
Alia dan Dafa tengah menunggu Arka di ruang makan untuk sarapan bersama.
"Mama hari ini libur, jadi aku tidak pergi sekolah." Ucap Dafa dan terlihat sangat bahagia karena hal itu.
Alia tersenyum lalu mengusap kepala Dafa dengan lembut.
"Iya. Kalau begitu, apakah kita harus pergi keluar rumah?" Tanya Alia.
"Yeeeeiii.....!!!" Teriak Dafa dengan bahagia.
"Kau mau pergi kemana sayang?" Tanya Alia lagi.
"Pergi ke taman Ma." Jawab Dafa.
"Baiklah kalau begitu nanti kita ajak Papa juga." Ucap Alia seraya kembali menyuapi Dafa.
Sementara itu, Arka terlihat datang dengan turun dari lantai atas. Wajahnya terlihat begitu khawatir dan dia tampak tengah mengobrol dengan seseorang di telepon.
"Aku akan segera datang." Ucap Arka dan berjalan lurus ke arah pintu.
Alia yang merasa aneh dengan tingkah Arka, mencoba untuk memanggilnya. Tapi dia tidak mendengar Alia dan langsung berjalan keluar rumah dengan cepat.
"Mama .." Ucap Dafa dengan suara yang hendak menangis dan begitu juga dengan wajahnya yang tampak sedih.
Alia lalu duduk kembali di kursi meja makan dan berkata kepada Dafa, "jangan khawatir sayang, kita bisa pergi berdua. Apa kau mau?" Tanya Alia.
Dafa langsung tersenyum dan mulai memakan sarapannya lagi dengan disuapi Alia.
'Aku harap semuanya baik-baik saja. Kenapa dia keluar rumah seperti itu? Dan dia bahkan tidak sarapan bersama kami.' ucap Alia dalam hati dan tampak khawatir tentang situasi yang tengah dihadapi Arka.
Sementara itu di rumah sakit...
"Nyonya, tolong turunlah itu sangat berbahaya." Ucap seorang perawat kepada Nabila.
Ruangan pasien di rumah sakit itu menjadi kacau karena ulah Nabila. Beberapa dokter dan perawat tampak panik karena Nabila hendak melompat turun dari jendela ruangan yang berada di lantai 3 itu.
"Tidak, aku tidak mau turun. Panggil suamiku sekarang." Teriak Nabila kepada mereka semua dan mengancam mereka.
"Wanita ini sudah gila. Cepat panggil suaminya." Ucap salah seorang dokter dengan perlahan kepada seorang perawat.
"Iya dokter." Balas perawat itu dan bergegas pergi.
'Hmmmppphhh.... Sekarang semua orang akan tahu bahwa Nyonya Wijaya yang sebenarnya masih hidup.' ucap Nabila dalam hati dengan tersenyum licik di wajahnya.
'Kemudian, bagaimana dengan nasib wanita itu? Sudah tentu dia akan dibuang jauh dari keluarga itu hahaha.' ucap Nabila lagi dalam hati dan ingin tertawa terbahak.
"Apa yang sedang terjadi?" Arka masuk ke dalam ruangan itu dan bertanya kepada asisten nya.
"Arkaaa...." Teriak Nabila dan mulai menangis dengan keras.
"Oh ya Tuhan! Nabila, apa sebenarnya yang sedang kau lakukan?" Ucap Arka berjalan ke arah Nabila dan membuat Nabila turun dari atas jendela.
Nabila langsung turun dan memeluk Arka dengan erat dan berkata, "aku tahu bahwa kau akan datang."
'Bagaimana mungkin aku tidak datang, aku ingin untuk membuang mu dengan tangan ku sendiri.' ucap Arka dalam hati dan rahangnya tampak
Arka kemudian melihat kearah Nabila dengan ekspresi yang khawatir dan kembali berkata,"bagaimana mungkin aku tidak datang. Bagaimana pun kau itu adalah hidupku."
'Kau adalah orang yang sudah merusak hidupku dan mengambil semua kebahagiaanku.' ucap Arka dalam hati dan mulai merasa marah.
Sementara itu, Nabila tersenyum dan Arka balik tersenyum ke arahnya dengan keadaan terpaksa.
'Arka adalah milikku dan begitu juga dengan semua properti miliknya. Nabila tidak pernah salah. Aku bisa memenangkan semuanya dengan kepintaran ku.' ucap Nabila dalam hati dan tersenyum seraya memeluk Arka erat.
Disisi lainnya...
Alia pergi ke kamar Arka. Dia tengah mencari anting-antingnya.
"Di mana sebenarnya anting-anting itu?" Ucap Alia dan mencoba mencari antingnya dibawah tempat tidur.
Dan kemudian Alia duduk diatas tempat tidur seraya menghela napas.
"Lupakan saja." Ucap Alia dan hendak keluar dari dalam kamar, tapi kemudian dia melihat ke arah bingkai foto Nabila.
Bingkai foto itu sudah ada di bawah meja. Alia pun mengangkatnya dan melihat bahwa bingkai itu sudah rusak.
'Oh tidak. Bagaimana ini bisa terjadi? Arka pasti sangat marah. Tapi siapa yang melakukannya? Ah, mungkin saja seorang pelayan.' ucap Alia dalam hati dan kemudian melihat kearah gambar Nabila dengan hati-hati.
'Kenapa aku merasa, sepertinya aku pernah melihatnya di suatu tempat ya?' Alia tampak berpikir.
Aliya kemudian mengingat hari dimana dia menabrak seorang wanita misterius.
Alia pun menjadi terkejut. Dia kemudian mulai bingung dalam pikirannya.
'Bagaimana mungkin ini bisa terjadi? Tidak... Aku pasti berhalusinasi. Nona Nabila sudah meninggal bukan? Lalu siapa wanita yang aku tabrak itu?' ucap Alia dalam hati dan tampak begitu khawatir.
Alia lalu beranjak keluar dari dalam kamar Arka. Dia kembali ke dalam kamarnya. Bersiap-siap untuk pergi ke taman bersama Dafa.
__ADS_1
Dafa sendiri sudah duduk manis di ruang keluarga menunggu Alia yang masih bersiap-siap. Tiba-tiba dari arah pintu ruang tamu, dua orang masuk secara bersamaan.
"Dafaaa...."
Dafa yang menengok melihat sosok yang memanggilnya itu sontak tampak bahagia.
"Omaaa.... Opaaa...." Teriak Dafa seraya berlari mendekat ke arah Izzah dan Reyhan.
Izzah tidak dapat menahan dirinya untuk bisa bertemu dengan Dafa. Pagi-pagi sekali, dia sudah memaksa sang suami untuk mengunjungi Dafa, sekalian juga Izzah ingin bertemu menantunya. Karena setelah mendengarkan apa yang dikatakan Arka tentang Alia yang tiba-tiba sakit saat malam dimana sebenarnya mereka semua akan makan malam bersama.
Sebelumnya di kediaman Reyhan dan Izzah....
"Ayolah, kita pergi ke rumah Arka hari ini. Mumpung hari minggu, Dafa kan tidak sekolah." Rengek Izzah.
Reyhan sebenarnya tengah malas untuk keluar rumah. Apalagi pikirannya tengah kacau karena kehadiran Nabila kembali. Tapi Reyhan paling tidak bisa jika melihat istri tercintanya meminta sesuatu apalagi sampai merengek.
"Baiklah, baik. Ayo kita pergi." Balas Reyhan.
Dan disinilah mereka sekarang.....
Dafa duduk dipangkuan sang Oma dan tampak bercerita tentang kedekatan dirinya dengan Mama sambungnya itu.
"Oh ya? Papa sudah bisa tersenyum sama Mama kamu?" Tanya Izzah.
"Iya Oma. Malah sekarang, tiada hari tanpa senyum Papa." Ujar Dafa.
Izzah tampak tersenyum, dia merasa bersyukur. Tenyata anak sulungnya itu akhirnya bisa tersenyum lagi setelah sekian lama. Semenjak kepergian Nabila, Arka sudah menjadi pribadi yang begitu dingin dan jarang untuk tersenyum.
"Oma, kenapa ya, wajah Mama sering sekali merah?" Tanya Dafa.
"Merah?" Ucap Izzah dibalas anggukan Dafa.
"Apa mungkin Mama Dafa demam?" Ucap Reyhan yang tiba-tiba berbicara, padahal sejak tadi dia tengah sibuk dengan ponselnya.
"Sepertinya tidak." Balas Dafa.
"Lalu kenapa?" Tanya Izzah.
"Wajah Mama sering merah saat bersama Papa. Apalagi tadi pagi, Papa mencium pipi Mama dan wajah Mama langsung berubah seperti tomat." Ujar Dafa.
Apa yang dikatakan Dafa langsung membuat tawa Reyhan keluar.
Tepat saat itu, Alia tampak turun dari lantai atas. Sejak tadi, dia tidak menyadari bahwa kedua mertuanya datang.
"Ayah, Ibu..." Ucap Alia dengan wajahnya yang terlihat cemas.
Reyhan mengangguk, sementara Izzah tersenyum dan langsung berdiri mendekati dengan Alia setelah menyerahkan Dafa untuk dipangku Reyhan.
"Baru sekitar 5 menit." Balas Izzah. "Kamu udah baikan kah? Ibu dengar dari Arka bahwa kau tengah kurang sehat malam itu saat Ibu sudah menunggu kalian untuk makan malam di rumah." Lanjut Izzah.
"Aku sudah baikan Bu. Malam itu hanya sedikit kaget saja dan kelelahan."
Izzah memegang tangan menantunya itu lalu mengajaknya duduk di kursi ruang keluarga bersama dengan Dafa dan juga Reyhan.
"Apa kalian berniat untuk keluar rumah?" Tanya Reyhan yang melihat penampilan menantunya sudah sangat rapi.
"Iya Opa, aku sama Mama mau pergi ke taman." Balas Dafa.
Reyhan tersenyum mencubit pipi Dafa. Alia mendekat ke arah ayah mertuanya lalu menyalaminya kemudian kembali duduk disamping ibu mertuanya.
"Sepertinya Ibu sama Ayah, datang di waktu yang kurang tepat." Ucap Izzah.
"Gak kok Bu." Balas Alia. "Hemmmm Bu, aku boleh bicara sesuatu gak sama Ibu?" Tanya Alia seraya menatap Izzah lalu menatap ayah mertuanya.
Reyhan yang seolah mengerti dengan apa yang dimaksud Alia, bergegas bangun dan mengajak Dafa ke ruangan lain agar Alia dan Izzah leluasa untuk mengobrol berdua.
Setelah Reyhan pergi, Alia langsung berbicara dengan Ibu mertuanya.
"Bu, aku mau tanya sesuatu tentang istri pertamanya Arka." Ucap Alia tanpa basa-basi.
Raut wajah Izzah mendadak berubah. Dia tampak heran, apa yang sebenarnya ingin ditanya Alia tentang Nabila.
"Ada apa Nak? Apa ada sesuatu yang mengganjal di hati kamu?" Tanya Izzah.
"Mmmm... Gini Bu, aku mau tanya tentang bagaimana istri pertamanya Arka bisa meninggal."
"Apa Arka memperlakukanmu dengan tidak baik, dan masih terus mengingat Nabila dihadapan kamu?" Tanya Izzah lagi.
"Bukan begitu Bu. Arka sama sekali tidak pernah menyebutkan tentang istri pertamanya itu. Arka sangat baik. Aku hanya penasaran saja." Jawab Alia.
Izzah menghela napas, dia lalu kembali mengingat kejadian dimana Nabila meregang nyawa sesaat setelah melahirkan Arka.
"Saat itu, Nabila mengalami kontraksi hebat yang membuatnya langsung dibawa ke rumah sakit. Singkatnya dia tidak bisa melahirkan secara normal, jadi dokter mengambil tindakan untuk melakukan operasi melihat kondisi Nabila yang lemah. Namun, pasca operasi keadaan Nabila semakin memburuk. Dia mengalami pendarahan hebat. Hingga membuat nyawanya tidak tertolong. Sehari setelah Dafa lahir, Nabila akhirnya menghembuskan napas terakhirnya." Ujar Izzah kembali mengingat kejadian yang membuat hidup puteranya berubah itu.
'Kalau benar Nabila memang sudah meninggal, lalu siapa wanita yang aku tabrak itu? Kenapa dia begitu mirip dengan Nabila?' tanya Alia dalam hati.
Alia sedikit kaget karena Izzah memegang tangannya.
__ADS_1
"Nak, Ibu harap kamu bisa selalu mendampingi Arka. Seperti yang Dafa katakan, akhir-akhir ini Arka menjadi sering tersenyum karena dirimu. Ibu merasa bahagia sekali, karena sejak kepergian Nabila, Arka benar-benar berubah menjadi seorang pria yang begitu dingin. Terima kasih ya, sudah mau menerim Arka dengan kondisinya yang seperti ini. Dan Ibu juga sangat berterima kasih karena kamu sudah menyayangi Dafa, lebih dari yang Ibu bayangkan."
Alia kembali tersenyum, namun pikirannya kembali kacau saat memikirkan tentang Nabila.
'Bagaimana mungkin orang yang sudah meninggal, bahkan sudah dikuburkan bisa hidup kembali? Ah, aku rasa mataku hanya salah lihat.' ucap Alia dalam hati.
Setelah beberapa saat, Reyhan dan Izzah akhirnya pamit. Mereka hendak mengunjungi Arsha, juga cucu mereka Denis. Sementara Alia dan Dafa melanjutkan agenda mereka untuk pergi ke taman.
>>>> >>>> >>>> >>>> >>>>
Seluruh kota akhirnya tahu tentang Nabila. Kabar tentang dirinya itu menyebar seperti sebuah virus. Mia dan Herry yang tengah menonton berita itu tampak terkejut dengan hal itu.
"Bagaimana mungkin ini bisa terjadi?" Ucap Mia berdiri dari sofa dan wajahnya tampak begitu terkejut.
"Semua ini pasti lelucon." Ucap Herry dan tampak marah.
'Aku tidak akan memaafkan dia. Jika aku sampai melihat air mata di wajah adikku.' ucap Herry dalam hati dengan wajah yang tampak begitu marah.
Sementara Tuan Luiz hanya terdiam dengan menatap layar televisi yang menampilkan wajah Arka dan Nabila itu.
Sementara itu di tempat lain...
Alia dan Dafa sudah keluar rumah. Alia mengendarai mobilnya sementara Dafa tengah duduk di kursi belakang.
"Mamaaaa.... Lihat itu Papa." Ucap Dafa dengan melihat ke arah luar jendela.
Alia menghentikan mobilnya dan melihat kearah berita yang disiarkan secara langsung. Arka tengah berdiri di samping Nabila dengan memegang tangannya dan Nabila sendiri tengah memeluknya. Ekspresi di wajah Alia langsung berubah. Dia langsung keluar dari dalam mobil dan melihat kearah berita yang disiarkan secara langsung.
"Ini...." Alia tidak dapat berkata apapun lagi setelah melihat berita itu.
Berita itu sangat membuatnya terkejut. Begitu terkejut hingga dia tidak mampu berkata apapun.
"Mama apa yang terjadi?" Tanya Dafa dan melihat kearah Alia.
Alia melihat ke arah Dafa dengan wajah yang sedih dan dia duduk kembali ke dalam mobil.
'Sekarang aku tidak tahu apa yang harus aku katakan. Oh Tuhan! Situasi macam apa yang Engkau berikan kepadaku ini. Ini semua tidak masuk akal.' ucap Alia dalam hati dan mulai menjalankan mobilnya.
Alia mencoba untuk tetap tampak tenang tentang semua yang terjadi.
Setelah beberapa saat...
Alia pun pergi ke taman dengan memegang tangan Dafa. Dia masih merasa terganggu tentang berita itu. Semua itu sangat sulit untuk dicerna.
"Mama tangkap aku..." Ucap Dafa dan mulai berlari menjauh dari Alia.
"Tunggu Dafa. Jangan lari." Ucap Alia dan berlari di belakang Dafa.
Tiba-tiba Dafa menabrak seorang pria. Dia melihat ke atas dan berkata dengan wajahnya yang berbinar, "Papa..."
Arka lalu menggendong Dafa di lengannya.
"Iya, ini adalah Papa mu." Ucap Arka seraya mencium pipi Dafa dan tersenyum.
'Arka.... Kenapa dia bisa ada disini? Bukankah dia ada di siaran langsung itu? Lalu bagaimana dia bisa datang kemari?'
Ucap Alia dalam hati dan tampak kebingungan.
Kepala Alia mulai terasa sakit karena semua berita yang dilihatnya dan segala hal yang terjadi. Arka berjalan mendekat kearah Alia dan berkata, "apa kau pikir bahwa aku tidak akan datang?"
Sementara Alia melihat kearah Arka dengan wajah yang serius dan berkata, "siapa lah aku ini yang harus berpikir tentang semuanya."
Arka lalu memegang tangan Alia dan berkata, "kau adalah istriku dan kau akan selalu menjadi istriku yang terbaik.
Entah kenapa Alia merasa bahagia setelah mendengarkan apa yang dikatakan Arka. Dia memutar kepalanya dan tersenyum.
"Bukan begitu Dafa?" Tanya Arka dengan tersenyum.
"Iyaa!!" Balas Dafa dan tersenyum dengan ceria.
Alia melihat kearah mereka dan tersenyum setelah melihat mereka yang seperti itu.
"Jika kau sudah ada disini maka aku akan pergi." Ucap Alia dan berbalik untuk meninggalkan mereka berdua.
Tapi Arka tidak melepaskan tangan Alia dan malah memegangnya dengan semakin erat.
"Tanpa dirimu, mami tidak akan sempurna." Ucap Arka dengan wajah yang serius.
'Sebenarnya apa yang dia maksud dengan hal seperti ini? Dia seharusnya bersama istri pertamanya. Bagaimanapun juga, hanya untuk Dafa aku akan berada di sini sekarang.' ucap Alia dalam hati dan kembali berbalik.
"Lepaskan tanganku." Ucap Alia dengan wajah yang cemberut.
"Aku tidak akan melepaskannya." Balas Arka dan berjalan mendekat.
"Kenapa?" Tanya Alia dan tampak kesal.
"Aku tidak akan memegangnya jika untuk melepaskannya lagi suatu hari nanti. Aku akan memegang tangan ini selamanya." Ucap Arka dengan tersenyum.
__ADS_1
Hal itu membuat jantung Alia berdegup kencang. Dia semakin merona malu.
Bersambung.....