Aku Wanita Simpanan

Aku Wanita Simpanan
Manis


__ADS_3

Hari-hari berikutnya Rayhan dan Izzah sering bertanya tentang Devan dan pendapat Arsha tentangnya. Tak banyak yang bisa dijawab Arsha, karena memang dulu keduanya sama sekali tidak dekat. Arsha hanya sekadar tahu, kalau Devan anak nge-hits di Fakultas Ekonomi kala itu.


Kehadiran Devan, rasanya seperti mimpi. Demi apa, sih, Devan tiba-tiba datang ke kehidupanku?


Ingatan Arsha seperti berputar ke masa lalu, tentang masa-masa kuliah.


Kayaknya dulu aku nggak pernah dekat dengannya, apalagi sampai punya hubungan spesial. Tapi kenapa ia tiba-tiba melamar?


"Ah, perlu diselidiki ini." ucap Arsha seraya berangkat bekerja.!


***********************


Seperti biasanya, saat jam makan siang tiba, Arsha akan mengajak Vita untuk makan siang bersama.


"Jangan mimpi, deh." ucap Vita seraya memakan bakso pesanannya.


Vita tak percaya kalau kemarin adalah uang Devan yang ditemukan Arsha, ditambah Devanjuga melamarnya.


"Terserah kamu aja kalau nggak percaya. Ngapain juga aku bohong." Arsha kembali memasukkan bakso sapi ke mulutnya.


"Nggak percaya, ah. Lagian tahu sendiri selera Devan itu kayak Sherly, Manda, Bella, yang gaul itu dah. Bukan cewek rumahan macam kita, eh kamu aja deh. Aku mah udah punya pacar."


"Punya pacar doang, tapi nggak dinikah-nikahin."


"Lagi ngumpulin modal dianya Sha. Doain aja deh."


Arsha tergelak. Vita, sahabatnya itu memang sudah pacaran selama lima tahun, kalau saja buat kredit motor pasti sudah lunas.


"Tapi kalau emang benar Devan ngelamar, terima aja."


Arsha mendesah panjang. "Masih takut."


"Takut apaan?" tanya Vita.


"Takut kalau itu cuma boongan Vit."


"Kalau bohong, dia gak mungkin nemuin orang tua kamu."


Arsha terdiam, sambil menyeruput jus jeruk.


Sore harinya sepulang dari rumah sakit tempatnya bekerja, Arsha langsung pulang ke rumahnya.


Saat masuk ke halaman rumah, matanya memicing ketika melihat ada motor yang terparkir di depan rumahnya.


"Ada tamu kayaknya," ucap Arsha.


Kayaknya itu motor Devan.


Arsha ingat betul, motor itu yang selalu dipakai Devan saat kuliah dulu. Dari ujung dunia, suara motornya sudah banyak dihafal cewek-cewek ketika masuk ke parkiran, pun dengan Arsha.


Dulu Arsha juga sempat kagum dengan Devan. Nama Devan begitu terkenal, bukan hanya tampang tetapi juga karena sering gonta-ganti boncengan cewek cantik setiap hari. Di sisi lain, ia aktif mengikuti banyak kegiatan, dan yang pasti di mana ada Devan, di situ ada asrama cewek.

__ADS_1


Dan sekarang, tiba-tiba ia muncul terus berniat melamarku. Aneh bukan?


Saat Arsha turun dari mobil, terdengar jeas gelak tawa Rayhan dan seseorang.


"Assalamualaikum." Arsha masuk ke rumah yang kebetulan pintunya terbuka.


Jawaban salam terdengar serempak dari dua orang di ruang tamu. Bener saja, ada Devan di sana.


"Baru pulang Nak?" tanya Rayhan


"Iya, Yah," jawab Arsha.


"Banyak pasien?" tanya Rayhan lagi.


"Iya Yah, aku ke kamar dulu, Yah," pamit Arsha.


Tak memedulikan Devan, Arsha segera berjalan masuk ke kamar.


Arsha mencoba mengingat-ingat, kapan dan dimana dia telah berkomunikasi dengan Devan.


"Apa pas ospek kali ya?" ucap Arsha yang duduk di tepian tempat tidurnya.


Ospek? Ah, ya ... aku ingat.


Kala itu aula awalnya sepi karena bosan mendengar sambutan seketika heboh karena Devan maju ke depan sebagai perwakilan dari mahasiswa baru.


Dulu Arsha memang pernah kagum padanya. Terkadang kalau sedang ada kegiatan kampus, Arsha sering curi-curi pandang ke Devan.


Arsha kembali mengingat saat acara baksos di sebuah daerah perkampungan, keduanya mengobrol untuk pertama kalinya. Ada lima puluhan orang yang ikut saat itu. Sebagian naik mobil untuk membawa sembako, sebagian naik motor dan saling berboncengan.


Saat itu Arsha sedang mendata nama-nama penerima sembako, ia mendadak gagal fokus karena Devan tiba-tiba masuk. Posisi Arsha sedang sendirian di ruangan yang memang disiapkan untuk panitia inti.


"Gimana? Datanya sudah siap?" tanya Devan berjalan ke arah Arsha.


"Dikit lagi, bentar." Arsha mencoba kembali fokus, tetapi yang ada, Arsha malah semakin tidak bisa konsen karena Devan duduk tepat di hadapannya, meski ada meja di antara keduanya.


"Tumben sendirian? Biasanya sama dua temanmu itu."


"Kan udah ada tugas masing-masing," jawab Arsha setenang mungkin.


"Perlu dibantu?" Devan terlihat akan berdiri.


"Duduk! Duduk lagi!" Arsha refleks berteriak ke arahnya dan membuat Devan tampak kebingungan. "Ma-af. Mending kamu keluar aja, karena nggak bakal selesai-selesai kalau kamu di sini."


"Kenapa? Perasaan aku diem aja." tanya Devan bingung.


Kamu diem aja udah ganggu pikiranku, Bambang!


Karena Devan tak keluar, Arsha kemudian berdiri.


"Ya udah, aku selesaiin di luar aja." Arsha bersiap keluar membawa laptop.

__ADS_1


"Kenapa selalu ngehindar?"


"Siapa?"


"Kamu. Aku punya salah sama kamu?"


"Enggak."


"Terus?"


"Nggak kenapa-napa."


"Jawab dulu." Devan tiba-tiba menghadang saat Arsha akan berjalan melewatinya.


"Jawab dulu kenapa, baru aku minggir."


Arsha mendengkus kesal, lalu kembali duduk dan membuka laptopnya. "Nggak jadi keluar."


"Oke." Devan juga ikut duduk di tempat semula. "Tapi aku tetep nagih jawaban dari pertanyaanku tadi."


'Ya karena kamu terlalu tampan dan playboy. Aku takut jatuh cinta kalau deket-deket!'


Sayangnya, Arsha hanya bisa mengatakan semuanya dalam hati. Karena setelahnya hanya kebisuan yang terjadi diantqra mereka.


Suara ramai-ramai dari arah dapur membuat Arsha tersadar dari lamunannya.


Arsha bergegas berganti pakaian, lalu beranjak ke dapur. Menarik napas panjang saat melihat ada tiga manusia di sana tengah mengobrol hangat, sementara satu orang lagi yaitu Arka, ia terlihat cuek.


Arsha berjalan ke arah lemari es, lalu mengambil air putih.


"Tolong buatin jus jeruk, Nak. Ini Devan belikan salad buah kesukaan ayah." ucap Rayhan.


Empat gelas jus jeruk sudah siap. Arsha meletakkan di meja, lalu ia duduk di dekat Arka.


"Diminum, Nak Devan. Jus jeruk buatan Arsha ini paling enak, manisnya pas," ucap Izzah sambil meletakkan gelas di depan Devan.


Arsha hanya tersenyum tipis sambil mencomot bolu karamel buatan Izzah.


"Iya, enak, Bu," ucap pria berkaus putih itu setelah meneguk beberapa kali.


"Nah, kan. Apa Ibu bilang." ucap Izzah.


"Beneran manis, seperti yang buat," lanjut Devan yang seketika membuat napas Arsha tersendat.


"Hik!" Sepertinya bolu karamelku nyangkut. "Hik!"


"Cegukan kamu, Sha?" tanya Arka yang sedari tadi hanya terdiam.


"En-nggak, Hik! Hik!"


"Nih minum dulu." ucap Arka menyodorkan jus jeruk pada Arsha.

__ADS_1


__ADS_2