
Rayhan tak pernah beranjak dari sisi Izzah. Berharap Izzah akan segera bangun, namun hingga dini hari tak ada tanda-tanda Izzah akan sadar.
Dokter Harun yang menemani Rayhan tangah tertidur lelap. Rayhan tak enak hati untuk membangunkannya. Sekedar ingin bertanya kenapa sampai saat ini Izzah belum sadar juga. Namun saat adzan subuh berkumandang, dokter Harun tanpa aba-aba langsung berdiri.
"Eh Ray, gak tidur lu?" tanya dokter Harun.
"Gue gak bisa tidur bro." jawab Rayhan.
"Kalau gitu shalat yuk, udah adzan itu. Mau ikutan ke mushollah gak?" tanya dokter Harun.
"Gue shalat disini aja, takutnya nanti Izzah bangun gak ada orang disampingnya." jawab Rayhan.
"Ya udah kalau gitu, gue jalan dulu ya." ucap dokter Harun.
Rayhan lalu menuju kamar mandi untuk berwudhu lalu menunaikan shalat subuh disamping Izzah.
Setelah selesai shalat Rayhan mengangkat kedua tangannya untuk berdoa.
"Ya Allah, ampunilah dosa-dosaku, dosa orang tuaku, dan dosa-dosa yang pernah diperbuat isteriku. Berilah kesembuhan pada isteriku, buatlah dia segera pulih dan kuatkanlah hatinya dalam menghadapi segala cobaan ini.
Ya Allah berikanlah kekuatan pada anakku untuk bertahan. Berilah kami kesempatan untuk menjadi orang tua yang baik baginya. Kabulkanlah ya Allah... Aamiin." ucap Rayhan khusyuk dengan deraian air mata.
Rayhan lalu duduk disamping Izzah membaca alqur'an.
Sejak pertama kali mengatakan cinta pada Izzah, Rayhan bertekad untuk berubah. Dia ingin belajar agama lebih dalam. Belajar untuk shalat yang baik dan benar serta mengaji.
Karena sejak kecil Rayhan tak pernah dibekali ilmu agama oleh orang tuanya.
__ADS_1
Ilmu agama Rayhan dapatkan hanya saat bersekolah. Mengajipun Rayhan terbata-bata, terkadang mang Diman lah yang mengajarnya, itupun jika ada tugas dari sekolah.
Tak terasa matahari sudah terbit, Rayhan tengah berdiri menatap bayi mungilnya. Sesekali bayi itu membuka matanya, walau kulitnya masih tipis tapi sudah bisa membuka dan menutup mata dengan sempurna. Tangan dan kakinya yang mungilpun sudah terbentuk sempurna. Rayhan kembali meneteskan air mata.
Dokter Harun kemudian masuk ruangan bersama dengan dokter Nuri.
"Selamat pagi pak Rayhan." sapa dokter Nuri.
"Selamat pagi dokter" jawab Rayhan. Tanpa basa-basi Rayhan langsung bertanya.
"Dokter, kenapa sampai sekarang isteri saya belum sadar juga?"
"Insyaallah sebentar lagi bu Izzah pasti siuman pak. Mungkin efek obat bius dan ada trauma yang dirasakan bu Izzah membuatnya sedikit lebih lama untuk sadar." jawab dokter Nuri.
"Lu yang tenang Ray, kondisi Izzah stabil. Dia baik-baik aja kok, pasti bentar lagi dia sadar." sambung dokter Harun.
Rayhan mengangguk. "Bu dokter, apa jenis kelamin anak saya?" tanya Rayhan.
"Apakah bayi kami bisa bertahan dokter?" tanya Rayhan dengan air mata yang menggenang.
"Insyaallah pak, kami akan melakukan yang terbaik untuk puteri cantik pak Rayhan. Sisanya kita serahkan pada Yang Maha Kuasa, yang penting kita sudah berusaha dan tidak lupa untuk selalu berdoa." jawab dokter Nuri.
"Terima kasih bu dokter."
Dokter Nuri mengangguk, lalu undur diri setelah selesai memeriksa kondisi bayi mungil Rayhan dan juga Izzah.
Rayhan dan dokter Harun kemudian duduk.
__ADS_1
"Lu gak ada jadwal piket?" tanya Rayhan.
"Gak ada Ray, kebetulan juga hari minggu jadi gue bebas. Makanya gue nemenin lu disini." jawab dokter Harun. "Ngomong-ngomong lu mau sarapan gak? Biar gue pesenin." sambungnya.
"Gue gak lapar Run." jawab Rayhan.
"Ya elah bro, jangan kayak gini dong. Kalau lu gak makan-makan nanti lu'nya bisa sakit, bisa gawat kalau lu sakit. Siapa yang bisa jagain isteri lu? Mau gue yang gantiin posisi lu?" goda dokter Harun.
Rayhan lalu tersenyum, "ternyata diam-diam lu naksir ya sama isteri gue?" ucap Rayhan sambil melingkarkan lengannya dileher dokter Harun.
"Ampun...ampun bro, gue cuma bercanda. Ah lu gitu aja marah. Cuma jujur aja ya gue kalau punya isteri pengen banget kayak isteri lu yang pakai hijab gitu. Kan adem liatnya."
"Berarti lu gak suka sama penampilan Lisa?" tanya Rayhan.
"Gue suka banget, malah udah cinta Ray sama Lisa. Cuma gak tau kenapa kadang gue risih aja lihat dia pake' baju yang rada-rada minim bahan gitu. Gue pengennya dia kayak isteri lu tertutup didepan orang dan bakalan seksi hanya didepan suaminya doang. Kalau Lisa bisa berpenampilan kayak Izzah kan lebih adem liatnya." ucap dokter Harun panjang lebar.
Tanpa mereka sadari Lisa sudah berdiri dipintu dan mendengar percakapan mereka.
"Kheemm... Selamat pagi semuanya." sapa Lisa.
Dokter Harun terlihat kikuk melihat Lisa, sementara Rayhan menahan tawa melihat tingkah sahabatnya itu.
"Ini aku bawain sarapan buat kalian. Tadi pagi-pagi aku udah buat sandwich, nih dimakan ya." ucap Lisa sambil menyodorkan kotak makanan pada Rayhan dan dokter Harun.
"Terima kasih ya Lis." ucap Rayhan.
Lisa tersenyum dengan pandangan yang tak lepas ke arah dokter Harun, membuat dokter Harun makin salah tingkah.
__ADS_1
Saat hendak menyantap sandwich tiba-tiba mereka dikagetkan dengan suara lirih Izzah yang memanggil Rayhan.
"Aa..aabang..." lirih Izzah.