Aku Wanita Simpanan

Aku Wanita Simpanan
NGIDAM


__ADS_3

Menjelang sore, Izzah terbangun dari tidurnya yang begitu lelap. Setelah menunaikan shalat asar, Izzah tiba-tiba ingin sekali makan bakso malang. Segera ia meraih gawainya, lalu berkirim pesan pada Intan.


[Tan, boleh aku minta tolong?] pesan Izzah terkirim..


Berselang lima menit pesan balasan dari Intan datang.


[Tentu bu bos, apa yang bisa aku bantu?]


[Iiihh bu bos mulu. Minta tolong ya Tan, nanti sepulang dari toko kue kamu mampir beliin aku bakso beranak yang ada di perempatan jalan dekat toko itu. Pesenin yang porsi jumbo ya.] balas Izzah.


[Duuhh yang lagi ngidam. Siap bu bos, ditunggu ya baksonya.]


[Makasih ya Tan.]


[Sama-sama, jangan sungkan bu bos.]


Izzah tertawa membaca pesan Intan.


Waktu menunjukkan jam lima sore, Intan bergegas menutup toko lalu berjalan menuju warung bakso. Jaraknya sekitar lima ratus meter dari toko Izzah. Dalam perjalanan sebuah mobil mengikuti Intan lalu berhenti tepat disamping Intan yang tengah berjalan di trotoar. Rayhan keluar dari dalam mobil menghampiri Intan.


"Hai, kamu temannya Izzah kan? Dimana dia? Apa dia sudah pulang?" cecar Rayhan.


"Iya, Izzah sudah pulang sejak tadi siang." jawab Intan.


"Oohh, kau sendiri mau kemana? Kenapa gak langsung pulang?" tanya Rayhan.


Ini orang kok kepo banget sih? gumam Intan dalam hati.

__ADS_1


"Ini tadi Izzah pesan mau makan bakso beranak itu. Ya namanya ibu hamil lagi ngidam." jawab Intan.


Mata Rayhan berbinar, dia tersenyum bahagia.


"Kalau gitu kamu pulang saja, biar aku yang beliin pesanan Izzah." ucap Rayhan.


Lalu Rayhan bergegas menuju warung bakso malam yang ditunjuk Intan. Sementara Intan merasa tak enak pada Izzah. Namun dia juga merasa tak enak hati pada Rayhan. Intan akhirnya memilih untuk pulang dengan perasaan yang tak karuan.


Setelah mendapat seporsi bakso beranak, Rayhan langsung meluncur menuju rumah mang Diman. Tak butuh waktu lama akhirnya Rayhan sampai didepan rumah mang Diman. Terlihat Izzah dan mang Diman tengah mengobrol asyik di teras rumah. Rayhan datang menghampiri mereka.


Semula Izzah tertawa dengan guyonan dari mang Diman, namun saat Rayhan tiba tawanya langsung hilang seketika.


"Izzah, ini abang belikan bakso malang pesanan Izzah." ucap Rayhan.


"Tidak, terima kasih. Aku pesannya lewat Intan bukan kamu." jawab Izzah ketus.


Rayhan menghela nafas lalu memandang ke arah mang Diman. Mang Diman lalu tersenyum.


"Buuu...tolong bawain mangkok sama sendok kesini." teriak mang Diman.


Tak lama bi Asih keluar membawa mangkok serta sendok. Mang Diman membuka bungkus bakso tersebut lalu menuangnya kedalam mangkok. Izzah menelan saliva nya berulang-ulang melihat bakso itu.


"Yakin gak mau neng, emmmm.... Ini pasti enak banget neng." ucap mang Diman menggoda Izzah.


Rayhan dan bi Asih berdiri mematung menatap mang Diman dan Izzah. Mang Diman hendak menyuapi dirinya dengan kuah bakso. Namun dengan sigap Izzah merampas sendok itu dari tangan mang Diman.


Tanpa pikir panjang Izzah langsung menyantap bakso itu. Mang Diman, bi Asih dan Rayhan tersenyum melihat tingkah Izzah.

__ADS_1


"Aduuhh pura-pura jual mahal padahal teh cinta banget tuh." ucap mang Diman. Izzah melotot kearah mang Diman. "sama baksonya." sambung mang Diman kembali yang membuat Izzah tersenyum lalu melanjutkan makannya.


Bi Asih menarik tangan mang Diman untuk masuk ke dalam rumah. Dan membiarkan Rayhan dan Izzah duduk berdua. Tak berselang lama bakso itupun habis disantap Izzah. Rayhan tersenyum puas.


"Alhamdulillah." ucap Izzah yang merasa sangat kenyang.


"Lain kali kalau lagi pengen sesuatu, hubungi abang aja ya. Gak usah minta tolong sama orang lain." ucap Rayhan.


Izzah tetap saja menjawab Rayhan dengan ketus.


"Sudah aku bilang, pergilah dari hidupku. Aku males liat kamu."


"Zah tolong maafin abang."


"Gak, sudah sana pulang." teriak Izzah, lalu bangun dari duduknya hendak meninggalkan Rayhan.


"Izzah tolong maafin abang." ucap Rayhan sambil meraih tangan Izzah.


Izzah terlihat penuh emosi, lalu dia mendorong Rayhan. Izzah mendorong Rayhan terus menerus sampai Rayhan berada diluar pagar rumah mang Diman. Rayhan sama sekali tak melawan Izzah saat mendorongnya.


"Aku mohon pulanglah, aku benar-benar lagi gak mau liat kamu." ucap Izzah sambil berlalu masuk kedalam rumah tanpa menoleh kearah Rayhan.


"Gak Zah, abang gak akan pergi dari sini. Abang akan tetap berdiri disini sampai Izzah mau maafin abang." teriak Rayhan.


"Silahkan." balas Izzah lalu menutup pintu rumah.


Tiba-tiba hujan turun dengan begitu derasnya, membuat Rayhan basah kuyup. Dia sama sekali tak beranjak dari posisi berdirinya.

__ADS_1


Mang Diman dan bi Asih menatap Rayhan dengan iba dari dalam rumah.


Bersambung...


__ADS_2