
Mereka semua masuk ke dalam warung bakso, Nabila seperti preman pasar yang kelaparan. Dia langsung memesan dua mangkuk sekaligus. Arsha, Vita dan Nabila duduk berjejer, sedangkan Devan duduk di depan Arsha.
Saat sedang asik menunggu pesanan datang, tiba-tiba terdengar suara merdu dari sebelah.
“Devan?”
Secara kompak, mereka semua menoleh pada sumber suara. Seorang perempuan cantik dengan pakaian kekurangan bahan.
'Cobaan apa lagi ini, ya Allah?'
“Dinda?” Tidak seperti perempuan di parkiran restoran tadi, kali ini Devan langsung mengenali perempuan itu.
'Apa mungkin dia juga salah satu mantan terindahnya?'
“Iya, ini aku. Ya ampun … nggak nyangka banget bisa ketemu di sini. Apa kabar, Van?” dari wajahnya tampak sangat senang bisa bertemu Alvin.
“Baik, alhamdulillah. Kamu baik?” sahut Devan santai.
“Aku juga baik, Van. Em … kebetulan banget, Van. Udah takdir kayaknya, aku ada acara penting nih, jadi harus pergi buru-buru. Kamu bisa anter aku?”
“Enggak bisa, Din, aku lagi sama mereka soalnya.” Devan menjawab sambil menatap Arsha dengan matanya yang memancarkan kekuatan cinta.
“Oh, gitu …. Kalau gitu, aku minta nomor HP kamu, dong. Biar bisa hubungi kamu lain waktu, mana tahu kita bisa jalan bareng.”
"Nanti aja aku chat, sekalian undangan nikahan,” jawab Devan tanpa ragu.
“Ha? Nikah? Siapa?" Tanya Dinda bingung.
"Aku."
"Sama siapa?” Dinda bertanya dengan nada heran.
'Kepo banget jadi orang!'
“Ini, kenalin. Namanya Arsha.” Devan mengenalkan Arsha pada Dinda, yang langsung menatapnya tidak percaya.
__ADS_1
“Biasa aja padahal,” bisik Dinda dengan suara rendah, tetapi bisa didengar Arsha karena dia berdiri tepat di samping Arsha.
"Apa kamu bilang? Coba ulangi?!" Arsha berdiri sambil menggebrak meja. Membuat Vita dan Nabila ikut berdiri dan langsung menahan tangan Arsha.
Dinda justru pindah mendekat ke arah Devan..
"Sabar, Mir. Nyebut!” ucap Vita.
"Gimana mau sadar dia udah rendahin aku...." bentak Arsha.
"Ngerendahin apanya, emang kenyataan kok. Kamu tuh gak pantes buat Devan yang ganteng ini."
"Heh, Dinda yang gak ada mirip-miripnya sama Dinda Hauw. Kamu tuh lebih mirip dengan beruangnya Marsha and The Bear! Belum pernah ngerasain tinjuan maut dari Arsha binti Rayhan Wijaya, ya!" Tangan Arsha mengepal dan bersiap melayangkan tinjuan, tetapi langsung ditahan oleh Vita dan Nabila.
"Dia agak stres, ya, Van?" bisik Dinda yang masih terdengar oleh Arsha.
"Kau...."
Dinda malah semakin merapat ke tubuh Devan dengan menggandeng tangan Devan.
"Udah, udah." Devan akhirnya mengucap. "Din, mending kamu pergi, deh," ucapnya Dinda.
"Aku mau pergi kalau kamu ngasih nomor HP kamu ke aku," balas Dinda terdengar memaksa.
"Heh, beruang! Kamu–" Ucapan Arsha terpotong karena Vita menyumpalnya dengan bakso berukuran sedang.
Devan menghela napas panjang. "Sini HP-mu."
Arsha kaget dengan tindakan Devan, lalu menatap Vita dan Nabila bergantian. Sementara, Dinda tampak menatap Arsha dengan senyum penuh kemenangan.
"Nih, udah." Devan kembali menyerahkan benda pipih itu pada pemiliknya.
"Makasih ya Van. Aku pergi dulu, bye!" Ucapnya seraya mencubit pipi Devan.
Arsha terlihat sangat kesal tanpa sadar ia menuangkan sepuluh sendok cabe ke dalam mangkok, dan langsung memakan bakso yang diantar saat perdebatan dengan Dinda tadi.
__ADS_1
"Minum dulu, Sha." Devan mendekatkan segelas es jeruk padanya, tapi Arsha diam saja. "Dikit aja," lanjut Devan.
Arsha yang memang mulai meeasa kepedasan akhirnya menyeruput es jeruk itu sampai habis.
"Mau pertunjukan debus kamu? Makan cabai kok banyak amat," goda Vita.
"Kenapa, sih, ngasih nomor ke perempuan tadi? Jangan ngasih celah buat masa lalu deh, kalau pengen bangun masa depan sama Arsha." Kali ini Nabila yang bersuara.
"Tenang," sahut Devan sambil melipat tangan di depan dada. "Bukan nomorku tadi."
"Terus?" Tanya ketiga wanita itu serempak.
"Tuh!" Devan memberi kode dengan matanya, membuat ketiga gadis itu mengikuti arah pandangan mereka dan melihat ada selebaran yang terpasang di tiang listrik di luar warung bakso.
'MENERIMA PANGGILAN KURAS WC'
Seketika ketiga wanita itu terbahak bersama-sama.
*****************
Sementara itu di kantor...
"Namanya Nabila Putriani, bagian pemasaran. Sudah 3 tahun bekerja dan tidak ada prestasi yang bisa dibanggakan. Hobinya membaca buku, karena terlihat dia sering pergi ke perpustakaan daerah atau toko-toko buku yang ada di pusat kota. Untuk makan siang, dia membawa bekal dari rumah. Dia yatim, ayahnya meninggal karena gula darah yang tinggi dan setelahnya hanya tinggal dengan sang Ibu yang berkerja sebagai tukang jahit."
'Aku tau kalau itu.' gumam Arka.
Setelah memberikan info tersebut, Bobby, asisten Arka, bergegas keluar dari ruangan sang Bos.
Ucapan Bobby menjadi terngiang di benak Arka.. Arka memang meminta Bobby untuk mencari info tentang Nabila.
Arka terdengar menghela nafasnya.
"Baiklah. Anggap saja memang kita dipertemukan karena takdir Tuhan," ucapnya sambil menggeser layar HP berisi foto-foto Nabila yang sengaja dikirim Bobby selama memantau gadis itu.
"Cantik juga." ucap Arka dengan senyuman yang tersungging dibibirnya.
__ADS_1
Bersambung.........