Aku Wanita Simpanan

Aku Wanita Simpanan
Meminta Izin


__ADS_3

"Jadi gimana? Kamu beneran serius sama Arsha? Dia ini saudaraku satu-satunya lho, nggak bakal aku ngelepasin dia kalau cuma buat dipacarin. Selama 24 tahun, Arsha gak pernah diizinkan pacaran. Takutnya keblablasan kayak anak muda kebanyakan, nanti malah hamil di luar nikah." ucap Arka ketus.


Ya Allah Kak, sadis banget.


"Apa jangan-jangan kalian pacaran diam-diam, ya?" lanjut Arka.


"Enggak Kak. Enggak, kan?" Arsha bertanya pada Devan.


Belum sempat Devan menjawab, tiba-tiba Izzah dengan membawa nampan. "Ayo dicicipi dulu, ini minuman, dan bolu pisang buatan ibu sendiri."


"Wah, maaf malah ngerepotin, Bu. Terima kasih." balas Devan ramah.


Izzah meletakkan secangkir kopi dan beberapa potong bolu di hadapan Devan..


"Apa ini?" Izzah membuka paper bag di atas meja.


"Dari Devan, Bu," jawab Arsha.


"Kenapa repot-repot, Nak Devan"


"Itu usaha kecil-kecilan Nak Devan," timpal Rayhan.


"Wah, ternyata pebisnis, bagus Nak Devan. Zaman sekarang anak muda itu kebanyakan malasnya, lebih suka main ponsel atau menghamburkan uang orang tua. Nak Devan ini contoh generasi muda yang mau maju, mandiri, dan insyaallah berhasil." ucap Izzah.


Devan hanya tersenyum tipis, tampak malu-malu.


"Bentar, ibu mau ke dapur dulu ngasih ininke mbok inah biar di goreng sebagian dulu, ya. Biar bisa langsung di-review di depan owner-nya." ucap Izzah.


"Silakan, Bu. Malah saya senang kalau misal ada masukan nantinya." balas Devan.


"Sayang, jangan terlalu lelah." ucap Rayhan.

__ADS_1


"Gak Yah, tenang aja. Nanti Mbok Inah yang bakal gorengin." balas Izzah.


Izzah pun kembali melenggang ke dapur.


"Silakan diminum, Nak." ucap Rayhan.


Devan mengangguk dan meraih cangkir di depannya. Lalu meletakkan kembali setelah terlihat beberapa kali meneguk.


"Insya Allah saya serius dengan Arsha Pak, mmmm Bang." ucap Devan ragu-ragu menyebut Arka dengan sebutan apa. "Jika berkenan dan disetujui, rencana saya mau langsung bawa keluarga besar ke sini minggu depan. Dan kami tidak pacaran atau berhubungan apa pun sebelumnya, bertemu terakhir juga tiga tahun silam, setelah lulus kuliah." Devan menjawab pertanyaan yang sempat dilontarkan Rayhan tadi.


Arsha seketika tertegun.


Mimpi nggak sih ini?


"Sebelumnya maaf, Nak Devan. Namanya pernikahan, insya Allah sekali seumur hidup. Jadi tidak bisa main asal pilih-pilih. Jika tidak keberatan beri kami waktu untuk berpikir masak-masak. Tenang, saya tidak memandang pekerjaan maupun kasta. Kamu bebas mau kerja apa saja asal halal, dan yang penting ada ikhtiar untuk memenuhi kebutuhan Arsha nanti."


Devan mengangguk-angguk. "Baik, Pak. Saya akan sabar menunggu." Tiba-tiba pandangannya beralih ke arah Arsha.


Arsha yang salah tingkah langsung memainkan ponselnya. Sementara Arka terlihat acuh tak acuh akan kedatangan Devan.


Bukannya itu yang kelihatannya lagi viral di sosmed? Masa iya Devan owner-nya? Nggak mungkinlah.


"Hmm, enak. Bumbunya pas, Yah, cobain deh." ucap Izzah.


"Masyaallah, ini beneran enak Bu. Ka, Sha, kalian harus coba ini." ucap Rayhan.


Arka mulai mengambil, pun dengan Arsha.


Beneran enak ternyata, jadi pengen peluk owner-nya, batin Arsha.


"Kalau boleh tahu, sudah berapa lama buka usaha ini, Nak?" tanya Izzah lagi.

__ADS_1


"Baru dua tahun, Bu." jawab Devan.


"Lumayan itu, semoga lancar terus dan bisa buka banyak cabang." ucap Rayhan menambahkan.


"Aamiin. Alhamdulillah sudah ada beberapa cabang. Dan ini sedang persiapan buka cabang yang ke 120."


"Pamer." celetuk Arka.


"Ka...." panggil Izzah.


"Kenapa Bu? Emang benar kan pamer." balas Arka.


Izzah tersenyum pada Arka dan menepuk paha anak lelakinya itu.


"Jangan begitu sayang." ucap Izzah.


Sementara Devan hanya tersenyum.


"Nak Devan kalau memang sudah yakin, saya dan ibu nya Arsha sebagai orang tua itu tergantung sama Arsha nya sendiri. Karena bagaimanapun, Arsha lah yang akan menjalani bahtera rumah tangga, yang insyaallah jika kalian memang berjodoh akan menjadi pernikahan yang insyaallah juga pertama dan terakhir." jelas Rayhan.


"Nah sekarang, tergantung Arsha nya aja. Kamu mau gak nikah sama cowok yang punya bisnis dengan outlet yang udah 120 aja. Tapi kamu baru ketemu tadi, yang intinya kamu belum kenal dia sepenuhnya." ucap Arka semakin ketus.


Arsha terlihat kesal dengan ucapan saudara kembarnya itu.


"Maaf sebelumya Van, tolong beri aku waktu buat berpikir." ucap Arsha.


"Baik, aku akan senantiasa menunggu jawaban ya dari kamu." balas Devan.


Izzah dan Rayhan tersenyum.


Setelah sekitar satu jam mengobrol, Devan akhirnya pamit pulang. Meninggalkan Arsha dengan perasaan penuh kebimbangan.

__ADS_1


Apa aku harus menerima lamaran itu? gumam Arsha.


Bersambung....


__ADS_2