Aku Wanita Simpanan

Aku Wanita Simpanan
SALAH PAHAM PART 1


__ADS_3

Pagi yang cerah menyambut pasangan yang baru saja kembali mengikat tali cinta mereka agar diakui negara. Senyuman seolah tak lepas dari bibir keduanya. Pelukan ciuman menghiasi pagi Izzah hari ini. Rayhan tak melepaskan Izzah dari jangkauannya barang sedetik saja.


Izzah hendak memasak sarapan, namun Rayhan dengan sigap menahan tubuh Izzah agar tak keluar kamar.


"Bang, Izzah mau masak. Apa abang gak lapar?" tanya Izzah berusaha melepaskan diri dari pelukan suaminya.


"Sayang masak itu tugasnya Lastri, atau kita bisa pesan makanan saja untuk sarapan." ucap Rayhan seraya mulai memilih-milih makanan yang tertera di layar ponselnya untuk sarapan pagi ini.


Rayhan telah selesai memesan makanan, lalu dia mengajak Izzah turun menunggu makanan pesanan mereka datang di gazebo.


Lastri memandang sinis ke arah Izzah yang tengah dibelai Rayhan di gazebo.


"Iiihhh sialan itu si Izzah, ngapain sih pakai acara mesra-mesraan disitu. Sengaja ya mau buat aku cemburu. Awas aja kau Izzah, sebentar lagi kau sendiri yang akan cemburu padaku." gumam Lastri.


Tak lama makanan pesanan pun datang. Lastri dengan cekatan menata semuanya dipiring lalu mengantarnya pada Rayhan dan Izzah yang sudah menunggu.


Rayhan dan Izzah menikmati sarapan mereka dengan saling menyuapi, membuat Lastri semakin di bakar api cemburu.


Lastri lalu melanjutkan pekerjaannya dengan menjemur pakaian Izzah dan Rayhan. Lastri memilah-milah baju milik Rayhan. Lalu menciuminya dengan penuh nafsu.


Izzah yang tak sengaja melihat Lastri melakukan hal itu, mendekati Lastri.


"Kamu ngapain Las?" tanya Izzah yang membuyarkan lamunan Lastri.


"Eh anu, ini bu tadi saya cuma lagi ciumin bau pewangi di baju ini." ucap Lastri gugup.


"Ya sudah lanjutkan pekerjaan kamu." balas Izzah lalu meninggalkan Lastri.

__ADS_1


"Sepertinya aku memang harus lebih aware terhadap Lastri." gumam Izzah.


Siang harinya Izzah memberi tahu Lastri bahwa dia akan ke rumah mang Diman sendiri untuk melihat Lilis yang telah melahirkan. Izzah memutuskan pergi sendiri karena Rayhan juga sedang ada pertemuan mendadak dengan klien bisnisnya.


Sampai rumah mang Diman, Izzah disambut hangat bi Asih dan yang lainnya.


"Masyaallah bayi kamu lucu sekali Lis." ucap Izzah melihat bayi Lilis yang tengah di gendong bi Asih.


Bi Asih segera memberikan bayi itu pada Izzah untuk digendong.


"Beneran saya boleh gendong bi?" tanya Izzah penuh haru.


"Tentu saja." jawab bi Asih.


Tak terasa air mata Izzah menetes saat menggendong anak Lilis. Izzah teringat akan Zahra anaknya.


"Andai Zahra masih hidup, dia pasti sudah besar sekarang." lirih ucapan Izzah didengar bi Asih.


"Aamiin, insyaallah bi." balas Izzah.


Setelah puas bercengkrama dengan bayi cantik Lilis yang diberi nama Lian, Izzah pun pamit pulang karena hari sudah sore. Begitu juga dengan Rayhan dia telah sampai rumah terlebih dahulu saat Izzah masih dalam perjalanan pulang.


Pintu rumah tak di kunci Lastri membuat Rayhan bebas masuk.


"Sayang....sayang..." teriak Rayhan.


Namun tak ada jawaban dari Izzah karena memang Izzah masih di jalan. Lastri yang mendengar suara Rayhan memutar otak untuk mencari cara agar bisa dekat dengan Rayhan.

__ADS_1


"Mumpung si Izzah itu lagi gak dirumah, gimana ya caranya biar Tuan Rayhan mau dekat sama aku." ucap Lastri yang tengah mengangkut jemuran.


Terlintas ide di kepala Lastri saat melihat jilbab besar Izzah yang berada di tempat jemuran. Suara Rayhan semakin mendekat. Dengan cepat Lastri memakai jilbab besar Izzah lalu melepas keranjang jemuran kemudian berdiri menatap taman yang ada dihadapannya.


"Sayang...." teriak Rayhan lagi. "Disini rupanya, dari tadi dipanggil gak jawab-jawab." lanjut Rayhan.


Dengan cepat Rayhan memeluk Lastri dari belakang. Membuat jantung Lastri berdegup kencang. Ingin sekali Lastri berbalik dan mencium Rayhan, namun tak dia lakukan karena sudah pasti Rayhan langsung akan melepaskan pelukannya jika tau yang dipeluknya adalah Lastri.


Rayhan semakin mengeratkan pelukannya membuat Lastri semakin tak bisa menahan diri. Digenggamnya tangan Rayhan, lalu dia hendak menaruhnya di dadanya. Namun suara panggilan Izzah merusak semua keinginan Lastri.


"Aaaa...aabang..." ucap Izzah.


Rayhan yang kaget langsung berbalik dan melepaskan pelukannya. Wajah Rayhan begitu kaget melihat Izzah ada di belakangnya.


"Loh sayang. Lalu ini siapa?" ucap Rayhan kaget.


Dengan perlahan Lastri berbalik lalu membuka hijab Izzah yang di kenakannya.


”Lastri....!!!" pekik Rayhan dengan wajah penuh amarah. "Apa-apaan ini?" teriak Rayhan.


Izzah hanya diam mematung, mencerna apa yang sedang terjadi.


"Ngapain kamu pakai hijab Izzah? Dan kenapa kamu malah diam aja saat saya meluk kamu?" emosi Rayhan memuncak.


"Maaf Tuan, saya memakai jilbab Nyonya karena saya sedang mencoba melihat diri saya apakah saya pantas mengenakannya, karena saya ingin merubah penampilan saya." balas Lastri. "Maafkan saya Nyonya, saya benar-benar tidak sengaja." lanjut Lastri mengatupkan tangannya di hadapan Izzah.


"Sudahlah Lastri, sekarang jilbab itu buat kamu aja." balas Izzah kemudian berlalu meninggalkan Lastri dan Rayhan.

__ADS_1


"Sayaaang..." teriak Rayhan mengejar Izzah.


"Sialan, ganggu aja si Izzah itu. Hampir aja aku buat Tuan Rayhan klepek-klepek, eeehh dia malah dateng. Tapi gak apa-apa, aku yakin sekarang dia lagi cemburu dan marah sama Tuan Rayhan. Kan bagus, jadinya hubungan mereka ada celahnya. Jadi ada kesempatan buat aku deketin Tuan Rayhan kayak tadi." ucap Lastri menyeringai licik.


__ADS_2