Aku Wanita Simpanan

Aku Wanita Simpanan
BERBINCANG DENGAN PAK HARIS


__ADS_3

"Maafkan saya pak, baru sekarang bisa bertemu langsung dengan bapak." ucap Rayhan.


Rayhan tengah mengobrol untuk pertama kalinya dengan pak Haris sebagai menantu dan mertua. Pak Haris tak henti-hentinya tersenyum menatap Rayhan.


"Kenapa harus minta maaf nak, memang sekaranglah Allah memberikan kita kesempatan untuk bertemu." jawab pak Haris.


"Saya juga minta maaf yang sebesar-besarnya pak, karena tidak bisa menjaga Izzah dengan baik. Hingga dia harus kehilangan calon cucu bapak." ucap Rayhan tertunduk.


"Sudahlah nak Rayhan, semuanya sudah merupakan ketentuan dari Allah. Kita sebagai manusia hanya bisa sabar dan mengikhlaskan semuanya."


Rayhan kemudian tersenyum bahagia mendengar ucapan pak Haris.


"Pak, kenapa ibu dan adiknya Izzah tidak ikut?" tanya Rayhan.


"Ibu bilang sedang tidak enak badan. Jadi Hani tidak mau ikut juga kalau ibunya tidak ikut." jawab pak Haris.


"Oohh, ngomong-ngomong pak Haris tidak berniat pindah ke Jakarta, tinggal bersama saya dan Izzah?"


"Wah sejak kecil saya tinggal di kampung nak, jadi tidak mudah untuk saya meninggalkan kampung halaman. Biarlah saya menghabiskan masa tua saya disana, kalian bangunlah keluarga yang bahagia disini. Insyaallah jika umur kita panjang, kita bisa saling mengunjungi." jawab pak Haris.


Rayhan mengangguk dengan senyum yang menghiasi bibirnya.


"Satu hal lagi nak Rayhan, kamu boleh panggil saya ayah, sama seperti Izzah. Jangan lagi panggil saya dengan sebutan pak Haris, karena saya ini ayah mertua kamu."


"Baik pak, eh ayah maksud saya." ucap Rayhan tersenyum.


Mereka berdua pun tertawa bahagia. Izzah datang menghampiri mereka, lalu duduk disamping Rayhan.


"Duh, asyik banget nih ngobrolnya. Lagi ngomongin apa sih? Ngomongin Izzah ya?" ucap Izzah.


Rayhan tampak bahagia dengan perubahan sikap Izzah yang mulai ceria lagi.


"Ya sayang, kami lagi ngobrolin tentang masa depan kita." ucap Rayhan.

__ADS_1


"Ih abang, malu sama ayah. Gak usah panggil-panggil sayang." bisik Izzah.


"Kheeem. Izzah juga kenapa pakai acara bisik-bisik? Ayah bisa dengar kok Izzah ngomong apa." ucap pak Haris.


Pipi Izzah seketika merah merona karena malu.


"Kenapa harus malu, ayah juga pernah muda. Toh Rayhan kan suami Izzah, jadi wajar dia memanggil Izzah dengan sebutan itu." lanjut pak Haris.


Lagi-lagi Izzah tersipu malu. Rayhan yang melihat tingkah Izzah semakin menggoda Izzah dengan mencium kepala Izzah didepan pak Haris. Izzah jadi semakin malu. Pak Haris tersenyum melihat Izzah yang bahagia.


"Nak Rayhan, tolong jaga selalu Izzah ya. Buat dia selalu bahagia, jangan pernah buat dia kecewa dan bersedih. Karena selama ini saya belum pernah melakukan yang terbaik untuk dia." ucap pak Haris tertunduk.


"Ayah..." ucap Izzah lirih seraya memegang tangan pak Haris.


"Saya janji, untuk selalu membahagiakan Izzah. Saya tidak akan pernah membuatnya kecewa ataupun bersedih. Jika sampai itu terjadi ayah boleh hukum saya dengan cara apapun." ucap Rayhan.


"Saya percaya dengan ucapanmu nak Rayhan." balas pak Haris sambil mencium pucuk kepala Izzah.


Mang Diman datang menghampiri mereka.


"Aisshh si bapak ada-ada saja." ucap bi Asih sambil menyodorkan jus buah kepada mereka.


Intan menyusul dengan membawa camilan. Semua orang menikmati sajian yang dibawa bi Asih dan Intan.


"Bagaimana kalau magrib ini kita shalat berjamaah dirumah ini. Setelah itu kita undang tetangga-tetangga sekitar untuk datang berzikir dan berdoa, syukuran atas rumah ini." ucap Rayhan.


"Wah ide bagus itu." ucap Ifan.


"Gue setuju Ray." sambung dokter Harun.


"Kalau begitu mamang mau siap-siap untuk undang tetangga-tetangga sekitar ya habis magrib." ucap mang Diman.


"Baik mang." ucap Rayhan.

__ADS_1


Mang Diman dan bi Asih lalu pamit untuk mengundang para tetangga sekitar.


"Kenapa dadakan bang? Terus gimana masalah makanan atau jamuan untuk para tamu nanti?" tanya Izzah.


"Wah Izzah, kamu kayak gak tau siapa Rayhan saja. Apa sih yang gak bisa dilakuin Tuan Rayhan Aditya Wijaya." ucap Lisa terkekeh.


"Iya, apalagi kalau sudah menyangkut kebahagian kamu. Rayhan jadi orang yang super bucin." lanjut dokter Harun.


Semua orang tertawa termasuk pak Haris.


"Izzah tenang aja, abang udah persiapkan semuanya. Izzah tinggal duduk manis aja ya." ucap Rayhan seraya mencium tangan Izzah.


"Bucin...bucin..." teriak dokter Harun.


Rayhan lalu berdiri berusaha mengejar dokter Harun yang telah berlari keluar sambil terus mengejek Rayhan.


"Kalau gitu aku sama mas Ifan mulai beres-beresin ruang tamu ya Zah. Kita pindahin dulu kursi-kursi yang ada." ucap Intan.


Rayhan tiba-tiba masuk lagi dengan lengannya melingkar dileher dokter Harun.


"Kalian gak perlu capek-capek. Aku udah nyuruh orang untuk beresin semuanya." ucap Rayhan.


"Ya udah kalau gitu, kami pulang dulu untuk bersiap-siap. Sebentar lagi kamj balik." jawab Ifan.


Ifan dan Intan pun pulang ke kontrakan mereka untuk bersiap-siap.


"Lepasin gue bro, bisa mati gue kalau lu cekek terus. Gak jadi nikah gue sama si Lisa nanti. Gak kasian lu sama gue kalau mati dalam keadaan bujang, mana gue ganteng lagi." ucap dokter Harun yang mulai lelah karena lengan Rayhan terus mengunci lehernya.


"Kepedean banget lu, gue yang lebih ganteng dari lu aja gak pernah ngaku-ngaku ganteng." ucap Rayhan tertawa lalu melepaskan lengannya.


"Apa mereka selalu seperti itu?" tanya pak Haris.


"Iya ayah." jawab Izzah tersenyum.

__ADS_1


Pak Haris pun tersenyum.


Berbahagialah selalu Izzah, ayah harap Rayhan akan selalu menjagamu, dan akan selalu membuatmu bahagia, gumam pak Haris.


__ADS_2