Aku Wanita Simpanan

Aku Wanita Simpanan
27. Treatment


__ADS_3

Alia memang sangat menikmati ciuman Arka tadi. Entah darimana Arka mempelajari itu, yang pasti ciuman Arka itu benar-benar membuat Alia merasakan sensasi yang berlebihan. Alia sama sekali tidak bisa menolak jika bibir Arka sudah mengenai bibirnya. Rasanya seperti ada magnet yang menarik Alia agar terus tenggelam dan menikmatinya sampai puas.


“Cukup... Cukup... jangan berpikiran yang macam-macam Alia Luiz."


Alia menggelengkan kepalanya berkali-kali untuk menghilangkan pikiran kotor yang berkecamuk di otaknya. kemudian menjulurkan tangan kanannya untuk mengambil baju yang tergantung di dalam lemari.


Sebuah dress santai selutut, berwarna biru muda dipadu dengan kaus putih yang simpel. Dress pemberian Mia ketika Alia akan pergi honeymoon. Mia mengatakan baju ini pasti akan sangat pas jika Alia yang memakainya.


'Hum, dan aku benar-benar menyukai dress yang diberikannya.'


Mia juga memberikan sebuah topi lucu yang cocok dengan dress nya. Tapi Alia sedikit merasa tidak nyaman jika harus menggunakannya juga.


“Wah ini terlihat bagus.” Gumam Alia sembari membetulkan letak topi di kepalanya.


Alia memandangi baju pemberian Mia yang memang sangat pas di tubuhnya. Alia berdiri tegak di depan cermin, memandangi pantulan dirinya sendiri.


"Ah ya benar, aku harus mengambil foto ketika aku mengenakan dress ini. Aku akan memperlihatkannya kepada Kak Mia nanti. Dia pasti akan sangat senang melihatku mengenakan baju pemberiannya." Ucap Alia.


Alia lalu berjalan menuju sofa, dan mengambil tas selempang yang selalu ia bawa. Merogoh sebuah kamera digital di dalamnya.


Alia kembali berdiri di depan cermin, kemudian memotret dress yang dia pakai. Topinya benar-benar terlihat serasi, tapi Alia tidak nyaman memakainya.


"Hem, setidaknya aku sudah memperlihatkan pada Kak Mia jika aku mengenakan semua pemberiannya."


Sementara itu di dalam kamar mandi, Arka tengah membasuh tubuhnya di bawah shower. Bibirnya tak bisa berhenti tersenyum jika mengingat kejadian semalam dan juga morning kiss yang baru saja dia dan Alia lakukan. Arka memang sangat menikmati ciuman tadi. Rasanya seperti ada magnet yang menarik Arka agar terus tenggelam dan menikmatinya sampai puas. Arka akan sangat senang jika Alia memberikan respon positif dengan cara membalas ciumannya atau sekedar mengeluarkan suara pelan yang sangat indah mengalun ke telinga Arka.


Arka memang sangat suka dengan ciuman Alia, karena mereka berdua memang jarang sekali melakukannya, bisa dibilang ciuman tadi pagi adalah ciuman ke-4 yang mereka lakukan selama kurang lebih 2 bulan usia pernikahan mereka. Bahkan masih dapat dihitung dengan jari.


Setelah selesai mandi, Arka keluar dengan menggunakan jubah mandi berwarna putih. Dia melihat Alia sedang asik memotret pantulan bayangannya sendiri di depan cermin.


'Tapi kenapa yang dia potret hanya bajunya saja. Kenapa tidak menunjukan wajah cantiknya?'


“Ehm…”


Deheman keras Arka membuat Alia melonjak kaget dan segera menghentikan aktifitasnya. Alia kembali membetulkan topinya yang sedikit miring. Topi itu terlihat sangat serasi dengan dress biru muda yang dikenakannya. Tapi Arka sedikit tidak suka karena topinya itu menutupi dahi indah favoritnya.


“Kau sudah selesai? Cepatlah pakai bajumu! Setelah itu kita sarapan dibawah, dan memulai perjalanan kita hari ini." Ucap Alia.


“Baik Nyonya Wijaya. Em, aku akan mengenakan bajuku disini saja.“ Balas Arka sembari tersenyum lebar dan bersiap untuk menarik ikatan tali jubah mandinya.


Alia terlihat sangat kaget kemudian segera mengangkat kedua tangannya dan berteriak keras.


“STOP... STOP... Jangan disini bodoh. Kau seharusnya memakai baju di kamar mandi." Teriak Alia dengan suara yang cukup keras.


Arka hanya terkekeh melihat ekspresi panik Alia. Arka selalu senang menggoda Alia dengan cara seperti ini. Alia akan menjadi sangat gugup, wajahnya berubah jadi merah dan matanya tidak bisa fokus. Dan itu terlihat sangat lucu bagi Arka, wajah polos Alia benar-benar membuat Arka gemas.


“Kenapa? Bukankah kau menyukai six pack di perut ku ini, huh? Bukankah kau juga suka sekali membenamkan wajahmu di dada bidang ku? Kau bahkan tidur dengan sangat nyenyak jika memeluk tubuhku, iya kan?”


Arka masih terkekeh geli sembari memainkan tali jubah mandi yang dia kenakan. Hal itu membuat Alia menutup matanya dengan sebelah tangan, karena tangan kanannya masih menggenggam sebuah kamera digital.


Arka berjalan menghampiri Alia, menarik tangan kiri yang menutupi wajahnya. Kemudian berbisik pelan tepat di telinganya.


“ini masih pagi sayang. Mungkin nanti malam akan lebih menyenangkan.”


Arka dapat mendengar Alia menelan ludah dengan gugup. Wajahnya kembali berubah menjadi merah.


'Ahaha, Alia Luiz, kau benar-benar lucu.'


“YAK! Apa yang kau katakan, cepat pakai bajumu sana. Kita sudah terlambat." Bentak Alia tepat di depan wajah Arka, yang membuat Arka memundurkan wajahnya untuk menghindarinya.


“Baiklah." Ucap Arka.


Arka melangkahkan kakinya untuk mengambil baju yang akan dia kenakan. Sebuah kaos tipis berwarna putih, hoodie dan celana jeans berwarna biru. Kemudian melangkah masuk ke kamar mandi.


Hari ini mereka akan pergi ke pantai.

__ADS_1


Arka kembali keluar dari kamar mandi, setelah mengenakan baju. Dia melihat Alia masih asyik memotret bayangannya sendiri di depan cermin.


“Kau sudah selesai? Ya Tuhan, kau tampan sekali Tuan Wijaya.” Ucap Alia seraya menghampiri Arka yang masih berdiri tepat di depan pintu kamar mandi.


“Kau benar-benar cocok dengan hoodie ini sayang.”


Alia mengulurkan tangannya untuk memakaikan hoodie itu ke kepala Arka.


“Ya ampun, tampan sekali.” Ujar Alia kemudian tersenyum sembari merapihkan hoodie Arka dengan sebelah tangan, karena tangan kanannya masih menggenggam kamera digital yang sejak tadi tidak lepas dari genggamannya itu.


“Benarkah? Apa kau tidak pernah menyadari ketampanan ku sebelumnya, huh?” Tanya Arka.


“Em.... Kau hanya terlihat tampan di waktu-waktu tertentu saja. Jadi maafkan aku jika aku tidak bisa mengakui ketampanan mu sejak dulu.” Balas Alia.


“Aish... Kau ini. Seharusnya bangga menjadi istri dari pria tampan sepertiku."


“Iya, aku bangga menjadi Nyonya Wijaya.”


“Baguslah jika seperti itu.”


“Hemm berpose lah. Aku akan memotret mu." Ucap Alia kemudian berjalan mundur sembari menyiapkan kamera digital dengan kedua tangannya.


Arka hanya bisa menuruti permintaan istrinya ini tanpa berkomentar sedikitpun.


'Biarkan dia mengabadikan ketampanan ku di kamera kesayangannya itu.' ucap Arka dalam hati sembari tersenyum.


“Tersenyumlah. Satu... dua.... tiga....”


***********


Setelah selesai bersiap, mereka berdua turun ke lobby. Mereka pergi untuk sarapan sebentar kemudian segera menemui seorang tour guide wanita yang sejak kemarin membimbing mereka mengeksplorasi keindahan di tempat itu. Hari ini jadwal mereka adalah a day fun ship cruise. Itu berarti seharian mereka akan bermain air. Tapi Alia meminta tour guide itu agar mengantarkan mereka terlebih dahulu ke tempat spa.


Perjalanan pesawat mereka memakan waktu yang cukup lama, ditambah lagi kemarin mereka seharian berada di luar dan berjalan kesana-kemari. Sangat menyenangkan memang. Tetapi Alia juga merasa tubuhnya sedikit lelah. Jadi Alia berinisiatif untuk melakukan treatment spa terlebih dahulu sebelum mereka memulai perjalanan hari ini.


Alia tahu bahwa Arka juga pasti sangat lelah, dan Alia ingin Arka juga mendapatkan sedikit rasa nyaman dan merilekskan tubuhnya.


Mereka diantarkan menuju sebuah tempat spa yang cukup nyaman. Arka menyuruh tour guide itu untuk meninggalkan mereka disana dan memintanya kembali beberapa saat setelah mereka selesai melakukan spa. Arka tidak ingin membuat tour guide itu menunggu dengan resah tanpa melakukan apapun.


Akhirnya mereka berdua masuk ke dalam tempat spa. Alia benar-benar sudah tidak sabar untuk meregangkan ototnya. Berendam di dalam air, dikelilingi dengan aroma terapi dari lilin disekitar bath tub. Kali ini mereka akan melakukan treatment tradisional dari daerah sana.


Alia dan Arka duduk bersebelahan di sebuah tempat khusus yang sudah disiapkan di dalam satu ruangan. Dua orang wanita menghampiri mereka dengan berbagai hal di tangannya.


'Tunggu sebentar.... Emm... Dua wanita? Itu berarti salah satu diantaranya akan melakukan treatment Arka dan dia juga pasti akan menyentuh tubuh suamiku. Ya Tuhan, aku benar-benar tidak rela.'


Alia menatap tajam kearah Arka, ketika petugas treatment itu mulai mendekat. Kedua petugas itu berdiri tepat di hadapan mereka, membungkukkan badan mereka singkat dan menyapa dengan bahasa inggris yang fasih.


Alia terus saja melayangkan tatapan tajamnya kearah Arka, hingga akhirnya mengerti dengan ketidakrelaan Alia.


Akhirnya, Arka meminta salah satu diantara wanita itu untuk bergantian dengan seorang petugas treatment pria.


Wanita itu mengangguk paham kemudian berjalan keluar. Beberapa saat kemudian masuklah seorang pria dengan seragam khas. Pria itulah yang akan menggantikan tugas rekan wanitanya tadi.


'Baguslah. Sekarang semuanya adil. Yang melakukan treatment kepadaku adalah seorang wanita, dan Arka tentu saja yang melakukan treatment padanya adalah seorang pria. Dengan seperti ini, setidaknya aku tidak perlu menyaksikan tangan wanita lain menggerayangi tubuh indah suamiku. Aku sendiri bahkan belum pernah melakukannya.' ucap Alia dalam hati.


Mereka berdua dipersilahkan untuk mengganti baju dengan sebuah jubah panjang dengan tali yang melingkar di pinggang. Motifnya sangat unik dengan corak etnik yang sangat mencolok. Mereka mengatakan ini adalah kain tradisional daerah itu. Ada perasaan bangga ketika mengenakannya.


Treatment itu di mulai dengan pencucian kaki dengan garam laut di foot bath selama kurang lebih 5 menit, setelah itu selama 10 menit mereka berdua dimanjakan dengan herbal body steam yang berguna untuk membuka pori–pori tubuh dan mengeluarkan racun–racun yang ada didalamnya.


'Ah, rasanya benar-benar nyaman.' ucap Alia dalam hati.


Mereka berdua menikmatinya dengan sangat antusias. Alia memang sangat suka pergi ke spa bersama dengan Mia, kakaknya sebelum dia menikah dulu. Tapi kali ini rasanya berbeda bagi Alia, mungkin karena kali ini yang berada di sampingku adalah Arka, bukan kakak iparnya.


Kali mereka berdua menikmati pemijatan khas daerah itu. Kedua staf yang bertugas sudah sangat berpengalaman, karena bisa melakukannya dengan sangat baik.


Kurang lebih 60 menit mereka mendapatkan pijatan lembut di tangan kaki dan juga punggung. Alia mengarahkan pandangannya ke arah Arka yang juga sedang tertelungkup tepat di sampingnya. Yang melakukan treatment padanya adalah seorang pria. Mungkin terlihat sangat aneh bagi orang lain, tapi Alia benar-benar tidak rela jika yang melakukannya adalah seorang wanita.

__ADS_1


Alia tersenyum melihat mata Arka yang sangat mengantuk. Beberapa kali dia hampir terpejam, karena mereka tidak melakukan dialog sama sekali selama pemijatan. Alia terus saja memandangi wajah nyamannya sampai akhirnya Alia melihat Arka tertidur lemas.


'Ahaha, lucu sekali. Pasti dia merasa sangat nyaman ketika mendapat pijatan lembut di tubuhnya yang sudah sangat lelah.'


60 menit terlewati begitu saja. Sangat nyaman dipijat lembut seperti itu sampai-sampai ternyata sudah satu jam mereka menikmatinya. Alia melirik Arka yang sedang tertidur. Seorang petugas treatment pria itu mencoba membangunkan Arka berkali-kali tetapi tidak juga berhasil. Alia rasa suaminya itu memang sangat sulit sekali dibangunkan ketika sudah terlelap.


“You may wake up, sir!” (Anda sudah boleh bangun Tuan)


Alia terkekeh ketika melihat pria itu mengguncang bahu Arka berkali-kali. Tapi yang dibangunkan tetap tidak bergerak sama sekali. Dia masih tertelungkup dan memejamkan matanya dengan damai. Arka seperti memang sudah memasuki alam bawah sadarnya.


“It’s ok, no problem. Thank you very much.” (Tidak apa-apa. Terima kasih.) Ujar Alia kepada petugas pria itu.


Petugas itu membalas dengan senyuman ringan kemudian mengangguk mengiyakan perkataan Alia.


“Mrs, can we continue to another treatment?” (Nyonya, bisakah kita melanjutkan treatment selanjutnya?)


Petugas treatment wanita itu membuyarkan fokus Alia pada Arka yang sedang tertidur lelap sambil tertelungkup diatas tempat tidur yang mereka gunakan untuk melakukan treatment.


“Oh sure.” (Oh, tentu saja.) Jawab Alia antusias.


Alia melanjutkan treatment spa-ku yang sempat tertunda. Program berikutnya yaitu membersihkan sel kulit yang mati dengan menggunakan partical scrub seperti stroberi, coklat, green tea dan lain sebagainya.


Tentu saja pilihan Alia langsung jatuh pada partical scrub dengan aroma stroberi. Alia sangat suka dengan bau manisnya. Semua aroma yang dia pakai pasti selalu stroberi, mulai dari shampoo, sabun, buble bath, dan juga parfum.


Beberapa kali Arka juga mengatakan dia suka sekali wangi stroberi yang melekat di tubuh Alia. Itu membuat Arka ingin selalu mengirup napas disekitarnya dan membiarkan wangi stroberi itu masuk ke dalam paru-parunya.


Treatment dilanjutkan dengan silky milk polish. Yaitu mengoleskan seluruh tubuh Alia dengan susu agar kulit tubuhnya lebih halus dan kencang. Alia masih tertelungkup di tempat yang sama dan Arka sedang tertidur pulas tepat di sampingnya.


“Arka.... Arka...”


Alia bergumam pelan untuk sekedar mengurangi rasa bosannya karena tidak tahu apa yang harus dia lakukan. Sejak tadi ia memainkan game di ponselku selama petugas wanita itu mengoleskan susu di tubuhnya. Tapi karena bosan, Alia jadi tidak tau apa yang harus dilakukan lagi. Alia pun merasa harus membangunkan Arka sekarang juga.


“Arka, bangunlah...”


Kali ini Alia menaikan suaranya dengan lebih kencang. Alia mengulurkan tangan kanannya untuk menepuk-nepuk bahu Arka agar dia bisa terbangun dari alam bawah sadarnya.


“Arka Wijaya, ayolah bangun! Aku bosan, ayo temani aku mengobrol.”


Alia menyentuh ujung hidung Arka dengan telunjuknya. Membuat si pelayan wanita itu terkekeh pelan melihat kelakuan bosan Alia.


“Hem....”


Arka menggeliat pelan kemudian mengangkat wajahnya menatap ke arah Alia yang tepat berada di sampingnya.


“Apa sudah selesai?” Tanya Arka.


Arka menggosok matanya dengan punggung tangannya kemudian bangkit sembari membenarkan ikatan dari jubah yang ia kenakan.


“Kau tertidur tadi. Jadi aku meminta mereka menghentikan treatment nya.”


“Benarkah? Apa aku tertidur lama sekali. Kenapa kau tidak membangunkan ku?” Tanya Arka lagi.


“Aku sengaja tidak melakukannya karena kau terlihat sangat nyenyak. Tapi setelah satu jam kau tidak juga bangun, akhirnya aku bosan dan membangunkan mu untuk menemaniku mengobrol.” Jawab Alia.


“Ah, sayang!”


Arka memijat dahinya dengan tangan kanan kemudian memutar lehernya pelan, untuk meregangkan ototnya yang mungkin terasa kaku karena 1 jam dia tidur dengan posisi tertelungkup.


“Lets do the next treatment.” (Ayo lanjutkan treatment selanjutnya.) Ujar petugas wanita itu setelah dia selesai dengan treatment sebelumnya.


“What’s next?” (Apa selanjutnya?) Tanya Alia dengan sangat antusias.


Sejak tadi Alia menikmati perawatan itu dengan sangat baik. Dan Alia sangat penasaran dengan apa lagi yang akan petugas itu lakukan padanya selanjutnya.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2