum saling memandang, kemudian Devan mencium kening Arsha penuh khidmat.
"Aku mencintaimu..." Ucap Devan seraya mengangkat dagu Arsha.
"Aku juga..." Balas Arsha tersenyum lalu kembali memejamkan mata.
Keduanya kembali berciuman mesra. Devan mengangkat tubuh Arsha, membopongnya melangkah menuju ranjang. Tanpa instruksi tangan Arsha kembali melingkar pada leher Devan. Bibir keduanya tak terlepas hingga Devan menjatuhkan tubuh Arsha perlahan di atas ranjang pengantin yang belum pernah digunakan untuk berhubungan itu.
__ADS_1
Devan perlahan menciumi tiap inchi tubuh isterinya itu. Untuk pertama kalinya sejak satu minggu menjadi suami Arsha, malam ini Devan mendapatkan haknya.
"Bismillah..." Ucap Devan.
Malam ke-delapan menjadi malam terindah bagi kedua pasangan itu. Keduanya benar-benar dimabuk asmara. Di mabuk indahnya bercinta sebagai pasangan yang halal.
"Terima kasih sayang. Malam ini, merupakan malam yang paling indah sepanjang hidupku." Ucap Devan setelah menyelesaikan tugasnya.
Arsha yang berbaring disampingnya dengan kening yang basah karena keringat membalas ucapan Devan dengan senyum bahagia.
"Maaf, sudah membuatmu lama menunggu." Ucap Arsha sambil memgangi pipi lelaki yang berhak atas mahkotanya itu.
"Semuanya terbayarkan dengan indahnya malam ini." Balas Devan kembali mencium bibir Arsha.
"Mmmmmhhh...." Arsha kewalahan.
Devan melepas ciumannya lalu mengusap lembut pipi istrinya itu.
"Aku mau lagi...." Ucap Devan yang sontak membuat mata Arsha melotot.
"Hahaha, aku bercanda sayang. Ayo, bersihkan dirimu. Lalu tidurlah, kita bisa mencobanya lagi besok malam." Ucap Arka yang membuat pipi Arsha merona malu. "Atau juga besok pagi, atau siang, atau malam, mmmm atau seharian." Gelak Devan seraya berjalan menuju kamar mandi.
Sementara Arsha tersenyum kecut. Ia lalu menatap langit-langit kamarnya.
'Aaahhh ternyata begini rasanya jadi pengantin baru....'
__ADS_1