Aku Wanita Simpanan

Aku Wanita Simpanan
Insiden Di Mall


__ADS_3

PoV Author...


Waktu berjalan begitu cepat bagi keluarga besar Wijaya. Setelah begitu banyak kesedihan setelah kepergian Izzah dan Reyhan, keluarga Wijaya mulai bangkit dari kesedihan mereka. Mereka semua mulai menata hidup mereka jauh lebih baik. Keluarga Arka beserta anak cucunya hidup dengan bahagia. Dafa dan Sheila sudah memiliki dua orang anak. Sementara Amira dan Ariel sekarang masih menanti anak kedua mereka yang masih berada di dalam kandungan.


Sementara keluarga anak kedua Reyhan dan Izzah, Arsha beserta anak cucunya juga begitu bahagia. Denis dengan istrinya sudah memiliki dua orang putri cantik. Sementara Fara dan Ammar, sudah memiliki dua orang anak di usia pernikahan mereka yang memasuki delapan tahun.


Sekarang putri pertama Fara dan Ammar, Sofia berusia 7 tahun, sementara anak kedua mereka Reyhan sudah berusia 5 tahun.


Di rumah keluarga kecil bahagia Faradina dan Ammar...


"Mama.... Papa... Ayo bangun. Mama dan Papa sudah berjanji untuk membawa kami berdua pergi ke mall hari ini." Ucap Sofia seperti sebuah alarm dalam hidup Ammar dan juga Faradina.


Kedua anak mereka itu hanya belum bisa mengerti bagaimana orang tua mereka sebenarnya memiliki waktu pribadi di pagi hari.


"Sayang lihatlah, matahari belum juga terbit. Mall akan buka jam 10.00 nanti. Jadi kita masih punya banyak waktu untuk bersiap-siap. Kembali lah untuk tidur lagi." Ucap Fara dalam tidurnya dan menarik Sofia untuk tidur di tempat tidur mereka.


Faradina dan Ammar mulai memeluk Sofia dengan erat.


"Ah.... kalian berdua memeluk aku. Lebih baik aku pergi dan membangunkan adik kesayanganku. Setidaknya dia mengikuti apa yang aku katakan." Ucap Sofia.


Dia lalu kabur dari pelukan erat kedua orang tuanya dan berlari ke arah kamar adiknya.


"Reyhan.... adik kesayanganku.... Reyhan...." Teriak Sofia memanggil nama Reyhan saat dia masuk ke dalam kamar Reyhan, tapi Reyhan tidak ada di dalam kamarnya.


"Reyhan, kau ada di mana?" Tanya Sofia.


Dia lalu mendekat ke arah tempat tidur Reyhan, namun secara tiba-tiba sebuah tangan memegang kaki Sofia.


"Aaaaaaaa....." Teriak Sofia mulai menangis.


"Hore...... Hari ini aku sudah berhasil mengerjai kakakku." Ucap Reyhan saat keluar dari bawah tempat tidurnya.


"Kau.... Aku benci padamu. Kau menakuti aku." Ucap Sofia tampak cemberut.


"Ayolah Kak, Kakak sendirilah yang sudah sering mengerjai aku seperti itu. Kakak bahkan sering mengerjai aku yang hampir membuat jantungku berhenti berdetak." Ucap Reyhan.


Walaupun Reyhan menjadi anak yang paling muda di dalam rumah itu, terkadang dia bersikap jauh lebih dewasa dibandingkan Kakak perempuannya itu.


Reyhan memang bocah yang begitu pintar. Dia mewarisi wajah tampan dan juga kepintaran dari kakek buyutnya, Reyhan Wijaya.


"Baiklah... Baiklah... bertengkar nya nanti saja. Jangan lupa bahwa Mama dan Papa sudah berjanji untuk membawa kita pergi ke mall. Apakah kita harus bersiap sekarang?" Tanya Sofia.


Reyhan pun menganggukkan kepalanya sebagai jawaban setuju.


"Adikku memang menggemaskan." Ucap Sofia mencubit pipi Reyhan.


"Anak laki-laki itu bukan menggemaskan, tapi mereka itu tampan." Ucap Reyhan kepada Sofia.


"Terserah, kita akan bahas itu nanti. Sekarang kau harus pergi mandi dan keluarlah. Aku juga akan mengganti pakaianku. Aku akan menyiapkan pakaian untukmu juga." Ucap Sofia dengan tersenyum dan Reyhan hanya mengikuti permintaan Sofia Kakak nya itu dan langsung pergi untuk mandi.


Sofia menggunakan gaun yang tampak begitu menggemaskan berwarna putih dan hitam. Rambutnya dibiarkan tergerai begitu saja karena dia ingin Mama nya yang menata rambutnya dan dia pun masuk ke dalam kamar adik laki-lakinya dengan sebuah kotak.


Reyhan keluar dari dalam kamar mandi hanya menggunakan pakaian mandinya dan dia berjalan mendekat ke arah Sofia.


"Kak, apakah kakak sudah menyiapkan pakaianku?" Tanya Reyhan antusias melihat ke arah kakaknya itu dengan wajah tampak tersenyum.


"Iya adik kecilku yang manis. Kakak mu ini sudah menyiapkan semuanya." Ucap Sofia lalu menaruh kotak yang ada di tangannya itu ke atas tempat tidur Reyhan.


Reyhan lantas berjalan mendekat ke arah kotak itu dan saat dia melihat outfit yang disiapkan oleh Sofia di dalam kotak itu, dia langsung berkata...

__ADS_1


"Tidak, aku tidak akan mau menggunakan sebuah kostum seperti itu." Ucap Reyhan menolak mengenakan pakaian yang disiapkan Sofia kakaknya itu.


"Adikku sayang, ini adalah piyama, bukan kostum. Dan kau akan menggunakan ini, karena jika tidak, aku akan mengatakan yang sebenarnya kepada Mama dan Papa bahwa kau sering menyembunyikan coklat di bawah tempat tidurmu." Ucap Sofia mengancam adiknya itu.


Akhirnya tidak ada pilihan lain bagi Reyhan, dan dia hanya bisa menerima permintaan Sofia untuk menggunakan kostum yang dia pilihkan untuknya itu.


Reyhan lalu menggunakan sebuah kostum panda dan dia benar-benar tampak sangat menggemaskan.


"Sekarang apakah kau menerima bahwa anak laki-laki juga menggemaskan adik kecilku yang manis?" Ucap Sofia dengan ekspresi yang tampak tersenyum bangga di wajahnya.


Reyhan hanya mencebik kesal karena dia memang tidak mau mengenakan kostum itu. Tapi dia benar-benar tidak punya pilihan lain karena jika dia menolak mengenakan kostum itu, maka Sofia akan membuka semua rahasianya kepada orang tua mereka. Di mana Reyhan selalu menyembunyikan coklat di bawah tempat tidurnya yang sebenarnya kedua orang tuanya melarangnya memakan terlalu banyak coklat dengan alasan giginya akan sakit nantinya.


"Ayo pergi untuk memanggil Mama dan Papa." Ucap gadis kecil yang tampak bahagia itu seraya menarik adik laki-lakinya berjalan menuju kamar orang tua mereka.


"Mama... Papa..." Ucap Sofia saat mereka masuk dan melihat orang tua mereka ternyata sudah bersiap-siap.


"Mama, aku sudah membantu Mama dengan menyiapkan adik kecilku. Sekarang Mama harus membantu aku dengan menata rambutku karena Mama yang paling hebat yang bisa melakukannya." Ucap Sofia.


"Di mana adikmu sayang?" Tanya Ammar kepada Sofia saat dia hanya melihat Sofia sementara tidak melihat Pangeran kecilnya itu.


Sofia mencari adik kecilnya dan saat dia menemukannya, Reyhan ternyata tengah bersembunyi di balik pintu. Sofia pun meminta kedua orang tuanya untuk menutup mata mereka dan menunggu sampai dia mengizinkan kedua orang tuanya itu membuka mata mereka.


"Sekarang Mama dan Papa bisa membuka mata kalian bersama-sama." Ucap Sofia.


Ammar dan Fara pun membuka mata mereka dan mata mereka tampak begitu melotot saat mereka melihat sosok Reyhan. Mereka tidak pernah melihat anak laki-laki mereka yang berusia 5 tahun itu menggunakan pakaian seperti itu.


"Reyhan apakah kau baik-baik saja sayang?" Tanya Fara dengan khawatir tapi dia juga mencubit pipi Reyhan dengan sangat lembut dan menahan tawanya.


Ammar tiba-tiba tertawa dengan begitu terbahak-bahak membuat wajah Reyhan tampak memerah.


"Hahahahaha...." Reyhan memegang perutnya tidak tahan melihat wajah menggemaskan dari pangeran kecilnya itu.


"Seluruh keluarga ini membully aku. Aku akan pergi ke rumah Opa dan Oma saja." Ucap Reyhan dan berjalan keluar dari dalam kamar orang tuanya menuju ruang tamu.


Keluarga kecil itu akhirnya beranjak pergi ke mall setelah drama Reyhan dan Sofia yang tidak asa habisnya. Reyhan pun berhasil keluar rumah dengan menggunakan pakaian normal dan bukannya kostum panda yang disiapkan oleh kakaknya itu.


Bocah berusia lima tahun itu merasa bahwa ini adalah pertama kali bagi dirinya untuk pergi ke mall dengan usianya yang cukup besar untuk bisa berjalan kaki sendirian tanpa digendong ataupun digandeng oleh orang tuanya.


Mereka semua akhirnya sudah ada di depan sebuah mall. Ammar, Fara dan Sofia sudah berjalan. Sementara Reyhan berhenti tatkala melihat dua orang remaja melepas sepatunya di depan pintu dan masuk tanpa memakai alas kaki. Seorang satpam buru-buru mengambil sepatu itu, dan menyuruh untuk memakainya.


"Biar tidak masuk angin!" Alasan satpam itu.


"Lantainya bersih mengkilap mirip lantai rumah bos, takut kotor." Ucap kedua pemuda itu memberikan alasan.


Entah dari mana asal mereka, yang pasti membuat Reyhan kecil tersenyum haru.


'Polos banget mereka.' batin bocah kecil bernama Reyhan itu.


Reyhan lalu lanjut berjalan kembali dan melihat kedua orang tuanya dan kakak perempuannya sudah berjalan mendekat ke arah eskalator.


Reyhan menghentikan langkah kakinya, saat berada di depan eskalator. Dia tak jadi naik gara-gara landasan eskalator itu bergerak naik terus. Dia takut jatuh. Apalagi pegangan tangannya juga bergerak terus. Lama mencoba untuk naik tapi tetap tidak bisa. Sementara kedua orang tuanya dan Sofia kakaknya sudah lebih dulu berada di lantai atas tanpa menyadari jika Reyhan masih ada di bawah.


Akhirnya Reyhan memutuskan untuk naik tangga biasa saja. Reyhan pun dengan cepat beralih naik dari tangga biasa.


Tap, tap, tap! Terdengar suara langkah kecil kakinya menaiki tangga. Sementara di lantai atas kedua orang tuanya yang sudah menyadari bahwa dia tidak ada bersama mereka mulai panik.


"Dia itu anak yang pintar. Jadi Mama dan Papa tenang saja, tidak perlu khawatir." Ucap Sofia santai.


Fara tak bisa menyembunyikan raut panik diwajahnya karena pangeran kecilnya yang seharusnya digandeng Ammar tak ada disamping Ammar.

__ADS_1


"Kenapa kau bisa teledor seperti itu. Aku memintamu untuk menggandengnya. Sekarang dimana dia? Bagaimana jika sesuatu yang buruk terjadi padanya?" Ucap Fara panik dan disaat yang bersamaan dia juga marah pada suaminya.


Fara memang meminta agar Ammar menggandeng Reyhan, sementara dia sendiri menggandeng Sofia. Namun bocah lima tahun bernama Reyhan itu benar-benar tidak mau tangannya digandeng oleh Reyhan. Dia selalu saja menepis tangan Papa nya setiap kali Papa nya itu ingin menggandeng Reyhan.


"Kalau begitu, tetaplah disamping Papa, dan jangan jauh-jauh." Ucap Ammar kepada Reyhan saat mereka berjalan masuk ke mall tadi.


Ammar mengakui kesalahannya karena tidak memperhatikan Reyhan, dia pun meminta maaf pada Fara dan mencoba untuk meyakinkan Fara bahwa semuanya akan baik-baik saja karena dia akan segera mencari keberadaan Reyhan dengan meminta bantuan pihak keamanan mall.


Sementara itu, di bagian lain di lantai dua itu, Reyhan sempat masuk ke toko buku melihat beberapa novel komik. Dia membeli beberapa komik dengan uang cash hasil menabungnya dan juga membeli sebuah kacamata berwarna silver. Para penjaga toko bertanya dimana orang tua Reyhan, Reyhan dengan begitu tenang menjawab bahwa orang tuanya ada di dalam toko masih memilih barang lain.


Setelah itu, Reyhan lalu mencoba mencari-cari tangga biasa untuk naik ke lantai tiga. Tapi yang ditemuinya adalah pintu lift. Kebetulan pintu liftnya baru saja terbuka, dan ada lima orang ke luar dari dalam lift. Reyhan lalu memasukinya, pintu lift tertutup.


'Ah! Apa yang harus ku lakukan nih?' batin Reyhan.


Dia lihat di papan tombol ada angka-angka dan tanda-tanda. Reyhan takut menekan tombol tiga karena takut liftnya justru jatuh ke bawah. Udara terasa pengap, ruangannya sempit, tak ada jendela.


'Bagaimana cara minta tolong nih?' pikir Reyhan yang mulai panik.


Reyhan melihat ada kamera CCTV di pojok-pojok atas. Dia pun berpikir pasti petugas mall nya bisa melihat dirinya saat ini. Reyhan langsung melambai-lambaikan tangannya ke kamera mirip. Bahkan melompat-lompat, menari-nari, berputar-putar, dan sesekali menjulurkan lidahnya ke kamera. Tidak ada reaksi apa-apa, namun tiba-tiba pintu lift terbuka.


'Horeee!' teriak Reyhan dalam hati.


Seorang bapak-bapak masuk membawa bungkusan tanpa memperhatikan bahwa ada bocah berusia lima tahun di dalam lift itu karena dia yang terlalu fokus menatap layar ponselnya. Lalu pintu lift tertutup lagi, Reyhan belum sempat ke luar tapi bapak itu menekan sebuah tombol. Tak lama kemudian pintu lift terbuka kembali, bapak-bapak itu ke luar diikuti Reyhan.


"Ah! Ini kan lantai satu tadi?" Ucap Reyhan.


Reyhan berputar-putar mencari tangga biasa, tapi tak ketemu karena mall itu sangat luas. Yang dia temui adalah eskalator lagi.


"Aku harus nekat!" Ucap Reyhan.


Reyhan lantas nekat melangkahkan kakinya di atas papan pijakan yang bergerak.


Hup hup...


'Yes! Berhasil!'


Hampir saja Reyhan ambruk ke belakang, untung ada seseorang di dekatnya yang menolong memeganginya. Eskalator naik ke atas, hampir sampai, tapi sandal Reyhan ada yang kejepit di sela-sela lubang antara tangga yang bergerak dengan lantainya.


Tap!


Tiba-tiba saja eskalator itu terhenti mendadak karena terganjal sandal Reyhan. Eskalator itu berhenti bergerak. Reyhan menarik-narik sandal itu dari jepitan, tapi sia-sia. Akhirnya satpam datang.


Satpam itu lantas membantu Reyhan dan tak lama kedua orang tua Reyhan datang ke arah ruangan petugas mall setelah mendengar pengumuman nama Reyhan disebutkan melalui pengeras suara.


Tiba disana Fara langsung memeluk Reyhan dengan begitu erat. Bahkan air matanya mengucur begitu deras. Sementara Ammar tampak berterima kasih kepada petugas yang sudah menemukan Reyhan.


Petugas itu pun menjelaskan bagaimana dia bisa menemukan Reyhan. Setelah itu petugas satpam itu meminta kepada Ammar dan juga Faradina untuk lebih perhatian terhadap Reyhan.


"Kamu tidak apa-apa kan Reyhan? Mana saja yang benjol nih? Luka dalam apa luka biasa? Ayo ke rumah sakit! Buruan!" Kata Sofia sambil mencari-cari luka di tubuh Reyhan.


Fara juga meneliti siapa tahu ada luka di tubuh Reyhan setelah mendengar cerita petugas satpam tadi mengenai insiden di eskalator yang di alami Reyhan. Namun karena tidak sabar lagi, Fara langsung mengangkat tubuh Reyhan untuk diperiksa jika terdapat luka di tubuhnya. Tapi Reyhan berontak.


"Eh apa-apaan sih? Aku gak apa-apa Ma! Pak Satpamnya sudah membantu aku." Kata Reyhan.


Namun Fara yang panik masih berusaha memeriksa tubuh Reyhan bahkan memaksa untuk mengangkat pakaian Reyhan. Namanya juga seorang Ibu, sangat peduli dan takut anaknya kenapa-kenapa. Reyhan merasa jengkel karena merasa dipermalukan oleh sikap Mama nya itu yang mengangkat pakaiannya di depan orang lain.


"Mama sudah membuat aku malu. Lepaskan aku, aku lelaki yang sudah besar. Tidak seharusnya diperlakukan seperti ini." Protes Reyhan.


Melihat hal itu justru membuat Ammar menahan tawa.

__ADS_1


Agenda liburan yang diinginkan Sofia berkeliling mall menjadi kacau karena insiden hilangnya Reyhan itu. Namun semuanya kembali baik-baik saja, setelah Fara dan Ammar mengajak mereka berbelanja apapun yang mereka inginkan. Tapi kali ini, kedua pasangan suami istri itu benar-benar sangat memperhatikan kedua buah hati mereka yang sangat aktif itu. Bahkan baik Ammar mau pun Fara tak sedikitpun melepaskan tangan anak mereka walau sebentar saja.


Bersambung....


__ADS_2