
Gadis yang belum sempat berganti pakaian itu memandang mama nya berjalan cepat ke arah mertuanya yang sudah menunggu sedari tadi.
Setelah sosok kedua wanita yang kini sama-sama menjadi orang tuanya itu menghilang, Arka dengan santai berjalan menuju kamar mendahului Nabila.
"Pak, hei ... tunggu! Susah nih buat jalan," teriak Nabila dengan mengangkat gaunnya yang menjuntai panjang, sehingga membuatnya sedikit susah untuk berjalan.
Tadi ia hanya dibantu tim WO melepas riasan di kepala dan menghapus riasan di wajah saja.
Arka terus berjalan tanpa menoleh ke arah istrinya. "Terbang aja."
"Tega sekali dia, astaga ... kenapa gaun ini ribet banget sih, udah berat, malah susah banget buat jalan." umpat Nabila dengan terus berjalan.
Sampai akhirnya ....
"Aw, aduh!"
Arka menghentikan langkah saat mendengar Nabila mengaduh. Ia membalikkan badan, melihat wanita yang masih mengenakan gaun tu tersungkur dan terlihat bersusah payah berdiri.
"Sakit?" tanya Arka menggoda, tanpa berniat membantu ia kembali berjalan. Namun, langkahnya kembali terhenti saat mendengar suara pria yang berbalas bicara dengan Nabila.
"Maaf ya mbak, saya gak sengaja nginjak ujung gaun mbak. Sini saya bantu." ucap seorang lelaki hendak memegang tangan Nabila.
Dengan cepat Arka membalikkan badan dan melangkah cepat mendekati Nabila. "Minggir, minggir," ucap Arka sembari menggeser posisi pria yang menolong Nabila.
__ADS_1
Arka merengkuh tubuh istrinya dan langsung menggendong ala-ala pengantin baru. Tanpa berkata, Arka melangkah pergi meninggalkan pria itu. Nabila yang sangat terkejut dengan perlakuan Arka, hanya bisa tersenyum malu-malu dan mengalungkan tangan ke leher suaminya.
"Pak?" panggil Nabila pelan.
"Hmm." Dengan tatapan lurus ke depan, Arka terus melangkah cepat.
"Anda ...."
"Biasa saja. Nggak usah berterima kasih."
"Anda mau ke mana? Ini arah mau ke lift Pak, kamar kita sudah terlewat!" hardik Nabila.
Seketika langkah Arka terhenti, ia memperhatikan sekitar dan tersadar kalau sedang berjalan ke arah lift. Tenggorokan pria itu bergerak menelan ludah berat, dengan memejamkan mata sesaat ia menyesali kebodohannya.
"Ciee ... yang grogi," ejek Nabila dengan mencolek dagu Arka pelan.
Nabila terkekeh dengan tangan kembali melingkar di leher suaminya.
"Ambil kartu di saku baju, tempelkan ke pintu," perintah Arka saat tiba di depan kamar. Tangan kurus Nabila tergerak sesuai titah sang Suami.
Sedetik kemudian pintu terbuka sempurna, Arka yang masih menggendong Nabila menutup pintu dengan kaki. Lampu otomatis menyala saat Nabila memasukkan kartu ke tempatnya, membuat Arka dengan leluasa melangkah masuk dan bersiap menurunkan Nabila di sofa panjang.
Sialnya, baru melangkah beberapa kali, ekor gaun Nabila yang panjang tak sengaja terinjak oleh Arka, dalam sekejap mereka tersungkur dengan keras ke lantai secara bersamaan.
__ADS_1
Bruk!
"Aw! Sakit, Pak!" teriak Nabila sambil mengelus kepala yang terantuk keras ke lantai. "Ya ampun, ini sakit sekali!"
"Biasa saja suaramu, nggak usah teriak kayak gitu!" hardik Arka sembari membantu Nabila berdiri dan menuntunnya duduk di sofa. "Mana yang sakit?"
Nabila menunjuk kepalanya yang terasa sakit.
"Pelan-pelan, Pak! Aw, aw, aw!" teriak Nabila saat Arka tak sengaja menekan bagian kepala gadis itu yang sakit.
"Iya, iya."
"Sakit, aw!"
"Diem!"
"Jangan makin dielus-elus Pak. Sakit ini... pasti lecet ini Pak. Aduuuhh..."
"Kalau gak mau di elus, maunya diapain coba? Tunggu bentar, aku ambilin obat dulu biar sakitnya ilang." balas Arka.
"Cepetan Pak, saya gak tahan nih. Aduuhh sakit banget."
Sedangkan di luar kamar, Bu Maya yang tengah membawa tas berisi baju Nabila yang tertinggal di mobil, iseng menempelkan telinga di pintu dan seketika menutup mulut saat mendengar teriakan samar Nabila.
__ADS_1
"Terima kasih, ya Tuhan. Ternyata anakku langsung main kuda-kudaan. Gak lama lagi, aku punya cucu. Ah, biarlah baju ini aku titipkan di resepsionis saja. Nggak akan dibutuhkan juga malam ini."
Bu Maya tersenyum puas lalu berjalan menuju meja resepsionis.