
Sesuai rencana Arsha. Hari ini ia, Nabila dan Vita tengah berkumpul di toko kue milik Vita.
"Aku ngajak kalian ngumpul disini karena aku punya rencana buat ngetes Devan. Apa dia masih playboy apa enggak. Gimanapun orang kayak gitu bakal ada fase kambuhnya," ucap Arsha setelah kita selesai menyantap rainbow cake yang di hidangkan Vita.
"Gimana caranya?" tanya Vita.
Arsha merangkul pundak Vita dan Nabila dan merapatkan tubuh. "Gini, pssspspspspssssspss ... paham?"
Vita dan Nabila mengangkat jempol bersamaan. "Oke." balas keduanya.
Sore harinya, mereka langsung mengeksekusi rencana tadi. Memilih kafe yang cocok untuk melakukan penyelidikan. Tak lupa memilih kostum yang pas. Arsha sudah mengirim pesan pada Devan untuk mengajaknya bertemu.
"Kayaknya penampilan kita terlalu mencolok deh." ucap Nabila.
“Lagian emang ada orang nongkrong di kafe pake masker dan kacamata hitam begini, Sha? Terlalu mencolok nggak, sih? Takutnya malah dikira perampok,” ujar Vita yang masih tidak habis pikir dengan ide luar biasa dari Arsha. Memakai pakaian dan aksesoris serba hitam.
“Eh, sut-sut, diem! Target datang!” Nabila langsung memberi keduanya kode untuk diam. Dan seketika Arsha an Vita jadi anak penurut, duduk manis dengan kedua tangan terlipat di atas meja.
“Target duduk di meja dekat pintu sesuai rencana,” bisik Nabila.
Di antara mereka bertiga, hanya Nabila yang duduk menghadap pintu agar dia bisa melihat gerak-gerik target mereka, yang tidak lain dan tidak bukan adalah Devan. Karena menurut Arsha, hanya Nabila yang tidak mudah dikenali Devan diantara ketiganya. Sementara, Arsha dan Vita duduk membelakangi pintu supaya Devan tidak mudah mengenali mereka.
Arsha langsung sibuk mengetuk layar ponsel, ia mengirim pesan kepada orang yang akan mereka untuk mengetes Devan.
Beberapa menit kemudian, Nabila berbisik, “Umpan masuk. Eh, gilak! Itu kembaran Dinar Candy apa gimana? Bohay banget! Nemu di mana, Sha?”
“Pasar loak!” sahut Arsha asal.
“Udah, diem! Mau dengerin omongan mereka nih,” sambar Vita.
Posisi duduk mereka dan Devan cukup jauh, tetapi Arsha sudah memberi tahu si “Umpan” untuk menepon.
__ADS_1
"Boleh duduk sini, Mas?" Suara wanita itu terdengar serak-serak basah. "Boleh aja deh, ya. Saya takut sendirian soalnya." lanjut awanita itu.gf
"Devan cuma diem," bisik Nabila.
"Kenalan dong, Mas. Nama masnya siapa?"
"Devan." Kali ini terdengar suara Devan yang singkat.
“Damai, Mas.” Suara wanita itu kedengaran mendayu, dan mendesah.
'Jadi pengen tabok!' gumam Arsha.
“Damai?” Devan terdengar menyahut, tapi ekspresi wajahnya terlihat kebingungan.
“Damai banget karena melihat senyumnya Mas.”
“Umpan pindah duduk di samping target.” Nabila memberitahu. “Kayaknya itu baju kekurangan bahan, deh. Lengannya baru dikasih sebelah kanan, yang kiri masih ketinggalan kayaknya, bolong gitu,” sambungnya.
“Maaf, Mbak. Saya nggak suka bunga Lili,” jawab Devan
“Ih, kok, malah bunga Lili sih, Mas Ganteng? Lili Mas, Lili. Nama saya tuh Lili, panjangnya Putri Lilian. Ke.barannga Putri Titian.”
“Oh.” Suara Devan terdengar cuek.
'Astaga … sumpah! Rasa pengen tak sumpal mulutnha pakai bunga Lili. Itu cewek kalau ngomong nggak bisa biasa aja apa, ya? Harus banget sok manja begitu.'
"Hey, kamu kenapa sih? Kok kayak marah gitu. Bukannya ini ide kamu." ucap Vita yang menyadari perubahan raut wajah Arsha.
"Gak apa-apa." balas Arsha.
"Mas suka pijet nggak? Saya bisa lho pijet luar dalem dijamin enak dunia akhirat, mau coba nggak? Murah, kok, cuma 200.000 durasi 19 detik. Gimana?” Lili bertanya lagi.
__ADS_1
“Eh, eh, eh, buayanya keluar! Si Devan ngerogoh kantong celana, mau ngeluarin duit kayaknya!” Nabila sewot, tak sadar bila dia sudah membuat Arsha meringis karena cubitan di tangan yang sangat keras.
“Bolong tanganku nanti kalau kamu cubitin gini, Bil!” desis Arsha menahan sakit.
“Eh, iya maaf. Hehe … greget soalnya, Sha.”
“Ini, Mbak.” Suara Devan terdengar lagi. “Tadinya saya beli buat pembantu di rumah saya, tapi kayaknya Mbak juga butuh obat, soalnya dari tadi duduknya nggak bisa diem, gerak-gerak terus. Iitu gejala orang ambeyen yang paling nyata, Mbak. Coba obat ini katanya paling ampuh. Mata Mbak juga kedip-kedip terus, lagi sakit mata ya. Nih sekalian tetesan mata juga, buat obatin matanya mbak itu. Nah, nanti kalau nggak sembuh silakan ke dokter hewan terdekat.”
Arsha melirik Vita yang sedang membekap mulutnya dengan sebelah tangan.
“Ih, Mas, masa aku dikasih obat ambeyen, sih? Mana ada orang cantik kayak aku ambeyen. Mata Mas kali yang kelilipan, makanya nggak bisa lihat cewek cantik!” Lili terdengar sewot.
“Di mana cewek cantiknya, Mbak?"
Suara Lili semakin terdengar merengek manja.
“Mending Mbak pindah deh, habis ini calon istri saya mau datang,” sambung Devan.
“Kenapa, Mas? Pasti takut dia cemburu, ‘kan?”
“Bukan. Saya kasian sama Mbak, nanti minder kalau ketemu calon istri saya. Dia cantik banget soalnya.”
Vita menyenggol lengan Arsha. "Jangan pingsan," bisiknya.
"Nggak pingsan, paling kejang-kejang," bisik Arsha tak kalah pelan.
"Eh, Devan berdiri!" ucap Nabila.
“Mau pergi, ya? Lanjut rencana kedua aja, Sha. Buruan hubungin Devan,” bisik Vita. Arsha mengangguk.
Arsha langsung mengirim pesan pada Devan dan bilang kalau tidak bisa datang karena mendadak ada pasien yang ingin mencabut gigi.
__ADS_1
“Target pergi,” ucap Nabila.