
Alia dan Arka berjalan mengikuti langkah staf itu dari belakang, dan sampailah mereka pada satu ruangan yang tertata dengan sangat rapi.
“Bath tub?”
Alia membulatkan matanya dengan tatapan kaget. Dia mengalihkan pandangannya ke arah Arka yang sedang tersenyum dengan tampang aneh.
'Ya Tuhan, akhirnya mimpinya untuk berendam berdua di dalam bath tub denganku menjadi kenyataan. Jangan harap dia akan melakukan yang macam-macam di tempat umum seperti ini.' ucap Alia dalam hati.
“Please....” (Silahkan)
Arka dan Alia akhirnya berendam di dalam sebuah bath tub dengan taburan bunga di permukaannya. Di sekelilingnya diletakan beberapa lilin aroma terapi yang sangat nyaman masuk kedalam hidung keduanya. Mereka berdua menikmati flower bath selama kurang lebih 15 menit.
Alia melanjutkan treatment dengan fragrant body moisturizer agar kulit nya menjadi lebih sehat dan lebih halus. Sedangkan Arka menyudahi treatment nya dan segera memasuki toilet untuk kembali mengenakan bajunya.
Spa itu diakhiri dengan secangkir teh hangat dengan aroma tradisional yang sangat menyegarkan. Rasanya begitu unik dan sedikit pahit. Alia tidak menghabiskan semuanya karena tidak cocok dengan rasanya, tapi Arka sangat menikmatinya sampai habis tak tersisa.
'Kurasa dia memang sangat menyukai setiap hal yang ada di sini.' pikir Alia.
***********
Setelah menyelesaikan treatment itu, menikmati spa yang sangat nyaman dan menghilangkan rasa lelah. Walaupun Arka hanya menikmati beberapa treatment saja karena tertidur pulas. Tapi Alia menikmatinya dengan sangat baik.
'Baguslah jika dia sudah menyegarkan tubuhnya maka nanti malam dia tidak akan beralasan dengan mengatakan lelah. Haha, Arka apa yang kau pikirkan?' ucap Arka dalam hati.
Arka dan Alia akhirnya dijemput tepat di depan tempat spa untuk mengikuti A Day Fun Ship Cruise menuju sebuah pulau kecil, mereka akan mengarungi indahnya lautan menggunakan Kapal Island Explorer. Beberapa saat kemudian mereka menikmati indahnya lautan dari atas kapal.
Tour guide itu sengaja memberikan privasi kepada Arka dan Alia untuk menikmati waktu berdua di atas kapal. Terik matahari tidak mengurangi antusias keduanya untuk menikmati semuanya. Melihat lautan luas yang terbentang indah sepanjang mata memandang. Semuanya terasa sangat menyenangkan ketika gadis cantik ini berada di samping Arka.
'Ah, sayang. Aku tidak yakin kau masih bisa disebut gadis besok. Haha. Semoga tidak ada lagi hambatan yang akan menghentikan ku malam ini. Walaupun dia memaksaku untuk menghentikan nya, aku tidak akan pernah berhenti. Egois? Aku rasa tidak. Jika seperti ini terus aku rasa dia tidak akan pernah bisa bersikap dewasa. Setidaknya dia bisa membuktikan perkataanya.' ucap Arka dalam hati dengan senyuman di bibirnya.
*************
Mereka berdiri tepat di samping kapal pesiar. Alia sedang asyik memandangi lautan, sedangkan Arka malah tenggelam dengan kecantikannya. Rambut panjang Alia yang berterbangan karena terhempas angin, membuat dia terlihat sangat cantik.
Mereka berdua memang sangat menggilai laut, jadi berada diatas kapal yang sedang mengarungi lautan ini rasanya sangat menyenangkan bagi keduanya. Arka jadi teringat dengan Ayah nya jika seperti ini. Reyhan memang sangat senang mengajak Arka dan Arsha pergi ke laut, dan menikmati keindahan sunset. Tapi itu dulu, karena sekarang baik Arka maupun Arsha sudah sibuk dengan keluarga mereka masing-masing.
“Kau menyukainya?” Tanya Arka kemudian mengulurkan tangan kanannya untuk merapikan rambut Alia yang berterbangan ke wajahnya.
Rambut yang menghalangi pemandangan indah yang sedang dinikmati Arka saat ini.
“Aku sangat suka laut. Rasanya sangat indah disini. Tapi aku tiba-tiba ingat dengan rumah. Aku merindukan semua orang, terutama Dafa.” Ujar Alia dengan suara pelan.
Arka menggeser posisinya kemudian berbalik ke arah Alia. Dia masih menatap lurus ke depan dengan rambut yang terus saja berterbangan.
'Kemana topi yang tadi pagi dikenakannya itu? Apa mungkin tertinggal di tempat spa tadi?' pikir Arka.
“Kita sedang berbulan madu, dan hanya akan berada disini dalam waktu sementara saja. Sebentar lagi kita akan pulang dan kembali berkumpul dengan Dafa dan yang lainnya juga.” Ucap Arka.
Arka lalu merangkul bahu Alia dengan erat. Alia memiringkan kepalanya dan menjatuhkannya tepat di bahu Arka.
“Iya, aku tahu. Tapi tetap saja, berada terlalu jauh dengan Dafa membuatku merasa ada yang hilang. Apalagi sejak datang kemari, kita belum pernah melakukan video call dengannya. Entah apa yang tengah dirasakannya sekarang." Balas Alia.
“Em, kau benar. Tapi aku yakin, Dafa akan mengerti jika kita tengah sibuk disini. Sudahlah, jangan seperti ini terus. Seharusnya kita bersenang-senang. Kau harus berhenti merengek dan menjadi cengeng." Ejek Arka.
“Aku tidak suka merengek dan aku tidak cengeng Arka.” Ucap Alia kesal.
“Benarkah? Tapi kau selalu cengeng dengan masalah kecil apapun.”
“Ish.... Itu karena aku belum bisa sepenuhnya meninggalkan kebiasaan ku. Aku ini masih seorang gadis. Aku masih belum bisa sepenuhnya menjadi dewasa. Semuanya butuh proses Arka.”
__ADS_1
“Ayolah sayang. Apanya yang belum bisa menjadi dewasa. Kau itu seorang model professional, jadi tentu saja kau sudah dewasa. Hanya saja kau masih kekanak-kanakan atas sikapmu yang cengeng itu. Kau harus berusaha menjadi wanita dewasa seutuhnya.”
“Terserah, akan aku buktikan bahwa aku akan menjadi gadis mandiri yang bersikap dewasa.”
“Yah kau masih gadis saat ini. Tapi aku tidak bisa menjamin besok, kau masih bisa menyebut dirimu sebagai seorang gadis lagi atau tidak. Haha.”
Arka terkekeh tanpa melihat ke arah Alia.
'Apa dia mengerti dengan apa yang baru saja keluar dari mulutku? Entahlah!'
Arka hanya merasakan angin hangat yang menyapu wajahnya.
“Apa maksudmu? Mengapa besok aku tidak bisa menyebut diriku sebagai gadis lagi?” Tanya Alia tampak penasaran.
“Sudahlah jangan dibahas. Nikmati saja pemandangan indah ini.” Jawab Arka.
'Aish, ternyata istriku benar-benar masih polos. Ya Tuhan, dia terlihat lugu ketika memandangku dengan tatapan bodoh seperti itu. Alia Luiz, kau benar-benar manis. Beruntung aku bisa menjadikanmu sebagai seorang istri, dan Ibu dari Dafa. Kau selalu bisa membuatku tersenyum. Tersenyum setiap melihat tingkah mu dan kepolosan mu.' ucap Arka dalam hati.
“Sayang, aku ingin membicarakan sesuatu yang penting padamu." Ucap Arka.
Arka menampakan wajah serius dan mencengkram kedua bahu Alia agar menghadap dirinya. Arka mengulurkan tangan kanannya untuk menarik rambut panjang Alia kemudian menyelipkan kebelakang telinga, agar rambut panjangnya itu tidak berterbangan di depan wajahnya.
“Ada apa? Apa yang ingin kau katakan?” Tanya Alia.
“Apakah nanti saat Dafa memiliki adik, dia akan tumbuh dengan baik?”
“Ahm... em.. ke... kenapa kau tiba-tiba menanyakan hal itu?” Alia mulai gugup.
“Tidak ada. Aku hanya ingin tahu saja. Aku kan mengatakanya nanti. Berarti bukan dalam waku dekat ini kan? Aku khawatir apakah anak kita nanti akan tumbuh dengan baik dan memperoleh gizi yang cukup.” Ucap Arka.
Arka tahu benar profesi Alia yang sebagai model pasti menuntutnya untuk mempunyai tubuh langsing bahkan cenderung kurus. Jadi Arka tidak mau memaksakan kehendaknya untuk segera memiliki anak dengan Alia.
“Tentu saja iya. Aku akan memberikannya yang terbaik dan dia akan tumbuh menjadi besar dan sehat, seperti Dafa.” Ucap Alia sungguh-sungguh.
“Apa maksudmu? Tentu saja aku akan memberikannya banyak makanan."
“Aku hanya merasa, em.... apakah kau bisa memberi cukup ASI untuk bayi kita.”
“A.... Apaaa? ASI? Apa maksudmu?”
“Kurasa ‘ukurannya’ tidak meyakinkan bisa menampung banyak ASI.”
Arka menurunkan tatapannya ke bawah, membuat Alia melakukan hal yang sama. Ketika menyadari kearah mana pandangan Arka dan apa yang sedang Arka lihat saat ini, Alia langsung mendongakkan kepalanya dengan tatapan tajam.
“ARKAAA.... KAU, BODOH. APA YANG KAU LIHAT? KURANG AJAR! ARKA WIJAYA MATI KAU!”
Alia menjitak kepala Arka dengan cukup keras, sedangkan Arka hanya terkekeh puas setelah melihat ekspresi Alia yang sangat lucu itu.
Keributan terhenti ketika seorang tour guide menghampiri mereka berdua. Dia mengatakan pada keduanya untuk segera makan siang.
Alia ingin sekali mendorong Arka hingga terjatuh ke laut sekarang juga.
'Bagaimana mungkin dia berkata seperti itu di hadapanku. Dan tatapannya tadi mengarah ke dadaku. Wajah mesumnya itu terlihat sangat menjijikan. Aish, membuatku malu saja. Lagipula atas dasar apa dia mengatakan jika ukuran dadaku tidak meyakinkan. Hemm, tapi dia memang pernah menyentuhnya dan juga melihatnya. Aish, apa yang kau pikirkan Alia Luiz. Itu hanya akan membuatmu semakin frustasi.'
Makan siang disajikan di atas Kapal Island Explorer. Semuanya terasa sangat menyenangkan bagi mereka berdua karena angin hangat pantai dapat memberikan rasa nyaman tersendiri kepada mereka. Setiap hal yang mereka lalui saat bulan madu ini begitu berkesan. Setiap hal yang mereka lakukan terasa sangat menyenangkan.
Setelah selesai makan siang. Kapal yang mereka naiki kembali berlabuh. Mereka berdua diantar menuju sebuah pantai terkenal disana. Kembali ke tempat dimana hotel mereka berdua berada.
Alia menggenggam tangan Arka erat sepanjang perjalanan. Tapi lama-kelamaan Alia menjadi mengantuk hingga akhirnya tidur bertumpu pada bahu kekar Arka. Beberapa saat Alia tenggelam dalam alam bawah sadarnya, hingga akhirnya Arka membangunkannya dengan menggoyangkan bahunya. Arka mengatakan jika mereka berdua sudah kembali ke pantai dekat hotel mereka.
__ADS_1
Mereka berdua memutuskan untuk tidak memakai seorang tour guide dan memintanya meninggalkan mereka berdua saja. Pantai yang sangat dekat dengan hotel membuat mereka cukup hafal dengan daerah itu.
“Oke. I leave you. Please enjoy.” (Oke, saya akan meninggalkan kalian berdua. Bersenang-senanglah) Ujar tour guide itu sebelum meninggalkan mereka berdua di tempat itu.
“Ah, Thank you for this wonderful day.” (Terima kasih untuk hari yang menakjubkan ini) Balas Alia kemudian mengangkat tangan kanannya untuk memberi salam.
Beberapa saat mereka berjalan menyusuri pantai. Arka menggulung celana jeansnya dan melepaskan sepatu yang dia pakai. Alia juga melakukan hal yang sama. Mereka tidak ingin berbasah–basahan karena ini masih siang. Mereka ingin menghabiskan waktu sampai matahari terbenam di pantai.
“Sayang, apa kau ingin mencoba itu?”
Tiba-tiba Arka menarik tangan Alia menjauhi pantai. Dia menunjuk sesuatu dia atas yang membuatnya sangat senang ketika tiba-tiba fokus perhatiannya tertuju pada hal tersebut.
“Apa? Bungy Jumping? Tidak!” Jawab Alia tegas.
Alia tidak mau dia mencoba hal itu. Dia merasa permainan itu terlalu berbahaya.
“Ayolah itu pasti aman. Kau mau mencobanya juga kan? Atau jika kau tidak mau, biarkan aku saja yang mencobanya.” Ucap Arka lagi.
“Tidak, aku tidak mau menjadi janda saat usia pernikahanku baru saja 2 bulan.” Balas Alia.
“Ya ampun... Ayolah, Pasti aman. Mereka pasti menjamin dengan baik. Oke.” Ucap Arka berusaha meyakinkan Alia.
Tanpa menunggu jawaban dari Alia, Arka langsung menarik tangannya agar berlari mengikuti langkahnya. Alia hanya bisa menyeret langkahnya lebih kencang saat Arka mengeratkan pegangannya di tangannya.
Mereka berjalan mendekat kearah menara yang sangat tinggi. Alia benar-benar gemetar ketika melihat olahraga ekstrem itu dari dekat.
'Apa mereka sudah gila? Mengapa menjatuhkan diri dari ketinggian seperti itu. Apa mereka tidak berfikir bagaimana jika tali bertumpu itu putus dan membuat mereka jatuh begitu saja ke atas kolam renang. Aku rasa jatuh dari sana pasti mati. Aku tidak mau mencoba hal konyol seperti itu.' pikir Alia dengan raut wajahnya yang penuh kekhawatiran.
Alia tidak bisa melakukan apapun sekarang, karena Arka sudah bersi kukuh untuk tetap mencobanya. Alia tidak bisa menolak jika Arka sudah berkehendak, karena Arka itu memang sedikit keras kepala.
“Kau juga akan mencobanya kan?” Tanya Arka.
“Apa kau sudah gila. Tidak. Aku hanya akan menemanimu.” Jawab Alia.
“Ayolah, ini pasti akan sangat menyenangkan." Ajak Arka lagi.
“TIDAK.” Ucap Alia tegas dengan suara yang lebih keras.
Alia tidak mau Arka menarik paksa dirinya untuk menjatuhkan diri dari ketinggian yang tidak lazim itu.
Arka melihat Alia yang gemetar. Arka merasa bahwa istrinya itu memang sangat ketakutan.
Memang sudah sejak lama Arka ingin mencoba lagi hal yang memacu adrenalin seperti ini. Terakhir kali Arka melakukannya beberapa tahun silam, saat dia masih bujangan, bersama dengan teman-temannya.
'Rasanya sangat menyenangkan. Sayang sekali Alia tidak mau mencobanya. Padahal jika dia berani mencoba, pasti akan terlihat sangat hebat.' ucap Arka dalam hati.
Atraksi olah raga ini sebenarnya merupakan tradisi suku Maori di Selandia Baru untuk menguji keberanian para pemuda yang telah menginjak usia dewasa dengan mengikat kedua kakinya pada ranting pepohonan kemudian terjun ke dalam lembah. Dari Selandia Baru atraksi ini berkembang pesat di Australia kemudian menyebar ke seluruh dunia dengan peralatan keamanan standar yang lebih modern. Tinggi tempat meloncat untuk olah raga Bungy Jumping sekitar 40 meter, umumnya dari sebuah tower menara dan di bawahnya ada sebuah kolam minimal sedalam 4 meter. Atraksi menantang ini sangat digemari untuk menguji keberanian.
Mereka berdua lalu menaiki sebuah sebuah elevator untuk ke atas menara. Alia semakin terlihat sangat gugup karena dia terus saja meremas tangannya sendiri. Arka yang merasa tidak tega, akhirnya menarik tangan Alia kemudian menggenggamnya erat.
“Ya Tuhan, tanganmu sampai basah seperti ini. Apa kau benar-benar sedang ketakutan sekarang?” Tanya Arka.
“Em... Aku takut sekali. Ayo kita turun lagi. Sebaiknya tidak usah melakukan hal gila seperti ini.” Balas Alia.
“Tapi aku benar-benar ingin melakukannya. Aku sudah lama sekali tidak mencoba olah raga menegangkan ini."
“Tapi aku takut. Bagaimana jika ternyata tidak seaman yang dia katakan? Bagiamana jika ternyata talinya tidak kuat kemudian jatuh?” Ucap Alia dengan wajahnya yang tampak panik.
“Sudahlah tenang saja. Semuanya pasti aman.” Balas Arka.
__ADS_1
Arka mengeratkan genggamannya di tangan Alia yang basah karena keringat. Mencoba menenangkan Alia yang terlihat sangat cemas.
Bersambung.....