Aku Wanita Simpanan

Aku Wanita Simpanan
HAMIL


__ADS_3

Pagi ini Ifan dan Intan akan datang berkunjung. Semalam mereka menelpon Izzah memberitahukan bahwa mereka akan ke Jakarta. Izzah tidak mungkin mengatakan bahwa dirinya telah diusir oleh Ibu mertuanya.


Jadi Izzah meminta izin pada Bi Asih dan Mang Diman agar Ifan dan Intan bisa menginap dirumah mereka. Bahkan Bi Asih yang mengerti akan keadaan Izzah mengatakan akan berpura-pura menjadi mertuanya. Izzah sangat bersyukur bisa bertemu dengan orang sebaik Bi Asih dan Mang Diman.


Tepat siang hari Ifan dan Intan sampai, Izzah mempersilahkan mereka masuk. Bi Asih dan Mang Diman sangat baik, mereka bersikap seolah benar-benar sebagai mertua Izzah. Semuanya berjalan dengan baik.


Ifan dan Intan meminta Izzah untuk menemani mereka berkeliling Jakarta sore ini. Intan terlihat bahagia sekali, tangannya tak pernah lepas dari genggaman Ifan. Kemesraan mereka membuat Izzah sedikit iri.


Ahh kapan ya bisa berjalan sambil bergandengan tangan dengan Rayhan dengan bebas ditempat umum seperti mereka, gumamnya dalam hati.


Setelah lelah berkeliling mereka memilih beristirahat disebuah caffe. Izzah merasa lelah sekali, badannya begitu lemas.


"Izzah kau baik-baik saja?" tanya Ifan.


"Iya Izzah, kau terlihat pucat sekali." ucap Intan menambahkan.


"Aku tidak tau, lututku rasanya lemas sekali. Aku merasa sangat lelah. Aaa...ku...." ucapnya kemudian tak sadarkan diri.


Ifan dan Intan panik, mereka berusaha membangunkan Izzah.

__ADS_1


"Mas, cepat gendong Izzah. Kita bawa dia ke rumah sakit." ucap Intan.


Awalnya Ifan ragu, namun Intan mengangguk menandakan agar Ifan segera menggendong Izzah.


Dari kejauhan seorang laki-laki berpakaian hitam memotret saat Ifan menggendong Izzah.


"Halo...!!! Semuanya beres nyonya." ucap laki-laki itu dengan seseorang lewat telepon.


"OK, kerja bagus." sahut seorang perempuan diseberang telepon.


Ifan dan Intan dengan sigap membawa Izzah ke rumah sakit. Tak lupa mereka menghubungi Bi Asih dan Mang Diman.


Saat membuka mata, Izzah terlihat bingung karena mendapati dirinya tengah berbaring dirumah sakit. Terlihat raut panik dari wajah Intan dan Ifan. Bi Asih dan Mang Diman juga sudah ada diruangan itu.


"Izzah kenapa Bu Dokter?" tanya Intan.


"Mbak Izzah hanya kelelahan karena sedang mengandung." jawab dokter.


"Masyaallah, alhamdulillah...." ucap Ifan dan Intan bersamaan, terdengar juga suara Bi Asih dan Mang Diman mengucap syukur.

__ADS_1


"Usia kandungan mba Izzah baru 5 minggu. Jadi mbak Izzah gak boleh banyak aktifitas, gak boleh lelah dulu, mba Izzah harus bedrest yaa." sambung dokter.


"Baik bu dokter." jawabnya.


"Selamat yaa Zah..." ucap Intan.


"Terima kasih..." balasnya.


Yaa Allah terima kasih atas anugerah ini. Aku akan menjaga buah cintaku dan bang Rayhan dengan baik, ucap Izzah dalam hati.


Setelah merasa lebih baik, Izzah sudah bisa pulang kerumah. Sampai dirumah Izzah tak langsung tidur, dia memilih untuk duduk diteras rumah. Intan datang menghampirinya.


"Izzah kenapa belum tidur? Sebaiknya kamu istirahat, gak baik ibu hamil duduk sendirian malam-malam apalagi sampai melamun. Pamali. Lagipula tadi kamukan sempat pingsan, ingat juga pesan dokter, kamu harus bedrest." ucap Intan panjang lebar.


"Aku lagi suntuk aja Tan."


"Hmmmm. Maaf sebelumnya Zah, aku kok gak pernah liat suami kamu. Dia dimana sekarang?"


Izzah terdiam, matanya berkaca-kaca tak tau harus menjawab apa. Mang Diman tak sengaja mendengar pertanyaan Intan.

__ADS_1


"Lagi nyari sebongkah berlian neng Intan." celetuk Mang Diman. "Sebagai suami yang baik, dia teh harus nyari rezeki. Pantang pulang sebelum banyak uang, biar makin disayang. Maklum seperti kata mutiara, ada uang abang disayang tak ada uang abang ditendang. Hahaha, ditendangnya teh sama bapak bukan sama neng Izzah."


Izzah tampak tersenyum, begitu juga dengan Intan. Mang Diman memang selalu bisa membuat Izzah tersenyum dengan guyonan sederhananya.


__ADS_2