Aku Wanita Simpanan

Aku Wanita Simpanan
3. Pertemuan Dafa dan Sheila


__ADS_3

Di dalam mobil....


"Bukankah dia itu temanmu Amira?" Ucap Dafa menanyakan kepada adiknya itu.


Mereka tengah dalam perjalanan pulang ke rumah.


"Dia bukan temanku." Balas Amira dengan cepat.


'Sebelumnya dia terbiasa berbicara denganku tentang pemuda itu, bahkan aku tidak tahu apa yang terjadi hingga membuat adikku ini berubah. Dia dulu begitu periang dan bertingkah sangat menggemaskan, tapi sekarang dia bergantung kepada dirinya sendiri dan dia bersikap begitu dingin. Sekarang kapanpun aku bertanya padanya, dia tidak pernah memberi tahu aku apapun.' pikir Dafa.


Keduanya akhirnya tiba di rumah. Amira langsung pergi ke kamarnya dan dia berkata kepada pelayan bahwa dia tidak akan makan hari ini.


Saat Amira masuk ke kamarnya dia mengingat bahwa dia sudah mengatakan kepada seniornya bahwa dia akan mengajaknya pergi makan malam. Amira akhirnya turun dari lantai atas setelah mengganti pakaiannya. Dia melihat Dafa yang tengah makan dan menatapnya dengan bengong.


"Kau butuh sesuatu?" Tanya Dafa kepada Amira.


"Kak, aku harus pergi makan malam dengan teman ku." Ucap Amira tersenyum, mencoba membuat kakaknya itu setuju akan permintaannya.


Dafa awalnya menolak membiarkan Amira untuk pergi, tapi kemudian Amira berkata bahwa Dafa sendiri bisa ikut bersamanya, kemudian Dafa pun setuju.


"Baiklah, kau boleh pergi. Tapi ingat untuk pulang lebih awal." Ucap Dafa.


Perut Amira berbunyi, hal itu membuat pelayan dan Dafa mulai tertawa. Amira pun duduk dan mulai makan. Setelah menyelesaikan makanannya, dia kembali ke kamarnya.


Sementara Dafa, dia harus pergi ke perusahaan sesuai dengan yang diinginkan papanya.


Seseorang tengah mengklakson mobil di depan rumah. Amira melihat melewati jendela dari kamarnya dan orang itu adalah Ariel. Ariel mengerlingkan mata ke arah Amira. Amira pun menjadi kesal dan dia menutup jendela.


Ariel terus saja melakukan hal itu sampai membuat Amira merasa sangat kesal, dia pun turun ke bawah.


"Bi, temanku ada di luar. Aku harus keluar untuk berbicara dengannya." Ucap Amira kepada pelayan di rumahnya.


Ariel keluar dari dalam mobil dan menunggu kedatangan Amira.


"Aa yang kau lakukan disini?" Ucap Amira dengan marah.


"Ikutlah bersamaku." Ucap Ariel.


"Kenapa aku harus ikut denganmu?" Ucap Amira kesal kemudian hendak masuk ke dalam rumah.


Ariel langsung mengangkat tubuh Amira dan menaruh nya di pundaknya dan berkata, "ternyata tidak sia-sia aku sering pergi nge-gym."


Amira terus berteriak ke arah Ariel. Pelayan yang melihat ke arah mereka tampak khawatir. Dia lalu bergegas menelepon Dafa dan hendak memberitahukannya tentang hal itu.


"Kau mau membawaku kemana?" Amira berteriak kepada Ariel.


Ariel menaruh Amira dalam mobil dan memasangkan sabuk pengamannya dan membuatnya duduk.


Ariel lalu berkata kepada pelayan itu, "jangan khawatir, aku bukanlah pria jahat."


Pelayan itu menghentikan langkahnya untuk menelpon Dafa dan berkata, "bawa Nona pulang dengan cepat atau Tuan Dafa akan marah nanti.'


Ariel pun menganggukkan kepalanya.


'Apa-apaan ini? Pelayan malah terpesona karena melihatnya. Dia benar-benar pria yang memalukan.' ucap Amira dalam hati.


*************


Sementara itu, Dafa tengah berada di dalam ruangan di sebuah perusahaan papanya. Arka tengah meminta putranya itu untuk mengurus beberapa dokumen. Tapi, yang dilakukan Dafa justru melamun dengan menatap tumpukan dokumen yang ada dihadapannya itu.


Dafa mengingat kejadian di kampusnya pagi tadi.


Sebelumnya....


Sama seperti hari biasanya, seorang gadis bernama Sheila, tengah berada di dalam perpustakaan. Dia tengah duduk membaca buku. Sheila hari ini harus pergi ke ruangan dekan fakultas nya, tapi jujur saja dia tidak mengetahui dimana tempat itu karena dia sendiri seorang mahasiswa baru dan juga dia begitu jarang bersosialisasi dengan orang lain dan dia lebih banyak menghabiskan waktunya di perpustakaan.


Dia ingin bertanya kepada kakaknya, tapi kakaknya masih berada di dalam kelas tengah menerima pembelajaran. Jadi dia pun memutuskan untuk mencoba bertanya kepada seseorang.


'Oh di sana ada seorang laki-laki. Aku coba bertanya padanya saja.' ucap Sheila dalam hati.


"Hai, aku baru di sini. Bisakah kau memberitahuku dimana ruang dekan fakultas ekonomi?" Tanya Sheila.


Pria itu yang tak lain adalah Dafa, melihat kearah Sheila.


"Siapa kau itu? Apa yang kau inginkan?" Tanya Dafa ketus.


Sheila kembali mengucapkan pertanyaannya, tapi Dafa hanya berkata, "apakah kau tahu siapa aku?"

__ADS_1


'Pertanyaan macam apa itu? Tentu saja aku tidak tahu siapa kau, dasar bodoh. Aku mahasiswa baru di sini. Apakah kau tuli tapi, aku harus menemui Dekan. Kalau saja tidak, aku bisa menendang mu sampai mati.' Ucap Sheila dalam hati.


Itulah yang ingin dikatakan Sheila, tapi tidak. Dia hanya menyimpan umpatannya dalam hati.


"Tidak, maaf." Ucap Sheila.


"Kau tidak kenal aku ya? Namaku adalah Dafa Wijaya, sekarang kau pasti sudah mengenal aku." Ucap Dafa menyombongkan diri.


"Aku belum pernah mendengar nama semacam itu." Balas Sheila.


Dafa melihat kearah Sheila dengan tatapan mematikan, "kau adalah mayat hidup."


"Apakah aku mengatakan sesuatu yang salah?" Tanya Sheila.


Sheila tampak heran dengan sikap Dafa yang tiba-tiba arogan itu.


"Iya tentu saja salah." Balas Dafa ketus.


Sheila menjadi semakin bingung, bahkan dia tidak menyadari bahwa sudah ada banyak mahasiswa yang mendekat ke arah mereka. Dan terlihat sangat jelas bahwa raut mereka tampak begitu terkejut.


'Apa yang sebenarnya sedang terjadi? Aku hanya ingin menemukan dimana ruang dekan dan aku malah berakhir seperti ini.'


Sheila menjadi begitu kesal jadi dia pun berkata,


"Aku tidak tahu dan aku tidak peduli siapa kau oke. Dan katakan saja kepadaku dimana ruangan Dekan fakultas ekonomi."


Setelah mengatakan hal itu semua mahasiswa lain yang ada disana menjadi lebih terkejut. Mereka tampak seperti ketakutan. Sementara Dafa tersenyum kearah Sheila dan berkata,


"Bagus, kau sudah menempatkan dirimu di dalam sebuah masalah yang besar. Sekarang, silahkan minta orang lain untuk menuntun mu pergi ke ruangan dekan." Ujar Dafa.


Sheila melihat kearah mahasiswa lainnya dan mengatakan kepada mereka dimana ruang dekan. Tapi semua mahasiswa yang ada disana justru terlihat begitu ketakutan. Mereka bahkan mengatakan bahwa mereka tidak tahu dimana letak ruangan dekan.


'Dasar pengecut, dia hanya mengatakan kata itu dan mereka semua malah ketakutan sampai mati.' umpat Sheila dalam hati.


Dan pada akhirnya Sheila harus menemukan ruang dekan sendirian tanpa bantuan orang lain dan dia tidak terlalu beruntung akan hal itu. Kampus yang begitu luas, ditambah tidak ada seorang pun yang mau membantunya membuatnya cukup kesulitan.


Saat jam makan siang, Sheila kembali pergi ke perpustakaan dan kembali bertemu dengan Dafa disana. Sheila tidak menghiraukan Dafa dan memilih mengambil buku yang tersusun rapi diatas rak. Namun, saat dia akan duduk, dia tak menyadari bahwa Dafa sudah menarik kursinya hingga membuat Sheila terjatuh di lantai.


Semua orang yang ada didalam perpustakaan menatap ke arah Sheila yang terjatuh. Sheila hampir saja berteriak, namun mengingat bahwa dirinya berada di dalam perpustakaan dia pun menatap Dafa dan berucap dengan suara yang berbisik.


"Dasar bodoh."


'Oh aku tidak akan menyesali apa yang aku katakan.' ucap Sheila dalam hati.


Sheila kemudian mulai membaca buku di hadapannya. Dia mempunyai kemampuan yang langka yaitu dia bisa mengingat semua yang dia baca dan hal itu sangat menakjubkan. Kemampuan Sheila yang lainnya adalah, dia bisa berhitung tentang pelajaran matematika dalam sekali lihat saja. Dan Sheila sebenarnya adalah siswa yang paling pintar.


Dafa yang duduk di samping Sheila dan dia tidak mengganggu apapun yang tengah dilakukan Sheila.


'Dia pasti telah merencanakan sesuatu untuk mengganggu ku. Aku tidak boleh lengah. Aku harus lebih waspada.' ucap Sheila dalam hati.


Saat Sheila selesai membaca, seorang gadis mendekat kearahnya. Sementara Dafa sudah menghilang entah kemana.


"Kau benar-benar punya keberanian, aku salut padamu. Bisakah kita berteman?" Ucap gadis yang terlihat imut itu.


'Sepertinya aku memang seorang teman setelah melihat bagaimana semua orang menghindari ku. Aku rasa ini waktu yang sangat tepat untuk mempunyai seseorang sebagai temanku atau tidak? Tapi aku bisa menanyakan kepadanya tentang Dafa dan kenapa semua orang takut terhadap dirinya.' ucap Sheila dalam hati.


"Tentu saja, siapa namamu?" Tanya Sheila kepada gadis itu.


"Namaku Marissa." Balasnya tersenyum.


Sheila membalas senyuman Marissa lalu menjabat tangannya.


"Baiklah Marissa, sekarang katakan padaku siapa itu Dafa Wijaya dan kenapa semua orang takut terhadap dirinya?" Tanya Sheila.


"Mmmm.... Dia adalah putra tertua dari keluarga Wijaya, dan calon pewaris nomor satu keluarga itu. Keluarga mereka merupakan salah satu dari keluarga terkuat di kota kita ini. Jadi mungkin karena itulah semua orang tidak berani membuat keributan dengannya." Ujar Marissa.


'Putra tertua dari keluarga besarnya. Hmmm siapa yang perduli.' cebik Sheila dalam hati.


Sheila berasal dari keluarga Abraham yang juga merupakan salah satu keluarga terkuat dan dihargai di kota ini bahkan di negara. Tapi bahkan jika Sheila tidak terlahir dari keluarga ternama, dia juga tidak masalah akan hal itu. Selama ini, Sheila selalu menyembunyikan latar belakang keluarganya karena dia benci saat orang-orang mendekati nya hanya karena status keluarganya.


Selama ini, Sheila sendiri belum pernah bertemu orang tuanya. Ia hanya tahu jika dirinya adalah putri bungsu dari keluarga Abraham. Dan satu-satunya keluarga yang diketahui Sheila hanya kakaknya, Sara Abraham.


"Oh, aku mengerti. Tapi aku tidak takut padanya." Ucap Sheila santai.


"Kau sangat berani, aku menyukaimu. Tapi berhati-hatilah, karena akan ada banyak kumpulan gadis-gadis yang menyukai Dafa. Mereka mungkin akan membuat masalah denganmu karena sudah memprovokasi Dafa." Ucap Marissa.


Marissa terlihat begitu khawatir dan Sheila merasa bahwa dia begitu menggemaskan. Sheila pun mengusap kepala Marissa dan berkata padanya, "jangan khawatir, mereka tidak akan berhasil menggangguku, tidak akan pernah."

__ADS_1


Mereka berdua lalu pergi untuk makan siang. Sheila membawa makanan dari rumah yang dibuatkan oleh kakaknya. Mereka berdua berbagi makan siang mereka seperti sahabat dekat. Dan ini adalah pertama kalinya bagi Sheila mempunyai teman. Mereka akhirnya selesai makan dan tiba-tiba seorang gadis mendekat ke arah mereka.


"Jadi, kau lah wanita ****** yang sudah mengganggu Dafa ku?" Ucap wanita yang bermake-up tebal itu.


'Aku memang tidak beruntung. Akhirnya aku bertemu salah seorang wanita yang menjadikan Dafa sebagai idolanya itu.' ucap Sheila dalam hati.


"Hei Nona, sudikah kiranya kau memberitahu aku tentang siapakah dirimu itu nona?" Ucap Sheila dengan nada yang sangat sopan.


"Namaku Jessica, istri dari Dafa." Balas wanita itu penuh percaya diri.


"Bukankah kalian masih terlalu muda untuk menikah? Bagaimana mungkin. Dan yang aku tahu, sepertinya dia belum menikah." Ucap Sheila.


'Apa kesalahan yang sudah aku lakukan di masa lalu hingga menerima kenyataan seperti ini harus bertemu dengan kotak make up berjalan.' Sheila berusaha menahan tawanya.


'Dia sepertinya wanita yang berjalan dengan 4 kilo make up di wajahnya. Apakah dia sedang melukis.' pikir Sheila lagi.


"Aku adalah kekasihnya, dan kami akan menikah secepatnya. Kau berani beraninya mengganggu cintaku, jadi aku harus memberikanmu pelajaran." Ucap Jesicca dengan wajah yang penuh amarah.


'Baiklah ayo kita lihat siapa yang akan mendapatkan pelajaran tambahan hari ini.' pikir Sheila.


Wanita bernama Jessica itu tiba-tiba sudah memegang tongkat baseball, entah dia dapat darimana. Dan dia kemudian mencoba untuk memukul Sheila, tapi dia gagal. Sheila dengan mudah dapat menepis serangan itu hanya dengan satu jarinya.


"Hmmmppphh... Ini tidak ada apa-apanya bagiku." Ucap Sheila menyeringai.


Sheila kemudian mengambil tongkat baseball itu dari tangan Jessica dan mematahkan nya seperti secarik kertas.


Pada kenyataannya Sheila memang sudah berlatih banyak ilmu bela diri sejak lama dan dia sangat handal dalam hal itu, dan tongkat baseball itu tidak ada apa-apanya bagi Sheila.


Jessica terlihat ketakutan, dia melihat kearah tongkat baseball yang sudah patah itu. Jesicca kemudian berlari menjauh dari Sheila.


"Dasar pengecut." Ucap Sheila.


Marissa yang berdiri di samping Sheila melihat kearah Sheila, seperti dia melihat malaikat dalam wujud manusia.


"Kau benar-benar hebat. Dia berlari seperti seekor kelinci hahaha." Ucap Marissa dengan terbahak.


Sheila melihat kearah atas, dimana sudah ada banyak mahasiswa yang melihat kejadian tadi.


'Apakah aku ini begitu menarik perhatian? Ah, mungkin aku terlalu menyombongkan diri sendiri.' Sheila tersenyum kecil.


Dia lalu melihat kearah para mahasiswa itu, dan dia menyadari bahwa Dafa juga ada disana. Dafa melihat ke arahnya dengan tajam.


'Tidak masalah, setidaknya dia akhirnya bisa menyadari bahwa dia tidak bisa menganggap diri ku lemah sekarang.' ucap Sheila dalam hati.


Dafa kemudian tampak berjalan mendekat kearah Sheila dan berkata, "kau sangat berani ya. Aku sudah menganggap mu lemah."


'Kau baru menyadari itu sekarang ya, dasar bajingand.' ucap Sheila dalam hati.


"Maaf karena menakuti kekasihmu tadi, tapi dia yang sudah lebih dulu menggangguku." Ucap Sheila.


'Aku bisa saja mematahkan lengannya dan bukan hanya tongkat baseball itu, jika saja kita tidak berada di kampus.' pikir Sheila.


"Dia bukan kekasihku, jadi aku tidak perduli." Ucap Dafa.


'Tapi dia tetap lah penggemarmu. kau setidaknya harus merasa sedikit kasihan kepadanya bukan?' lagi-lagi Sheila bergumam dalam hati.


"Terserah kau saja, aku pergi dulu." Ucap Sheila.


Sheila hendak bergegas menuju kelasnya, tapi lengannya ditarik dari belakang dan detik berikutnya Sheila menyadari bahwa dirinya sudah berada dalam pelukan Dafa.


'Ya Tuhan, pertama kali bertemu dia membully ku dan sekarang dia malah mau bertindak mesum kepadaku? Apakah dia sudah tidak waras?'


"Kau ingin membuat penggemar wanita mu itu semakin membenci aku, bukan begitu?" Ucap Sheila.


Saat Dafa merasa bahwa dada Sheila menyentuh dadanya, dia langsung melepas Sheila. Dafa melihat ke arah lain, namun terlihat begitu jelas diwajahnya bahwa dia tengah merona.


'Ternyata dia masih punya hati. Yaah tentu saja, hati yang dipenuhi oleh hormon laki-laki, memang ya apalagi?' pikir Sheila.


"Tidak, tidak seperti itu. Minggu depan akan ada tes toefl yang akan dilakukan. Aku mau bertaruh denganmu, jika nilai ku lebih tinggi dari kamu aku menang dan kau harus melakukan apapun yang aku katakan."


"Dan bagaimana jika aku yang menang?" Tanya Sheila.


"Aku akan melakukan apapun yang kau mau. Dan ngomong-ngomong, kamu tidak akan pernah bisa mengalahkan aku." Ucap Dafa penuh percaya diri.


"Kita lihat saja nanti." Balas Sheila


'Kasihan sekali dia, dia tidak tahu bahwa dia tengah menantang seorang mahasiswa terpintar di negara ini.' pikir Sheila menyeringai.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2