
Hari berikutnya di kampus...
Saat aku berjalan dengan tenang, aku merasa bahwa seseorang yang berada di belakangku. Aku lantas berbalik dan aku melihat sosok Dafa yang tengah berlari ke arahku.
'Oh tidak...'
Dia berlari terlalu cepat dan kami pun bertabrakan. Dia menabrak tubuhku dan kami berdua terjatuh dengan Dafa yang berada di atas tubuhku.
"Kami sudah menemukan Bibi mu. Polisi sudah ada di sana, dia akan segera pulang." Ucap Dafa.
"Benarkah? Aku sangat bahagia. Terima kasih, tapi...." Balas ku.
"Tapi apa?" Tanya Dafa.
"Bisakah kau melepaskan aku?" Tanyaku kepada Dafa.
"Kau begitu lembut. Aku tidak mau bangun dari tubuhmu." Ucap Dafa.
"Kau memaksaku." Ucapku kesal.
"Wa... Aduh..." Ucap Dafa kesakitan.
Dafa merasa sakit di tubuhnya karena aku mendorongnya menjauh dengan tanganku.
Aku lalu membantu Dafa untuk bangun. Aku tanpa sengaja melihat Mila yang menatap ke arah kami dengan tatapan yang penuh kemarahan. Dia bertingkah menyesal kemarin. Apakah itu sudah berakhir sekarang?
Mila tiba-tiba mendorong aku menjauh dan kemudian dia berjalan ke arah Dafa yang berdiri di belakangku.
"Sheila, bagaimana bisa kau menyakiti Dafa seperti ini? Dafa, apakah kau baik-baik saja?" Ucap Mila.
"Iya aku baik-baik saja. Ngomong-ngomong ini tidak ada masalah apapun. Kau tidak perlu merasa marah kepada Sheila." Ucap Dafa.
'Hmmm....! Dasar wanita ****** bermuka dua.' Ucapku dalam hati.
"Kita sudah terlambat masuk ke kelas." Ucapku pada Dafa.
Mila lantas ikut bersamaku dan Dafa masuk ke dalam kelas.
'Wanita licik ini membuat aku merasa gugup.'
Setelah perkuliahan selesai, Dafa dan aku bergegas pulang ke rumah untuk melihat Bibi. Saat Bibi membuka pintu, aku langsung memeluknya.
"Bibi, akhirnya kembali. Aku begitu khawatir. Apakah bibir baik-baik saja?" Ucapku.
"Bibi juga merindukanmu sayang. Jangan khawatir, mereka tidak melakukan apapun kepada Bibi." Balas Bibi.
Aku merasa begitu bahagia karena akhirnya Bibi bisa pulang ke rumah. Tapi itu tidak berarti bahwa aku tidak akan berhenti untuk menghancurkan Om Surya dan Om Rio. Aku masih harus membalas perbuatan mereka kepada kedua orang tuaku.
Bibi pun lalu menyadari kehadiran Dafa dan menyeringai melihat ke arahku dan juga Dafa.
"Dafa sayang, masuklah." Ucap Bibi.
'Apakah Bibi tengah merencanakan sesuatu?'
Pada akhirnya kami hanya makan siang dan kemudian Dafa pun pulang. Nyatanya aku hanya terlalu banyak berpikir.
Malam harinya, aku menerima sebuah pesan dari Dafa. Dia berkata:
(Karena 5 hari ke depan kita tidak ada jadwal perkuliahan, kenapa kita tidak pergi ke suatu tempat. Aku berencana untuk pergi ke kota terdekat. Kita akan menginap di sana selama 2 hari dan 1 malam apakah kau setuju?)
'Berkencan bersama? Kenapa tidak?'
Aku pun membalas pesannya.
(Tentu saja, datanglah jemput aku jam 10.00) balas ku.
Dafa pun setuju dan kemudian aku pun tertidur.
Keesokan harinya, aku mulai menyiapkan tas kecil di mana aku menaruh beberapa pakaian dan keperluanku yang lainnya untuk berlibur bersama Dafa.
Aku lalu keluar dari dalam rumah dan aku melihat Dafa tengah berdiri di depan sebuah mobil.
"Apakah kau siap?" Tanya Dafa.
"Iya, ayo kita pergi." Balas ku.
Kota itu terletak tidak terlalu jauh. Mobil yang kami tumpangi meninggalkan kami di depan sebuah hotel. Kami lalu masuk ke dalam hotel itu dan mengambil kunci dari kamar kami. Dan aku pun bertanya kenapa hanya ada satu kunci kamar.
"Apakah kita akan tidur di kamar yang sama?" Tanyaku kepada Dafa.
Dafa mendekat ke arahku dan mengangkat daguku kemudian dia berkata, "iya sayangku. Bukankah kita pernah tidur bersama sebelumnya?" Ucap Dafa.
"Tapi..." Ucapku..
Dafa tidak menghiraukan aku. Hal itu membuat aku pun mencoba untuk menenangkan diriku bahwa kami adalah sebuah pasangan. Dan aku sangat percaya bahwa Dafa tidak akan melakukan suatu hal yang jauh berlebihan dari biasanya. Kami lalu masuk ke dalam kamar dan kamar itu tampak sangat indah.
"Persiapkan dirimu, kita akan pergi mengunjungi kota sekarang ini." Ucap Dafa.
"Baiklah." Balas ku.
Meski aku tahu bahwa Dafa tidak akan melakukan suatu hal yang melewati batas, tapi aku hanya berharap bahwa malam tidak akan datang. Aku tahu bahwa Dafa begitu mesum dia pasti akan melakukan sesuatu meski itu tidak terlalu berlebihan.
Hari itu kami pergi ke sebuah bioskop untuk menonton sebuah film. Bioskop itu berada di dekat sebuah area berbelanja.
"Tipe film apa yang ingin kau tonton?" Tanya Dafa padaku.
"Mmmm.... Bagaimana dengan sebuah film aksi?" Ucapku.
"Tentu saja." Balas Dafa.
Kami lalu membeli beberapa popcorn dan pergi ke tempat duduk kami.
Filmnya sangat menarik. Tapi.....
__ADS_1
"MAMA... aku mau sebuah pedang juga. Mama gadis di depan kita memiliki rambut yang sangat panjang aku juga mau rambut seperti itu."
Ada seorang anak laki-laki dan seorang ibu yang duduk di belakang kami dann mereka bicara terlalu banyak.
"Aduh..." Ucapku saat anak laki-laki itu menarik rambutku.
Sekarang semuanya sudah cukup kelewatan. Aku berbalik dan berkata, "tolong, bisakah kalian tidak berisik?" Ucapku kepada mereka.
Sang Mama melihat ke arahku.
"Apa kau serius?" Ucap wanita itu dengan suara yang terdengar arogan. "Bagaimana bisa seorang gadis seperti dirimu mengajari aku bagaimana caranya untuk menjadi seorang ibu. Aku ini adalah ibu terbaik di dunia ini. Dan jika kau tidak mengapresiasi aku, persetan denganmu." Ucap wanita itu.
"Maaf ya Bu, aku tidak mengatakan hal itu." Ucapku berusaha sopan.
"Diam lah dasar kau wanita brengsek." Ucapnya.
'Tunggu dulu, bukankah aku yang seharusnya mengatakan hal itu kepadanya.?'
"Aku tidak mengatakan apapun untuk melawan mu. Tapi jika kau tidak berhenti mengoceh aku akan memanggil petugas keamanan." Ucapku mengancam.
"Lakukan jika kau berani." Balas wanita itu penuh arogansi.
Semuanya tidak berguna. Aku lalu melihat ke arah Dafa dan dia hanya berkata,
"Ayo kita tukar tempat duduk saja." Ucap Dafa.
Kami pun mengganti tempat duduk kami, Ibu dan Anak itu tidak akan mengganggu kami lagi. Tapi.....
"Mama aku.... Aku bilang aku mau rambut wanita itu teriak anak laki-laki itu.
'Oh ya Tuhan? Kenapa mereka berada di belakang kami lagi? Ya Tuhan apakah semua orang tengah bercanda kepadaku? Aku akan bertindak jika mereka tidak berhenti melakukan semua ini.'
Pada akhirnya kami meninggalkan bioskop tanpa menyelesaikan menonton film itu.
"Apakah kau sudah mempunyai rencana lain?" Tanyaku kepada Dafa.
"Tentu saja." Balas Dafa.
Dafa ternyata membawa aku pergi ke sebuah taman bermain.
"Aku tidak berpikir bahwa kau akan begitu kekanak-kanakan." Ucapku kepada Dafa.
"Aku memang tidak kekanak-kanakan. Aku membaca bahwa para gadis menyukai Taman bermain." Balas Dafa.
"Mungkin kau benar kali ini?" Ucapku.
"Ayo kita pergi naik roller coaster Ucapku.
"Eh...h Apakah kau serius?" Tanya Dafa.
"Apakah kau sudah takut Dafa?" Tanyaku balik.
"Apa? Aku tidak mungkin takut." Ucap Dafa.
"Siapa yang akan memegang tanganmu?" Ucap Dafa tampak begitu kesal.
Kami kemudian mulai naik ke atas roller coaster itu. Aku melihat Dafa tampak panik.
'Hihihi... Dia tampak menggemaskan.'
Roller coaster itu pun mulai bergerak. Setelah beberapa detik kemudian, Dafa memegang tanganku dengan sangat erat.
'Bukankah kau berkata bahwa kau tidak akan memegang tanganku? Bagaimana kau bisa memegang tanganku dengan sangat kuat sekarang?' Ucapku.
"Itu karena waaahh..." Teriak Dafa.
Kami turun ke bawah dengan sangat cepat.
'Wow ini sangat menyenangkan. Tapi aku takut ini tidak menyenangkan bagi Dafa.'
Saat kami selesai, Dafa merasa begitu sakit kepala.
"Kau seharusnya mengatakan kepadaku jika kau memiliki masalah dengan ketinggian. Dasar idiot!" Ucapku kepada Dafa.
"Ini adalah kencan kita. Aku tidak mau mengacaukan semuanya." Ucap Dafa.
Aku tersentuh setelah mendengar ucapannya itu. Kami lalu mulai main permainan yang lain yang tidak membuat Dafa pusing ataupun sakit kepala dan kemudian kami memakan es krim. Hari ini sangat menyenangkan.
Saat kami kembali ke hotel, aku hampir saja menjatuhkan es krim ku ke lantai saat melihat seseorang mendekat ke arah kami, dan itu adalah Mila.
'Apa yang dia lakukan di sini?'
Dafa terlihat terkejut sama seperti diriku. Aku berbisik kepada Dafa.
"Kenapa dia ada di sini?" Tanyaku pada Dafa.
"Apa kau berpikir bahwa aku tahu kenapa dia di sini?" Ucap Dafa kepadaku.
Mila mendekat ke arah kami dengan senyuman yang begitu lebar di wajahnya dan senyuman itu tampak sangat palsu bagiku.
"Sungguh suatu kebetulan bahwa kalian juga menginap di hotel ini." Ucap Mila.
"Iya, aku tidak menyangka akan bertemu dengan dirimu di sini." Balas Dafa.
'Ya... ya... ya... Kebetulan matamu. Jangan katakan padaku bahwa Dafa mempercayai dirinya?' Ucapku dalam hati.
"Apa yang kau inginkan Mila?" Ucapku.
Mila melihat ke arahku dengan tatapan yang kecewa.
Dia berkata, "Sheila, aku tahu bahwa apa yang aku lakukan sangat buruk. Tapi aku ini juga manusia biasa. Bisakah kau memaafkan aku?"
'Jika saja kau memang menyesal aku mungkin memaafkan mu. Tapi karena kau adalah wanita ******....'
__ADS_1
"Aku sudah pernah mengatakan kepadamu sebelumnya. Jika kau tidak mengganggu aku lagi, maka aku tidak akan mengganggumu. Kau tidak perlu meminta maaf padaku." Ucapku.
Mila terlihat sedih dan aku tahu bahwa itu hanya sandiwara. Aku benar-benar ingin memukuli wajahnya itu dengan tamparan dariku. Dafa melihat ke arahku dengan wajah yang tampak kecewa.
'Apakah dia memang masih mempercayai wanita rubah di depan kami ini?' tanyaku dalam hati.
"Sheila... Mila, hanya melakukan satu kesalahan. Terlalu jahat bagimu untuk mengatakan hal itu padanya." Ucap Dafa padaku.
"Apa? Aku jahat? Apa yang dilakukannya itu semua sudah berlebihan bahwa aku tidak..... Ah sudahlah, lupakan saja. Aku akan kembali ke kamarku." Ucapku.
Aku hendak berbalik ke kamar saat sebuah tangan menarik aku dan itu adalah Mila.
"Tunggu, bisakah kita makan malam bersama? Hanya untuk meminta maaf karena mengganggu liburan kalian, kumohon." Ucap Mila.
Aku yakin bahwa dia ingin melakukan sebuah rencana licik kepadaku. Apakah dia pikir bahwa aku akan terjatuh dalam rencana jahatnya itu.
"Tentu saja ti...."
Dafa menutup mulutku dengan tangannya dan berkata, "tentu saja iya."
"Tapi..." Ucapku.
"Tidak ada tapi-tapian. Ayo kita pergi." Ucap Dafa.
'Ayo kita lihat rencana apa yang ingin dia lakukan kali ini.'
Kami pun pergi ke restoran yang ada di hotel itu. Saat tiba di sana, Mila pun meminta kami untuk memesan apapun yang kami inginkan.
Makanannya terlihat enak. Aku mulai makan dengan perlahan. Dafa makan dengan normal. Dia tentu saja tidak memikirkan hal yang lainnya. Saat aku melihat jus jeruk yang baru datang dibawa oleh seorang pelayan, aku melihat ada sesuatu yang aneh di dalamnya. Itu sudah tentu bukan hanya sebuah jus jeruk saja.
Sebelum aku bisa menghentikan Dafa, dia sudah meminum jus jeruk itu. Bahkan jika aku mengatakan kepadanya, dia pasti tidak akan mendengarkan aku. Aku pun berpura-pura untuk meminum jus jeruk itu.
"Akan lebih baik jika Dafa dan aku kembali sekarang." Ucapku.
"Tunggu sebentar, aku ingin mengatakan sesuatu kepadamu." Ucap Mila.
Mila tidak bisa mengatakan apapun karena Dafa menghentikan ucapannya.
"Aku merasa pusing. Sheila bawa aku kembali ke kamar." Ucap Dafa.
Efek dari minuman itu dimulai. Lebih baik jika aku berpura-pura untuk pusing juga. Aku akan melihat apa yang akan dia lakukan, kemudian aku akan menyelamatkan Dafa.
"Aku juga merasa pusing." Ucapku dengan suara yang lemah.
Dafa mulai pingsan dan aku pun berpura-pura untuk jatuh juga ke lantai.
"Guys, kalian bisa datang sekarang. Bawa dia ke sebuah kamar dan bersenang-senanglah dengannya. Ingat untuk mengambil foto dan video." Ucap Mila.
"Iya Nona. Ayo pergi, aku tidak bisa menunggu lagi. Dia sangat cantik." Ucap seorang pria yang datang setelah dipanggil oleh Mila itu.
Para pria itu membawa aku pergi. Aku melihat beberapa pria juga membawa Dafa.
'Apa yang akan mereka lakukan kepada Dafa?'
"Bawa dia ke kamar nomor 45." Ucap Mila.
Jangan bilang jika dia ingin melakukan sesuatu hal dengan Dafa saat Dafa tidak sadarkan diri. Benar-benar wanita menjijikkan.
Kemudian dua pria itu membawa aku ke sebuah kamar dan menaruh aku di atas tempat tidur.
"Hehehe, kita akan bersenang-senang malam ini." Ucap kedua pria itu.
Sebelum mereka bisa menyentuhku, aku langsung memegang tangan mereka.
Salah satu dari mereka berkata, "apa??? Dia masih bangun."
"Memangnya kenapa? Apakah kau takut kepada seorang gadis?" Ucap pria lainnya.
Mereka menganggap aku lemah. Biarkan aku menunjukkan bagaimana seorang gadis bisa begitu kuat. Aku lantas berdiri dan memegang leher mereka masing-masing dengan kedua tanganku yang kuat dan mulai mencekik mereka.
"Aku... aku... tidak bisa bernapas." Ucap seorang pria itu.
"Ka... kau akan membuat kami mati." Ucap pria lainnya.
Aku melepaskan mereka dan mereka pun terjatuh ke lantai. Aku lalu memukuli kepala mereka dengan sangat keras dan mereka pun langsung pingsan.
Mereka benar-benar pria yang lemah, sangat lemah. Aku melihat ke sekeliling, dan aku melihat sebuah botol parfum yang aneh.
'Love Filtre' Itu adalah sebuah tipe dari obat-obatan. Biarkan aku mencobanya nanti. Aku lalu keluar dari kamar itu dengan membawa botol parfum itu. Kamar di mana aku berada adalah kamar nomor 44, kamar sebelah adalah di mana Mila membawa Dafa. Aku lalu membuka kamar itu dan....
'Oh ya Tuhan...'
Mila hampir saja menelanjangi Dafa.
Aku mendekat ke arah Mila dan sebelum dia menyadari kehadiranku, aku langsung mengarahkan botol parfum itu padanya dan menyemprotkan ke arahnya. Dia langsung berubah aneh.
"Aku ingin bersenang-senang. Pria tampan, bisakah kau diam bersamaku di sini?" Ucap Mila.
'Diam bersamanya? Dasar wanita ******. Matilah kau.' ucapku dalam hati.
Aku lalu berusaha membawa Dafa keluar dari dalam kamar itu. Untung saja kamar kami berada di kamar nomor 52 dan tidak terlalu jauh dari kamar itu. Aku lalu menaruh Dafa di atas tempat tidur dan kemudian aku kembali ke kamar Mila. Dia tengah berbaring di tempat tidur.
'Biarkan aku memberikanmu sebuah pelajaran berharga sekarang.' ucapku dalam hati dengan menyeringai.
Aku pergi ke kamar di mana kedua pria itu masih berbaring. Mereka masih sedikit tidak sadar, tapi sudah bangun. Aku memberikan mereka parfum love filtre itu dan membawa mereka ke kamar Mila.
"Guys, kemari lah. Aku menginginkan kalian." Ucap Mila.
Para pria itu hampir saja bangun. Jadi, aku lebih baik pergi sekarang.
'Bersenang-senanglah kalian bertiga.'
Aku benar-benar ingin melihat wajah Mila saat efek dari parfum itu berakhir nantinya. Apakah Dafa akan masih melihat Mila sebagai gadis yang polos? Ngomong-ngomong Mila memang pantas menerima semua yang sudah dia lakukan.
__ADS_1
Bersambung....