Aku Wanita Simpanan

Aku Wanita Simpanan
5. Drama


__ADS_3

Di kediaman Sheila....


"Kak aku mau berangkat ke kampus dulu." Ucap Sheila.


"Baiklah sayang." Balas Sara, kakak Sheila.


Hari ini Sara tidak mengantar Sheila untuk pergi kuliah, dia ada pekerjaan penting yang harus dia urus. Jadi Sheila harus berangkat seorang diri.


Sheila memang tinggal bersama kakaknya dan seorang pelayan. Selama ini Shela belum pernah sama sekali melihat kedua orang tuanya. Sheila sebenarnya sangat merindukan kedua orangtuanya, tapi sampai saat ini, sekalipun dia tidak pernah bertemu mereka. Apalagi sampai memeluk mereka hanya sekedar merasakan bagaimana pelukan dari kedua orang tuanya itu. Tapi semua pengalaman itu membantu Sheila untuk menjadi pribadi yang jauh lebih kuat.


Saat Sheila tiba di gerbang kampus, sudah ada banyak mahasiswi di depan sana. Mereka menghalangi jalan untuk masuk. Saat Sheila hendak berjalan melewati gerbang, mereka membentuk sebuah dinding dengan tubuh mereka menghadang Sheila.


'Ada apa ini?' pikir Sheila.


"Kami tidak akan membiarkan mu masuk, sampai kami mematahkan semua tulang mu." Ucap salah seorang dari gadis itu.


'Dasar sekelompok gadis bodoh.' umpat Sheila dalam hati.


Sheila meras sudah begitu telat masuk kelas. Jadi Sheila memutuskan untuk mengakhiri semua drama yang dibuat oara gadis itu lebih cepat. Sheila mendorong salah seorang gadis yang ada di hadapannya dengan begitu keras hingga mampu membuat mereka semua terjatuh. Sheila mengambil kesempatan dari hal itu dan langsung berlari kearah kelasnya.


Saat Sheila masuk ke dalam ruang tempat tes toefl akan dilakukan, Marissa yang juga ada di ruangan itu langsung menyapa nya.


"Hai Sheila...." Ucap Marissa dengan ceria.


Saat Marissa mengucapkan hal itu, seisi ruangan kelas melihat kearah Marissa lebih dulu, kemudian berbalik melihat kearah Sheila.


'Apa kami ini tampak seperti orang bodoh sampai dipandang seperti itu?' pikir Sheila.


Sheila lalu merapikan rambutnya. Dia berpikir bahwa rambutnya itu berantakan. Tapi semuanya baik-baik saja. Sheila lalu duduk diam dan melihat kearah kanan. Sheila lalu melihat ada sosok Dafa yang tengah belajar.


'Apa dia benar-benar menganggap serius taruhan itu?' pikir Sheila.


Sheila berpikir, apa yang akan diminta Dafa untuk dia lakukan jika dia memang akan kalah darinya. Pikiran Sheila teralihkan saat seorang dosen masuk ke dalam ruangan itu.


Itu adalah dosen yang akan membimbing jalannya tes toefl.


Dosen itu tiba-tiba menuliskan sesuatu di papan tulis yang ada.


"Sebelum tes dimulai, ayo kita coba pecahkan jawaban dari pertanyaan ini." Ucap dosen itu. "Dafa kenapa kau tidak coba maju ke depan dan selesaikan pertanyaan ini." Ucap dosen itu.


"Tentu saja." Balas Dafa.


Dafa maju ke depan dan setelah beberapa saat ia langsung menyelesaikan pertanyaan itu dengan benar.


Para siswa lainnya mulai berkata,


"Kau sangat pintar Dafa."


"Tidak ada yang lebih baik dibanding Dafa."


"Dafa, menikahlah denganku meski aku ini seorang laki-laki "


'Hmmmppphh... Dia memang hebat dan aku harus mengakui itu. Tapi dia tidak ada apa-apanya dibanding diriku ini.' ucap Sheila dalam hati.


"Sangat bagus Dafa, baiklah siapa selanjutnya yang bisa menyelesaikan pertanyaan ini?" Ucap dosen itu.


"Kenapa tidak kita biarkan Sheila yang maju dan mengerjakan soal yang itu. Lagi pula dia mahasiswa baru di sini. Ini adalah pertamanya masuk ke lab ini." Ucap Dafa.


'Yaah, yahh. Tentu saja. Kau tidak tahu bahwa kau sedang menggali kuburan mu sendiri.' ucap Sheila dalam hati.


Desain itu memberikan sahila pertanyaan yang sedikit rumit. Sheila mulai menulis di papan tulis sebelumnya dia melihat soal itu dan kemudian menyelesaikannya dengan mudah. Seluruh kelas termasuk dosen tampak terkejut.


"Sepanjang sejarah diriku menjadi dosen, aku tidak pernah melihat seorang mahasiswa yang begitu bertalenta seperti ini." Ucap dosen itu.


"Anda terlalu menguji saya pak." Balas Sheila.


"Dia pasti curang, dasar curang." Ucap seorang gadis.


Sheila hendak mengatakan sesuatu, tapi dosen lebih dulu berucap.


"Aku yang membuat pertanyaan ini sendiri. Apakah kau meragukan profesionalitas ku?" Ucap dosen itu terlihat marah.


"Ti... Tidak Pak." Balas gadis itu.


Sheila melihat kearah Dafa. Dan Dafa juga tampak terkejut. Sheila memberikan tatapan arogan kepada Dafa.


'Lihatlah, aku lebih baik darimu bukan?' ucap Sheila dalam hati.


Dafa membalas tatapan Sheila dengan wajah yang menyebalkan.


'Hahahaha! Bersiaplah menjadi pelayan ku bajingand.' pikir Sheila.


Sheila kembali ke tempat duduknya dan berkata kepada Dafa, "kau terlalu menganggap aku remeh."


Kali ini Dafa tidak menampakkan wajahnya yang kesal, dia malah datang ke bangku Sheila yang membuat Sheila begitu terkejut.


Dafa memegang dagu Sheila dan berkata, "iya, aku memang menganggap mu lemah. Tapi ujiannya bukan hanya soal yang baru saja kau kerjakan tadi. Jadi bersiaplah, aku yang akan menang. Dan kau akan mengikuti semua yang aku mau." Ucap Dafa penuh percaya diri.

__ADS_1


"Baiklah, tapi apakah kau harus menyentuh ku?" Ucap Sheila.


Setelah mendengar apa yang dikatakan Sheila, Dafa menyadari bahwa seisi kelas termasuk dosen tengah memandang ke arah mereka. Sheila merasakan tatapan mematikan dari para gadis yang memuja Dafa di belakangnya.


"Hai kalian berdua, apa kalian pikir ini adalah tempat untuk bermesraan?" Ucap dosen.


Dafa dan Sheila berucap disaat yang bersamaan.


"Tapi..."


"Tidak ada tapi, tapian... Keluar sana!!" Ucap dosen itu berteriak.


***********


Sementara itu di kelas Amira...


Dosen masuk ke dalam kelas dan berkata, "semuanya, hari ini kelas kita kembali mendapatkan mahasiswa baru."


Semua mahasiswa mulai tampak kegirangan dan bertanya berbagai macam hal, "apakah itu perempuan atau laki-laki?"


Dosen tersenyum dan berkata, "kau boleh masuk sekarang."


Saat sosok mahasiswa baru itu masuk, seluruh kelas terdiam. Mereka terus menatap sosok pria itu.


Tinggi dan tampan dengan wajahnya yang blasteran dengan rambut yang coklat keemasan dengan mata yang berwarna biru seperti lautan dan telinganya yang mengenalkan anting seperti idola k-pop.


"Hai semuanya, aku Calvin Lee, senang berjumpa dengan kalian semua."


Calvin menatap ke arah Amira dan tersenyum.


'Apa-apaan it, kenapa dia tersenyum ke arahku? Kenapa aku merasa ada yang marah di sampingku. Oh ya Tuhan, kenapa dia begitu marah.' pikir Amira.


Ariel menatap kearah Calvin.


"Kau boleh memilih tempat duduk mu Calvin." Ucap dosen itu.


"Kalau begitu, bisakah aku duduk di samping Amira?" Ucap Calvin.


Semua mahasiswa yang duduk di dalam kelas itu menatap kearah Amira.


'Bagaimana dia tahu namaku?' pikir Amira.


Calvin mendekat kearah amira dan berkata kepada Ariel.


"Bisakah kau pindah ke bangku lainnya?"


"Kau jangan berani-beraninya datang diantara kami." Ucap Ariel dengan marah.


Amira menghela napas dan berkata, "Bu, bisakah saya saja yang pindah tempat duduk?"


Dosen itu mengangguk.


Amira lalu bergegas berpindah tempat duduk di samping Cindy.


"Sekarang, kita mulai semuanya." Ucap dosen itu.


Setelah kelas berakhir....


"Kau gadis nakal, kenapa kau tidak mengatakan bahwa kau mengenal Calvin?" Cindy bertanya kepada Amira.


"Aku memang tidak mengenalnya." Balas Amira.


Calvin mendekat ke arah Amira dan berkata, "apakah kau melupakan aku Amira?"


Amira melihat ke arah Ariel, yang tampak mengalihkan wajahnya dan tampak kesal. Amira tertawa kecil melihat tingkahnya. Calvin dan Cindy melihat ke arah Amira. Amira langsung menelan ludah.


"Mmmm aku tidak tahu." Ucap Amira.


Ariel tertawa dan langsung mendekat ke arah bangku Amira dan berkata kepada Cindy.


"Bisakah kita bertukar tempat duduk?"


Cindy melihat kearah mereka berdua dan mengambil barang-barangnya lalu duduk di tempat duduk Ariel.


"Aku pikir kau masih mengingatku." Ucap Calvin.


Amira merasa bersalah setelah melihat wajah sedih Calvin.


Amira hendak mengatakan sesuatu, tapi Ariel lebih dulu berucap.


"Dengar ya, siapapun dirimu, dia adalah milikku. Jadi menjauh lah darinya."


Seisi kelas mulai menggoda Amira.


"Ooooo miliknya... Amira."


Amira langsung merona dan berkata, "aku adalah milikku sendiri."

__ADS_1


Semua orang tertawa bersama bahkan Calvin dan juga Ariel.


"Apa yang kalian ter tawakan?" Ucap seorang dosen yang tiba-tiba masuk ke dalam kelas.


Semua mahasiswa pun terdiam.


"Amira, aku punya tugas untukmu." Ucap dosen itu.


Amira berdiri dan bertanya, "tugas apa itu Pak?"


Dosen itu tersenyum pada Amira dan berkata, "kemari lah dan selesaikan soal ini."


Amira berjalan maju ke depan kelas dan mulai menyelesaikan pertanyaan yang diberikan.


Amira memang dikenal sebagai mahasiswa yang paling pintar dikelasnya. Amira menyelesaikan soal yang diberikan dosen dengan begitu mudah. Seisi kelas bertepuk tangan untuknya. Amira tersenyum kemudian kembali duduk di bangkunya.


"Oh ya, kita punya mahasiswa baru." Ucap dosen itu. "Kemari lah dan selesaikan soal ini, biar aku lihat seberapa pintarnya dirimu." Lanjut dosen itu.


Calvin maju ke depan dan menyelesaikan semuanya dengan benar. Dosen itu sumringah dan menepuk pundak Calvin.


"Hebat sekali."


Amira tersenyum ke arah Calvin yang membuat Calvin merasa senang. Calvin lalu menatap kearah Ariel dan berkata, "hmmmpphh..."


'Apa yang hebat dengan hal itu. Yang benar saja, apa barusan dia mengatakan hmmph padaku. Beraninya dia memandangku dengan rendah.' ucap Ariel dalam hati.


Amira melihat ke arah Ariel.


"Bukankah dia hebat." Ucap Amira.


Ariel menjadi semakin kesal dan berjalan keluar kelas. Dosen berteriak memanggil Ariel, tapi tak dihiraukan.


Setelah kelas selesai, Amira segera keluar kelas mencari Ariel.


Cindy mendekat ke arah Calvin dan berkata, "dengar ya orang asing. Sahabatku itu sulit untuk dimengerti dan akan sangat baik jika kau tidak mengacaukan hubungan mereka berdua."


Calvin tersenyum ke arah Cindy dengan tersenyum di wajahnya.


"Mereka berdua tidak berpacaran." Ucap Calvin lalu ikut keluar dari dalam kelas.


'Dia itu aneh, aku harus mengamatinya.' ucap Cindy dalam hati.


Disisi lain, Amira pergi ke lantai paling atas kampus dan menemukan Ariel. Amira merasa kelelahan dan ngos-ngosan. Ariel memberikannya jus, Amira pun meminumnya. Setelah meminum jus itu, Amira menatap Ariel.


Ariel tersenyum, Amira langsung bertanya kepadanya.


"Kenapa kau tersenyum seperti orang bodoh?"


Ariel mendekat ke arah Amira.


"Terima kasih atas ciuman tidak langsungnya." Ucap Ariel.


Amira menjadi bengong dan mulai memukuli Ariel. Ariel pun tertawa. Amira merasa lelah dan kemudian terduduk. Ariel ikut duduk disamping Amira dan menaruh kepalanya di pundak Amira.


"Jangan katakan apapun, hanya biarkan saja aku melakukan ini sebentar." Ucap Ariel serius.


'Dia bertingkah seperti anak kecil. Aku sering memarahinya saat itu, jadi aku rasa tidak masalah membiarkannya bersandar di bahuku sebentar.' Pikir Amira.


"Aku tidak suka pemuda itu. Dia terlihat seperti orang jahat, jadi kau harus menjauh darinya." Ucap Ariel dan menutup matanya.


Amira tertawa kecil melihat ke wajah Ariel.


'Bulu matanya lebih lentik dari punyaku. Dan dia tampak tampan saat tertidur.' ucap Amira dalam hati.


"Amira..." Ucap Ariel.


"Hmmm...." Balas Amira.


"Berikan aku kesempatan." Ucap Ariel yang duduk dihadapan Amira.


Amira terdiam beberapa saat kemudian mengatakan, "aku.... Aku tidak mau berada dalam suatu hubungan."


Ariel terlihat sedih.


'Kenapa hatiku terasa sakit? Bukankah ini benar, aku tidak bisa memiliki hubungan dengannya. Aku sidah punya hubunganku sendiri di masa depan dengan orang lain.' ucap Amira dalam hati.


Calvin berdiri dibalik pintu dan mendengar percakapan mereka. Dia lalu turun kebawah dan bertabrakan dengan Cindy.


"Maafkan aku." Ucap Calvin dan berjalan kembali ke arah kelasnya.


'Apa yang dia lakukan? Amira bilang bahwa dia akan berada di lantai atas bersama Ariel. Jadi kenapa dia berasal dari sana? Aku harus memberitahukan semua ini kepada Kak Dafa tentang Calvin. Dia benar-benar mencurigakan.' ucap Cindy dalam hati.


Bersambung.....


*Hai semuanya....


Maaf ya, akan ada perubahan sedikit alur cerita. Jadi stay terus ya bacanya*.... 😁😁🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2