Aku Wanita Simpanan

Aku Wanita Simpanan
3. Nasihat


__ADS_3

Alia mulai berinteraksi kecil dengan Dafa. Meski terasa begitu lelah karena seharian menerima ucapan selamat dari para tamu undangan, Alia tetap berusaha untuk meladeni Dafa yang sedang aktif-aktifnya.


Dari kejauhan, Izzah yang melihat interaksi antara Dafa dan Alia tampak bahagia. Dia lalu mengajak Reyhan untuk mendekat ke arah mereka.


"Ayah ajak Dafa main sebentar, Ibu mau bicara sama menantu kita berdua." Ucap Izzah yang langsung diikuti oleh Reyhan tanpa komplain apapun.


Keduanya lalu berjalan mendekat ke arah Alia dan Dafa.


Alia langsung berdiri saat melihat mertuanya mendekat.


"Duduk saja." Ucap Izzah pada menantunya itu.


Reyhan lalu memberi kode pada Dafa untuk mengajaknya pergi. Bocah pintar itu langsung mengikuti kemana Opa nya pergi.


"Terima kasih ya." Ucap Izzah seraya memegangi tangan Alia setelah duduk berhadapan dengannya.


Alia hanya terdiam dengan tatapan mata yang sayu melihat ke arah Ibu mertuanya yang tetap cantik di usianya yang sudah kepala lima itu.


"Bu...." Ucapan Alia terhenti karena Izzah berbicara juga.


"Ibu senang sekali akhirnya Dafa terlihat begitu ceria setelah akhirnya secara resmi dia bisa mempunyai seorang Mama." Ucap Izzah menatap Alia dengan lembut. "Ibu tahu benar bahwa pernikahan ini pasti terpaksa untukmu."


Sontak saja ekspresi wajah Alia langsung berubah. Dimana tadi dia terus menampilkan senyum terbaiknya, kali ini matanya membulat sempurna.


"Ibu tahu semua dari ekspresi mu sejak saat masuk ke dalam hotel ini."


Alia langsung menunduk, ia merasa bersalah.


"Ibu tidak tahu apa alasan yang membuatmu hingga setuju dengan pernikahan ini. Padahal kau tahu sendiri bahwa suamimu itu seorang duda yang memiliki seorang anak. Kau begitu baik Nak, dan satu hal yang bisa Ibu pastikan padamu. Bahwa kami semua merasa begitu bahagia dengan hadirnya dirimu yang melengkapi keluarga kami lagi. Terutama bagi Dafa yang memang butuh sosok Ibu."


Alia terus saja menunduk, ia merasa begitu malu menatap mata mertuanya.


"Nak, ada satu hal yang ingin Ibu sampaikan padamu tentang suami mu. Sejak kepergian Ibu kandung dari Daffa, dia menjadi pria yang begitu dingin. Sejujurnya dulu sikap Arka memang seperti itu, sangat dingin pada orang lain. Tapi tidak dengan keluarganya, dia tampak begitu bahagia. Tapi kenyataannya tidak. Ibu harap, kau bisa mengerti dengan sikap yang ditunjukkannya nanti padamu."


"Bu, aku mengerti. Sebenarnya tidak ada yang memaksa aku untuk menikah. Ini memang keinginanku sendiri. Siapa yang tidak ingin menikah dengan pria paling tampan di negeri ini." Kelakar Alia.


Izzah hanya tersenyum dan kemudian keduanya melanjutkan obrolan mereka. Sampai akhirnya Dafa kembali bersama Reyhan.

__ADS_1


Izzah dan Reyhan lalu berpamitan pada Arka juga Alia dan Dafa. Mengingat Arka nyatanya tidak mau tinggal dengan orang tuanya, dia sudah punya istana sendiri untuk tempati.


"Ka, Ibu sama Ayah balik duluan ya! Ingat untuk memperlakukan Alia dengan baik." Bisik Izzah di telinga Arka.


Arka hanya tersenyum samar.


Dafa akhirnya tertidur di lengan Alia. Daffa merasa begitu hangat dan penuh cinta dari Alia yang membuatnya tidur dengan begitu nyenyak dengan Alia mengusap kepalanya.


Arka datang mendekat ke arah Alia dan berkata " Terima kasih karena sudah menjaga Dafa." Ucap Arka seraya menjulurkan tangannya untuk mengambil Dafa dari gendongan Alia.


"Tidak apa-apa "balas Alia dan menyerahkan Dafa pada Arka, karena mereka akan segera pulang ke rumah.


"Permisi... Aku akan kembali setelah mengganti gaun ini karena sangat sulit untuk berjalan menggunakan ini." Ucap Alia kepada Arka.


"Kau bisa memanggilku Arka dan aku akan menunggumu di mobil." Ucap Arka dan berjalan keluar dengan membawa Dafa dalam gendongannya.


Sementara Alia pergi ke arah kakaknya, Mia yang masih memandang ke arah dirinya.


"Kak, aku mau mengganti gaun ini." Ucap Alia.


"Apa kau pikir dia akan bahagia?" Tanya Mia kepada Herry setelah Alia sudah pergi dengan pelayan itu.


"Tentu saja. Apa kau tidak bisa melihat bahwa Dafa dan Alia langsung begitu akrab berdua." Ucap Tuan Luiz.


"Papa tidak menanyakan pendapatku terlebih dulu. Jadi, kenapa papa bertanya kepadaku lagi." Ucap Herry.


Mia menghela napas kemudian berkata, "itu adalah pilihannya."


"Aku tahu itu dan itulah kenapa aku merasa sedih akan hal itu." Ucap Herry dan berjalan keluar dari dalam hotel.


"Pah..." Mia beralih melihat kearah tuan Luiz.


"Jangan khawatir, ini untuk kebaikan dirinya sendiri." Ucap Tuan Luiz seraya menyentuh kepala mia dan tersenyum ke arahnya.


Setelah beberapa menit, Alia datang dengan menggunakan pakaian yang membuatnya merasa nyaman yaitu rok panjang dengan baju kaos.


Dia memeluk Mia dan papanya.

__ADS_1


"Jaga dirimu dengan baik, oke.," Ucap Mia dan mengusap kepala Aliya.


"Dimana Kak Herry?" Tanya Alia seraya melihat ke sekeliling tapi tidak menemukan keberadaan Herry.


"Dia sudah keluar dari hotel ini. Tidak apa-apa." Balas Mia dengan tersenyum.


Alia kemudian keluar, di mana Arka masih menunggu dirinya. Supir membuka pintu mobil untuk Alia, lalu dia masuk ke dalam mobil.


"Ayo jalan." Ucap Arka dengan suara yang tegas, dia tengah menepuk punggung Dafa dan melihat ke arahnya..


Suasana dalam mobil terasa begitu aneh dan sunyi bahkan sopir merasakan hal tersebut juga.


'aku merasa mengantuk sekali. Semuanya begitu baru dan tiba-tiba untukku. Jadi aku tidak bisa berpikir apapun, dan aku sudah merindukan Papa, Kak Mia dan Kak Heri.' ucap Alia dalam hati dan merasa mengantuk.


Alia hendak menaruh kepalanya di kaca jendela mobil, Arka melihat hal itu dan menarik lengan Alia untuk menyelamatkan kepala Alia dari terbentur. Kemudian kepala Alia berada di pundak Arka dan merasa sedikit aneh dan melihat kearah Alia.


'apakah dia sedang membuat alasan untuk bisa dekat denganku. aku ingin mendorongnya tapi Dafa sangat menyukainya.' ucap Arka dalam hati dan merasa terganggu.


Setelah setengah jam mereka akhirnya tiba di kediaman utama Arka Wijaya. Rumah yang terlihat berwarna putih dan dengan desain yang begitu mewah.


Arka menggoyang kan pundaknya perlahan dan berkata "Hei, ayo bangunlah."


Alia membuka matanya dan menyadari bahwa dia sebenarnya sudah tertidur di pundak Arka.


"Aku aku minta, maaf aku tidak bermaksud untuk seperti ini." Ucap Alia dan merasa terkejut dengan apa yang dilakukannya.


"Tidak masalah." Ucap Arka dengan wajah yang tanpa perasaan kemudian berjalan keluar dari dalam mobil dengan membawa Dafa dalam gendongan nya.


'apa yang sudah aku lakukan ini sangat memalukan.' ucap Alia dalam hati dan kemudian keluar dari dalam mobil.


"Selamat datang ke rumah nyonya." Ucap para pelayan yang berbaris dan menundukkan kepala mereka di hadapan alia.


Alia sudah terbiasa diperlakukan seperti seorang putri jadi harus seperti ini tidak baru baginya dia berjalan masuk ke dalam rumah dan melihat sekeliling rumah itu.


'wow rumah ini sangat indah. Desain dan dekorasi nya begitu mengagumkan. Sejak dari luar tadi dan disini, rumah ini adalah rumah baru ku sekarang.' Ucap Alia dalam hati dan melihat ke sekeliling.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2