Aku Wanita Simpanan

Aku Wanita Simpanan
6. Mobil Amira


__ADS_3

"Ini semua salahmu....!!!" Ucap Dafa dan Sheila bersamaan.


"Kau lah orang yang datang mendekatiku dan menyentuhku." Pekik Sheila.


"Kau juga orang yang memprovokasi aku." Lanjut Sheila lagi.


"Hmmmpphhh...." Ujar Dafa.


'Bagaimana mungkin ini menjadi kesalahanku? Dialah yang memprovokasi aku, dia tidak boleh menyalahkan aku!' ucap Sheila dalam hati.


Mereka berdiri di koridor kampus di samping pintu ruang kelas mereka. Sheila duduk di lantai dan Dafa tengah bersandar di tembok.


'Menyebalkan!' umpat Dafa dalam hati.


Sheila tengah memikirkan, apa yang akan dimasak oleh sang kakak untuk makan malam nanti saat seseorang memukul kepalanya.


"Auu...."


Sheila melihat ke atas dan itu tampak Dafa yang menyeringai padanya.


"Kenapa kau mendesah begitu?" Ucap Dafa


Sheila belum sempat berucap karena Dafa kembali memukulinya. Kali ini Dafa mencubit hidung Sheila. Sheila lantas mengusap hidungnya kemudian dia meninju betis Dafa.


"Hei..." Teriak Dafa.


Mereka berdua mulai saling memukuli satu sama lain. Mereka tidak memukul dengan keras, hanya saling memukul dengan cepat. Tidak ada diantara keduanya yang kesakitan.


"Apakah kau itu laki-laki? Kau memukul perempuan." Ucap Sheila


"Aku memukuli mu karena aku tidak berpikir bahwa kau itu seorang perempuan. Kau begitu kasar." Balas Dafa.


Sheila berkata sambil berpikir.


"Apakah kau tidak mengingat pelukan yang kau lakukan kemarin? Kau seharusnya tahu lebih baik dari aku bahwa aku ini seorang wanita!" Ucap Sheila.


'Oh ya Tuhan! Bagaimana mungkin aku mengingatkannya tentang hal memalukan itu?' pikir Sheila.


Sheila langsung menutup mulutnya dan melihat ke arah yang lain. Dengan sudut matanya, Sheila dapat melihat bahwa Dafa tengah merona. Kemudian saat itu, Sheila menyadari bahwa Dafa sangat tampan. Dengan rambutnya yang berwarna hitam, hidungnya yang mancung. Segala ketampanannya itu diwarisi dari sang Papa, Arka.


'Dia sangat tampan. Pantas saja para wanita tergila-gila padanya! Dia pasti punya tubuh yang bagus juga.' pikir Sheila.


'Tunggu dulu, apa yang sedang aku pikirkan? Malulah kau Sheila! Kau berpikiran mesum!' lagi-lagi Sheila bergumam dalam hati.


Keheningan membuat suasananya menjadi canggung. Jadi Sheila memutuskan untuk bicara.


"Berapa lama lagi waktu yang tersisa?" Tanya Sheila.


"Lima menit lagi." Balas Dafa.


Dafa duduk di lantai bersama Sheila. Sheila memegang sebuah mainan kecil. Itu adalah mainan kucing kecil. Saat ditekan, mainan itu akan mengeong seperti kucing asli. Mama Sheila memberikan mainan itu saat Sheila masih sangat kecil. Bahkan Sheila tak dapat mengingat pasti, kapan waktu dia diberikan mainan itu. Sheila selalu membawanya kemanapun ia pergi.


"Isshh... Dasar kekanakan!"


Sheila tidak mengatakan apapun pada Dafa. Dia tengah memikirkan kedua orang tuanya.


'Kapan aku akan bertemu dengan mereka?' pikir Sheila.


Sheila lalu memasukkan mainan itu ke sakunya. Dia lalu melihat kearah Dafa yang tengah memainkan rambutnya.


Sheila menarik rambut Dafa dengan sangat keras, merusak tatanan rambutnya.


"Aauhh...." Teriak Dafa.


"Pffffttt.... Kau terlihat seperti anak kucing sekarang." Ucap Sheila tertawa.


"Kau....!!!!"


Dafa langsung menarik rambut Sheila seperti yang Sheila lakukan padanya.


"Sekarang, kau juga tampak seperti anak kucing!" Ucap Dafa yang terlihat begitu puas.


Dafa melihat ke arah jam tangannya.


"Sudah waktunya kita kembali ke kelas." Ucap Dafa.


Saat keduanya masuk ke dalam kelas, semua orang melihat ke arah mereka.


'Ya Tuhan! Tidak perduli dengan siapapun aku disini, mereka semua akan selalu menatapku!' ucap Sheila dalam hati.


Melihat mereka berdua, seisi kelas mulai tertawa.


'Tentu saja mereka menertawai aku. Mereka tidak akan mungkin menertawai Dafa. Sangat bodoh!' ucap Sheila dalam hati.


Dosen itu menatap mereka dan berkata, "apa yang terjadi kepada kalian berdua? Apa kalian diterpa ****** beliung di luar sana?"


"Emmhh tidak, ehh..." Ucap Dafa gugup.


"Bagaimana mungkin kalian berdua begitu kekanakan? Apa kalian itu masih anak-anak? Jangan lakukan itu lagi!" Ucap dosen itu.


Mereka berdua ditertawakan dan diejek seperti anak kecil. Tapi situasi yang ada tampak sedikit lucu.


"Pffttt...."


"Pffttt...."


"Apa yang kalian berdua ter tawakan?" Tanya dosen itu pada Dafa dan Sheila yang tampak menahan tawanya.


Keduanya saling tatap sebentar lalu bergegas menuju bangku mereka dengan masih tertawa kecil.


'Aku rasa aku tidak akan pernah bersenang-senang dengan pria itu.' pikir Sheila.


***************


"Amira... Bisakah kau kemari?" Ucap Dafa.


Keduanya sudah pulang dari kampus. Amira pulang sendirian dari kampus karena Dafa sudah lebih dulu pulang. Sementara Amira harus pulang dengan taksi, karena Ariel entah kenapa langsung menghilang.


'Kenapa dia tidak mengantarku? Yah, memang benar bahwa aku tidak bisa menerima dia karena aku sudah bertunangan.' ucap Amira dalam hati.


Amira keluar dari dalam kamarnya lalu turun ke lantai bawah.


"Aku dengar dari pelayan, kau pulang dengan taksi hari ini." Ucap Dafa.


"Lalu, apa yang harus aku lakukan Kak? Kakak kan harus pulang lebih dulu karena ada urusan penting di kantor. Jadi aku harus pakai taksi." Ucap Amira.


'Bagaimana dengan Ariel? Apakah mereka bertengkar. Dengan melihat wajah Amira, bisa disimpulkan bahwa mereka bertengkar.' ucap Dafa dalam hati lalu menghela napasnya.


"Kau tahu cara untuk mengemudi bukan?" Tanya Dafa.

__ADS_1


Amira mengangguk. Dia sudah diajar semuanya oleh Papa dan kakaknya sejak ia masih kecil.


"Keluarlah sebentar." Ucap Dafa pada Amira lalu mengajaknya keluar rumah.


'Wow, mobil ini sangat keren. Modelnya begitu sporty dan warnanya sangat berani. Aku sangat ingin mengendarainya, ini sudah sangat lama sejak terakhir kali aku mengendarai mobil.' ucap Amira dalam hati.


"Apa kau suka?" Tanya Dafa.


"Ya Tuhan! Apakah ini untukku Kak?" Tanya Amira pada Dafa dengan penuh kegirangan.


Dafa mengangguk dan memberikan kuncinya pada Amira.


Amira langsung memeluk Dafa dengan erat dan berterima kasih padanya.


"Ini bahkan bukan hari ulang tahunku, jadi kenapa memberiku hadiah?" Tanya Amira pada Dafa.


"Ini hadiah dari Papa untukmu. Mengingat selama ini kau belum pernah punya mobil." Balas Dafa.


Amira lalu masuk ke dalam mobil.


"Ini sangat keren Kak." Teriak Amira dari dalam mobil.


Dafa tersenyum dan berkata, "apa kau tidak mau mencobanya dan membawaku berjalan-jalan?"


"Apa kakak tidak ke kantor?" Tanya Amira pada Dafa.


Dafa langsung masuk ke dalam mobil dan berkata pada Amira.


"Ayo kita pergi kelinci ku."


Amira merasa kesal karena dipanggil kelinci.


"Dari sudut mana aku terlihat seperti kelinci?" Tanya Amira marah.


"Mata dan gigimu." Balas Dafa.


Amira hanya memanyunkan bibirnya. Dia lalu mulai menyalakan mesin mobil dan mengendarai dengan penuh kecepatan.


"Apa kau sudah gila? Itulah kenapa Papa tidak mau memberikanmu mobil selama ini." Teriak Dafa.


"Baik, baik, lihatlah. Aku sudah pelan sekarang." Ucap Amira.


Amira hampir melewati batas kecepatan yang ditentukan tapi Dafa menghentikan nya agar tidak berkendara dengan cepat.


Setelah berkendara, Amira mengantar Dafa ke kantor dan berkata, "Kakak bisa pulang dengan taksi nanti." Ucap Amira lalu tancap gas.


"Dasar gadis nakal." Teriak Dafa.


"Bos, apakah Nona Amira kita sudah mendapatkan mobil baru? Itu sangat keren." Ucap asisten Dafa padanya.


"Kita? Dia adalah adikku, sekarang kembali bekerja." Ucap Dafa dengan marah.


Di tempat lain...


Amira menghela napas panjang dengan masih duduk di dalam mobil.


'Yang benar saja, kenapa aku datang ke rumahnya? Bagaimana jika dia melihatku? Aku harus pergi.' ucap Amira dalam hati.


"Amiraaa...." Teriak Ariel dari balkon kamarnya.


Amira menghela napas dan keluar dari dalam mobil. Ariel terpesona melihat Amira yang keluar dari dalam mobil dengan cara yang terlihat keren.


Ariel bergegas keluar dari dalam rumah dengan cepat.


"Kau datang kemari untuk melihatku?" Tanya Ariel pada Amira.


"Tidak." Balas Amira.


Amira menyeka poninya dan berkata, "ayo kita pergi jalan-jalan."


Ariel menjadi begitu kegirangan dan mengangguk. Amira tertawa kecil melihat tingkah Ariel.


'Sangat menggemaskan.' ucap Amira dalam hati.


"Mobil yang bagus." Ucap Ariel.


"Terima kasih." Balas Amira seraya mengemudikan mobilnya.


Amira berkendara menuju pantai dan berkata kepada Ariel untuk keluar dari dalam mobil. Ariel pun keluar dari dalam mobil dan diikuti oleh Amira juga.


"Ayo kita diam di sini untuk beberapa saat." Ucap Amira dan berjalan menyusuri pantai.


Ariel mengikuti Amira dan berkata, "apakah kau mencoba untuk meminta maaf kepada ku atas kejadian tadi pagi itu?"


Amira berhenti berjalan.


"Apakah aku terlihat seperti aku ingin meminta maaf?" Tanya Amira kepada Ariel.


"Tidak." Balas Ariel.


"Kenapa kau menyukai aku Ariel?" Tanya Amira dengan suara yang lembut.


Ariel memegang pundak Amira, lalu merebahkan kepalanya di pundak Amira.


"Apa yang kau lakukan?" Tanya Amira dengan marah.


"Ini pertama kalinya sejak begitu lama kau kembali memanggil namaku." Ucap Ariel.


'Aku bisa melihat pipimu yang mulai memerah. Kau begitu bodoh, aku tidak pantas untukmu. Kenapa kau tidak mengerti.' pikir Amira.


"Aku menyukaimu." Ucap Ariel perlahan.


Amira pun merona dan berkata, "sial. Jangan lihat aku sekarang." Ucap Amira kepada Ariel.


Mereka berdiri dengan posisi seperti itu untuk beberapa menit.


"Terima kasih sudah membawaku kemari. Aku merasa lebih santai sekarang." Ucap Ariel.


Mereka berdua duduk di pantai melihat sunset bersama. Amira merasa sedikit kedinginan, Ariel lalu memeluknya dan berkata, "ini semua sangat indah."


Amira pun tidak keberatan dengan perlakuan yang diberikan Ariel.


'Aku sudah mencari tahu tentang pertunangan mu itu. Kau bisa membatalkan pertunangan itu dan kembali bersama denganku. Aku tidak bisa menemukan apapun fakta yang terjadi tentang 3 tahun yang lalu. Tapi aku akan mencoba sebisa mungkin untuk menemukan tentang semua yang telah terjadi.' ucap Ariel dalam hati.


Ariel lalu mencium kening Amira dengan lembut dan berkata, "tunggulah aku."


Amira tidak dapat mengerti dengan apa yang dimaksudkan oleh Ariel. Dia pun bertanya kepadanya.


"Apa kau mau pergi ke suatu tempat?"

__ADS_1


Ariel tersenyum dan berkata, "aku tidak akan pergi ke manapun. Hanya saja, tunggulah aku untuk membatalkan pertunangan mu itu."


Amira merasa terkejut dan bertanya kepada Ariel.


"Bagaimana kau tahu tentang hal itu?" Tanya Amira.


Ariel tertawa kecil dan berkata, "aku adalah Tuan Muda dari keluarga Pratama. Aku bisa melakukan apapun yang aku mau."


Amira memicingkan matanya dan berkata, "terserah kamu saja."


Setelah itu Amira mengantar Ariel pulang ke rumahnya. Hari sudah larut dan daya ponsel amira sudah habis. Amira takut bahwa kakaknya akan marah kepadanya.


Tiba di rumah, Amira masuk ke dalam rumahnya dengan mengendap-endap.


"Selamat datang Tuan Putri." Ucap Dafa dengan marah.


Dafa tengah duduk di sofa ruang tamu dengan kakinya yang berada diatas meja dan menatap kearah Amira. Dia sudah menunggu Amira sejak tadi.


Amira pun menelan ludah dan meminta maaf kepada Dafa karena pulang larut malam.


"Kau lebih baik menjelaskan semuanya kepadaku." Ucap Dafa.


"Itu... itu.. itu semua karena aku sangat bahagia karena mendapatkan mobil baru. Jadi aku pergi ke pantai." Ucap Amira gugup.


Dafa menghela napas lalu bangun. Dia kemudian berjalan mendekat kearah Amira dan mengusap kepalanya dengan lembut.


"Lain kali beritahu aku sebelum kau mau pergi kemanapun." Ucap Dafa.


Amira tersenyum dan menganggukkan kepalanya dengan cepat.


"Kalau begitu, kelinci, ayo kita makan." Ucap Dafa.


"Ah... Jangan panggil aku seperti itu." Teriak Amira kesal.


"Mama dan Papa akan tiba dalam waktu satu minggu." Ucap Dafa saat makan malam.


Amira tersedak dan berkata, "mama juga akan pulang?"


Dafa tertawa kecil dan berkata,"yap, jadi kau harus bisa bersikap dengan baik."


Amira menyelesaikan makan malamnya dan pergi ke kamarnya, setelah mengatakan selamat malam kepada kakaknya dan juga pelayan.


Hari berikutnya, Amira pergi ke kampus menggunakan mobilnya sendiri. Dia memarkirkan mobilnya jauh dari kampus untuk menghindari gosip. Dia tidak pernah memperlihatkan kekayaannya, itulah alasan kenapa semua orang menyukai dirinya.


Meski sebenarnya semua orang sangat jelas mengetahui bahwa dia adalah adik dari Dafa Wijaya, mahasiswa paling tajir, terkenal dan tampan di kampus. Tapi Amira tetap berpenampilan sederhana.


"Selamat pagi Amira." Ucap Cindy yang baru tiba di dalam kelas.


"Selamat pagi." Balas Amira. "Kenapa kau datang terlambat?" Tanya Amira.


"Bus yang biasa aku tumpangi datang terlambat." Balas Cindy.


"Mulai besok, aku akan menjemputmu dan juga mengantar mu pulang." Ucap Amira.


"Jangan bilang kalau kau sudah mempunyai mobilmu sendiri?" Tanya Cindy dengan ekspresi yang kegirangan.


"Ayolah, jangan berteriak seperti itu." Ucap Amira.


Cindy pun langsung lebih tenang sedikit dan kemudian berkata, "Amira kelinciku, terima kasih."


Amira melihat kearah Cindy dengan tatapan marah karena memanggilnya kelinci.


Cindy malah menyeringai dan berkata, "bayi kelinci, jam berapa aku harus menunggumu?" Ucap Cindy dengan gaya yang menggemaskan.


Amira tertawa dan berkata, "telepon saja aku."


Cindy pun menganggukkan kepalanya.


Ariel masuk kedalam kelas. Ada banyak mahasiswi yang sejak tadi terus mengikuti dirinya dan mengucapkan selamat pagi kepadanya. Ada juga yang memberikannya hadiah berupa coklat. Ariel pun selalu mengambil pemberian para mahasiswa itu dan memberikan senyuman kepada mereka.


Amira melihat ke arah mereka semua dan kemudian menggebrak buku di atas meja yang membuat semua orang terkejut.


"Duduklah di bangku kalian semua." Ucap Amira kepada para mahasiswi itu.


Ariel menyeringai dan mendekat kearah Amira. Dia memberikan semua coklat yang diberikan para mahasiswi itu kepada Amira.


"Bukankah kau menyukai coklat. Ini makanlah semuanya." Ucap Ariel.


Amira melihat kearah Ariel dengan sebentar. Ariel semakin mendekat kearah amira dan berkata, "aku tahu kalau aku ini sangat tampan."


Rahang Amira mengeras dan berkata, "bawa semua ini pergi atau aku akan membuangnya."


Cindy mengambil semua coklat itu dan berkata, "kenapa harus dibuang begitu saja. Biarkan aku saja yang mengambilnya."


Ariel menatap kearah Cindy. Cindy pun berpindah tempat duduk ke bangku belakang dan kemudian duduk disana. Sedangkan Ariel, dia langsung duduk di bangku tempat Cindy duduk tadi, dan kemudian memiringkan bangkunya untuk menatap kearah Amira.


"Apa?" Ucap Amira.


"Tidak bisa kah aku melihat kekasihku sendiri?" Ucap Ariel dengan tersenyum.


Amira menjadi begitu terkejut. Semua orang mulai membicarakan hal itu. Amira hendak mengatakan sesuatu, tapi dosen kemudian tiba.


"Aku minta maaf karena datang sedikit terlambat." Ucap Calvin yang masuk ke dalam kelas dengan cepat.


Calvin masuk ke dalam kelas dan duduk di samping Cindy.


"Selamat pagi Amira." Ucap Calvin.


Amira membalas ucapan Calvin, "selamat pagi juga."


"Hei, apakah aku ini tidak terlihat bagimu?" Ucap Cindy kepada calvin.


Amira pun tertawa.


'Cindy selalu terlihat menggemaskan saat dia bertingkah seperti itu. Ah, aku akan mengajak dia pergi berbelanja bersamaku hari ini. Kak Dafa bilang aku boleh pergi berbelanja. Jadi aku akan membawa dia bersamaku. Pasti akan sangat menyenangkan.' ucap Amira dalam hati.


"Kenapa kau tersenyum seperti itu? Apakah kau memikirkan tentang aku?" Ucap Ariel.


Amira menunjukkan tinju nya ke wajah Ariel dan Ariel pun berbalik dengan matanya yang menatap ke lantai dengan ekspresi wajahnya yang sedih.


'Arghh, aku benci saat dia bertingkah seperti itu. Itu hanya membuatku merasa, bahwa aku orang yang jahat.' ucap Amira dalam hati.


"Apa kau mau pergi shopping?" Tanya Amira kepada Ariel dengan pelan.


'Aku tidak punya pilihan lain. Aku tidak mau menjadi orang yang jahat dan pasti akan menyenangkan jika dia juga ikut.' pikir Amira.


Ariel mengalihkan pandangannya dengan cepat ke arah Amira dengan wajahnya yang begitu sumringah dan menganggukkan kepalanya. Dia kemudian kembali berbalik.


'Bodoh, seorang laki-laki itu tidak seharusnya bertingkah menggemaskan bukan?' ucap Amira dalam hati.

__ADS_1


Bersambung.....


__ADS_2