Aku Wanita Simpanan

Aku Wanita Simpanan
PERHATIAN AYAH


__ADS_3

Setelah perjalanan yang cukup melelahkan akhirnya Izzah serta Ifan dan Intan sampai di kampung. Ifan dan Intan mengantar Izzah sampai kerumahnya. Mereka ingin memastikan bahwa Izzah baik-baik saja.


Saat pintu rumah terbuka, mereka berdua belum juga mau beranjak pergi. Ifan menjelaskan pada ayah Izzah bahwa Izzah pulang karena suaminya sedang ada pekerjaan diluar negeri dalam waktu yang lama.


"Bagaimana kau bisa kenal dengan suaminya Izzah kami saja sebagai mertuanya belum pernah bertemu sama sekali." ucap Ibu tiri Izzah yang ikut nimbrung dengan obrolan pak Haris dan Ifan.


Intan menghela nafas melihat sikap Ibu tiri Izzah.


"Gini Bu Novi, dua hari yang lalu saya dan kang Ifan kan ke Jakarta buat jalan-jalan sekalian ketemu sama Izzah. Nah di sana kami nginap di rumah suaminya Izzah. Jadi suaminya Izzah minta tolong sama kami biar jaga Izzah dulu, di bawalah ke kampung biar gak kesepian karena sekarang ini Izzah juga lagi hamil muda." jelas Intan sambil melotot pada bu Novi.


"Kau hamil Izzah?" tanya pak Haris dengan senyum mengembang.


Izzah hanya mengangguk. Pak Haris terlihat sangat bahagia. Sementara Hani sedari tadi terlihat tidak suka karena kedatangan Izzah.


"Wah bentar lagi ayah akan jadi kakek. Dan kau Hani akan jadi bibi." seru pak Haris girang.


Hani memonyongkan bibirnya tanda tak suka.

__ADS_1


"Kalau begitu lebih baik Izzah istirahat dulu saja sana." sambung pak Haris.


"Baik ayah, terima kasih." ucap Izzah.


Ifan dan Intan lalu pamit pulang, sementara pak Haris mengantar Izzah ke kamarnya sambil membawa tas pakaian milik Izzah.


"Ayah seharusnya tak perlu repot seperti ini, Izzah bisa sendiri kok. Kasian ayah pasti capek kan bawa tas Izzah. Lumayan berat pasti kan yah."


"Aahh kamu Zah, tas seringan ini dibilang berat. Biar tua gini ayah juga masih kuat kok. Itung-itung latihan buat nimang cucu nanti." ucap pak Haris.


"Terima kasih banyak ayah." ucap Izzah terharu.


"Loh...kenapa anak ayah ini malah nangis?" tanya pak Haris sesampainya dikamar Izzah.


"Izzah bahagia karena ayah kembali peduli pada Izzah seperti waktu Izzah kecil dulu." ucap Izzah disela isak tangisnya.


"Maafkan ayah Zah, selama ini sudah berlaku tidak adil pada Izzah. Setelah Izzah pergi ke Jakarta, ayah mulai merasa ada yang hilang dihidup ayah. Apalagi saat Izzah menelepon memberi tahu bahwa Izzah akan menikah. Ayah merasa menjadi orang tua yang tidak berguna karena tidak bisa menikahkan puteri ayah secara langsung. Ayah merasa sangat bersalah Zah, sekali lagi maafkan ayah." ucap pak Haris panjang lebar dengan air mata yang mulai menggenang.

__ADS_1


"Ayah tidak perlu minta maaf, sebagai anak Izzah lah yang seharusnya minta maaf sama ayah. Mungkin selama ini Izzah pernah melakukan hal yang membuat hati ayah terluka dan kecewa."


"Tidak sama sekali Zah, Izzah anak yang paling baik yang pernah ayah kenal. Tetaplah seperti ini nak, dan ayah berjanji akan menjadi seorang ayah seperti yang Izzah mau, dan akan menjadi kakek yang baik nantinya untuk cucu-cucu ayah." ucap pak Haris sambil menggenggam tangan Izzah.


"Terima kasih banyak ayah."


"Sekarang Izzah istirahat dulu. Nanti kalau mau sesuatu panggil saya ayah."


"Baiklah yah."


Pak Haris menciumi pucuk kepala Izzah, lalu keluar dari kamar Izzah.


Dilantai bawah Hani tengah berbincang dengan ibunya.


"Bu, suaminya Izzah kan orang kaya, gimana kalau kita suruh Izzah minta uang sama suaminya. Yaa itung-itung buat biaya dia tinggal disini." ucap Hani.


"Ide kamu bagus juga Han, nanti ibu akan desak Izzah biar dia meminta uang sama suaminya." jawab bu Novi dengan senyum liciknya.

__ADS_1


__ADS_2