
Sudah tiga hari Izzah dirawat, selama itu pula bayi mungil Izzah bertahan meski terkadang adakalanya kondisi Zahra menurun drastis.
Kini Rayhan tengah mengerahkan orang-orangnya untuk menyelidiki apa yang sebenarnya terjadi pada Izzah. Rayhan ingin membuktikan kecurigaannya bahwa Izzah telah diracuni orang.
Hari ini Izzah sudah diperbolehkan untuk pulang meski harus masih rawat jalan. Tapi dengan tegas Izzah mengatakan bahwa dia tak akan pulang bila tidak bersama Zahra.
Izzah selalu berada disamping Zahra, melihat perkembangan bayi mungilnya itu. Ingin sekali Izzah menyentuhnya walaupun hanya sebentar. Tapi apalah dayanya, dokter sama sekali tidak memperbolehkan Izzah karena kondisi Zahra yang masih rentan.
Izzah tengah mengaji disamping Zahra, sementara Rayhan tengah keluar karena menerima telepon penting.
[Halo, bagaimana hasilnya? Apakah kalian dapatkan sesuatu?] tanya Rayhan.
[Eeemmm sudah bos, kami sudah memeriksa cctv, tapi...]
[Tapi apa?] bentak Rayhan.
[Kami tidak mau menyimpulkan terlalu dini pak. Tapi kami ingin bapak sendiri yang melihat video cctv nya.]
[Baiklah, segera kirimkan aku video itu.] ucap Rayhan.
Tak lama dua buah video diterima Rayhan diaplikasi warna hijau berlambang telepon miliknya.
Mata Rayhan membulat sempurna saat melihat isi video itu. Tangan Rayhan mengepal dan raut wajah Rayhan penuh amarah.
"Cukup, mami sudah keterlaluan. Jika memang mami pelakunya, aku tidak akan pernah memaafkannya" gumam Rayhan.
__ADS_1
Tiba-tiba Izzah berteriak dari dalam ruangan.
"Dokter... cepat dokter." teriak Izzah.
Rayhan langsung berlari kedalam melihat apa yang terjadi.
"Abang kenapa sama Zahra bang." teriak Izzah.
Rayhan segera memencet tombol yang ada didinding ruangan itu. Tombol itu berfungsi sebagai tanda untuk memanggil dokter jika sesuatu yang buruk terjadi pada pasien.
Tak lama dokter Nuri sudah memasuki ruangan itu. Dengan segera dokter Nuri memeriksa keadaan Zahra.
Nafas Zahra terlihat naik turun, tubuh mungilnya nampak kejang. Izzah histeris, Rayhan dengan sigap memeluk tubuh Izzah.
"Tenangkan dirimu sayang." ucap Rayhan mencium kepala Izzah yang tengah terisak dengan duduk di lantai.
"Sayang tenanglah, dokter tengah melakukan yang terbaik untuk puteri kita." ucap Rayhan.
Izzah tak henti-hentinya berdzikir, sambil sesekali mengusap air matanya. Rayhan dengan setia menenangkan Izzah.
Dokter Nuri terlihat murung, suara-suara alat pendeteksi detak jantung Zahra berhenti. Dilayar telihat garis lurus, Izzah terdiam. Dia berdiri mendekat ke arah inkubator Zahra.
Tak ada air mata, tatapan Izzah kosong. Dokter Nuri mendekato Rayhan yang juga terdiam.
"Mohon maaf pak Rayhan, kami sudah melakukan yang terbaik. Namun Tuhan berkehendak lain. Zahra sudah..."
__ADS_1
"Cukup..." potong Rayhan.
"Yang sabar pak Rayhan, tolong tenangkan bu Izzah." sambung dokter Nuri.
"Sayang..." ucap Rayhan.
"Izzah gak apa-apa mas." ucap Izzah.
Rayhan menitikkan air mata melihat Izzah.
"Dokter tolong lepaskan semua alat yang menempel ditubuh anak saya. Saya ingin menggendongnya." ucap Izzah.
Dokter Nuri dan para perawat lalu melepaskan semua yang menempel pada tubuh mungil Zahra.
Setelah itu memberikan bayi mungil itu pada Izzah.
Dengan penuh kehati-hatian Izzah menggendong Zahra.
"Ini ibu nak, ibu sudah menggendongmu. Tak bisakah kau bertahan sedikit lebih lama?" ucap Izzah.
"Sayang.." ucap Rayhan menyentuh bahu Izzah.
"Jangan ganggu Izzah bang, Izzah tengah berusaha membangunkan Zahra, anak kita." ucap Izzah dengan tersenyum yang terlihat menyedihkan.
Rayhan semakin terpukul melihat kondisi Izzah yang tidak bisa menerima kepergian Zahra.
__ADS_1
Rayhan lalu menelepon mang Diman dan bi Asih, memberitahu mereka tentang kepergian Zahra dan kondisi Izzah yang depresi.