
Pagi ini Rayhan dan Izzah tengah bersiap-siap untuk menuju kantor Rayhan guna mengadakan konferensi pers. Hal ini diketahui bu Ros dan Bella. Mereka sejak kemarin menyusun rencana untuk menggagalkan acara konferensi pers yang akan diadakan Rayhan. Namun nihil, usaha mereka gagal. Karena Rayhan telah mengatur semuanya agar berjalan lancar tanpa kendala dari siapapun.
Bella terlihat uring-uringan di ruang keluarga. Sedangkan bu Rosita tampak berpikir.
"Mi gimana nih? Apa lagi rencana kita? Kemarin orang suruhan mami gagal juga buat nemuin bapak-bapak yang jadi penghulunya Rayhan itu." ucap Bella.
"Gimana gak gagal, ternyata Rayhan menyuruh anak buahnya untuk tetap mengawasi rumah bapak itu." jawab bu Ros.
"Terus sekarang gimana dong mi? Aku gak mau Rayhan sama Izzah." ucap Bella lagi.
"Memang kamu pikir mami juga mau punya mantu kayak dia." balas bu Ros. "Hemm mami punya ide, gimana kalau nanti kita pergi aja ke kantornya Rayhan. Kita buat aja keributan di sana. Pokoknya gimana pun caranya supaya konferensi pers itu gagal." lanjut bu Ros.
"Aku setuju. Pokoknya Izzah gak boleh bahagia. Bila perlu Bella akan teriak-teriak di sana hujat Izzah." ucap Bella.
"Bagus, karena sekarang cuma ini satu-satunya cara buat kita gagalin acara itu. Ya udah sana cepetan kamu siap-siap, pakai pakaian termewah kamu dan dandan yang cantik, biar semua orang lihat bahwa si Izzah itu gak ada apa-apanya dibanding kamu."
__ADS_1
"Jelas dong mi, aku memang segalanya dibanding perempuan kampung itu." ucap Bella.
Rayhan dan Izzah tengah berangkat menuju kantor. Mereka mengenakan pakaian dengan warna senada. Izzah tampil anggun dengan balutan gamis biru muda dengan motif bunga.
Sementara Rayhan terlihat tampan dengan kemeja biru muda yang terlihat serasi dengan pakaian yang Izzah kenakan.
Izzah menghela nafas panjang saat mobil yang dikendarai Rayhan memasuki area parkir kantor Rayhan. Terlihat kerumunan wartawan mendekat ke arah mobil mereka.
Saat mobil berhenti, Rayhan memandang ke arah Izzah, lalu memegang tangannya erat.
"Bismillah sayang..." ucap Rayhan.
Pertanyaan demi pertanyaan terlontar dari para wartawan. Namun Rayhan dan Izzah tetap bungkam, tak sepatah katapun keluar dari mulut mereka.
Rayhan lalu mengajak Izzah untuk masuk ke ruangannya. Disana mereka disambut oleh Lisa beserta pak Rahmat dan dua orang lainnya yang bertindak sebagai saksi di akad nikah mereka dulu.
__ADS_1
"Terima kasih kalian sudah mau menyempatkan diri untuk hadir." ucap Rayhan.
Pak Rahmat dan dua orang saksi itu mengangguk. Lisa mengajak Izzah untuk duduk dan mengobrol berdua. Sementara Rayhan tengah mengobrol dengan pak Rahmat dan dua orang saksi itu sembari menunggu waktu konferensj pers dimulai.
"Zah aku harap kamu sabar dan harus tetap kuat menjalani semua ini." ucap Lisa.
"Insyaallah aku kuat Lis. Demi anak aku dan bang Rayhan." balas Izzah.
"Aku salut sama kamu Zah. Oh ya aku mau bilang kamu beruntung Zah memiliki Rayhan. Aku belum pernah liat dia segitu cintanya sama seorang wanita. Sepertinya dia itu bahkan rela mengorbankan nyawanya demi kamu." ucap Lisa.
"Ah itu terlalu berlebihan." balas Izzah.
"Aku serius Zah. Rayhan seperti menjadikan dirinya perisai buat kamu. Seolah dia itu sanggup menghadang peluru yang akan melukaimu." lanjut Lisa.
"Alhamdulillah kalau begitu Lis." ucap Izzah.
__ADS_1
Waktu yang ditentukan pun tiba. Rayhan beranjak dari kursi yang didudukinya berjalan menuju Izzah lalu menggandeng tangan Izzah menuju ruangan tempat konferensi pers dilaksanakan.
Bismillah, gumam Izzah.