Aku Wanita Simpanan

Aku Wanita Simpanan
Liburan


__ADS_3

PoV Faradina


Ammar ternyata malah membawa aku ke tenda piknik yang berada di roof top. Aku menatapnya dengan bingung, namun dia hanya tersenyum padaku.


"Di sini lah kita bisa menghabiskan malam kita." Ucapnya padaku.


"Tapi...."


Dia langsung menyela ucapan ku.


"Selimut sudah ada di sini dan jika kau pikir bahwa selimut itu tidak cukup untuk membuat kita merasa hangat, kita punya dua Teddy Bear yang ada di sisi kita dan selain itu, aku akan ada di sini untuk bisa membuatmu merasa hangat. Kau bisa memelukku." Ucapnya lagi.


Wajahku langsung merona merah setelah mendengar ucapannya itu.


Tiba-tiba ponselku bergetar dan itu adalah sebuah pesan singkat dari Mama yang meminta kami untuk turun makan malam. Aku pun mengatakan hal itu kepada Ammar.


"Mama meminta kita untuk turun ke bawah untuk makan malam." Ucapku.


"Kalau begitu, ayo kita pergi." Ucap Ammar menarik ku turun ke lantai bawah.


Kami lalu pergi ke ruang makan dimana Mama dan Papa sudah menunggu kami dengan menu makan malam yang cukup banyak diatas meja makan. Lagi-lagi Mama memanjakan lidah kami dengan masakan lezat buatan Mama.


"Ayo cepat dimakan." Ucap Mama dengan sibuk menaruh makanan di piring Ammar.


Mama biasanya melakukan hal itu padaku, tapi sejak Ammar datang kemari, Mama sepertinya memiliki anak kesayangan baru. Dulu, Kak Denis yang iri padaku karena Mama yang terlalu perhatian padaku, tapi sekarang giliran aku yang melihat Mama memanjakan orang lain.


Sejujurnya saja, aku tidak iri ataupun cemburu. Aku malah senang melihat kedekatan Mama dan Ammar. Bagaimanapun, di rumah keluarga Ammar, aku juga di perlakukan dengan sangat baik. Aku bahkan sangat dimanjakan oleh Mama mertuaku. Walaupun sebenarnya aku baru saja menjadi menantu mereka selama dua hari.


Setelah makan malam selesai, aku dan Ammar pun berbaring di dalam tenda dengan saling berhadapan satu sama lain.


"Kenapa kau mengatakan bahwa tidak ada tamu yang datang ke rumahmu?" Tanya Ammar lagi dengan wajah yang tampak begitu penasaran.


"Papa ku bukan berasal dari kota ini. Papa berada di sini hanya untuk bisnis. Sementara keluarga Papa tinggal di kota X. Jadi kami lebih sering pergi ke sana saat liburan dan menghabiskan waktu dengan keluarga Papa. Sementara untuk keluarga Mama, walaupun mereka memang berasal dari kota ini mereka jarang datang ke rumah karena kami lebih sering diminta untuk berkumpul di rumah Oma dan Opa." Ucapku tersenyum.


"Oh, aku mengerti." Balas Ammar.


Beberapa saat kemudian aku pun menguap. Ammar tampak tertawa kecil dan mengusap rambutku dengan lembut.


"Tidurlah." Ucapnya.


Aku pun menganggukkan kepalaku. Ammar menarik aku mendekat ke arahnya dan kemudian mulai memelukku.


...****************...


Aku terbangun keesokan paginya, melihat wajah Ammar yang dicium oleh sinar matahari. Aku pun tersenyum. Aku lalu menggoyangkan tubuhnya dengan lembut.


"Hei bangunlah. Kita tidak mau di lihat oleh para pelayan seperti ini bukan?" Ucapku.


"Tidak ada yang salah dengan kita jika mereka melihat kita seperti ini. Kita sudah menikah, jadi apapun yang kita lakukan berdua itu benar, sekalipun kita tengah berpelukan." Ucap Ammar tertawa.


"Dari mana kau belajar kata-kata seperti itu?" Tanyaku kepadanya tertawa.


"Itu adalah talenta yang aku miliki sayang." Ucap Ammar tersenyum.


"Kau terlalu manis di pagi hari seperti ini. Ayo kita mandi lebih dulu." Ucapku saat aku membebaskan diriku dari pelukannya dan keluar dari dalam tenda lalu berdiri meregangkan tubuhku.


"Kita ada penerbangan jam 03.00 sore ini." Ucap Ammar mengingatkan aku.


"Baiklah, ayo kita turun ke bawah dengan cepat." Ucapku seraya berjalan turun ke kamarku.


Setelah mandi, aku menggunakan sebuah pakaian dengan motif bunga dipadukan dengan celana jeans panjang. Aku juga mengikat rambutku dengan tinggi. Ammar berjalan keluar dari dalam ruang ganti menggunakan sebuah kemeja lengan pendek berwarna putih dan juga celana yang berwarna putih. Dua buah kancing bagian atas kemejanya tidak dia kenakan.


"Bagaimana penampilan ku?" Tanya Ammar padaku.


"Kau terlihat menakjubkan." Balas ku.


Ammar tersenyum, setelah itu kami pun berjalan keluar dari dalam kamar dan duduk di meja makan untuk sarapan. Kali ini para pelayan yang menyajikan makanan untuk kami semua.


Setelah selesai sarapan, Papa dan Ammar tengah mengobrol dan aku duduk dengan Mama juga mengobrol ringan.


"Sayang kau harus bersiap untuk pergi ke bandara." Ucap Mama mengingatkan aku.


Aku menganggukkan kepalaku, dan mengambil rompi lengan panjang ku yang tampak serasi dengan pakaian motif bunga yang aku kenakan.


"Ma, ini serasi bukan?" Tanyaku kepada Mama.


"Tentu saja sayang. Kau selalu tampil cantik dan sempurna." Ucap Mama menganggukkan kepalanya.


Saat waktunya tiba, kami pun berpamitan dengan orang tuaku dan bergegas pergi ke bandara.


Setelah beberapa saat kemudian, kami pun akhirnya naik ke dalam pesawat. Ammar duduk di dekat jendela dan aku pun duduk di sampingnya.


"Hai aku Erlan. Selama 6 jam ke depan aku akan duduk di sampingmu." Ucap seorang pria memperkenalkan dirinya dengan sebuah senyuman yang begitu lebar di wajahnya.


"Hai." Balasku tersenyum kepadanya.


Ammar hanya melihat sekilas ke arah Erlan. Erlan sendiri lalu duduk di kursinya dan dia mulai bicara denganku.


"Hei siapa namamu?" Tanya Erlan.


"Aku Faradina." Jawabku.


"Kau tampak cantik." Ucap Erlan lagi.


Aku hanya tersenyum. Ammar menatap Erlan dengan tajam. Aku lalu memegang pundak Ammar. Ammar kemudian kembali berkonsentrasi dengan majalah yang dia baca.


"Fara, apakah kau punya seorang kekasih?" Tanya Erlan secara tiba-tiba.


"Sebenarnya...."


Aku hendak bicara, tapi Ammar menghentikan aku dengan memegang pundak ku.


"Tidak. Dia tidak punya kekasih." Ucap Ammar dan wajah Erlan tampak cerah.

__ADS_1


Kemudian Ammar melanjutkan ucapannya.


"Dia memiliki seorang suami."


Ammar lalu memegang tangan kananku dan menunjukkan cincin pernikahan kami kepada Erlan.


"Mengecewakan sekali." Ucap Erlan.


Aku hanya tertawa. Setelah itu, aku mulai merasa mengantuk dan memang seperti inilah kebiasaan ku. Saat aku mulai menaiki pesawat, aku pasti akan mulai mengantuk.


Aku mengatakan kepada Ammar bahwa aku akan pergi ke toilet dan saat aku kembali dari toilet, Ammar tampak sudah duduk di tempat dudukku dan mengobrol dengan Erlan. Dia tersenyum kepadaku dan meminta aku duduk di tempat duduknya.


Aku lalu duduk di kursi miliknya dan membaringkan kepalaku di pundaknya.


"Tidurlah, aku akan membangunkan mu nanti." Ucap Ammar.


Aku pun menganggukkan kepalaku sebagai respon kepadanya. Setelah itu aku pun menutup mataku dan mulai tertidur hingga membawaku masuk ke alam mimpi.


...****************...


"Fara bangunlah. Kita akan segera mendarat." Ucap Ammar menggoyangkan tubuhku.


"Mmmm aku bangun." Ucapku dengan suara yang masih mengantuk.


"Hai, kau akhirnya bangun." Ucap Erlan yang terdengar senang.


Aku hanya menganggukkan kepalaku.


Ammar lalu pergi ke toilet.


"Hei Fara, aku pikir bahwa kau membuang waktumu karena menikah dengannya. Tapi sekarang aku senang karena kau menikah dengannya. Dia adalah yang terbaik." Ucap Erlan menunjukkan ibu jari nya kepadaku.


"Apa yang membuatmu berubah pikiran?" Tanyaku dengan bingung.


"Hanya alasan ini dan itu." Balas Erlan tersenyum.


Beberapa saat kemudian, Ammar kembali dari toilet dan mulai kembali bicara dengan Erlan.


Pesawat pun mendarat dengan selamat dan aman di bandara. Kami keluar bersama-sama dengan Erlan. Ammar terus saja mengobrol dengannya, sementara aku tidak terlalu memperhatikan apa yang tengah mereka bicarakan.


"Selamat tinggal kalian berdua, sampai jumpa lagi. Sekarang aku akan bertemu dengan Mama ku." Ucap Erlan dan melambaikan tangannya kemudian berjalan menjauh dari kami berdua.


Aku dan Ammar kemudian mengambil barang-barang kami dan berjalan keluar dari bandara.


"Aku lapar." Ucapku kepada Ammar.


"Aku ingin kau untuk duduk di dalam mobil lebih dulu, lalu aku akan mencari sesuatu untuk kau makan." Ucap Ammar.


Kami lalu berjalan ke arah mobil dan Ammar membuat aku duduk di dalam mobil dan bertanya, "apa yang ingin kau makan.?"


"Mmm... sandwich dan ayam goreng." Balas ku.


"Aku akan mendapatkannya." Ucap Ammar kemudian dia tampak menguap.


"Tidak apa-apa. Aku akan pergi mengambilnya untukmu." Ucap Ammar.


Sopir mobil yang berasal dari tempat penginapan kami itu kemudian mengatakan kepada kami bahwa dialah yang akan mengambil makanan untuk kami. Jadi dia meminta kami berdua untuk istirahat. Ammar pun menganggukkan kepalanya dengan tersenyum.


Beberapa saat kemudian sopir mobil itu kembali dan memberikan makanan untukku. Aku tak lupa berterima kasih kepadanya.


"Ammar makanannya sudah...."


Aku melihat ke arah Ammar dan ternyata dia sudah tidur.


Aku memutuskan untuk tidak mengganggu Ammar. Aku lalu mulai makan di dalam mobil yang mulai melaju menuju tempat penginapan kami yang jaraknya 3 jam dari bandara.


Setelah selesai makan, aku melihat ke arah Ammar. Kepalanya tampak naik turun, aku pun membuka seat belt yang dia gunakan dan menaruh kepalanya di pangkuanku. Dia lalu memperbaiki posisi dirinya dengan nyaman. Aku pun tersenyum melihat ke arah wajahnya yang tertidur lelap.


"Tuan, Nyonya, kita sudah sampai. Kalian harus menandatangani beberapa kertas dan setelah itu kalian bisa masuk ke dalam kamar kalian." Ucap sopir itu.


"Mmm...." Aku masih setengah mengantuk.


Aku merasakan seseorang menggoyangkan tubuhku. Saat aku membuka mataku, aku melihat Ammar yang tengah menatapku. Dia masih berbaring di pangkuanku.


"Kita harus turun sekarang." Ucap Ammar.


"Oh." Balas ku.


Aku lalu menggerakkan kepalaku ke kiri dan ke kanan. Sementara Ammar duduk tegap dan tampak menguap dengan lembut. Kami pun keluar dari dalam mobil dan berjalan ke arah resepsionis dan menyelesaikan formalitas kami.


"Bisakah aku tahu di mana tempat membeli persediaan makanan di sini?" Tanya Ammar kepada resepsionis itu.


"Tuan Anda baru saja melewatinya." Balas wanita itu.


"Apa kalian punya susu hangat di sini?" Tanya Ammar lagi.


"Iya Tuan kami punya dan apakah anda ingin beberapa kue juga?" Tanya wanita itu lagi.


"Baiklah. Bisakah kami mendapatkannya sekarang?" Tanya Ammar.


"Tunggulah sebentar Tuan sampai susunya dihangatkan, kemudian kalian bisa makan dan pergi." Ucap resepsionis itu.


"Aku masih mempunyai makanan yang belum disentuh di dalam mobil. Kenapa kau mau susu dan kue?" Tanyaku kepada Ammar bingung.


"Itu untukmu. Sekarang sudah larut dan kau tidak bisa menahan lapar. Jadi minumlah susu dan kue." Ucap Ammar.


Aku pun tersenyum. Setelah aku selesai meminum susu, kami pun pergi ke kamar kami dan sekarang sudah pukul 12.30 malam.


"Aku mengantuk." Ucapku seraya menguap dan berjalan kemudian berbaring di atas tempat tidur.


"Gantilah pakaianmu dulu sebelum tidur." Ucap Ammar.


"Tidak, aku malas untuk mengganti pakaianku." Ucapku memutar tubuhku ke sisi tempat tidur untuk memberikan dia tempat untuk berbaring.

__ADS_1


"Baiklah, kalau begitu kau hanya perlu melepas rompi yang kau kenakan itu dan tidurlah." Ucap Ammar.


Aku tengah berbaring tertelungkup saat mendengar Ammar mengatakan hal itu. Aku pun mengangkat kedua tanganku.


"Apa kau mau aku yang melepasnya?" Tanya Ammar.


Aku hanya bergumam sebagai respon atas ucapannya itu. Ammar lalu berjalan mendekat ke arahku dan membantu aku melepaskan rompi yang aku gunakan. Aku membalikkan kepalaku melihat ke arahnya dan tersenyum kepadanya.


"Apa tidak ada hadiah untukku karena sudah membantumu melepaskan rompi mu ini?" Ucap Ammar dengan menaikkan alisnya itu.


"Apa kau mau sesuatu?" Tanyaku.


Ammar pun menganggukkan kepalanya.


Aku lalu duduk di atas tempat tidur dan aku mengangkat jemariku memberikan tanda kepadanya untuk mendekat ke arahku. Dia pun mendekat ke arah tempat tidur. Aku lalu memeluknya dengan sangat erat.


"Apa ini sudah cukup?" Tanyaku kepadanya.


"Tidak." Balas Ammar.


"Lalu bagaimana dengan....." Aku menghentikan ucapan ku dan memberikan kecupan di keningnya. "...ini." Lanjut ku.


Aku melihat ke arah matanya. Dia tampak menelan ludahnya. Kami lalu mengalihkan pandangan kami.


"Cukup, itu sudah bagus. Ayo kita tidur sekarang." Ucapnya menghapus keheningan dan kecanggungan diantara kami berdua.


Kami berbaring di sisi tempat tidur kami dan aku mulai menatap dirinya. Dia menaruh tangannya di pinggangku, menarik aku mendekat ke arahnya dan aku pun melihat ke arah matanya.


"Kau selalu bisa memelukku." Ucapnya.


Aku menganggukkan kepalaku. Aku lalu menarik dia dekat denganku dan dengan erat memeluk dirinya.


Dia mengusap rambutku dengan lembut dan aku perlahan pun mulai tertidur.


Benar-benar tidur malam yang begitu indah. Bahkan saat aku memeluk suamiku yang masih terasa asing bagiku ini.


...****************...


Aku terbangun dengan melihat wajahnya yang tampan. Aku melepaskan diriku dari dirinya tanpa membangunkannya. Aku lalu mandi dan keluar dari dalam kamar. Penginapan kami bernuansa tradisional dengan bahan kayu di mana ada ruang tamu, dapur, lemari, tempat mandi berada di lantai bawah dan ada tempat tidur di lantai atas dengan sebuah balkon yang pemandangannya tampak gunung yang indah.


Aku berencana untuk membuat sarapan, dengan bahan roti, susu dan telur. Itu pasti sudah cukup. Jadi aku mulai memanggang roti dan menyiapkan omelette dan membuat kopi dengan susu. Aku lalu menaruh nya di meja dapur saat Ammar turun dari lantai atas menggunakan sebuah kaos berwarna merah marun dan celana pendek berwarna hitam.


"Sarapan sudah siap." Ucapku kepadanya.


"Apakah ada banyak bahan makanan yang ada disana?" Tanya Ammar padaku.


"Ada beberapa roti, susu dan telur." Ucapku kepadanya.


"Ayo kita pergi membeli kebutuhan makanan dan yang lainnya setelah sarapan nanti." Ucap Ammar.


Aku mengganggu kan kepalaku dan kemudian kami makan dalam keheningan.


"Apakah aku harus menyewa mobil untuk kita pergi berbelanja?" Tanya Ammar.


"Bagaimana jika kita berjalan ke arah resepsionis dan kemudian memilih sepeda untuk pergi menuju toko itu?" Ucapku kepada Ammar.


"Kedengarannya menyenangkan." Ucap Ammar menerima ide dariku.


Kami kemudian melanjutkan sarapan kami. Setelah itu kami pun berjalan dengan bergandengan tangan menuju resepsionis.


Setelah itu kami melakukan scan QR code dan memilih dua sepeda dan mulai bersepeda menuju toko di mana kami akan membeli barang-barang kebutuhan kami.


Tak butuh waktu lama, kami pun tiba di toko grosir itu. Ammar mendorong troli dan aku mulai memilih bahan-bahan makanan dan barang lainnya yang kami butuhkan.


Ini semua adalah hal kecil yang membawa kebahagiaan yang tidak bisa aku ungkapkan dengan kata-kata. Aku sering membayangkan liburan seperti ini. Tapi kenyataannya jauh lebih baik dari yang aku bayangkan.


"Bagaimana dengan ini?" Tanyaku kepada Ammar saat aku memegang keripik kentang.


"Baiklah, kalau begitu yang ini, ini dan juga yang ini." Ucap Ammar seraya mengambil lebih banyak cemilan ringan lainnya dan menaruhnya di dalam troli.


Kami lalu mulai mengambil yang lainnya setelah beberapa saat.


"Apa sudah cukup?" Tanya Ammar.


"Belum, kita lupa coklat." Ucapku dan aku langsung berlari ke arah di mana coklat berada.


Ammar mendorong trolinya dan dengan cepat mengikuti aku.


"Sudah selesai. Aku sudah memilih coklatnya." Ucapku dengan tersenyum bahagia.


"Ini tidak cukup, ambil lebih banyak lagi. Kau tidak berpikir untuk mengambilnya untukmu sendiri bukan? Kita memilih semuanya untuk sebuah keluarga, untuk kita berdua ingat itu." Ucap Ammar seraya mengusap kepalaku dengan lembut.


"Aku tentu mengingat hal itu. Tapi aku pikir bahwa seorang pria tidak makan coklat." Ucapku kembali memilih coklat itu dan memeriksa tanggal kadaluarsanya.


"Siapa yang bilang laki-laki tidak boleh makan coklat? Aku banyak makan coklat dan sebagai informasi kepadamu, gigiku tahan terhadap makanan manis." Ucap Ammar dengan bangga.


"Baiklah, baiklah. Aku akan ingat tentang hal itu. Kau memiliki gigi yang tahan terhadap makanan manis." Ucapku lagi kepadanya.


Kami lalu membayar semua barang-barang yang sudah kami pilih di dalam troli itu dan kemudian kembali membawa barang-barang kami dengan bersepeda menuju resort tempat kami menginap. Kami memarkirkan sepeda di sana dan berjalan dengan berpegangan tangan. Ammar membawa sebuah tas berisi berbagai belanjaan kami yang cukup berat dan aku juga membawa sebuah tas yang beratnya jauh lebih ringan dari yang dibawa oleh Ammar.


Kami makan siang dengan menu sederhana yang sudah kami siapkan dan mulai membuka tas kami dan mengatur pakaian kami menaruhnya di dalam lemari. Waktu sudah menunjukkan pukul 04.00 sore saat kami selesai mengerjakan semuanya dan ponselku berdering menandakan sebuah tanda peringatan.


"Sekarang hari sabtu, jadi ponselku mengingatkan aku tentang sesuatu yang penting." Ucapku


"Apa itu?" Tanya Ammar bingung.


"Menonton sebuah drama." Ucapku tersenyum.


"Kedengarannya menyenangkan." Balas Ammar.


"Tentu saja menyenangkan. Ikutlah menonton bersamaku. Kita berdua bisa bersenang-senang bersama." Ucapku tersenyum padanya.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2