Aku Wanita Simpanan

Aku Wanita Simpanan
8. Mimpi


__ADS_3

Setelah Amira dan teman-temannya makan siang bersama di mall, Amira lalu mengantar Calvin ke rumahnya.


"Wow Calvin, apakah kau juga terlahir dari keluarga yang sangat kaya raya?" Tanya Cindy setelah melihat rumah Calvin yang tampak begitu megah.


Calvin tersenyum kearah Cindy. Hal itu membuat Cindy menjadi merona.


Di pun berkata, "apa? Katakan saja, kenapa kau malah tersenyum tiba-tiba?"


"Terima kasih untuk hari ini." Ucap Calvin.


Dia lalu masuk ke dalam rumahnya.


"Amira senyuman Calvin itu sangat menawan bukan, tidakkah kau berpikir seperti itu?" Ucap Cindy.


"Hmmm..." Balas Amira singkat.


Ariel yang duduk di kursi depan disamping Amira, terus menatap Amira dengan senyuman di wajahnya.


"Tidak bisakah kau melihat kearah lain?" Ucap Amira.


"Tidak." Balas Ariel singkat.


'Ah pasangan ini benar-benar ya...' pikir Cindy menghela napas. 'Kenapa aku malah melihat Calvin saat aku menutup mataku? Senyumannya itu benar-benar menawan.'


Amira lalu mengantar Ariel ke rumahnya dan menghentikan mobilnya.


"Pergilah sekarang." Ucap Amira kepada Ariel.


"Cuma begini saja?" Tanya Ariel.


"Memangnya apalagi?" Balas Amira.


Ariel menyeringai dan berkata, "ayo kita lanjutkan nanti, apa yang kita lakukan di mall tadi."


Ariel bangun lalu keluar dari dalam mobil dan mengedipkan matanya ke arah Amira.


"Apa-apaan itu? Dia benar-benar sudah gila. Kenapa dia mengatakan hal itu?" Ucap Amira.


"Oh ya Tuhan! Apa yang sudah dia lakukan?" Tanya Cindy dengan kegirangan.


"Duduklah di depan." Ucap Amira kepada Cindy.


"Katakan padaku... Katakan padaku..." Ucap Cindy.


Amira menghela napas dan berkata, "apakah kau mempercayai aku atau dia?"


"Tentu saja aku akan percaya padamu." Balas Cindy dengan menyembunyikan jemarinya dibelakang.


Amira menatap Cindy dan berkata, "hmmm... Aku bisa lihat itu."


Cindy terkekeh.


Di sisi lain di rumah Ariel....


Mama Ariel melihat semuanya dari jendela kamarnya. Dia turun ke lantai bawah dan bertanya kepada Ariel.


"Sayang kau tidak diizinkan untuk bertemu dengannya sampai waktunya tiba nanti." Ucap Mama Ariel.


"Kenapa?" Tanya Ariel.


Mama Ariel menghela napas dan berkata, "tunggulah sebentar lagi."


Mama Ariel lalu kembali ke kamarnya setelah mengatakan hal itu.


"Apa sebenarnya maksud Mama mengatakan hal itu?" Ucap Ariel menghela napas panjang.


Dia lalu naik ke lantai atas menuju kamarnya untuk mengganti pakaiannya.


'Kenapa aku tidak menemukan apapun tentang tunangannya itu, dengan siapa dia sebenarnya bertunangan? Dan untuk Calvin, melihat apa yang terjadi hari ini, jika Cindy dan dia mempunyai perasaan satu sama lain, maka hal itu akan jadi jauh lebih baik. Aku harus mencoba melakukan sesuatu untuk menyatukan mereka agar bisa bersama.' ucap Ariel dalam hati.


************


Amira tiba di rumah Cindy.


"Mama....." Teriak Cindy dari luar rumahnya.


Mama Cindy keluar dari dalam rumah setelah mendengar teriakan putri nya.


"Ya Tuhan, apakah ini mobil barumu sayang?" Ucap Mama Cindy bertanya kepada Amira.


Amira mengangguk dan keluar dari dalam mobil. Dia membawa keluar hadiah yang dia beli untuk orang tua Cindy dan berkata, "tidakkah Tante ingin mengajak aku masuk?"


"Tentu saja." Balas Mama Cindy dengan tersenyum.


Mereka semua lalu masuk ke dalam rumah.


"Kau tidak perlu membawa semua hadiah ini." Ucap Mama Cindy.


"Ini bukan apa-apa." Balas Amira.


Ayo pergi ke kamar ku." Ucap Cindy menarik tangan Amira.


"Tidak untuk hari ini. kakak ku pasti sudah pulang, dan kau tahu bagaimana dia." Ucap Amira dan berdiri hendak keluar rumah Cindy.


"Tapi, kau baru saja datang." Ucap Mama Cindy.


"Aku akan datang lain kali." Ucap Amira.


Amira pun kembali ke mobilnya dan tak lama setelah itu dia tiba di rumahnya.....


"Kau seharusnya bisa tinggal bersama mereka lebih lama lagi." Ucap Dafa yang mengetahui bahwa Amira dari rumah Cindy.


"Bagaimana mungkin aku meninggalkan kakak ku sendirian." Balas Amira.


Dafa tertawa kecil dan berkata, "pergilah dan ganti baju mu. Setelah itu kita akan makan malam bersama."


Amira dan Dafa lalu makan malam bersama. Saat makan, Dafa berkata kepada Amira.


"Aku akan sibuk saat weekend nanti. Jadi kau yang harus menjemput Mama dan Papa."

__ADS_1


Sendok yang dipegang Amira terjatuh. Hal itu membuat Dafa tertawa melihat keterkejutan dari wajah Amira.


'Untuk Papa, aku bisa pergi. Tapi Mama, apakah Mama tidak akan memakan ku. Aku sangat takut kepada-nya.' pikir Amira dalam hati.


Setelah selesai makan, Dafa mengajak Amira keluar rumah untuk berjalan-jalan.


"Kak, kenapa tiba-tiba kita jalan-jalan begini?" Tanya Amira.


"Kau tidak berlatih sejak minggu lalu. Mulailah latihan mu sekarang." Ucap Dafa.


'Arghhh... Aku harus melakukan banyak latihan, tapi aku sebenarnya mulai kuat karena latihan itu.' ucap Amira dalam hati.


Amira melihat kearah Dafa dengan tersenyum dan berkata, "Kak Dafa adalah kakak terbaik di dunia ini."


Dafa mengusap kepala Amira.


"Aahh, kakak merusak rambut ku." Ucap Amira.


Dafa tersenyum pada Amira dan berkata, "dan kau adalah kelinci kecil terbaik."


Dafa lalu berlari setelah mengatakan hal itu.


"Hei, aku bilang kakak tidak boleh memanggilku seperti itu dan... Berhentilah... Kenapa kakak berlari." Teriak Amira dan mengikuti Dafa dengan berlari mengejarnya.


Setelah beberapa saat, mereka akhirnya kembali ke rumah dengan kelelahan.


"Aku tidak akan berlari lagi." Ucap Amira.


Dafa mengangguk, mereka berdua lalu masuk ke dalam rumah. Seorang pelayan yang selama ini bekerja sejak Amira masih kecil, mengajak Amira masuk ke dalam kamar. Pelayan itu sudah seperti anggota keluarga bagi Dafa dan Amira. Dia tampak marah kepada mereka berdua karena lari saat larut malam.


"Nona Amira, tolong jangan buat saya khawatir." Ucap pelayan itu.


Amira memeluk pelayan itu dan berkata" ayolah Bi, tidak ada yang perlu bibi khawatir kan."


Pelayan itu lalu membalas memeluk Amira dan berkata, "pergilah dan mandi. Nona bau keringat."


Amira lalu masuk ke dalam kamar mandinya dengan wajah yang tampak malu.


'Hmmmpphhh .. Aku tidak begitu bau.' ucap Amira dalam hati.


Amira lalu mandi setelah pelayan keluar. Dia keluar dari dalam kamar mandi setelah beberapa saat kemudian dan mengeringkan rambutnya sebelum dia tidur.


"Hari ini benar-benar hari yang sangat menyenangkan." Ucap Amira lalu menghela napas.


'Wajahnya yang tampak cemburu itu begitu menggemaskan. Sekarang memikirkan dia membuatku malah mengingat apa yang dia katakan dengan kami akan melanjutkan apa yang terjadi di mall tadi. Sebenarnya apa ya maksud dari perkataannya itu? Kami kan tidak melakukan apapun. Tapi tunggu... tunggu dulu. Apa dia berpikir untuk mencium ku? Ah... Amira bagaimana kau bisa memikirkan hal yang begitu memalukan?


Apakah dia akan benar-benar mencium ku besok?


Argh.... dasar pikiran bodoh. Ayolah biarkan aku tidur.' ucap Amira dalam hati.


Amira lalu tidur setelah memikirkan tentang Ariel.


"Hei Amira, kau pikir kau mau pergi kemana? Aku tidak akan membiarkan mu untuk pergi." Ucap Ariel.


Ariel memegang dagu Amira dan memeluknya mendekat kearah dirinya. Amira tidak dapat berpikir tentang apa yang tengah terjadi. Dia tidak bisa mendorong Ariel ataupun melawannya. Ariel semakin mendekat kearah dirinya. Ariel lalu meniup wajah Amira. Amira pun menutup matanya dengan erat.


"Ahhhhh!!!!! Apa itu tadi? Tunggu dulu, di mana aku?" Amira menghela napas. "Aku bermimpi... Aahhh menjijikkan sekali. Bagaimana bisa aku bermimpi tentang sesuatu yang seperti itu. Aaahhh... Si Ariel jahat itu, ini semua karena dia." Ucap Amira.


Dafa berlari ke arah kamar Amira setelah mendengar teriakan adiknya itu.


"Apa yang terjadi? Kenapa kau berteriak dan kenapa kau berada di bawah?" Ucap Dafa dengan wajah khawatir.


Dafa lalu membantu Amira bangun dari lantai.


"Apa kau demam?" Ucap Dafa seraya menyentuh kening Amira.


"Tidak... Tidak... Disini terlalu panas dan aku terjatuh karena aku bermimpi. Hehehe... Kakak bisa turun dan aku akan kembali tidur." Ucap Amira.


"Kau ini ada-ada saja." Ucap Dafa seraya mengusap kepala Amira lalu berjalan keluar kamar.


***********


Keesokan paginya....


'Kenapa aku tidak bisa berhenti untuk memikirkan mimpi bodoh itu? Ya Tuhan, aku tahu aku tidak bisa menghentikan perasaanku kepada dirinya tapi...'


Amira terus memikirkan tentang Ariel. Dia merasa dirinya sedang berada dalam masalah sekarang.


Setelah selesai sarapan, Amira langsung pergi menjemput Cindy.


"Hai kelinciku." Ucap Cindy setelah keluar dari dalam rumahnya dengan penuh riang.


Tapi amira tidak merespon Cindy. Cindy pun mencubit pipi Amira dan berkata, "apa yang tengah kau pikirkan?"


"Eh, kapan kau keluar?" Tanya Amira kepada Cindy.


"Wow... Kau benar-benar melamun. Hmmmpphh... Ayo cepat kelinciku." Ucap Cindy kepada Amira dan duduk di dalam mobil.


Mereka berdua lalu tiba di kampus. Dan seperti yang terakhir kalinya dilakukan, Amira kembali memarkirkan mobilnya di belakang kampus.


Amira dan Cindy kemudian berjalan sembari mengobrol hingga menuju kelas mereka. Amira terus saja memikirkan tentang Ariel dan mimpinya yang semalam itu. Amira bahkan tidak memperhatikan jalannya dan menabrak Ariel yang ada di depannya.


"Hei, apakah kau baik-baik saja? Apa yang tengah kau pikirkan?" Tanya Ariel kepada Amira.


Setelah menyadari apa yang terjadi, Amira menutup wajahnya dan berkata, "aku mau pergi ke kelas."


Amira lalu berlari dengan cepat menuju kelasnya.


"Sesuatu yang aneh telah terjadi." Ucap Cindy.


Setelah beberapa saat saat, dosen masuk ke dalam kelas. Semua orang mulai terdiam. Dosen memanggil Amira, tapi Amira tidak mendengarkan dosen.


Ariel lalu mengguncang tubuh amira dan berkata, "dosen memanggilmu."


Amira berdiri dan meminta maaf kepada dosen karena tidak mendengarkan.


"Kemari lah dan berikan kertas ini kepada semua orang." Ucap dosen kepada Amira.


Amira mulai membaca kertas itu sebelum membagikan kepada semua temannya. Dan itu adalah kertas tentang camping. Amira menjadi begitu senang untuk segera pergi. Semua siswa lainnya juga begitu senang setelah membaca isi kertas itu.

__ADS_1


"Jadi, kita semua akan pergi camping dan para mahasiswa akan mendapatkan tugas." Ucap dosen itu. " Akan ada empat tim dan setiap timnya terdiri atas 6 anggota. Hal lainnya akan diberikan oleh pelatih kalian nanti." Ucap dosen itu kepada semua orang.


"Wow itu terdengar menarik. Tidakkah kau berpikiran seperti itu Calvin?" Ucap Cindy kepada Calvin.


Calvin pun mengangguk dengan cepat.


"Satu hal lagi, aku akan memilih ketua dari empat kelompok itu. Kelompok pertama akan di ketuai oleh Roby Anggara. Kelompok kedua akan diketuai oleh Febby Adriana. Kelompok ketiga diketuai oleh Calvin, dan kelompok keempat diketuai oleh Amira. Sekarang kalian semua putuskan kelompok mana yang akan kalian pilih." Ucap dosen kepada para mahasiswa.


Kebanyakan mahasiswa ingin bergabung dengan kelompok Amira dan yang lainnya ingin bergabung dengan kelompok Calvin. Mereka semua gaduh akan hal itu, bahkan dosen tidak bisa menghentikan mereka. Amira menjadi marah dan menggebrak meja nya.


"Diam lah..." Teriak Amira.


Semua dari mereka pun terdiam dan duduk di kursi mereka. Amira berdiri dan berjalan maju ke depan.


"Ketiga ketua kelompok, majulah." Ucap Amira.


Amira berkata kepada ketiga ketua kelompok untuk memilih anggota mereka. Dan mereka bertiga pun mulai memilih. Saat giliran Amira tiba, dia mulai melihat ke sekeliling.


Dia melihat ke arah Ariel yang tampak kesal. Amira pun tertawa kecil.


"Aku pilih Cindy." Ucap Amira.


Saat giliran Calvin tiba, dia memilih Ariel.


************


Di tempat lain, saat Sheila tiba di kampus bersama dengan Marissa, semua orang melihat ke arah dirinya.


Sheila memang sudah terbiasa dengan hal itu. Tapi kali ini mereka melihat dirinya lebih aneh lagi. Sheila tidak sengaja mendengar beberapa orang berbisik.


"Dia membuat Ivana dan teman-temannya masuk ke dalam penjara..."


"Aku dengar bahwa Ivana meminta beberapa pria untuk memperkaos Sheila."


"Tapi para pria itu gagal karena Sheila menendang mereka seperti bola."


'Oh jadi karena hal itu? Setidaknya mereka tidak akan menggangguku.' ucap Sheila dalam hati.


Sheila hendak menuju kelasnya saat Dafa berdiri dihadapannya.


'Oh tidak, apakah dia akan membully ku lagi, karena aku membuat gadis yang mengaguminya masuk penjara.' pikir Sheila.


"Apakah kau baik-baik saja? Mereka tidak menyentuh mu kan." Tanya Dafa.


'Eh, apa yang dia katakan? Apakah dia khawatir kepadaku? Tidak... tidak... Aku pasti berpikir berlebihan, bagaimana seorang pembully seperti dirinya khawatir kepada orang yang dibully?' pikir Sheila.


Sheila lalu berpikir bagaimana reaksi Dafa jika dia mengatakan bahwa para pria itu menyentuhnya.


'Hihihihi...! Kenapa tidak, aku coba saja untuk menggodanya.' pikir Sheila.


Sheila lalu menatap Dafa dan berkata, "mmmm.... Aku sedikit bingung awalnya. Jadi mereka menyentuh ku dan mencoba untuk membuka pakaian ku sedikit. Tapi ngomong-ngomong, aku berhasil melawan mereka setelah itu jadi..."


Sheila melihat kearah Dafa dengan wajahnya yang berpura-pura sedih. Tapi di luar dugaan, Sheila malah terlihat marah. Dafa lalu mengambil ponselnya dan menelepon seseorang. Dia berbalik dan Sheila tidak bisa mendengar ucapan Dafa dengan jelas dan menjauhkan ponselnya dari Sheila.


'Berani-beraninya mereka menyentuh wanitaku.' ucap Dafa dalam hati.


'Aku pasti salah lihat, dia tidak mungkin marah.' pikir Sheila.


"Ada apa kenapa kau bertanya?" Ucap Sheila.


Dafa mendekat kearah Sheila, dia memegang dagu Sheila. Wajah mereka berdua sangat dekat, Sheila bahkan dapat merasakan napas Dafa.


"Tidak ada. Jangan berpikir jika aku melihat seseorang mengganggumu, aku akan menyelamatkanmu!" Ucap Dafa.


'Ehm! Dimana aku? Siapa aku? Apa yang aku lakukan? Pertama dia menanyakan apakah aku baik-baik saja dan kemudian dia mengatakan hal ini?' ucap Amira dalam hati.


Sheila melihat ke dalam mata Dafa dan berkata, "aku tidak pernah memikirkan hal seperti itu."


"Hmmmpphhh!!! Bagus, ingat jangan pernah memikirkan hal seperti itu!" Balas Dafa.


"Bisakah kau melepaskan. Aku aku bisa merasakan semua wanita yang mengagumimu menatapku dengan tatapan mematikan." Ucap Sheila.


Dafa akhirnya melepaskan Sheila dan berjalan menjauh. Sheila pun pergi ke kelasnya bersama Marissa.


"Kenapa kau berbohong, ataukah kau ingin menggoda nya?" Tanya Marissa.


"Iya." Balas Sheila.


"Aku rasa dia marah setelah mendengarkan apa yang kau katakan tentang kejadian kemarin." Balas Marissa.


Sheila menepuk punggung Marissa dan berkata, "jangan bercanda. Itu pasti mustahil, aku rasa dia kecewa karena mereka semua tidak berhasil memperkaos aku."


"Aku rasa tidak." Ucap Marissa.


Mereka berdua lalu pergi ke kelas. Seperti biasanya semua orang menatap Sheila. Sheila lalu memilih untum duduk. Dia sedikit kelelahan karena tidak tidur dengan baik semalam. Sheila pun menaruh kepalanya di atas meja dan menutupi wajahnya dengan lengannya. Dia lalu menutup matanya.


'Plak! Plak!'


"Aduh...!"


Seseorang memukuli kepala Sheila. Sheila lalu melihat ke atas dengan matanya yang masih terasa mengantuk. Dia melihat Marissa dengan wajahnya yang menyeringai. Sheila mengangkat kepalanya dengan malas dan mengusap matanya.


"Bangunlah, dosen datang." Ucap Marissa.


Setelah Marissa selesai mengucapkan hal itu, dosen pun masuk ke dalam kelas. Sepanjang pembelajaran dimulai, Sheila harus menahan kantuknya.


Setelah kelas selesai, Sheila duduk di taman. Marissa tiba-tiba berlari ke arahnya.


"Sheila..." Teriak Marissa dengan napas yang ngos-ngosan. "Orang yang mengganggumu kemarin sekarang di berikan hukuman enam bulan di penjara." Lanjut Marissa.


"Apa? Bukankah mereka hanya akan mendapat 2 bulan atau kurang dari itu?" Balas Sheila terkejut.


"Aku tahu! Ada orang yang sangat berpengaruh dibalik semua ini. Aku rasa itu Dafa! Hanya dialah orang yang mengenalmu." Ucap Sheila.


"Apa? Dafa? Kau dengar dia bukan. Dia bilang, dia tidak akan menyelamatkan aku jika aku dalam bahaya. Bagaimana mungkin itu dia? Itu tidak mungkin dia kan? Tapi memang hanya dia orang yang paling berpengaruh yang mengenal aku." Balas Sheila.


'Apakah itu memang Dafa?' pikir Sheila.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2