Aku Wanita Simpanan

Aku Wanita Simpanan
Tentang Anak-anak


__ADS_3

PoV Author


Hari ini Reyhan begitu bahagia karena dia akan pergi berlibur ke sebuah desa dimana Oma dan Opa nya yang merupakan kedua orang tua Ammar sudah menunggu dirinya dan juga Sofia di desa kelahiran Papa Ammar. Desa itu berada dekat dengan pegunungan, jadi hawanya dingin dan sejuk. Reyhan, Sofia dan kedua orang tuanya pun berangkat dan akhirnya sampai di desa itu pukul 12.00 siang.


Tiba di sana perut Reyhan merasa lapar dan dia juga merasa haus.


"Papa, aku lapar." Ucap Reyhan yang sudah berusia 7 tahun itu.


Ammar lantas mengajak mereka mencari makanan siang di daerah sekitar sana. Ada banyak sekali penjual makanan kaki lima. Mulai dari bakso dan makanan khas di daerah itu.


"Kalian mau makan apa?" Tanya Fara kepada kedua anaknya itu.


"Aku mau makan bakso." Ucap Reyhan antusias.


Sementara Sofia yang sebenarnya tidak terlalu suka dengan agenda liburannya pergi ke desa itu tetap tampak tidak bersemangat.


"Terserah." Balasnya.


"Ayolah Sofia. Bukankah ini menyenangkan? Kau bisa dapat pengalaman baru sayang. Sekali-sekali, kau harus keluar dari hiruk pikuknya perkotaan dengan liburan ke desa yang udaranya segar dan pemandangannya asri." Ucap Fara mencoba meyakinkan Sofia bahwa semuanya akan terasa menyenangkan.


"Kalau memang menyenangkan, kenapa hanya aku dan Reyhan yabg harus tinggal disana bersama Oma dan Opa, sementara Mama dan Papa malah harus kembali ke kota? Apa enaknya tinggal di desa, pasti tidak ada sinyal untuk internet." Protes Sofia.


Ammar hanya menggelengkan kepalanya mendengar ucapan putri sulungnya itu.


"Kau pasti akan menyukainya Tuan Putri." Ucap Ammar.


"Papa... Berhenti memanggil aku Tuan Putri. Aku sudah 9 tahun, sudah bukan anak kecil berusia 5 tahun." Lagi-lagi Sofia protes.


"Bla... Bla... Bla..." Celetuk Reyhan yang membuat Sofia semakin kesal.


"Sudah... Sudah... Sekarang ayo pesan makanannya. Oma dan Opa pasti sudah menunggu kalian." Ucap Fara.


Setelah selesai makan mereka pun kembali berangkat. Meski mereka sudah begitu letih saat tiba di rumah Opa dan Oma yang ada di desa itu, ternyata di sana sudah ada banyak keluarga yang menunggu kedatangan Reyhan, Sofia dan kedua orang tuanya.


"Wah ramai juga yang datang ya Ma, Pa." Kata Reyhan antusias.


Papa Ammar memang berasal dari desa itu. Namun di masa muda, dia pergi bekerja ke kota dan sampai akhirnya berhasil dan menikah hingga menetap di kota dan menjadi orang sukses. Tapi Papa Ammar tidak pernah melupakan kampung halamannya hingga membuatnya secara khusus membangun rumah disana meski sebenarnya dia sendiri sudah tinggal di kota.


Papa dan Mama Ammar sudah datang dua hari lebih dulu dibandingkan Ammar, Fara dan kedua anak mereka.


Setelah bersalam-salaman dengan para keluarga dan juga tetangga, mereka langsung bergegas beristirahat di kamar masing-masing. Terutama Sofia yang memang belum merasakan bagaimana seru nya liburan di desa.


Sementara Reyhan yang sejak awal sudah sangat antusias, langsung bermain bersama anak-anak seusianya setelah meminta izin kepada kedua orang tuanya.


"Ma, Pa, aku mau main dulu ya." Ucap Reyhan pada kedua orang tuanya yang tengah duduk di ruang tamu bersama Oma dan Opa nya.


"Baiklah, tapi ingat untuk berhati-hati." Ucap Fara.


"Siska, Roni, tolong jaga Reyhan ya." Ucap Opa Arman, Papa Ammar.


"Baik." Jawab dua bocah yang merupakan sepupu jauh Reyhan itu.


Reyhan pun mulai pergi bermain di sawah. Saat bermain di sana, ada teman dari para sepupu Reyhan yang tinggal di desa itu. Reyhan diperkenalkan kepada beberapa teman-teman sepupunya dan mereka pun bermain dengan seru sekali.


Reyhan tidak menyangka ternyata bermain di sana sangatlah menyenangkan. Salah satu permainan yang seru adalah saat mereka bermain di dekat air terjun. Di sana ada sungai kecil yang biasa dipakai oleh para sepupunya dan teman-teman sepupunya itu berenang. Sesaat Reyhan ragu untuk masuk ke sungai itu karena dia tidak begitu mahir berenang.


"Reyhan lihat sini, kita berenang yuk airnya segar." Ujar Siska saudara sepupu Reyhan.


"Iya, ayo Reyhan." Ucap Roni.


Ammar sering sekali menceritakan kepada Reyhan saat kecil dia sering bermain air dan berenang di sungai kecil itu jika liburan sekolah saat dibawa liburan oleh Opa Arman. Ammar dan teman-temannya biasa sering bermain yang di sana. Jadi Reyhan pun penasaran bagaimana asyiknya bermain air.


"Hu.... Anak kota seperti dia mana berani loncat dan berenang ke sungai." Celetuk salah satu anak dari belakang.


Reyhan menjadi kesal mendengar anak itu berbicara seperti itu terhadapnya. Ini semua adalah pengalaman pertama bagi Reyhan Jadi dia merasa ragu dan sedikit takut. Memang jika di rumah dia lebih sering bermain gadget dan menonton televisi karena di sana memang tidak ada sungai dan air terjun seperti di tempat ini.


Reyhan pun berpikir, jika dia tidak mencoba sekarang, pasti dia akan menyesal.


Sebenarnya kedua orang tuanya sering mengingatkan Reyhan untuk mulai belajar berenang. Ammar Papa nya, pernah berkata kepadanya.


"Reyhan, berenang itu bisa melatih keberanian dan rasa percaya diri."


Tapi Reyhan tetap saja mengelak dan berkata, "nanti saja Pa. Aku sering dapat banyak PR dari sekolah."


Sekarang Reyhan baru sadar bahwa ajakan sang Papa untuk belajar berenang memang penting baginya. Jadinya sekarang dia kurang percaya diri. Reyhan pun berjanji mulai sekarang jika Sang Papa mengajak dia berolahraga, dia pasti akan segera melakukan saran Papanya itu.

__ADS_1


Entah kenapa Reyhan memang suka menunda-nunda semuanya. Dia pun ingin berubah lebih baik dan lebih disiplin lagi. Reyhan segera tersadar dari lamunan dan menjawab ejekan dari teman-teman yang sudah menunggu dia untuk terjun dan dari tepi sungai.


"Siapa takut.... Aku berani kok." Ucap Reyhan.


Reyhan ingin membuktikan bahwa anak kota seperti dirinya adalah anak pemberani dan harus melawan rasa takut dan juga ragu-ragu dalam dirinya. Kemudian Siska dan Roni saudara sepupunya itu menunggu dan menyemangatinya dari dalam sungai.


"Oke siap-siap ya... Awas Iron Man meluncur." Kata Reyhan.


Byurr.....


Suara gemercik air sungai saat Reyhan melompat masuk.


"Reyhan, kamu memang keren." Pekik teman-teman yang lain.


Seharian mereka bermain dan tertawa bersama, sampai tidak terasa jika mereka sudah melewati waktu berjam-jam. Saat perut terasa lapar, mereka berlarian menuju kebun. Di kebun itu ada banyak buah-buahan. Mereka pun memetik buah-buahan yang banyak macamnya, mulai dari buah rambutan, sawo, apel dan juga buah jeruk.


'Wah enak sekali kalau mau makan buah tinggal petik ya!' batin Reyhan.


Sementara di rumah, Fara sudah begitu khawatir karena Reyhan belum juga kembali setelah hampir lima jam. Dia merasa menyesal karena sudah mengizinkan Reyhan pergi.


"Bagaimana ini Ma, Pa. Kenapa Reyhan belum kembali juga?" Ucap Fara khawatir.


"Tenanglah sayang." Ucap Mama mertua Fara.


"Ammar, ayo kita pergi ke sungai. Mungkin anak-anak itu bermain disana." Ucap Opa Arman.


"Tuh kan, apa aku bilang. Liburan disini tuh pasti gak enak. Lihat sekarang, bukannya buat seneng malah ada aja masalahnya." Celetuk Sofia yang masih saja sibuk menatap layar ponselnya.


Tepat saat Ammar dan Opa Arman hendak berjalan, Reyhan dan anak-anak lainnya tampak berjalan mendekat ke rumah. Fara, Ammar dan yang lainnya terdiam melihat Reyhan yang tampak tertawa riang dengan pakaiannya yang masih tampak basah.


"Besok main lagi ya." Teriak Reyhan pada teman-teman barunya.


Semua anak yang lainnya mengangguk lalu masing-masing pulang ke rumah. Sementara Reyhan beranjak mendekat ke arah Sang Mama yang matanya sudah tampak berair mengkhawatirkan dirinya.


"Ma, lihat apa yang aku bawa. Aku bawain Mama apel, jeruk dan rambutan." Ucap Reyhan riang.


Namun tepat saat dia melihat wajah Mamanya yang sendu, Reyhan lantas bingung apalagi saat Fara langsung memeluknya dengan begitu erat.


"Mama kenapa?" Tanya Reyhan semakin bingung.


"Waahh... Kamu dapat buah ini darimana?" Tanya Sofia.


"Di kebun." Balas Reyhan singkat.


"Kamu gak apa-apa kan sayang?" Tanya Fara pada Reyhan.


"Gak apa-apa Ma. Justru aku seneng banget hari ini. Lihat, bajuku basah karena mandi di air terjun. Terus aku pergi ke kebun petik buah langsung dari pohonnya, dan....."


Reyhan terus menceritakan semua pengalaman bermainnya di hari pertama dia tiba di desa itu. Mendengar cerita Reyhan, membuat Sofia jadi penasaran untuk ikut bermain esok harinya.


Di desa itu Reyhan dan Sofia menginap selama 3 hari. Sedangkan Papa dan juga Mama mereka pulang keesokan harinya setelah mengantar Reyhan dan juga Sofia karena kedua orang tua mereka harus kembali bekerja di kota dan tidak bisa berlama-lama di desa.


"Ingat, jangan main sampai lupa waktu. Jangan main di sungai yang dalam. Jangan..."


"Iya Ma, iya...." Ucap Reyhan dan Sofia yang sudah bosan mendengar pesan dari Fara sebelum kembali ke kota.


"Tenanglah, disini ada Mama dan Papa." Ucap Mama mertua Fara yang akhirnya bisa membuat Fara merasa tenang.


Selama liburan bersama dengan Opa dan Oma mereka di desa itu, ternyata berat badan Reyhan dan Sofia jadi bertambah itu karena mereka berdua makan masakan Oma mereka yang rasanya memang enak sekali.


Sofia yang awalnya tidak suka dengan liburan itu, akhirnya bisa menikmati semuanya dengan sangat senang.


"Hemmm.... Ini enak banget Oma." Kata Reyhan sambil nyengir.


"Iya Oma." Ucap Sofia.


Sementara Oma mereka hanya tersenyum mendengar perkataan Reyhan dan Sofia. Setelah beberapa hari mereka menginap di sana saatnya mereka pun pulang kembali ke kota karena memang waktu liburan sekolah sudah habis.


Hari terakhir di desa itu Opa mereka mengajak mereka berkeliling ke suatu tempat. Setelah sampai di sana Reyhan dan Sofia melihat banyak sekali sapi. Ternyata tempat itu adalah peternakan sapi dan kambing milik keluarga Opa Arman yang ada di sana di sana.


Reyhan dan Sofia diajari cara memerah susu dan meminum susu sapi segar. Sepulang dari peternakan sapi, pada malam harinya mereka diajak melihat pasar malam.


Di sana Reyhan dan Sofia bermain roda gila. Setelah itu membeli jajanan, lalu mereka pun pulang karena mereka lelah dan mereka pun tertidur dengan lelap.


...----------------...

__ADS_1


Waktu benar-benar terasa berjalan dengan begitu cepat. Anak-anak Faradina dan Ammar, sudah mulai beranjak remaja. Putri sulung mereka Sofia, kini sudah berusia 14 tahun. Sementara Reyhan baru berusia 12 tahun. Hal ini membuat Ammar menjadi jauh lebih protektif terhadap putri sulungnya dibandingkan dengan Faradina yang masih bisa santai menghadapi sikap anak-anaknya yang mulai pubertas itu.


Hari ini Sofia pulang dari sekolahnya dengan wajah yang begitu ceria. Dia bergegas masuk ke dalam rumah ingin segera bertemu dengan Mama dan Papa nya.


"Mama, temanku bilang bahwa mereka akan datang ke rumah kita untuk menginap." Ucap Sofia saat dia masuk kedalam dapur sepulang dari sekolahnya.


"Nona Sofia, Mama Non sedang berada di ruang kerja bersama dengan Tuan." Ucap seorang pelayan kepada Sofia saat dia masuk kedalam dapur.


"Baiklah, terima kasih Bi. Aku akan pergi kesana." Ucap Sofia dengan wajah begitu ceria.


Setelah itu sofia berlari kearah ruang kerja kedua orang tuanya dan dia langsung masuk ke dalam ruangan itu setelah membuka pintunya.


"Mama, Papa, aku akan masuk." Ucap Sofia.


Sofia melihat kedua orangtuanya tengah sibuk dengan pekerjaan mereka.


"Mama dan Papa selalu saja sibuk dengan pekerjaan kalian." Protes Sofia.


Ammar dan Fara hanya bisa tersenyum melihat ke arah Tuan Putri mereka itu.


"Oh ya Mama, teman-temanku akan datang kemari untuk menginap. Apakah Mama mengizinkan?" Tanya Sofia.


Dia lalu memilih untuk duduk di sebuah sofa yang ada di dalam ruangan kerja itu sembari melihat orang tuanya yang masih sibuk dengan pekerjaan mereka.


"Baiklah sayang, Mama tentu saja mengizinkan." Ucap Faradina tanpa menatap ke arah Sofia karena matanya terus sibuk menatap layar komputernya.


Sementara itu Ammar melihat kearah putrinya dan bertanya kepadanya.


"Sayang, siapa yang akan datang?" Tanya Ammar kepada putrinya itu.


"Teman-temanku Pa. Mereka akan datang beberapa menit lagi." Ucap Sofia dengan tersenyum.


"Apa teman laki-laki juga?" Tanya Ammar mulai khawatir.


"Iya Papa, mereka juga adalah teman-temanku." Balas Sofia santai.


"Tidak, mereka tidak diizinkan kemari di saat malam hari." Ucap Ammar tegas.


Wajah Sofia mendadak berubah kesal setelah mendengar ucapan Papa nya itu. Fara yang menyadari hal itu pun mulai melepaskan pandangannya dari layar komputernya.


"Hentikan ini Ammar. Kita sudah tahu bahwa mereka semua adalah teman-teman Sofia. Jadi tidak ada yang perlu di khawatirkan tentang hal itu." Ucap Faradina.


Wajah Sofia kembali berubah ceria setelah mendengar pembelaan dari Mama nya itu. Tiba-tiba suara bel di pintu utama rumah keluarga itu pun berbunyi. Fara langsung meminta Sofia untuk pergi dan membuka pintu itu. Sofia pun segera berlari untuk membuka pintu dan menyapa teman-temannya yang sudah datang itu.


"Fara, ini semua tidak baik. Kau terlalu memberikan kebebasan untuk anak-anak yang baru berusia 14 tahun. Dia belum cukup mengerti tentang semua hal ini. Di usianya yang sudah remaja ini, tidak sepantasnya dia terlalu bergaul dengan anak laki-laki. Apalagi kita sebagai orang tua sampai membebaskan dia untuk mengajak teman laki-lakinya itu menginap di rumah." Ucap Ammar mulai berdebat dengan Faradina.


"Tenanglah Ammar. Bahkan jika aku memberikan dia kebebasan, dia pasti tidak akan melewati batasnya. Dan kau tahu yang terbaik untuk kedua anak kita. Jadi kau tidak usah terlalu khawatir." Ucap Fara dengan tersenyum.


Sementara itu di ruang tamu...


"Kakak... Apa Kakak membawa teman-teman Kakak pulang ke rumah?" Tanya Reyhan dengan tersenyum saat masuk ke dalam rumah.


Ammar juga tersenyum melihat ke arah teman-teman Kakak perempuannya itu.


"Iya benar sekali adikku yang paling menggemaskan." Ucap Sofia seraya mencubit pipi Reyhan.


"Hentikan ini kakak. Tidak akan butuh waktu yang lama bagiku untuk membalas Kakak. Ingatlah urusi saja semua urusan Kakak." Ucap Reyhan dengan membisikkan itu di telinga Sofia.


"Apa yang dia katakan Sofia?" Tanya teman Sofia kepadanya.


"Adikku hanya mengatakan bahwa dia mau pergi ke kamarnya karena dia sudah mengantuk." Ucap Sofia dengan senyuman palsu di bibirnya.


Suara orang yang tengah berdebat terdengar dari lantai atas. Semua anak-anak itu pun menatap ke arah lantai atas.


"Sofia orang tuamu terlihat tengah bertengkar. Tidakkah kau mau pergi untuk menghentikan mereka?" Ucap teman Sofia lagi.


"Mereka itu! Waktu bagi mereka untuk bisa berdamai lebih sedikit dibandingkan dengan waktu mereka bertengkar. Itu semua selalu terjadi. Mereka tidak bertengkar sebenarnya. Kalaupun mereka bertengkar, maka itu hanya membutuhkan waktu beberapa menit untuk berdamai." Ucap Reyhan saat dia melangkah ke lantai atas sembari bermain dengan ponsel di tangannya itu.


Beberapa menit pun berlalu....


Ammar dan Fara pun turun ke lantai bawah dengan wajah yang ceria dan senyuman di bibir mereka.


"Selamat datang anak-anak. Bersenang-senanglah di sini." Ucap Ammar dengan tersenyum.


"Benarkah? Om dan Tante benar-benar pasangan yang menakjubkan." Ucap teman-teman Sofia dengan mengangkat ibu jari mereka secara bersama-sama.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2