Aku Wanita Simpanan

Aku Wanita Simpanan
KONDISI IZZAH


__ADS_3

Setelah kepergian bu Ros dan Bella, Rayhan menghampiri mang Diman dan bi Asih serta Ifan dan Intan.


"Terima kasih buat kalian semua yang sudah peduli dengan Izzah, sekarang lebih baik kalian pulang. Biar aku yang jaga Izzah." ucap Rayhan.


"Tapi..." jawab Intan yang langsung dipotong Rayhan.


"Pulanglah Tan, bukankah besok pagi-pagi kau harus membuka toko kue Izzah? Izzah tadi pagi sempat cerita kalau kalian dapat orderan kue yang banyak. Aku yakin Izzah gak akan suka kalau kalian mengecewakan pelanggan. Jadi ku mohon pulanglah agar kau bisa bekerja besok pagi. Lakukan demi Izzah." ucap Rayhan.


Intan menangis sesenggukan.


"Fan, ajaklah isteri mu pulang." ucap Rayhan.


"Baik Ray, tolong jaga Izzah." ucap Ifan.


"Tentu." jawab Rayhan. "Mang Diman dan bi Asih juga pulang ya, gak usah khawatir. Rayhan akan jaga Izzah dengan baik." sambung Rayhan.


Mang Diman dan bi Asih terlihat enggan untuk meninggalkan rumah sakit.


"Mang, bi, maafkan saya jika lancang. Tapi di usia mang Diman dan bi Asih ini gak baik untuk berada dirumah sakit lama-lama, karena akan rentan tertular penyakit. Jadi lebih baik mang Diman dan bi Asih pulang saja. Saya yang akan menemani Rayhan disini." ucap dokter Harun.


"Baiklah kalau begitu. Rayhan, mamang titip neng Izzah ya, tolong jaga dia dengan baik. Insyaallah besok pagi mamang sama bi Asih balik kesini." ucap mang Diman.


Rayhan mengangguk, lalu mang Diman, bi Asih, Intan dan Ifan berjalan meninggalkan rumah sakit. Rayhan sudah menyediakan mobil untuk mengantar mereka pulang.

__ADS_1


"Thanks Run, lu selalu ada buat gue saat suka maupun susah." ucap Rayhan menepuk bahu dokter Harun.


"Itulah gunanya sahabat Ray." balas dokter Harun. "Udah ah, kok jadi melow gini, sekarang lebih baik kita masuk nengokin Izzah dan bayi lu." sambungnya.


Rayhan mengangguk lalu melangkah masuk ke dalam ruang UGD.


Izzah masih terbaring tak sadarkan diri, disampingnya ada sebuah inkubator yang didalamnya terdapat bayi Izzah yang masih sangat kecil. Bentuknya hampir sempurna, kulitnya masih tipis sehingga pembuluh darahnya masih jelas terlihat terutama di bagian perutnya.


Air mata Rayhan kembali mengucur deras.


"Lihat Run, isteri yang paling gue cinta terbaring tak sadarkan diri. Anak gue lahir sebelum waktunya. Apa dia bisa bertahan Run?" tanya Rayhan...


"Gue gak akan bohong sama lu Ray, dengan perawatan intensif, insyaallah anak lu bisa bertahan hidup. Hanya saja pasti ada banyak komplikasi yang dia alamin. Tapi lu gak boleh putus semangat, lu harus tetap berdoa buat anak dan isteri lu." ucap dokter Harun.


"Apa yang harus gue katakan ke Izzah, Run? Gimana cara gue jelasin keadaan ini?" tanya Rayhan.


"Lu gak akan bisa nutupin semuanya Ray. Saran gue lu jelasin pelan-pelan sama Izzah, tapi lu harus tegar didepan dia. Jangan malah lu jelasin dengan berlinang air mata kayak sekarang. Izzah bisa stress, dan itu gak akan baik buat pemulihan dia nantinya." jawab dokter Harun.


Rayhan menghela nafas panjang sambil mengusap air matanya.


"Gue harap Izzah bisa nerima keadaan ini, dan gue janji gak akan terlihat sedih didepan Izzah."


"Itu bagus Ray, nah sekarang lu lebih baik istirahat dulu. Gue mau balik ke ruangan gue dulu bentar ngambil ponsel sama jaket gue." ucap dokter Harun.

__ADS_1


"Oke, ngomong-ngomong lu dapat kabar Izzah masuk UGD dari siapa?" tanya Rayhan.


"Lisa yang ngabarin gue kalau Izzah dilarikan ke rumah sakit. Rumah sakit mana lagi yang terdekat dengan hotel terbaru lu kalau bukan rumah sakit ini." jawab dokter Harun.


"Lisa, jadi lu sama...." ucap Rayhan yang langsung dipotong dokter Harun.


"Yup, gue lagi pedekate. Udah puas? Gak usah banyak nanya lagi. Lebih baik lu sholat ke, atau baca al-qur'an gitu. Biar hati lu lebih tenang."


"Ya ya, udah sono ambil barang-barang lu."


"Oke." jawab dokter Harun lalu keluar ruang UGD.


Rayhan menatap Izzah, lalu mengelus pipinya lembut, kemudian mencium keningnya.


Segeralah bangun sayang, kita hadapi musibah ini bersama-sama.


Rayhan lalu menatap bayi mungilnya dalam inkubator. Hatinya pilu melihat begitu banyak peralatan medis menempel di badan bayi mungil itu.


Yang kuat nak, ayah dan ibu sangat menyayangimu.


Rayhan mengelus kaca inkubator itu dengan air mata yang menetes.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2