Aku Wanita Simpanan

Aku Wanita Simpanan
11. Kembalinya Nabila


__ADS_3

Keesokan harinya....


Arka bangun dan menjadi sangat terkejut ketika dia tidak mendapati Alia berada disisinya. Arka duduk di tempat tidur dan melihat ke sekeliling.


"Aliaa....." Teriak Arka memanggil namanya tapi tidak ada respon apapun.


Arka lalu melihat ke arah kamar mandi, tapi tidak ada orang di sana. Hal itu semakin membuat Arka merasa khawatir.


Arka keluar dari dalam kamar mandi dan berjalan cepat kearah kamar Alia.


"Alia, apa kau ada di dalam?" Tanya Arka seraya masuk ke dalam kamar Alia.


Tapi tetap tidak ada jawaban apapun. Arka kemudian masuk ke ruangan tempat mengganti baju Alia, dia lalu menghela nafas dengan lega. Arka melihat Alia tengah memilih pakaian yang akan dia gunakan dan begitu fokus di dalam sana.


Arka lalu dengan diam berjalan mendekat kearah Alia dan memeluknya dari belakang. Arka menaruh kepalanya di bahu Alia dan terdiam. Sementara Alia tampak terkejut, dia ingin berbalik tapi Arka memeluknya dengan begitu erat.


Alia menaruh tangannya di kepala Arka dan bertanya, "ada apa Arka?"


Arka lalu membalikkan tubuh Alia dan memeluknya lagi.


"Jangan pernah meninggalkan sisiku lagi, walaupun sedetik saja." Ucap Arka, ada tanda sedih yang terdengar dari suaranya.


Arka sudah kehilangan seseorang dan tidak bisa menerima, jika dia harus kehilangan seseorang lagi. Arka mungkin bisa mati karena hal itu.


Alia kemudian memeluk Arka lebih erat dan meminta maaf padanya.


"Maaf karena aku terlalu fokus. Ada foto shoot yang harus aku lakukan hari ini." Ucap Alia dengan nada yang begitu lembut dan suara yang pelan.


'Dia benar-benar seperti anak kecil.' ucap Alia dalam hati dan wajahnya tampak bersemu merah.


"Bisakah kau melepaskan aku sekarang?" Tanya Alia perlahan.


Arka lalu melepaskan Alia dan wajahnya juga tampak memerah. Dia kemudian melihat kearah pakaian yang dipegang oleh Alia di tangannya.


"Apa kau akan mengenakan itu?" Tanya Arka dengan ekspresi yang serius.


Alia melihat kearah gaun yang dia pilih dan menganggukkan kepalanya perlahan. Arka mengambil gaun itu dan menggantungnya lagi di dalam lemari dan kemudian dia mengambil sebuah gaun panjang.


"Gunakan yang ini saja." Ucap Arka seraya memberikan gaun itu kepada Alia.


"Yang benar saja, aku harus memakai yang ini?" Tanya Alia dan melihat kearah Arka.


"Jika aku mengatakan kau harus memakai yang ini, maka kau harus memakai yang ini." Ucap Arka dan berbalik.


"Ini terlalu tertutup dan tidak cocok untuk tema pemotretan yang akan aku lakukan." Ucap Alia dengan wajah yang tampak serius.


"Aku tidak mau seseorang melihat istriku, hanya aku yang boleh melihat istriku menggunakan pakaian seperti itu." Ucap Arka dan tampak kesal karena faktanya bahwa istrinya itu adalah seorang model dan orang-orang di seluruh dunia melihat kearah dirinya, terpesona akan dirinya dan bahkan ada yang sampai jatuh cinta kepadanya.


"Apa kau mengatakan sesuatu?" Tanya Alia dengan maksud menggoda Arka, karena sebenarnya dia sudah mendengar dengan jelas apa yang dikatakan Arka.


"Tidak, aku tidak mengatakan apapun." Balas Arka dan berjalan keluar dari dalam kamar Alia.


Alia tertawa pelan dan berkata, "dia bisa bertingkah menggemaskan seperti ini."


'Dia benar-benar membuat aku gila. Aku memang sudah tergila-gila padanya. Bagaimana bisa aku bisa bertingkah seperti itu. Dia adalah seorang model dan sangat normal baginya untuk menggunakan pakaian yang terbuka seperti itu.' ucap Arka dalam hati dan masih merasa sedikit marah.


Arka masuk ke dalam kamarnya dan mendapati ponselnya yang tengah berdering. Terdapat sebuah panggilan dari Izzah.


"Iya halo Bu..." Ucap Arka.


"Lagi dimana Ka?"


"Di rumah Bu." Balas Arka.


Izzah terdengar menghela napas panjang.


"Kenapa Bu?" Tanya Arka khawatir.


"Nak, apa kamu lupa semalam bahwa kamu sudah berjanji sama Ibu, bahwa kamu akan datang bersama Dafa dan Alia?" Ucap Izzah.


Arka langsung menganga. Ia merasa begitu bersalah, karena lupa mengabari sang Ibunda tentang apa yang terjadi pada Alia kemarin.


"Bu, aku benar-benar minta maaf. Aku benar-benar lupa Bu. Kemarin terjadi kekacauan karena Alia sempat menghilang di taman bermain."


Izzah menjadi begitu terkejut.


"Apa yang terjadi Nak?" Tanya Izzah khawatir.


"Bukan masalah besar Bu, kemarin sepertinya ada orang iseng yang menakuti Alia."


Arka lalu menjelaskan apa yang terjadi pada Alia kemarin. Izzah pun merasa begitu khawatir dengan kondisi menantunya itu.


"Apa Ibu boleh kesana untuk melihat kondisi Alia?" Tanya Izzah.


"Dia sudah baik-baik saja. Hari ini dia juga akan sibuk bekerja. Jadi Ibu gak usah kesini, biar kami yang mampir ke rumah nanti jika ada waktu luang ya Bu. Dafa juga harus ke sekolah." Ucap Arka.


Izzah menghela napas, kemudian sambungan telepon berakhir. Reyhan yang baru keluar dari dalam kamar mandi mendekati Izzah setelah melihatnya tampak sedih.


"Kenapa wajahnya ditekuk begitu sayang?" Tanya Reyhan.


"Yah, begini ya rasanya kalau anak-anak sudah menikah. Waktu untuk bertemu kita saja begitu susah. Mereka sibuk dengan kehidupan mereka. Arsha jarang datang karena kehamilannya yang semakin membesar membuatnya jadi sulit bepergian. Sementara Arka sibuk dengan urusan kantor, dan istrinya juga sibuk bekerja sebagai model." Ucap Izzah.


Reyhan tersenyum dan kemudian duduk disamping Izzah, lalu membuat kepala Izzah bersandar di pundaknya.


"Sayang, anak-anak kita sudah begitu bahagia dengan kehidupan rumah tangga mereka. Biarkan mereka menjalani semuanya dengan damai. Jangan buat mereka merasa terbebani dengan selalu meminta mereka datang kemari. Kalau mau, kita bisa mengunjungi mereka malam hari, saat mereka sudah pasti ada di rumah."


"Hmmm...." Balas Izzah tersenyum.


>>>>>>>>>>>>>>


Di kediaman Arka....


Setelah beberapa saat, mereka akhirnya sarapan bersama dan Arka pun membawa Dafa untuk pergi ke sekolah. Sementara Alia dengan cepat pergi untuk melakukan pemotretan.


'Rumah Arka sangat jauh dari kota dan karena hal ini aku selalu telat untuk melakukan pemotretan. Beruntung sekali karena manajer selalu baik hati dan begitu pengertian atau dia akan menggantikan aku dengan orang lain.' ucap Alia dalam hati dan mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi.


Tiba-tiba seorang wanita muncul di hadap mobil Alia. Di saat yang sama Alia dengan cepat menginjak pedal rem dan wanita itu bersyukur karena dirinya aman. Alia juga begitu terkejut karena hal itu. Dia melihat kearah wanita yang terjatuh itu. Alia menatapnya dengan terkejut dan wanita itu menutupi wajahnya dengan sebuah syal.


Alia kemudian keluar dari dalam mobil dan begitu khawatir dan gugup. Alia lalu berjongkok untuk melihat kondisi wanita itu.


"Permisi Nona, maafkan aku. Apakah kau baik-baik saja?" Tanya Alia dan memegang lengan wanita itu.


Wanita itu menganggukkan kepalanya dan berdiri.


"Aku minta maaf dan terima kasih." Ucap wanita itu dan kemudian mulai berjalan menjauh dari Alia.

__ADS_1


Tapi Alia kemudian melihat luka di tangan wanita itu. Dia memegang tangan wanita itu dan menghentikannya.


"Tunggu dulu, kau terluka." Ucap Alia dan kemudian melihat ke arah wanita itu.


Karena berjalan terlalu cepat, syal wanita itu terjatuh di pundaknya dan Alia tetap melihat kearah wanita itu dengan wajah yang serius.


"Tidak, aku baik-baik saja." Ucap wanita itu dan menarik tangannya.


Dia kemudian berlari menjauh di seberang jalan yang lainnya.


'Di mana aku pernah melihatnya? Wajahnya terlihat begitu familiar. Sepertinya aku pernah melihatnya di suatu tempat. Tapi dimana?' ucap Alia dalam hati dan tampak kebingungan.


Kemudian setelah itu, beberapa mobil mulai membunyikan klakson kepada mobil Alia dan meminta Alia untuk segera memindahkan mobilnya dari jalanan karena sejak tadi mobil Alia sudah menghalangi laju kendaraan lainnya. Alia menghela napas dan kemudian masuk ke dalam mobilnya.


"Ya Tuhan, aku sudah telat." Ucap Alia dan kemudian menjalankan mobilnya dengan penuh kecepatan.


"Kau terlihat begitu cantik Alia." Ucap Manager Alia, Niki.


"Terima kasih Niki." Ucap Alia dengan tersenyum.


Dia kemudian duduk di kursi setelah menyelesaikan pemotretannya. Alia melihat ke arah ponselnya dan melihat ada foto Dafa yang dia ambil sebelumnya.


"Apakah kamu sedang melihat ke arah putramu, hah?" Ucap Niki yang duduk di samping Alia.


Alia tersenyum dan melihat ke arah gambar Dafa.


"Lalu bagaimana dengan suami mu?" Tanya Niki dengan tampak serius.


Kata 'suami' yang disebutkan oleh Niki membuat jantung Alia berdegup dengan kencang. Itu malah membuatnya merona malu. Niki pun tertawa, sementara Alia berpikir tentang Arka.


'Aku tidak pernah berpikir bahwa dia akan begitu baik kepadaku, dan aku bisa menggantikan posisi istri pertamanya. Walaupun sebenarnya dia tidak akan pernah bisa digantikan. Tapi aku rasa, dia tidak akan pernah mencintai wanita lain seperti dia mencintai istri pertamanya.' ucap Alia dengan ekspresinya yang berubah sedih.


Alia meminum air dan mencoba untuk menjernihkan pikirannya. Waktu berjalan dengan perlahan dan Alia begitu sibuk dengan pekerjaannya hingga dia sampai lupa waktu.


>>>>>>>>>>>>>>>


Sudah jam 4.30 sore hari...


"Semua orang sudah melakukan pekerjaan dengan baik. Terima kasih semuanya." Ucap ketua team kepada semua orang yang bekerja dengan keras tanpa ada masalah apa pun.


Alia tersenyum dan kemudian melihat kearah jam di tangannya. Dia menghela napas.


"Oh tidak, ini sudah sangat terlambat." Ucap Alia khawatir.


"Iya, kami lupa menginformasikan kepadamu bahwa hari ini photo shoot harus mengambil banyak waktu." Ucap Niki meminta maaf kepada Alia.


"Tidak apa-apa." Balas Alia dengan tersenyum. "Apakah Arka sudah menjemput Dafa?" Ucap Alia tampak khawatir.


"Jadi kau mengingat kami dengan baik?" Ucap seseorang dengan suara yang terdengar manis di telinga Alia.


Alia pun berbalik dan tampak begitu terkejut.


"Aaauuuwww...." Ucap Alia seraya memegang hidungnya.


"Sini biarkan aku melihatnya." Ucap Arka dan membuat Alia melihat ke arah dirinya.


Arka dengan perlahan memegang hidung Alia dan tampak khawatir.


"Aku minta maaf, aku seharusnya berdiri sedikit lebih jauh darimu." Ucap Arka, tapi Alia tidak tidak sedikitpun fokus terhadap apa yang dia ucapkan.


Arka menelan ludah untuk membuat lehernya tidak tercekat dan kemudian dia berbisik di telinga Alia.


Alia pun akhirnya mendapatkan kesadarannya kembali dan mendapati dirinya tengah berdiri di hadapan Arka.


"Kau bisa melihat aku sebanyak yang kau mau. Tapi itu nanti saat kita sudah tiba di rumah. Kau tidak mau bekerja dengan wajah yang tampak merona malu besok bukan?" Ucap Arka dengan suara yang lembut dan nafasnya yang terasa hangat yang berhembus di telinga Alia yang membuat Alia semakin malu.


Alia benar-benar berubah merah seperti sebuah tomat.


Arka pun tersenyum dan bertanya, "apakah kita bisa pulang sekarang?"


Alia menganggukkan kepalanya perlahan dan dia tampak malu. Arka memegang tangan Alia dengan erat dan wajahnya tersenyum. Sementara semua orang yang ada di sana tidak dapat berkata apapun. Mereka semua terdiam melihat momen yang terjadi di hadapan mereka, dan tidak berani untuk mengatakan apapun sejak mereka melihat Arka datang karena mereka tidak mau mengganggu waktu kedua pasangan itu. Arkan bisa saja memecat mereka atau memindahkan mereka ke tempat yang tidak diketahui.


Arka lalu mengendarai mobilnya dan tampak begitu senang. Sementara Alia merasakan jantungnya berdegup begitu kencang dan dia tidak bisa menghentikan degupan yang begitu kencang itu, sehingga membuat dirinya merasakan sesuatu.


Alia merasakan sesuatu dalam hatinya dan tersenyum seperti anak kecil.


"Aku mencintaimu Pa. Papa sudah memberikan aku sebuah berlian dan aku akan menyimpannya sebagai harta karun yang paling berharga seumur hidupku.' ucap Alia dalam hati dan tersenyum.


>>>>>>>>>>>>>>>>>>


Hari berikutnya berjalan dengan baik, dan waktunya untuk sarapan.


Alia dan Dafa tengah menikmati sarapan mereka, sementara Arka tengah bersiap-siap untuk pergi ke perusahaan. Dia akan menghadiri meeting yang sangat penting. Jadi dia harus pergi lebih cepat. Arka berjalan menuju ruang makan dan kemudian memegang kening Dafa.


"Belajarlah dengan baik." ucap Arka kemudian mengusap rambut Dafa lembut.


Arka lalu melihat ke arah Alia yang tengah menyuapi Arka dengan sesendok nasi goreng.


Arka lalu mencium pipi kanan Alia dan berkata "jangan bekerja terlalu keras dan jangan lupa untuk merindukan aku."


Arka lalu berjalan keluar dengan tertawa kecil sementara Alia hanya diam, dia tampak termenung.


Setelah beberapa saat, Alia mengantar Dafa ke sekolahnya dan kembali ke studio foto. Dia berdiri di hadapan manajernya seraya mendengarkan apa yang dikatakan manajernya.


Tiba-tiba seseorang dari belakang menutup mata Alia dengan kedua tangannya dan berkata, "Apakah kamu merindukan aku?"


"Eliiii...." Teriak Alia tampak penuh kebahagiaan dan membalikkan tubuhnya.


Alia memeluk Eli dengan begitu bahagia setelah melihat kedatangan Eli.


Eli adalah sahabat Alia sejak mereka masih kecil. Persahabatan mereka begitu kuat dan keduanya bisa melakukan apapun demi persahabatan mereka itu.


"Kau, dari mana saja kau selama ini?" Tanya Alia seraya menarik telinga Eli.


"Aku tengah liburan panjang." Balas Eli dan memegang telinganya yang terasa sakit.


Alia lalu mengusap telinga Eli dan berkata, "kenapa kau tidak memberitahukan aku?"


"Apakah kau juga memberitahukan aku bahwa kau sudah menikah?" Tanya Eli dan tampak marah.


"Semuanya terjadi secara tiba-tiba." Balas Alia dengan wajah yang sedih.


"Bahkan Hazel tidak memberitahukan aku tentang hal itu." Ucap Eli dengan wajah yang cemberut.


"Baiklah. Maaf aku akan mentraktir mu makan malam di rumahku nanti." Ucap Alia dengan tersenyum.

__ADS_1


"Rumah baru yang indah, hah?" Ucap Eli menggoda Alia yang tampak merona dan kemudian begitu terkejut setelah melihat seseorang datang.


"Bagaimana dengan aku Alia?" Tanya seseorang yang berjalan mendekat ke arah Alia.


Alia tampak begitu terkejut setelah melihatnya. Alia memegang tangan Eli dan menarik Eli ke sudut ruangan.


"Kau, kenapa dia ada di sini?" Tanya Alia.


"Aku mengatakan kepadanya tentang pernikahanmu. Jadi dia mau datang melihatmu, untuk memastikan apakah kau bahagia atau tidak." Ucap Eli dengan wajah yang sedih.


Alia tampak menghela napas dan menggelengkan kepalanya.


"Apakah kau tidak bahagia melihatku?" Tanya Leon Harison kepada Alia.


Alia tersenyum dan berkata, "aku... Bagaimana bisa aku tidak bahagia setelah melihat mu, Senior."


Leon tersenyum balik dan berjalan mendekat ke arah Alia.


"Ayo kita pergi ke cafe dan mengobrol tentang apapun itu." Ucap Eli mengajak mereka berdua dengan menyela ucapan mereka berdua untuk menghindari bahwa orang lain akan salah paham tentang sesuatu yang akan membawa masalah untuk Alia.


"Iya tentu." Ucap Leon dan kemudian mereka pergi ke cafe yang terdekat dari studio itu.


Sementara itu di tempat lain, Arka telah selesai dengan meeting nya. Dia berjalan kearah ruangannya dan tiba-tiba menabrak seorang wanita. Wanita itu terjatuh ke lantai dan melihat ke bawah untuk menyembunyikan wajahnya dari Arka.


Arka hendak mengatakan sesuatu, tapi kemudian Arka mematung setelah melihat wanita itu. Dunia terasa seperti berputar. Arka merasa itu seperti sebuah mimpi atau halusinasi. Tapi semua itu adalah kenyataannya.


"Nabila!!!" Ucap Arka dan berjongkok ke lantai dengan ekspresi yang begitu terkejut.


"Kau... kau hidup." Ucap Arka dan kemudian memeluk Nabila dengan erat.


Arka begitu bahagia untuk melihat Alia. Itu semuanya tidak dapat dipercaya, tapi memang kenyataan yang terjadi seperti itu adanya.


Sementara itu di tempat lain...


Alia tengah duduk disamping Eli dan berhadapan dengan Leon. Dia begitu khawatir dan juga merasa aneh.


'Kenapa aku merasa semuanya tidak mudah. Ini begitu aneh.' ucap Alia dalam hati dan tampak khawatir.


"Nabila..." Ucap Arka dengan terkejut dan memeluk dia dengan begitu erat.


Sementara Nabila mulai bergetar dan menangis.


"Arka...!!" Ucap Nabila dan menangis keras, kemudian memeluk Arka.


Asisten dan sekretaris Arka melihat mereka berdua. Mereka berpikir bahwa Nabila itu adalah hantu. Bagaimana mungkin seseorang kembali lagi saat mereka sebenarnya sudah meninggal. Mereka berdua melihat kearah masing-masing dan tampak ketakutan.


Sementara Arka menggendong Nabila di lengannya dan meminta kepada asistennya untuk membawa mereka pergi ke rumah sakit.


Di waktu yang bersamaan di dalam cafe...


"Jadi bagaimana dengan kehidupanmu?" Tanya Leon kepada Alia dengan suara yang tenang.


Alia tersenyum dan berkata, "semuanya berjalan dengan baik."


"Oh, aku bahagia untukmu." Ucap Leon dengan senyuman yang dipaksakan.


Setelah beberapa saat, Leon dan Eli akhirnya pergi dari studio Alia. Sementara Alia sendiri pergi untuk menjemput Arka dari sekolahnya.


Alia tengah menunggu Arka untuk keluar dari dalam sekolah. Dia tengah bersandar di mobilnya dan melipat lengannya di dada.


'Apa yang sedang dia lakukan? Dia bahkan tidak menelpon ku atau mengirim pesan kepadaku... Hmmmm... Kenapa dia berpikir bahwa aku akan merindukan dia? Aku tidak merindukannya, tapi kenapa dia tidak menelepon atau mengirimi aku pesan? Ah terserah saja.' ucap Alia dalam hati dan tengah memikirkan tentang Arka.


Alia menjadi tampak terkejut setelah melihat putranya bersama seorang gadis kecil yang menggemaskan berjalan disampingnya.


"Waaahhhh.... Apa yang terjadi di sana?" Ucap Alia dengan tertawa kecil saat seorang gadis kecil itu mencium pipi Dafa dan berkata, "Da... dah."


Sementara Dafa tampak memerah. Dia menjadi terkejut dan tidak mengatakan apapun. Gadis kecil itu berjalan pergi dan Dafa berjalan di belakangnya dengan menyentuh pipinya.


Dafa melihat ke arah Alia yang berdiri dengan tersenyum mengejek di wajahnya.


Dafa berlari ke arah Alia dan berteriak, "Mamaaaa....."


Alia membuka lengannya untuk mencium dan memeluk Dafa dengan berjongkok.


"Aku merindukan Mama." Ucap Dafa dan memeluk Alia.


"Mama juga merindukanmu sayang." Ucap Alia dan menggendong Dafa.


"Di mana Papa?" Tanya Dafa.


"Papa sedang sibuk." Ucap Alia dan membuat Dafa duduk di kursi depan.


Alia hendak membuat Dafa agar duduk dengan aman dengan memasangkan sabuk pengaman dan kemudian dia duduk di kursi pengemudi untuk mengendarai mobilnya.


Sementara itu di sebuah rumah sakit....


Arka tengah duduk di sebuah kursi di samping tempat tidur rumah sakit. Nabila tengah tertidur di tempat tidur itu dan ada luka di tangannya dan beberapa tempat lainnya di tubuhnya.


Arka memegangi tangan Nabila dan berkata, "aku tidak percaya apa yang dilihat mataku saat ini, bahwa kau sudah kembali Nabila. Kau bahkan tidak tahu bagaimana aku menjalani hidupku, setelah aku mengetahui bahwa kau telah meninggal." Ucap Arka dengan suara yang terdengar menyedihkan dan wajahnya yang begitu sedih.


Nabila perlahan membuka matanya dan mulai menangis.


"Aa... Arka..." Ucap Nabila seraya menangis.


"Nabila, apakah kau baik-baik saja?" Tanya Arka tampak khawatir.


Nabila duduk di tempat tidur dan melihat ke bawah dengan wajahnya yang sedih.


"Aku tahu ini sulit untuk dipercaya bahwa aku masih hidup. Tapi ini adalah kenyataannya Arka." Ucap Nabila dengan air mata yang berjatuhan di pipinya.


"Siapa yang melakukan ini semua kepadamu dan kenapa? Jelaskan kepadaku atau aku akan menjadi gila karena aku sudah melihatmu dikuburkan dulu." Ucap Arka dan memegangi tangan Nabila.


"Sebenarnya aku tidak meninggal." Ucap Nabila yang membuat Arka begitu terkejut.


"Apa? Apa sebenarnya maksudmu? Lalu bagaimana ini semua bisa terjadi? Aku melihat dengan mata kepalaku sendiri bahwa kau sudah meninggal saat melahirkan anak kita. Dan aku bahkan melihat kau dimakamkan." Ucap Arka dengan kebingungan dan banyak pertanyaan yang berseliweran di kepalanya.


"Ini semua karena Ayah mu. Dia meminta orang untuk membunuh aku untuk membuat kita terpisah. Jadi kau bisa menikah dengan wanita lain yaitu dari keluarga Luiz, karena dia mempunyai status yang lebih tinggi daripada aku." Ucap Nabila dan begitu menangis.


Arka tidak bisa melihat Nabila menangis dan ada rasa sedikit marah kepada Ayah nya.


'Tapi, bagaimana mungkin Ayah bisa melakukan semua ini? Aku pikir bahwa Ayah ingin aku bahagia dan bukannya Ayah sendiri yang setuju saat Ibu meminta aku menikah dengan Nabila? Tapi kenapa malah seperti ini? Kenapa Ayah malah merusak kebahagiaanku dengan tangan Ayah sendiri? Aku harus menyelidiki semua lebih dulu. Dan aku tidak akan pernah memaafkan Ayah, jika Ayah memang melakukan semua ini.' ucap Arka dalam hati dan tampak begitu marah.


'Sekarang aku sudah kembali. Semuanya akan menjadi milikku dan properti yang dimiliki Arka akan menjadi milikku. Tentang wanita itu, aku akan membuatnya menghilang dengan begitu mudah.' ucap Nabila dalam hati dan ekspresinya berubah secara tiba-tiba, dan sebuah senyuman jahat muncul di wajahnya.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2