Aku Wanita Simpanan

Aku Wanita Simpanan
Tentang Orang Tua


__ADS_3

'Teman romantis masa kecil ya? Oh... jadi itu lah alasannya kenapa mereka terlihat begitu dekat satu sama lain.' ucapku dalam hati.


"Kami sudah saling mengenal sejak kami masih berusia 7 tahun. Apa kau ingat Dafa, kita selalu bermain bersama. Kami bahkan pernah bermain rumah-rumahan dan melakukan pernikahan masa kecil. Semua orang bahkan berpikir bahwa kami akan benar-benar menikah suatu saat nanti." Lanjut Mila.


Dafa hanya menganggukkan kepalanya sebagai tanda setuju dan dia juga tertawa.


'Kenapa aku merasa canggung?'


Aku ini hanyalah kekasih palsunya Dafa. Jadi aku tidak harus merasa buruk dengan hal ini.


Kelas kami pun dimulai, tapi aku selalu memikirkan tentang Dafa dan juga Mila.


"Seperti yang kalian tahu, bahwa akan ada kompetisi membuat karya ilmiah di kota kita dan hanya ada satu mahasiswa dari setiap kampus yang diminta untuk pergi ke sana mengikuti kompetisi ini. Jadi kalian harus bersaing dengan mahasiswa dari kelas lainnya. Aku harap kalian bisa memberikan yang terbaik dalam hal ini." Ucap dosen.


'Kompetisi karya ilmiah? Kenapa aku tidak mendengarkan hal itu? Mungkin karena pikiranku selalu teralihkan saat ini.'


Saat kelas berakhir dan jam makan siang datang, Mila dan Dafa tetap bersama sepanjang waktu di kelas. Bahkan Lola tidak berani melakukan apapun untuk mengganggu Mila. Keluarga Mila memang lebih berkuasa dibandingkan dengan keluarga Lola. Jadi hal itu tidak mengejutkan bagiku.


Mila dan Dafa memang terlihat seperti pasangan yang begitu serasi.


"Aku memanggil Sheila." Ucap Marissa membangunkan aku dari pikiranku.


"Lihatlah mereka berdua. Mereka tampak seperti pasangan yang saling jatuh cinta." Ucapku kepada Marissa.


"Apa kau cemburu?" Tanya Marissa.


"Apa?" Balas ku terkejut.


"Kau mencintai Dafa dan itu terlihat sangat jelas dari bagaimana kau melihatnya." Ucap Marissa.


"Bagaimana itu bisa mungkin terjadi?" Tanyaku.


"Kalau begitu, sekarang jawab aku dengan jujur. Apakah kau merasa buruk saat kau melihat mereka tengah bersama? Jika jawabannya adalah 'ya', maka kau memang mencintai Dafa." Ucap Marissa kepadaku.


"Aku...."


'Apakah aku memang mencintai Dafa?'


Aku tiba-tiba berpikir tentang semua momen yang kami lalui bersama. Bahkan saat dia membully dan mengganggu aku, aku merasa bahagia dan hatiku terasa menghangat. Dia membuat aku nyaman. Saat aku membutuhkan dia, dia pun seringkali membantu aku. Dan sekarang aku sangat yakin bahwa aku mencintai dia.


"Iya, aku mencintainya." Ucapku kepada Marisa.


Marissa lalu melihat ke arahku dengan begitu intens.


"Aku sangat bahagia dan aku bahkan sampai ingin menangis. Akhirnya Sheila ku ini menyadari perasaannya." Ucap Marissa.


"Tapi Dafa menyukai Mila dan aku rasa Mila adalah orang yang baik." Ucapku.


"Aku punya indra keenam dan aku bisa melihat bagaimana sifat semua wanita ****** dan aku yakin bahwa Mila itu adalah wanita ******. Dia hanya berpura-pura bersikap baik. Namun sebenarnya dia adalah orang yang jahat dan juga orang yang ingin menang sendiri. Percaya padaku." Ucap Marissa.


"Kita tidak mengenalnya dengan baik. Jadi terlalu cepat bagi kita berdua untuk menilai dirinya seperti itu." Balasku.


Obrolan kami berdua terhenti karena seorang dosen masuk ke dalam kelas. Marissa Kembali ke tempat duduknya.


Sepanjang kelas berjalan, aku terus memikirkan tentang Dafa dan juga diriku. Aku pun semakin menyadari bahwa aku memang sangat mencintainya dan semakin mencintainya lagi.


Semua ini terasa begitu lucu, saat aku menyadari betapa aku mencintai dirinya, dia malah tengah mengobrol dan tertawa dengan gadis lain.


'Sungguh ironis.'


Hari ini kami tidak bicara satu sama lain, karena dia memang begitu sibuk dengan Mila. Aku pulang ke rumah dengan pikiranku yang terus memikirkan dirinya.


'Kenapa aku baru menyadari perasaanku kepadanya saat wanita itu datang?'


Saat aku masuk ke dalam rumah aku melihat ada dua orang pria.


"Om Surya, Om Rio. Sungguh suatu kejutan yang menyenangkan." Ucapku saat masuk ke dalam rumah.


Mereka berdua adalah teman terdekat dari orang tuaku. Saat aku masih kecil, mereka selalu mengunjungi kami dan bermain bersamaku. Aku benar-benar mempercayai mereka.


"Kau sangat cantik! Orang tuamu pasti bangga kepadamu." Ucap Om Surya.


Kami mengobrol beberapa saat sebelum akhirnya mereka berdua pergi.

__ADS_1


Aku hendak masuk ke kamarku Tapi Kakak menghalangi aku untuk pergi.


"Ada apa Kak?" Tanyaku bingung.


"Kita harus bicara." Ucap Kakak dengan ekspresi serius diwajahnya.


"Baiklah." Balas ku cepat.


'Apa sebenarnya yang ingin Kakak bicarakan denganku?'


Kakak jarang sekali terlihat serius. Saat Bibi ikut duduk bersama kami di ruang tamu, Kakak pun mulai bicara dengan memegang tanganku.


"Sheila... Aku tahu ini mungkin terdengar aneh. Tapi kau harus tidak boleh percaya kepada Om surya dan Om Seno." Ucap Kakak.


"Apa? Tapi kita mengenal mereka sejak masih kecil? Kenapa sekarang aku tidak boleh mempercayai mereka?" Tanyaku bingung.


"Aku mempercayai mereka juga sebelumnya. Tapi sekarang, seseorang mengatakan kepadaku bahwa mereka berdua terlibat dalam kecelakaan orang tua kita." Ucap Kakak.


"Apa?" Ucapku dengan begitu terkejut, tak percaya dengan apa yang aku dengar ini.


"Aku juga tidak mempercayai hal ini pada awalnya. Merekalah orang yang melakukan investigasi tentang kematian orang tua kita sebelumnya. Tapi kemudian aku juga mulai melakukan investigasi dan semua itu membuktikan bahwa mereka telah melenyapkan beberapa informasi penting. Aku masih tidak tahu yang mana dan apa alasannya. Itulah kenapa aku memperingatkan mu. Selain itu, investigasi yang aku lakukan juga masih berlangsung sampai sekarang. Jadi, jika mereka membunuh orang tua kita, alasannya hanya satu. Mereka menginginkan Perusahaan kita dan hanya satu hal yang menghalangi jalan mereka sekarang, dan itu adalah kita." Ujar Kakak panjang lebar.


"Mereka mungkin mau membunuh kita." Ucapku dengan suara yang pelan.


'Baiklah, sekarang aku mengerti.'


Aku pun pergi ke kamarku. Orang-orang yang selam ini paling aku percayai, mungkin mereka sudah membunuh orang tuaku. Aku benar-benar tidak bisa dipercaya akan hal ini.


Aku ini hanyalah anak muda. Jadi aku belum bisa memikirkan tentang orang yang bersifat buruk di sekelilingku. Jika mereka memang mengkhianati orang tuaku, maka aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan selanjutnya.


Aku hanya tidak bisa menerima jika apa yang dicurigai Kakak memang benar adanya. Sejak kecil, memang akulah yang begitu dekat dengan mereka berdua. Sementara Kakak, sejak kecil memang tidak terlalu suka dekat dengan mereka. Kepalaku menjadi begitu sakit memikirkan semua permasalahan yang datang padaku saat ini.


Pertama, dengan kedatangan Mila yang tiba-tiba muncul dan terasa menjadi pengganggu antara aku dan Dafa. Setelah itu, kemudian dengan adanya kemungkinan dari kedua Om yang sangat aku percayai itu adalah orang yang mengkhianati orang tuaku.


Apakah hidup ini sedang mempermainkan aku dan berlaku tidak adil padaku? Sama seperti saat aku kehilangan kedua orang tuaku?


Tapi kali ini aku bukanlah anak kecil lagi. Aku idak peduli dengan apapun yang terjadi nantinya. Aku akan jauh lebih kuat dari sebelumnya.


Keesokan harinya....


Aku tidak mau pergi ke kampus, tapi....


"Sheila, bangunlah... Ayo cepat bangun..." Ucap Bibi.


Bibi terus memaksa aku untuk bangun. Aku sudah tidak mengantuk lagi sekarang. Suara Bibi mempunyai kekuatan yang cukup kuat untuk bisa membangunkan beruang yang sedang melakukan hibernasi.


Setelah sarapan, aku pun pamit pada Bibi, sementara Kakak sudah pergi ke kantor pagi-pagi sekali. Aku pun lalu berangkat ke kampus.


Saat aku tiba di kampus, aku mendengar semua orang tengah menggosipkan tentang Dafa dan juga Mila. Sejujurnya saja, aku merasa sangat tidak nyaman mendengarkan semua hal itu.


Para mahasiswa mulai berkata yang macam-macam.


"Aku rasa mereka berdua sangat serasi dan cocok jika bersama."


"Iya, sekarang kita bisa yakin bahwa Sheila itu masih lajang."


"Tapi jujur saja, menurutku Sheila lebih cantik dibandingkan Mila. Tapi apakah Sheila lebih pintar juga dari Mila?"


"Aku dengar bahwa Mila bahkan jauh lebih baik dari Lola."


"Satu hal yang pasti adalah, Mila lebih lembut dibandingkan Sheila. Sheila itu gadis yang kasar Dia bahkan baru saja memukul empat laki-laki secara langsung. Ngomong-ngomong kita akan melihat di kompetisi karya ilmiah nanti. Siapa yang jauh lebih pintar dibandingkan keduanya."


'Sial, aku hampir saja melupakan tentang para pria yang terus mengejar aku itu.'


Semua orang begitu membandingkan aku dengan Mila dalam segala hal. Mulai dari kecantikan, kepintaran, kelembutan, kebaikan, kekuatan dan yang lainnya. Aku hanya bisa menggelengkan kepalaku mendengar semua ocehan mereka itu.


Aku lalu melihat sosok Marissa yang tengah berlari ke arahku.


"Sheila, jangan dengarkan apa kata mereka. Mereka itu tidak mengetahui apapun tentang dirimu yang sebenarnya." Ucap Marissa.


Marissa terlihat begitu khawatir kepadaku. Setidaknya aku benar-benar beruntung memiliki teman seperti dirinya. Aku memeluk Marisa dengan sangat erat. Dia pun berbalik dan memelukku juga.


Aku harus menghargai apa yang aku punya sekarang. Jika aku harus melindungi Marissa dan orang-orang yang aku cintai, maka aku harus lebih kuat dari sebelumnya.

__ADS_1


"Apa yang terjadi denganmu Sheila?" Tanya Marissa yang sepertinya menyadari bahwa aku tengah memikirkan sesuatu.


"Aku hanya tengah berpikir bahwa aku benar-benar beruntung memiliki dirimu sebagai temanku. Aku mau melindungi dirimu." Ucapku.


"Eh?" Marissa tampak bingung.


Aku pun lalu menceritakan semua yang terjadi kemarin setelah pulang dari kampus. Dia pun duduk bersamaku dan mendengarkan semua ceritaku dengan serius.


"Sekarang ini, terlalu berbahaya berada dekat denganku. Jika mereka memang membunuh orang tuaku, maka mereka tidak akan takut untuk menyakiti dirimu. Jadi, akan lebih baik jika kita menjaga jarak satu sama lain." Ucapku kepada Marissa.


Marisa berdiri dari bangku itu dan langsung menamparku.


"Ke... Kenapa kau menampar ku?" Tanyaku kepadanya.


Aku begitu terkejut karena sikapnya yang tiba-tiba berubah dan langsung menamparku.


Marissa lalu berlutut dan memeluk aku. Kemudian dia berkata, "dasar idiot. Teman seperti apa aku jadinya, jika aku sampai membiarkanmu melalui semua ini sendirian." Ucapnya.


Aku tidak tahu apa yang harus aku katakan. Aku tidak pernah mempunyai seorang teman seperti dia. Aku harus menjaga dirinya tidak peduli apapun yang terjadi.


"Terima kasih Marissa." Ucapku dengan hampir menangis.


Setelah itu, kami lalu pergi ke dalam kelas. Disana aku melihat Dafa dan Mila tengah mengobrol bersama.


Marissa melihat ke arahku dan berkata, "apakah kau berencana untuk mengatakan perasaanmu kepadanya?"


"Tidak. Apakah kau tidak melihat bagaimana bahagianya dia saat ini? Aku tidak mau membuat dia khawatir dengan hidupku." Ucapku kepada Marissa.


Aku lalu pergi ke tempat dudukku dan melihat ke arah Dafa dan Mila yang tengah tertawa.


Saat Dafa melihat kearah ku, dia pun berkata, "hai kucing kecil, apakah kau tidak tidur dengan nyenyak semalam?"


"Tidak." Balas ku singkat.


Aku sedang tidak ingin bicara dengannya. Aku lebih fokus untuk harus bisa menemukan sebuah solusi untuk menghadapi situasi yang tengah dialami keluargaku saat ini. Jika Om Surya dan Om Rio memang benar-benar membunuh orang tuaku, apa yang harus kami lakukan sekarang?


Tentu saja kami harus menemukan bukti lebih dulu untuk membuktikan kecurigaan kami itu memang benar. Tapi semua ini sangat rumit. Mereka berdua itu sangat berkuasa. Mereka tentu saja akan menyembunyikan semua bukti kejahatan mereka itu dengan sangat baik.


Aku tengah berpikir begitu dalam sehingga aku tidak menyadari bahwa seseorang tengah memanggil namaku. Aku lalu melihat bahwa itu ternyata adalah Kenzo.


"Sheila, aku akan mengadakan pesta minggu ini di rumahku. Aku ingin kau untuk datang. Tidak akan ada banyak orang di sana. Aku hanya mengundang beberapa teman saja." Ucap Kenzo.


'Sebuah pesta? Kau pasti bercanda padaku! Bagaimana mungkin aku bisa pergi ke sebuah pesta dalam kondisi seperti ini?' ucapku dalam hati.


"Tidak, maaf aku rasa aku tidak bisa datang." Ucapku.


Kenzo terlihat kecewa.


"Jika kau berubah pikiran, aku akan menunggu dirimu." Ucap Kenzo.


"Baiklah." Balas ku.


'Maafkan aku Kenzo, aku hanya tidak bisa pergi.'


Aku lalu melihat ke arah Dafa yang tengah menatapku.


'Apakah dia terlihat bahagia? Apakah dia bahagia karena aku menolak untuk hadir ke pesta Kenzo? Tidak! Dia tidak mungkin cemburu bukan?' tanya ku dalam hati.


"Kenapa kau tersenyum seperti itu?" Ucapku kepada Dafa.


"Aku pikir bahwa kau akan pergi ke pesta itu." Jawabnya.


"Apa kau bahagia karena aku tidak akan pergi ke sana?" Tanyaku.


"Sepertinya begitu." Balas Dafa dengan wajahnya yang memerah.


'Apa dia cemburu?'


Itu artinya bahwa aku masih punya kesempatan dengannya. Aku melihat dari sudut mataku bahwa wajah Mila tampak kesal.


'Oh... Jadi serigala itu mulai menunjukkan wajah aslinya.'


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2