
Dua tahun kemudian....
"Sheila hari ini kau begitu cantik. Gaun pernikahan ini sangat sempurna untukmu." Ucap Marissa.
"Benarkah? Apa kau pikir Dafa akan menyukainya?" Tanya ku.
"Jika Kak Dafa tidak menyukainya, aku sendiri yang akan merusak jas pernikahan yang dia gunakan. Sekarang cepatlah, semua orang sudah menunggu." Ucap Amira, gadis yang sebentar lagi menjadi adik ipar ku itu.
Setelah itu, aku pun berjalan melewati karpet merah di taman.
Ini adalah hari terbaik dalam hidupku sejauh ini, hari pernikahanku. Aku berjalan di karpet merah dengan Marissa dan Amira yang memegang gaunku dari belakang. Sepupu Dafa dan beberapa teman kelas kami ada di sana.
Dafa berbalik dan melihatku. Saat kami saling menatap, aku bisa melihat dengan jelas bagaimana mata Dafa yang tampak berbinar dan saat aku sudah berada di depannya, dia pun memegang tanganku dan kami pun duduk di depan semua orang yang akan menjadi saksi pernikahan kami.
Beberapa saat kemudian kami berdua pun sudah sah menjadi pasangan suami istri.
Sekarang aku sudah menjadi bagian dari keluarga Wijaya, di mana aku mulai mengetahui ternyata Papa Dafa memiliki saudara kembar yang bernama Nyonya Arsha Wijaya. Dia memintaku untuk memanggilnya dengan sebutan Tante Arsha.
Tante Arsha memiliki dua orang anak, yang pertama bernama Denis dan sudah menikah sementara yang kedua bernama Faradina.
Aku mulai terbiasa hidup dalam keluarga besar Dafa terutama dengan kasih sayang diberikan oleh seluruh keluarganya termasuk Oma dan Opanya, Opa Reyhan Wijaya dan Oma Izzah Wijaya.
Berselang beberapa bulan setelah pernikahanku dengan Dafa, giliran adiknya Amira yang menikah dengan pria bernama Ariel. Semua keluarga merasa begitu bahagia akan pernikahan itu dan kini tersisa tinggal Faradina, putri dari Om Devan dan Tante Arsha yang belum menikah.
Aku dengar bahwa pihak keluarga Wijaya sudah sering menjodohkan Faradina dengan beberapa laki-laki. Tapi Fara selalu saja menolak dengan alasan belum mau menikah dan ingin fokus pada karirnya.
Aku menjadi lebih dekat dengan para sepupu Dafa karena kami semua memang sering berkumpul bersama dengan pasangan kami masing-masing kecuali Faradina yang memang masih lajang.
Seperti halnya hari ini, kami semua tengah berada di sebuah taman untuk berpiknik bersama. Denis dengan istrinya Amel, yang tengah berbadan dua tampak sibuk berbincang sembari tertawa dan memakan buah. Sementara Amira dan Ariel yang baru saja menikah terlihat memilih duduk di bawah pohon berdua dengan posisi Ariel yang membaringkan kepalanya di pangkuan Amira.
Sementara aku dan Dafa duduk bersama di atas tikar yang kami gelar di taman bersama dengan Denis dan istrinya juga Faradina.
"Hei Fara, sampai kapan kau akan hidup melajang?" Tanya Dafa yang mulai mengejek Faradina lagi.
"Ayolah Kak Dafa, sampai kapan kakak terus saja mengejek aku seperti itu." Ucap Faradina dengan bibir yang cemberut.
"Apa kau tidak iri melihat kami semua sudah memiliki pasangan, bahkan Amira yang usianya lebih muda darimu baru saja beberapa bulan yang lalu menikah dengan Ariel." Ucap Dafa lagi.
"Aku tidak akan mau menikah jika harus dijodohkan. Kalian semua bisa mendapatkan pasangan kalian dengan pilihan kalian sendiri, sementara aku, kenapa aku harus dijodohkan?" Ucap Faradina protes.
"Aku juga menikah karena dijodohkan." Ucap Amira yang tiba-tiba mendekat ke arah kami semua.
"Bukankah kau menikah dengan Ariel itu karena kau mencintai dia?" Tanya Fara kepada Amira.
"Aku memang menyukai Ariel dan pernah berpacaran dengannya sebelum pernikahan kami. Tapi Papa, Mama dan seluruh keluarga lainnya tidak mengetahui hal itu dan tetap ingin menjodohkan aku dengan pria yang mereka anggap begitu baik untuk diriku dan juga keluarga kita. Siapa yang menyangka, ternyata pria yang di jodohkan denganku itu adalah Ariel sendiri." Ucap Amira menjelaskan kisah cintanya itu kepada Faradina.
Aku hanya diam mendengarkan percakapan mereka karena aku tidak tahu apa yang harus aku katakan.
__ADS_1
"Bagaimana dengan Kak Denis dan juga Kak Dafa? Bukankah kalian menikahi orang yang kalian cintai dan bukan karena dijodohkan?" Ucap Fara lagi.
"Kami juga dijodohkan." Ucap Amel istri dari Denis.
"Oh ya? Setahuku kalian berdua dijidohkan." Ucap Fara yang tampak penasaran.
Amel lalu menjelaskan bagaimana kisah percintaannya bermula dengan Denis, kakak Fara, di mana sebenarnya mereka juga diperkenalkan oleh kedua orang tua mereka dengan maksud untuk menjodohkan mereka. Tapi para orang tua mereka tidak mau memaksakan jika mereka memang tidak mau untuk menikah dengan satu sama lain.
"Bagaimana dengan Kak Dafa?" Tanya Fara lagi.
"Biarkan Kak Sheila yang menjelaskannya kepadamu." Ucap Dafa.
Aku terkejut saat Dafa memintaku untuk menjelaskan bagaimana perjalanan cinta kami.
Fara melihat ke arahku dan dengan wajah yang seolah memintaku untuk menjelaskan semuanya. Aku pun lantas menjelaskan semuanya bahwa kami memang tidak dijodohkan karena kami bertemu di kampus yang sama. Namun meski begitu, kami juga melewati tahap di mana keluarga harus melihat kami, apakah kami cocok jika bersama atau tidak.
"Aku rasa keluarga kita tidak akan memaksa kita jika orang yang mereka setujui untuk menikah dengan kita itu bukanlah orang baik. Tapi jika mereka berpikir bahwa pasangan yang akan kita nikahi itu adalah baik, itulah kenapa mereka bersikukuh untuk menjodohkan kita sama seperti yang terjadi kepada Amira dan juga Ariel, begitu juga dengan Dennis dan Amel." Ucapku kepada Fara berharap semoga dia mengerti.
Fara tetap terdiam mencoba untuk mencerna semua ucapan ku.
"Kau tahu Fara, jika Om Devan dan Tante Arsha ingin menjodohkan mu dengan seseorang, setidaknya kau cobalah untuk melihat dan mengenal pria yang mereka ingin jodohkan denganmu itu. Aku yakin kedua orang tuamu tidak akan mungkin memberikanmu jodoh atau suami yang tidak baik untukmu." Ucapku kepada Fara lagi.
"Jangan lupa untuk meminta petunjuk dan berdoa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Apakah pria yang dijodohkan denganmu itu memang pantas untukmu atau tidak. Tuhan pasti akan menunjukkan semuanya kepadamu. Jika dia memang tidak ditakdirkan untukmu, maka Tuhan pasti akan memberikan jalan keluar yang terbaik dan akan menjauhkan dirimu dengan pria itu." Ucap Denis menyambung apa yang aku katakan kepada Fara seraya mengusap kepala adiknya itu.
Fara memang masih muda, sekarang masih berusia 21 tahun. Namun keluarga Wijaya terus mencoba untuk mendesaknya agar segera menikah mengingat karena hal itu adalah permintaan dari Opa Reyhan dan Oma Izzah yang sudah berusia lanjut. Mereka berdua selalu berharap sebelum mereka dipanggil oleh Tuhan, mereka bisa melihat semua cucu mereka sudah menikah dan bahkan mereka bisa memiliki cicit yang akan segera lahir dari rahim Amel, istri dari Denis.
Saat ini, baik Amira maupun Ariel masih sibuk dengan urusan kuliah mereka dan juga Ariel diberikan tanggung jawab oleh orang tuanya untuk mengurus perusahaannya sendiri sebagai jaminan hari tuanya nanti dan juga untuk menghidupi istri dan anak-anaknya kelak.
Satu minggu lagi ulang tahun pernikahan Opa dan Oma akan dilaksanakan di kediaman utama keluarga Wijaya. Pernikahan mereka sudah menginjak tahun ke-45, sementara keduanya hampir berusia 70 tahun sekarang.
Aku begitu takjub dengan bagaimana fisik mereka yang masih terlihat bugar di usia yang sama sekali sudah tidak muda lagi.
Kami semua para cucu dari keluarga Wijaya mulai mempersiapkan acara ulang tahun pernikahan Oma dan Opa dengan begitu meriah karena kami ingin hari ini menjadi hari istimewa yang akan mereka kenang sepanjang hidup mereka berdua.
Aku begitu bahagia dan juga beruntung menjadi bagian dari keluarga besar Wijaya ini.
...****************...
PoV Faradina....
Hari ini adalah hari di mana ulang tahun pernikahan Opa Reyhan dan Oma Izzah. Aku ingin sekali memiliki kisah cinta seperti mereka di mana bertahan sampai puluhan tahun bahkan sepertinya hanya maut saja yang akan bisa memisahkan mereka berdua.
Orang tuaku ingin sekali melihat aku menikah secepatnya. Tapi jujur saja aku belum pernah memikirkan tentang hal itu. Meski aku tahu bahwa usiaku lebih tua satu tahun dari Amira yang memutuskan menikah muda.
Meski Amira memang menikah dengan pria yang dijodohkan oleh Om Arka dan Tante Alia, tapi setidaknya mereka berdua memang saling mencintai sebelumnya. Lalu bagaimana denganku yang harus dijodohkan dengan orang yang sama sekali tidak aku cintai.
Aku cukup pusing memikirkan semuanya. Bukankah sekarang bukan lagi zamannya Siti Nurbaya di mana menikah itu harus karena dijodohkan. Aku benar-benar ingin menikah dengan seorang pria yang aku cintai dan membuat aku merasa bahagia. Tapi sampai sekarang, aku belum bisa menemukan sosok pria yang bisa menarik hatiku.
__ADS_1
Sejak masa SMA, aku bahkan belum pernah begitu dekat dengan seorang pria. Entah karena aku yang terlalu tidak menarik perhatian atau mereka yang minder karena status keluargaku apalagi karena Kak Denis yang sejak dulu begitu posesif kepadaku dan tidak membiarkan aku untuk bisa dekat dengan pemuda manapun.
Aku menggelengkan kepalaku memikirkan semuanya. Aku kemudian memutuskan untuk masuk ke dalam ruangan pesta ulang tahun pernikahan Opa dan Oma bersama dengan kedua orang tuaku dan juga Kak Denis serta kakak ipar ku. Kami sekeluarga sudah berkumpul di sana termasuk Om Arka, Tante Alia, juga dengan kedua anak dan menantu mereka.
Ada banyak tamu undangan lainnya yang juga ada di sana ikut merayakan kebahagiaan ulang tahun pernikahan Opa dan Oma ku.
Tak berselang beberapa lama, kedua pasangan yang selalu terlihat romantis meski di usia mereka yang sudah senja itu turun dari lantai atas dengan perlahan dengan disambut oleh riuh tepuk tangan dari para tamu undangan serta kami anak cucu mereka ini.
Senyum di wajah Oma dan Opa membuat hatiku merasa begitu bahagia dan juga lega. Aku harap aku bisa menikah dengan pria yang aku cintai dengan dihadiri oleh mereka berdua. Semoga mereka selalu diberikan kesehatan dan umur yang panjang oleh Tuhan Yang Maha Kuasa agar mereka bisa menyaksikan aku berada di pelaminan suatu hari nanti.
Acara ulang tahun pernikahan Oma dan Opa pun dimulai. Kami semua mendekat ke arah mereka berdua dan memberikan ucapan selamat. Tepat saat giliran ku tiba Oma dan Opa memegang tanganku dan mengatakan hanya ada satu harapan mereka berdua yang ingin mereka dapatkan di hari ulang tahun pernikahan mereka hari ini yaitu ada pada diriku.
"Katakan saja, Opa, Oma. Apa yang kalian inginkan? Sebisa mungkin akan aku lakukan." Ucapku kepada kedua pasangan yang menjadi inspirasiku itu.
"Apa kau menyayangi Oma dan Opa?" Tanya Oma Izzah.
.
"Tentu saja." Balas ku.
"Menikahlah." Ucap Opa yang tersenyum kepadaku.
Aku langsung terdiam. Aku tidak tahu harus mengatakan apa. Hal inilah yang selalu mereka inginkan agar bisa aku lakukan. Tapi mau bagaimana lagi, aku belum juga bisa mendapatkan lelaki seperti yang aku inginkan.
"Opa dan Oma sudah tua. Kami tidak tahu usia kami bisa bertahan sampai kapan. Tapi kami hanya bisa berharap semoga kau segera menikah agar kami bisa melihat semua pernikahan dari cucu-cucu kami. Jika kau belum memiliki seorang pria yang dekat denganmu, maka izinkan Opa untuk memperkenalkan mu dengan seorang pemuda yang merupakan cucu dari sahabat baik Opa." Ucap Opa Reyhan.
"Kami tidak akan memaksamu sayang, kami hanya ingin memperkenalkan mu kepada pemuda baik itu. Jika kau setuju pernikahan bisa dilangsungkan secepatnya. Namun jika kau merasa tidak cocok dengannya, maka kami tidak akan memaksamu ucap Oma Izzah kepadaku.
Aku menjadi bingung untuk menjawab apa kepada kedua Opa dan Oma ku ini. Dari arah belakang Papa memegang pundak ku yang membuat aku berbalik dan menatap ke arah Papa dan juga Mama yang berdiri di samping Papa.
"Sayang, setidaknya kali ini saja ikuti permintaan Opa dan Oma mu. Kau hanya perlu berkenalan dengan pria itu. Jika kau merasa cocok maka kalian bisa menikah. Tapi jika tidak, kau juga bisa menolak. Kami tidak akan memaksamu, kami hanya ingin melihatmu untuk berkenalan dengannya. Siapa tahu kalian cocok." Ucap Papa.
"Satu hal yang Oma sarankan kepadamu sayang. Berdoalah dan minta kepada Tuhan petunjuk apakah pemuda yang kami jodohkan denganmu itu adalah pemuda yang tepat untukmu atau tidak. Tuhan pasti akan memberikan jawaban kepadamu." Ucap Oma padaku.
Aku hanya bisa menghela nafas dan berpikir sesaat. Kemudian aku pun mengangguk sebagai tanda menyetujui keinginan mereka yang ingin memperkenalkan aku sekaligus menjodohkan aku dengan seorang pemuda yang ternyata hari ini sudah ada di pesta ulang tahun pernikahan Opa dan Oma.
Aku cukup gugup saat Mama dan Papa mengatakan bahwa pemuda itu sudah ada di sini dan akan segera memperkenalkan aku dengannya. Apalagi Kak Denis dan juga kedua sepupuku terus saja mengejekku dengan menggodaku mengatakan bahwa aku akan segera bertemu calon suamiku.
"Ciyeee yang bakalan bertemu dengan calon suaminya." Ucap Kak Dafa.
Aku padahal belum setuju dengan pernikahan itu tapi kenapa mereka sudah menyebut pemuda itu sebagai calon suamiku.
Papa dan Mama lalu menunjuk ke arah seorang pemuda yang menggunakan kemeja warna putih dan celana jeans warna hitam. Dari jauh aku melihatnya, dia cukup tampan dan entah kenapa sudah bisa menarik perhatianku.
'Tuhan, beri aku petunjuk Apakah dia memang jodohku atau bukan. Kalaupun aku setuju dengan pernikahan ini, bagaimana dengannya? Apakah dia memang sudah menerima perjodohan ini atau tidak.' ucapku dalam hati.
Bersambung....
__ADS_1