
Setelah memastikan Devan benar-benar pergi, mereka langsung berdiri dan pergi meninggalkan kafe.
Ketiganya kembali mengikuti kemana Devan pergi. Devan ternyata masuk ke dalam sebuah minimarket dan tak lama kemudian keluar.
Di pinggir jalan, Devan kelihatan celingak-celinguk mencari sesuatu.
“Oke, masuk!” kata Vita pada orang suruhannya sambil melihat ke arah Devan.
Tak berapa lama, ada sebuah motor yang oleng di hadapan laki-laki tinggi itu. Dengan sigap, Devan menegakkan motor matic merah itu, lalu membantu pengemudinya berdiri.
Setelah tadi cewek seksi menggoda iman, kali ini cewek cantik yang punya gaya berpakaian mirip dengan Arsha.
"Tadi Dinar Candy, sekarang Nissa Sabyan. Waahh mantap." celetuk Vita yang dibalas senggolan Arsha.
Keduanya kembali fokus menatap ke arah Devan dan wanita yang dibilang Vita mirip Nissa Sabyan itu.
“Mbak, nggak apa-apa?” tanya Devan.
“Ng … anu, Mas, aw!” Terdengar suara kesakitan dari seberang sana.
Wanita itu terlihat memegang kakinya. Ia berpura-pura meringis kesakitan.
"Dasar modus!" umpat Arsha yang terlihat kesal.
"Eh, kok, marah? Kan, dia lagi jadi model buat ngetes Devan. Wajarlah kalau akting sebagus mungkin!" balas Vita.
__ADS_1
"Oh, iya. Lupa!" Arsha menoyor kepalanya sendiri.
"Kamu sendiri yang punya ide, malah kamu sendiri yang marah." Ucap Vita.
Wanita berjilbab tadi tampak sudah terduduk di tepian jalan, sementara Devan berlari ke mobilnya, kemudian kembali ke samping wanita itu dan menyodorkan sebotol air.
“Minum dulu, Mbak, biar tenang,” kata Devan.
“Makasih, Mas.” balas wanita itu.
'Sabar, sabar … suara cewek itu merdu banget. Serasa lagi dengar Isyana Sarasvati nyanyi lagu seriosa.'
“Kalau sudah tenang, Mbak hubungi keluarga atau temannya saja. Biar mereka bisa jemput di sini.” ucap Devan lagi.
“Sa-saya … nggak punya keluarga di sini, Mas. Teman juga nggak punya, soalnya saya baru pindah ke sini.” balas wanita itu dengan suara yang terdengar sendu.
Devan berjalan menuju mobilnya.
Takut ketahuan, Arsha dan Vita bersembunyi di balik mobil. Sementara Nabila terlihat berpura-pura sedang menerima telepon.
"Devan udah pergi," ucap Nabila yang membuat Arsha dan Vita ikut melongok ke arah Devan dan wanita itu berada tadi.
"Fix, buaya insaf!" timpal Vita. "Langsung nikah aja, mumpung Devan lagi khilaf." Lanjut Vita dibarengi vekikikan Nabila.
Arsha terlihat terharu dan meleleh.
__ADS_1
'Bisa nggak nikahnya nanti malem aja?'
Arsha merogoh tas saat merasakan getar ponsel, nama Devan tertera di sana.
"Siapa?" tanya Vita.
"Devan." jawab Arsha.
"Angkat aja," ucap Nabila. "Loudspeaker."
"Inget, harus jual mahal dikit," imbuh Vita. Yang didukung Nabila dengan anggukan.
Arsha pun menggeser tombol hijau di layar dan menekan tombol loudspeaker. "Ya?"
"Sudah selesai main detektif-detektifnya?" Ucapan Devan dari seberang membuat mereka saling pandang. Arsha bahkan menelan ludah dengan berat.
'Mati, ketahuan!'
"Laper nggak? Makan, yuk. Ajak teman-temanmu, aku traktir sepuasnya."
"Mau!!" Vita dan Nabila menyahut bersamaan.
'Ya Allah, maluku di ambon,' gumam Arsha seraya mengusap wajahnya dengan kasar.
Meski malu, mereka semua akhirnya pergi ke cafe yang di tunjuk Devan.
__ADS_1
Bersambung.....