
Izzah melangkah dengan gontai saat turun dari taxi disusul mang Diman yang berada dibelakangnya. Bi Asih menyambut kedatangan mereka berdua. Wajah Izzah tampak murung, sementara mang Diman terlihat kesal. Mereka berdua langsung duduk di bangku yang ada di teras rumah.
"Kenapa muka ditekuk gitu neng?" tanya bi Asih.
Izzah tak menjawab namun air matanya jatuh berlinang membuat bi Asih ikut bersedih lalu menghampiri Izzah dan memeluknya.
"Kenapa nangis neng? Sudah-sudah jangan sedih." bujuk bi Asih.
Mang Diman terdengar menghela nafas panjang.
"Sudah neng, gak usah dipikirin lagi laki-laki seperti dia. Sekarang neng fokus untuk kehidupan neng kedepannya. Kalau neng terus-terusan sedih, kasihan bayi yang neng Izzah kandung. Neng Izzah harus bahagia, disini mamang sama bi Asih akan selalu ada di samping neng Izzah." ucap mang Diman menyemangati Izzah.
Izzah lalu menghapus air matanya, dia berusaha tegar. Bi Asih mengelus pundak Izzah.
"Semangat ya neng, jangan sedih lagi. Lebih baik sekarang neng Izzah istirahat dulu." ucap bi Asih.
"Makasih ya mang, bi Asih. Kalian benar-benar orang baik. Izzah permisi mau istirahat di kamar dulu." ucap Izzah kemudian berjalan masuk ke dalam kamar.
Bi Asih lalu duduk disamping mang Diman, bertanya apa yang sebenarnya terjadi. Mang Diman menceritakan semua kejadian yang terjadi di rumah Rayhan. Bi Asih terlihat geram sekaligus sedih memikirkan perasaan Izzah.
Di dalam kamar Izzah merenungi semuanya. Mungkin ini sudah takdir dari Yang Maha Kuasa bahwa dia memang tak bisa bersama dengan Rayhan pikirnya.
Aku harus bangkit, tidak boleh terpuruk seperti ini. Benar kata mang Diman aku harus bahagia demi anak yang tengah ku kandung.
__ADS_1
Setelah kemarin terlihat murung pagi ini Izzah memulai harinya dengan senyum bahagia. Bi Asih dan mang Diman yang melihat Izzah tersenyum turut merasa bahagia.
"Nah gitu dong neng, kan makin cantik kalau senyum. Kalau neng Izzah manyun terus nanti cepat tua." ucap mang Diman.
Izzah hanya membalas dengan tersenyum.
"Neng udah siap jalan?" tanya bi Asih.
"Sudah bi." jawab Izzah.
Hari ini Izzah janjian dengan Lilis untuk pergi ke dokter kandungan.
"Mau mamang anter neng?" tanya mang Diman.
"Gak usah mang, bukannya mamang banyak kerjaan hari ini?"
"Nah itukan mamang sibuk, Izzah bisa sendiri kok mang. Ini Izzah mau pesan taxi online." jawab Izzah.
Tin!!! Tin!!!
Suara klakson mobil berhenti di depan rumah mang Diman.
"Itu siapa pak?" tanya bi Asih.
__ADS_1
"Gak tau juga bu."
Pintu mobil terbuka terlihat Lilis dan Andi turun dari dalam mobil.
"Abah....ibu assalamualaikum." teriak Lilis sumringah.
"Waalaikumsalam." ucap mereka serempak.
"Waahh mobil siapa itu Andi? Jangan bilang mobil dapat minjem buat pamer sama abah." ucap mang Diman.
"Husshh abah sembarangan, ya mobilnya kang Andi lah abah. Baru beli kemarin." jawab Lilis.
"Mobil second bah, bukan beli baru." ucap Andi.
"Alhamdulillah mau baru atau bekas yang penting jangan sampai ngutang. Nanti ribet sendiri pas ditagih." ucap bi Asih.
"Ya bu." jawab Andi.
"Eehh ngomong-ngomong kita berangkat yuk mba Izzah, nanti terlambat." ajak Lilis.
"Iya, ayo berangkat sekarang." ucap Izzah.
Izzah, Lilis dan Andi kemudian secara bergantian berpamitan pada mang Diman dan bi Asih. Mobil pun melaju menuju sebuah rumah sakit. Sekitar setengah jam perjalanan akhirnya mereka sampai rumah sakit. Izzah dan Lilis segera menuju poli kandungan.
__ADS_1
Sementara Rayhan juga tengah bersiap-siap menuju rumah sakit untuk kontrol rutin pemeriksaan kakinya yang patah saat kecelakaan. Rayhan menuju rumah sakit yang sama dengan yang Izzah tuju. Setelah sampai di rumah sakit Rayhan langsung diperiksa dokter.
Setelah satu jam pemeriksaan Rayhan akhirnya keluar ruangan dokter dan berjalan di koridor rumah sakit. Tak sengaja dari kejauhan Rayhan melihat Izzah tengah duduk bersama Andi di depan ruang poli kandungan. Mereka tengah mengobrol dengan diselingi tawa. Sementara Lilis tengah pergi ke toilet. Rayhan berjalan menghampiri Izzah.