Aku Wanita Simpanan

Aku Wanita Simpanan
Bu Ros Hilang


__ADS_3

Pagi....


Rayhan tengah duduk di ruang makan menunggu Ana untuk sarapan bersama. Rayhan memutuskan untuk mengajak Ana tinggal di sebuah rumah yang telah Rayhan persiapkan sbelumnya. Segala keperluan Ana sudah disediakan, termasuk seorang asisten yang membantu Ana untuk mengurus dirinya.


Rayhan sudah berpakaian rapi, karena untuk pertama kalinya setelah satu bulan terakhir Rayhan akan kembali bekerja di kantor.


Ana datang dari kamarnya dituntun seorang asisten. Ana lalu duduk disamping Rayhan. Dengan sigap Rayhan menyiapkan makanan Ana.


Ana yang merasa diperlakukan bak putri, mulai menaruh hati pada Rayhan.


Ya Tuhan, laki-laki ini baik banget, udah ganteng kaya lagi. Beruntung banget aku udah jadi isterinya. Tapi, sayangnya harus pura-pura buta. Sampai kapan harus kayak gini, gumam Ana yang memandang Rayhan.


Rayhan yang merasa dipandangi Ana merasa heran.


"Ana, kamu..."


Dengan cepat Ana mengalihkan pandangannya ke arah lain dengan tatapan kosong.


"Iya mas, kenapa?" tanya Ana mulai meraba meja mencari dimana sendok diletakkan.


"Gak ada apa-apa, ayo makan." ucap Rayhan.


Ponsel Rayhan berdering saat keduanya menikmati sarapan dalam keheningan.


[Halo, selamat pagi Tuan Rayhan.]


[Iya, selamat pagi. Ada kabar apa sepagi ini menelepon sudah menelepon? Apa Umi baik-baik saja?] tanya Rayhan pada penelepon di seberang yang ternyata petugas dari Rumah Sakit tempat Bu Ros dirawat.


[Itulah kenapa kami menelepon Tuan, kami hendak bertanya apa Bu Ros ada bersama Tuan Rayhan sekarang? Karena pagi ini saat kami hendak memeriksa Bu Ros, beliau sudah tidak ada di dalam ruangan.]

__ADS_1


[Apa? Maksud kamu Umi hilang?] teriak Rayhan emosi.


[I-iya Tuan, Bu Ros tidak ada disini.]


[Kalian kerja atau gak sih? Masa Umi bisa hilang gitu aja? Kalian benar-benar gak becus. Aku akan menutup Rumah Sakit kalian jika sampai Umi kenapa-kenapa.]


[Maafkan kami Tuan, untuk itu kami harap Tuan bisa datang kemari untuk sama-sama mencari keberadaan Bu Ros.]


Tuttt....


Rayhan mematikan sambungan telepon tersebut dengan wajah penuh emosi.


"Ada apa mas?" tanya Ana halus.


"Umi hilang, orang-orang di Rumah Sakit gak tau Umi kemana." ucap Rayhan sendu.


Ana terdiam.


"Iya mas, gak apa-apa. Ana di rumah aja. Mas hati-hati ya di jalan." balas Ana.


"Iya, aku jalan ya. Kalau kamu butuh sesuatu panggil aja Bi Surti."


"Iya mas." balas Ana lagi.


Rayhan kemudian mendekati Ana mengelus pucuk kepala wanita yang sudah menjadi isteri keduanya itu. Ana kemudian meraih tangan Rayhan lalu menciumnya lembut.


Rayhan kemudian pergi meninggalkan Ana sendirian di ruang makan.


"Bi Surti......" teriak Ana.

__ADS_1


Bi Surti datang dengan tergopoh-gopoh.


"Ayo bawa aku ke kamar." titah Ana.


Dengan cepat Bi Surti menuntun Ana masuk ke dalam kamarnya. Kemudian meminta Bi Surti untuk pergi ke mini market membelikannya camilan berupa keripik dan cokelat.


Saat Bi Surti pergi, Ana dengan leluasa berjalan kesana kemari di dalam rumah.


Ana mengambil ponselnya lalu menelepon seseorang.


[Halo.] ucap Ana.


[Ada apa? Pagi-pagi ganggu aja. Emang kamu gak takut ketahuan sampai berani menelepon.]


[Gawat, Bu Ros sepertinya sudah sembuh. Barusan pihak Rumah Sakit nelpon Mas Rayhan ngasih tau kalau Bu Ros hilang.]


[Apa? Hilang?]


[Iya, hilang. Sekarang Mas Rayhan sudah pergi untuk mencari Bu Ros. Gimana ini, kalau Bu Ros tahu yang sebenarnya? Saya takut.]


[Sudah, kamu tenang saja. Biar aku yang urus semuanya. Sekarang aku mau kamu harus bisa tidur dengan Rayhan, bila perlu hamil sekalian. Kalaupun nanti semuanya terbongkar, kamu gak akan mungkin diceraikan karena hamil.]


[Tapi bagaimana caranya? Selama ini Mas Rayhan tak pernah mau menyentuh saya?]


[Kamu pikirlah sendiri, pokoknya kamu harus bisa hamil sebelum semua ini terbongkar.]


Sambungan telepon terputus. Ana terlihat bingung.


Kemudian ia pergi ke kamar Rayhan. Selama ini Rayhan dan Ana selalu tidur di kamar yang berbeda.

__ADS_1


Tiba di kamar Rayhan, Ana membuka lemari Rayhan. Menciumi beberapa pakaian Rayhan yang ada di dalam lemari. Kemudian Ana membaringkan dirinya di tempat tidur Rayhan.


"Oohh Mas Rayhan yang tampan, kapan aku bisa tidur bersamamu. Aku juga kan isterimu. Kalau saja aku tak harus pura-pura buta, aku bisa dengan leluasa memandang wajahmu yang tampan itu oohh Mas Rayhan." ucap Ana memeluk dan menciumi guling di ranjang Rayhan.


__ADS_2