
Izzah mulai menata hidupnya. Dia sudah bertekad untuk melupakan Rayhan, meski hampir setiap malam Rayhan selalu hadir dalam mimpinya. Izzah mulai membuka usaha menjual kue dengan modal uang yang tersisa di tabungannya.
Dalam waktu satu bulan usaha Izzah membuahkan hasil. Izzah mulai bisa memperkerjakan anak-anak muda kuliahan yang tinggal di kontrakan mang Diman.
Izzah sempat meminta untuk mengontrak agar tidak merepotkan bi Asih serta mang Diman, namun mereka melarang Izzah. Mereka ingin Izzah tetap tinggal bersama mereka. Bahkan bi Asih dan mang Diman telah menganggap Izzah sebagai anak kandung mereka.
Kini dua bulan sudah Izzah menjalani hidupnya tanpa bayang-bayang Rayhan. Usaha Izzah pun benar-benar maju dengan pesat. Izzah begitu pandai melihat peluang pasar. Dia selalu berinovasi dalam membuat kue. Izzah juga menjual kuenya melalui media sosial. Dia membuat akun bernama Izzah Bakery.
Belakangan ini ada seorang pemuda yang tinggal di kontrakan mang Diman selalu memberi perhatian lebih pada Izzah, Yusuf namanya. Dia bekerja di pabrik tekstil. Namun Izzah tidak terlalu memperhatikannya. Izzah masih enggan membuka hati untuk pria lain. Karena Izzah tidak pernah merasakan jatuh cinta sebelum dengan Rayhan.
Meski Izzah sudah bertekad untuk melupakan Rayhan, tapi dalam hati kecilnya Rayhan tetaplah laki-laki yang amat dia cintai. Bagaimanapun juga bagi Izzah, Rayhan masih berstatus sebagai suaminya.
Hari ini Izzah mendapat orderan paket ulang tahun, seratus buah cupcake serta kue ulang tahun bertingkat. Namun Izzah kekurangan tenaga karyawan karena para mahasiswa yang bekerja padanya tengah sibuk kuliah. Izzah kebingungan mencari orang untuk membantunya. Secara kebetulan Yusuf datang ke toko kuenya.
"Assalamualaikum Zah. Aku mau pesan dua kotak donat." ucap Yusuf.
"Waalaikumsalam mas Yusuf. Tapi maaf mas hari ini Izzah sedang kekurangan karyawan, kebetulan Izzah juga dapat orderan cupcake yang lumayan banyak. Jadi Izzah sedang tidak membuat donat mas." ucap Izzah.
"Wah alhamdulillah melimpah rezeki mu Zah. Apa ada yang bisa aku bantu?" tanya Yusuf.
"Mas punya teman yang bisa mengantar orderan dari customer Izzah gak mas, untuk hari ini aja?"
"Kenapa harus temanku, aku juga bisa membantu"
"Tapi...apa mas gak kerja hari ini?" tanya Izzah.
"Kebetulan aku hari ini libur Zah, tadinya mau pesan donat buat keluargaku yang akan datang dari kampung nanti sore." jawab Yusuf. "Jadi kemana aku harus mengantar orderan itu Zah?" sambungnya.
"Alhamdulillah kalau mas bisa bantu Izzah, insyaallah nanti Izzah buatin donat pesenan mas, gratis." ucap Izzah tersenyum.
__ADS_1
"Wahh terima kasih." ucap Yusuf sumringah. "Tapi nanti Izzah bisa rugi kalau ngasih gratis." sambungnya lagi.
"Ya gaklah mas, oh ya ini alamat rumah tempat mas nganter orderan. Mas nanti juga ditemenin si Rudi, dia yang bawa kue ulang tahun, mas Yusuf yang bawa cupcake nya. Gimana mas, bisa kan?"
"Insyaallah bisa Zah. Ya udah mana si Rudi, kita jalan sekarang aja takut nanti kehujanan."
"Ya mas, sekali lagi makasih ya."
"Sama-sama."
Izzah kemudian memanggil Rudi untuk mengantar orderan bersama Yusuf. Setelah mereka berangkat Izzah mulai sibuk membuat adonan donat dibantu seorang karyawannya.
"Ana segera tempel lowongan kerja ini di kaca depan toko supaya ada yang melihat. Nanti kamu juga posting di sosmed kamu ya kalau toko ini lagi nyari karyawan."
"Baik bu." jawab Ana.
Izzah mengambil gawainya lalu memposting lowongan pekerjaan di akunnya. Tanpa disangka banyak orang yang berminat. Izzah tersenyum bahagia, bersyukur akan usahanya yang berkembang. Meski lelah, Izzah bertekad untuk tetap berusaha demi kehidupan anaknya kelak.
Gawai Izzah berdering, nama Intan tertera dilayar ponselnya.
[Halo, assalamualaikum Zah.]
[Waalaikumsalam.] jawab Izzah.
[Zah, maaf mengganggumu. Aku mau minta tolong apa masih ada kontrakan mang Diman yang kosong? Karena lusa aku dan mas Ifan mau ke Jakarta. Mas Ifan dapat pekerjaan di Jakarta Zah, kebetulan pabriknya dekat sama kontrakan mang Diman.]
[Wah alhamdulillah, kebetulan besok ada seorang mahasiswa yang akan keluar dari kontrakan karena sudah tamat kuliahnya Tan. Jadi kalian langsung bisa masuk ke kontarakan itu. Biar nanti aku kasih tau mang Diman kalau kalian mau ngontrak.]
[Terima kasih ya Zah. Oh ya tadi juga kebetulan aku lihat postingan kamu yang lagi nyari karyawan untuk toko kue kamu. Apa aku bisa diterima kerja di toko mu Zah?] tanya Intan.
__ADS_1
[Beneran kamu mau kerja Tan?] ucap Izzah.
[Yaa benerlah Zah, masa boong. Itung-itung bantu keuangan mas Ifan, daripada diam di rumah sendirian kan.]
[Ya udah kalau gitu aku tunggu kedatangan kalian ya.]
[Oke Zah. Assalamualaikum.]
[Waalaikumsalam.]
Sambungan telepon terputus, Izzah kembali membuka aplikasi berlogo huruf berwarna biru. Ada sebuah pesan masuk.
[Ini kamu kan Zah? Anindia Azizzah mantan sekretarisnya Rayhan.] isi pesan dari akun bernama Bella Pratiwi Wijaya.
Jantung Izzah berdegup kencang saat membaca nama Rayhan dalam pesan itu. Izzah pun berbalas pesan dengan Bella. Mereka seperti sahabat yang telah lama tak berkomunikasi.
Sebisa mungkin Izzah menghindari tentang membahas Rayhan. Karena dulu selama berteman dengan Bella, Izzah selalu menjadi tempat Bella berkeluh kesah tentang hubungannya dengan Rayhan.
[Kamu punya usaha toko kue ya sekarang Zah, Izzah Bakery. Kelihatannya enak-enak. Kapan-kapan aku bakalan order ya.] tulis Bella dalam pesannya.
[Alhamdulillah Bell usaha kecil-kecilan. Ditunggu ya orderannya.] balas Izzah.
[Btw kapan-kapan ketemuan yuk Zah. Aku pengen ketemu, kangen.]
Izzah menghela nafas membaca pesan Bella.
[Baik, asal jangan di rumahmu saja.] balas Izzah.
[Oke, nanti aku kabarin.]
__ADS_1