
Hujan turun semakin deras, disertai angin yang membuat suasana menjadi begitu dingin. Rayhan masih tetap menunggu Izzah dalam derasnya hujan. Dia sama sekali tidak beranjak dari tempatnya berdiri sejak jam enam sore hingga pukul sepuluh malam.
Mang Diman berulang kali berusaha meminta Rayhan untuk pulang atau paling tidak menunggu didalam mobil. Namun Rayhan tetap bersikukuh untuk tidak beranjak dari tempatnya berdiri. Rayhan terlihat menggigil, bi Asih segera menuju kamar Izzah.
"Neng, boleh bibi masuk?" ucap bi Asih didepan pintu kamar Izzah yang terbuka.
Sementara Izzah tengah mengaji.
"Silahkan bi." ucap Izzah. "Kenapa belum tidur bi, ini sudah larut." sambung Izzah.
"Neng, bibi sama sekali tidak ingin ikut campur urusan neng Izzah dan Rayhan, tapi bibi mohon neng temui Rayhan. Kasihan dia neng, dari tadi sore gak beranjak dari depan rumah. Mana hujan gak berhenti dari tadi."
Izzah terlihat kaget.
"Astagfirullah, memang dia beneran gak pulang bi?" tanya Izzah.
"Iya neng, mang Diman sudah nyuruh dia pulang tapi dia tetap gak mau neng. Tolong temui dia neng, bibi takut dia kenapa-napa."
__ADS_1
Izzah segera beranjak, mengambil payung lalu keluar rumah menemui Rayhan. Bibir Rayhan terlihat mulai membiru, tubuhnya menggigil. Saat Izzah menghampirinya Rayhan terlihat begitu bahagia.
"Apa yang sebenarnya ingin kau buktikan?" tanya Izzah.
"Izzah, abang minta maaf. Tolong maafin abang. Abang sangat mencintaimu Zah." jawab Rayhan.
"Dengerin aku Rayhan Aditya, aku mohon pulanglah. Jangan buat hidupku semakin susah. Nanti kalau terjadi sesuatu padamu aku juga yang akan disalahkan."'
"Zah, abang lakuin ini semua untuk membuktikan kalau abang benar-benar menyesal. Abang ingin Izzah memaafkan abang."
"Dewasalah Rayhan ini bukan sinetron yang dengan mudahnya ngelakuin hal konyol demi membuktikan cinta atau apalah itu. Ini dunia nyata Ray. Aku mohon pulanglah." ucap Izzah putus asa.
"Cukup." potong Izzah. "Jika kau benar mencintaiku maka pulanglah, jangan buat semuanya semakin kacau." sambung Izzah.
"Baiklah, abang akan pulang. Karena abang memang sangat mencintai Izzah. Tapi abang tidak akan menyerah, abang akan selalu datang menemui Izzah untuk mendapatkan maaf dari Izzah dan mendapatkan hati Izzah kembali." ucap Rayhan.
Izzah hanya terdiam. Rayhan lalu duduk dihadapan Izzah yang berdiri. Izzah sontak ingin mundur, namun Rayhan menghalangi Izzah dengan memegang pinggang Izzah.
__ADS_1
"Maafkan jika abang lancang. Tapi izinkan abang untuk berbicara dengan anak abang." ucap Rayhan.
Izzah terdiam melihat Rayhan. Wajah Rayhan sejajar dengan perut Izzah. Usia kandungan Izzah yang memasuki lima bulan membuat perutnya sudah terlihat sedikit menyembul.
"Nak...ini ayahmu, maafkan ayah ya nak baru sekarang bisa mengajakmu bicara. Bunda mu sedang ngambek sama ayah karena ayah nakal. Ayah mohon kau jangan nakal ya didalam sana. Jangan menyulitkan bunda mu ya nak." ucap Rayhan mengelus perut Izzah. Lalu Rayhan menciumi perut Izzah.
Izzah terlihat menitikkan air matanya. Saat Rayhan bangun dengan cepat ia menghapus air matanya.
"Abang pulang Zah, jaga dirimu baik-baik ya. Segera tidur, jangan begadang. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam." jawab Izzah.
Rayhan berjalan menuju mobilnya, lalu melaju ditengah derasnya hujan.
Sebenarnya aku ingin memeluk dan mencium kening mu Izzah, tapi aku takut kau marah.
Izzah lalu masuk kedalam rumah. Izzah menangis, bi Asih dan mang Diman yang sedari tadi menyaksikan kedua insan yang sama-sama masih saling mencintai itu turut merasakan sedih melihat Izzah menangis.
__ADS_1
Bi Asih menghampiri Izzah dan memeluknya, mencoba menenangkan Izzah.
Aku mencintaimu Rayhan, tapi aku takut.