Aku Wanita Simpanan

Aku Wanita Simpanan
Berjalan Baik


__ADS_3

Hari berikutnya aku pergi ke kampus. Semua orang tengah membicarakan tentang kejadian yang menimpa Mila dan skandal itu. Tentu saja Mila bisa terbebas. Papanya memiliki kekuasaan, tapi sekarang Dafa tidak akan pernah melihat Mila sebagai gadis yang polos dan juga murni.


Aku berjalan di sekeliling kampus saat aku melihat Marissa. Sudah sangat lama sejak kami keluar bersama terakhir kali. Aku akan mengobrol dengannya sekarang juga.


Aku lalu mendekat ke arah Marissa dan memeluknya.


"Aku merindukanmu." Ucapku kepada Marissa.


"Aku juga, tapi kau harus mengatakan kepadaku tentang semuanya." Ucap Marissa.


"Kau selalu saja begitu ingin cepat membicarakan semua hal." Balas ku.


Aku lalu mengatakan semuanya kepada Marissa sejak kejadian roller coaster dan rencana gagal yang dilakukan oleh Mila terhadapku. Marissa mendengarkan aku dengan begitu serius, seolah dia tengah menonton sebuah film yang begitu menarik perhatiannya.


Saat aku selesai menceritakan semuanya, dia tengah memakan popcorn. Aku berpikir dari mana dia mendapatkan popcorn itu.


"Wow, lebih baik dari sebuah film. Ngomong-ngomong, Mila memang pantas mendapatkannya. Wanita ****** itu sekarang, aku benar-benar ingin melihat bagaimana dia akan memperlihatkan wajahnya kepada Dafa." Ucap Marissa.


"Jangan khawatir, dia bahkan tidak akan pernah bisa sanggup untuk datang ke kampus lagi." Ucapku.


"Kau benar. Hahaha." Balas Marissa tertawa.


Beberapa hari berikutnya berjalan dengan begitu mulus. Surya dan Rio group sudah mengumumkan kebangkrutan mereka. Dan dengan bantuan dari Wijaya group, perusahaan keluarga Dafa, mereka tidak akan bisa untuk kembali bangkit lagi. Masalah kedua orang tuaku masih berada dalam investigasi. Tapi Om Surya dan Om Rio sudah ditetapkan sebagai tersangka.


Semuanya berjalan dengan baik. Tapi sayangnya, aku tidak melihat Dafa untuk beberapa hari. Sebenarnya aku bingung di mana dia berada saat ini. Dia hanya mengirimkan pesan kepadaku beberapa saat yang lalu.


Setelah perkuliahan selesai, aku pun pulang ke rumah dan berkata kepada diriku sendiri di jalanan.


"Saat aku melihat Dafa nanti, aku pasti akan langsung meninju wajahnya." Ucapku.


"Bukankah sebuah ciuman lebih baik." Ucap Dafa tiba-tiba.


"Apa.... Mmmhhh....!"


Dafa tiba-tiba muncul dan langsung menciumku dengan cepat. Saat dia melepaskan aku, aku langsung marah kepadanya.


"Kau begitu menyebalkan. Kau menghilang begitu saja dan kemudian secara tiba-tiba mencium aku saat kau muncul di hadapanku." Ucapku kesal.


"Maafkan aku kucing kecilku, orang tuaku ingin aku pergi menjauh untuk beberapa hari." Ujar Dafa.


" Eh, kenapa?" Tanyaku dengan bingung.


"Karena masalah yang tengah menimpa Mila. Orang tua ku berpikir bahwa aku butuh waktu sendirian beberapa saat untuk menerima semuanya." Ucap Dafa. "Padahal sejujurnya aku baik-baik saja. Meski sedikit kecewa dengan semuanya, karena selama ini aku selalu mempercayai Mila setulus hatiku." Lanjut Dafa.


"Aku mengerti, ngomong-ngomong kenapa kau ada di sini?" Tanyaku.


"Aku memang ingin pergi ke rumahmu, dan aku melihatmu berada di jalan." Balas Dafa.


Setelah itu, kami lalu pergi ke rumahku. Dafa selama ini menghilang tanpa memberikan kabar kepadaku dan itu membuat aku kesal. Aku pasti akan memberikan sebuah pelajaran kepadanya.


"Kalian makan malam saja. Bibi ada pekerjaan yang akan Bibi lakukan di kamar oke." Ucap Bibi kepada kami.


"Iya." Balas kami berdua secara bersamaan.


Aku dan Dafa makan malam hanya berdua saja, karena Kakak ku memang tengah berada di luar. Kakak bilang bahwa hari ini akan bekerja sampai larut malam. Sementara Bibi, seperti yang dikatakan tadi, masih ada pekerjaan lain yang harus dilakukan. Entah apa itu, aku tidak tahu. Tapi aku hanya bisa berpikir, bahwa Bibi hanya sengaja melakukannya agar aku bisa berduaan bersama Dafa.


Bibi memang selalu seperti itu.


Setelah selesai makan malam kami berdua pun pergi ke kamarku.


"Aku akan memberikanmu sebuah pelajaran." Ucapku kepada Dafa.


"Apa itu?" Tanya Dafa bingung.


Aku lalu mengambil sebuah bantal dan langsung memukuli Dafa dengan begitu keras. Dafa berteriak dan mengatakan bahwa apa yang aku lakukan tidak akan bisa menyakiti nya.


"Tentu saja aku tahu, aku memang sengaja melakukannya." Balas ku.


"Apa maksudmu?" Tanya Dafa semakin bingung.


"Hehehe."


Aku hanya tertawa. Aku lalu mengambil sebuah bantal yang berada di bawah tempat tidurku. Bantal yang ini sangat keras. Tapi sebenarnya ini adalah bantal yang sering aku simpan saat aku merasa begitu marah dan memukulinya terus-menerus hingga membuatnya menjadi sangat keras.


"Bersiaplah kau pria menyebalkan." Ucapku dengan keras.


Aku lalu mulai memukuli Dafa dengan sangat keras dan dia pun meminta ampun terus-menerus kepadaku. Namun aku terus saja memukuli Dafa dengan bantal yang keras itu dan dia pun terjatuh di atas tempat tidur.

__ADS_1


Aku lalu naik di atas tubuhnya dan berkata, "hahaha akulah pemenangnya." Ucapku.


"Apa kau yakin?" Balas Dafa.


"Eh!" Ucapku.


Dafa tiba-tiba memegang pinggangku dan membuat aku berbaring di atas tempat tidur kali ini dia berbalik menarik ku dan kemudian dia berada di atas tubuhku kemudian....


"Mmmhhh....!!


Saat dia selesai menciumku, dia pun berkata kepadaku.


"Lihat, siapa pemenangnya sekarang?"


"Tetap saja aku." Balas ku.


"Hahaha.... Baiklah kucing kecil." Ucapnya.


"Lepaskan aku sekarang atau aku akan melempar mu dari atas tempat tidur ini." Ucapku.


"Apakah kau yakin?" Balasnya.


Kemudian Dafa mulai mencium aku lagi dan kali ini jauh lebih intens. Jika kami terus melakukan hal ini, bibirku yang malang pasti akan ditelannya. Aku mengambil bantal yang keras itu dan memukuli kepalanya lagi.


"Apakah kau tahu bahwa bantal itu sangat lembut? Bagaimana jika kau mencobanya juga." Ucap Dafa.


"Aku sangat baik dan begitu lembut dibandingkan dengan bantal itu. Jadi bantal itu lebih baik untukmu saja." Ucapku.


Aku mencoba untuk memukuli Dafa lagi, tapi kali ini dia memegang tanganku.


Dia pun berkata, "Aku tidak mau menjadi orang yang egois, maka aku akan membuatmu merasakan kelembutannya juga." Ucap Dafa lalu mengambil bantal itu dan mulai memukuli aku dengan bantal itu.


Aku berteriak kesakitan. Aku sungguh tidak menyangka bahwa ternyata bantal itu memang cukup keras dan bahkan membuat tubuhku terasa sakit. Setelah beberapa ronde saling memukuli satu sama lain dengan bantal itu, kami pun tertidur dengan lelap.


Kepalaku terasa begitu sakit saat aku tertidur. Kemudian aku tiba-tiba terbangun karena aku mendengar beberapa suara gemercik air dari dalam kamar mandi. Aku mencoba untuk membangunkan Dafa, tapi dia tidak ada di sampingku. Tempat tidur di sampingku tampak kosong dan aku pun bertanya-tanya di mana keberadaan Dafa.


Suara gemercik air kembali terdengar dari dalam kamar mandi. Aku pun bangun dari atas tempat tidur dan mendekat ke arah kamar mandi. Saat pintu tiba-tiba terbuka dengan sendirinya, aku menjadi tidak bisa melihat untuk beberapa saat karena cahaya yang begitu terang. Saat mataku bisa beradaptasi, aku pun akhirnya bisa melihat dengan jelas.


"Dafa..." Ucapku.


"Aku mendengar beberapa suara gemercik air dan itu ternyata dirimu." Jawabku.


"Maaf karena sudah membangunkan mu. Aku tengah mandi karena disini rasanya begitu panas. Aku tidak tahan." Ucap Dafa.


"Ma... Mandi?" Ucapku gugup.


Saat itu pun kemudian aku mulai menyadari bahwa Dafa hanya menggunakan sebuah handuk di pinggangnya. Wajahku mulai memerah dan aku pun berbalik.


"Segera gunakan pakaianmu dan pergilah tidur." Ucapku.


Aku hendak pergi tidur saat seseorang menarik pinggangku dan menarik aku dari belakang.


"Apa yang kau lakukan?" Ucapku.


"Apakah kau malu kucing kecil ku?" Tanya Dafa.


"Si... siapa yang malu?" Tanya ku balik.


Dafa lalu memegang wajahku dengan kedua tangannya dan memiringkan kepalaku sampai aku bisa melihatnya.


"Benarkah? Lalu kenapa wajahmu memerah?" Tanya Dafa lagi.


"Lepaskan aku. Leherku sakit." Ucapku.


Dafa langsung melepaskan aku dan aku langsung berlari ke atas tempat tidur. Aku merasa begitu mengantuk dan sebelum Dafa kembali ke atas tempat tidur, aku sudah kembali masuk ke dalam alam mimpi.


Saat aku terbangun keesokan paginya, aku merasa ada sensasi yang aneh di area dadaku.


"Oh apa ini?" Ucapku.


Aku lantas melihat ke arah bawah dan menatap Dafa yang tengah memeluk aku dengan kepalanya yang tampak berbaring tepat di atas dadaku.


"Kau pria mesum." Ucapku.


Namun dia masih saja tertidur seolah tidak ada yang terjadi.


"Me.... sum..." Bisik ku di telinga Dafa.

__ADS_1


"Waaah... Apa itu tadi? Telingaku terasa sakit sekarang." Ucap Dafa bangun dan dia menyadari situasinya. "Oh jadi itulah kenapa aku bisa bermimpi tentang bantal yang begitu lembut. Kau membuat aku merasa sangat nyaman." Ucap Dafa lagi.


"Diam lah pria mesum. Ayo kita pergi ke kampus sekarang." Ucapku.


Setelah menyelesaikan rutinitas pagi, mulai dari mandi hingga sarapan, kami lalu pergi ke kampus. Dafa sudah sering menginap di rumahku jadi pakaiannya sudah ada beberapa di lemari ku. Kami berdua memang selayaknya pasangan yang sudah menikah dengan tidak canggung berbagi kamar, lemari, kamar mandi bahkan tempat tidur. Tapi, meski begitu kami berdua tetap pada batasan kami untuk tidak sampai melakukan suatu hubungan yang jauh lebih intim. Karena kami berdua memang berkomitmen untuk melakukannya setalah malam pernikahan nanti.


Hari ini cuacanya begitu cerah dan juga cukup panas. Saat kami melewati gerbang kampus, aku melihat Marissa yang mendekat kearah kami. Dia tampak sedikit marah.


"Kalian berdua pasangan penuh kemesraan! Apakah kalian sudah melupakan aku? Aku begitu terluka. Hatiku sakit seperti sudah di pukuli dengan batu. Aku akan mati!!" Ucap Marissa berlebihan.


"Ayolah Marissa, jangan begitu melow dramatis. Kau tidak memiliki kekasih, jadi kau tidak akan mengerti bagaimana rasanya. Malam ini kami akan mengadakan pesta piyama Bagaimana menurutmu?" Ucapku semakin menggoda Marissa yang kesal.


"Siapa yang bilang aku tidak memiliki seseorang yang aku cintai? Aku sudah mendapatkannya." Ucap Marissa.


"Apa?" Ucapku begitu terkejut.


Selama ini aku memang tidak pernah mendengar sekalipun bahwa Marissa tengah menyukai seseorang dan hal ini sungguh membuatku penasaran untuk ingin tahu, pria seperti apa yang sudah merebut hati teman baikku ini.


"Kita akan membicarakan hal itu nanti di rumahku." Ucap Marissa lagi.


Aku hendak bicara, tapi Dafa menyela ucapan ku.


"Kalian berdua bisa membicarakan tentang urusan kewanitaan kalian itu, nanti saja. Sekarang ayo kita ke kelas lebih dulu."


Kami lalu masuk ke dalam kelas dan 10 menit setelah itu, dosen masuk dia pun berkata semuanya.


"Bisakah aku mendapatkan perhatian kalian semua beberapa saat saja."


Seluruh kelas menjadi diam. Dosen pun melanjutkan ucapannya.


"Mila akan meninggalkan kampus ini dan aku tidak tahu di mana dia sekarang. Tapi sepertinya tidak ada di kota ini. Tentu saja aku rasa kalian sudah tahu alasannya kenapa. Tapi Papa nya meminta kampus untuk tidak membicarakan tentang dia lagi. Jadi aku harap kalian semua bisa tetap tenang."


Mila pergi! Benar-benar berita yang menakjubkan. Tapi kenapa dosen meminta kami untuk tidak bergosip. Gosip ini tentu saja tidak akan berhenti begitu saja di kampus. Dia tentu saja tidak bisa menghentikan gosip ini bahkan jika Mila sudah pergi ke kota lain.


Seperti yang aku pikirkan, seluruh kampus malah terus membicarakan tentang Mila.


Sepulang dari kampus, Marissa dan aku pergi ke rumahnya. Rumah Marissa tidak terlalu jauh dari kampus. Sekarang aku menyadari tentang hal itu, bahwa aku tidak pernah bertemu dengan orang tua Marissa sebelumnya. Jadi aku harus bersikap baik.


Saat kami tiba di rumah Marissa, ada seorang wanita yang cantik membuka pintu. Dia terlihat sama persis seperti Marissa. Aku yakin bahwa dia adalah Mama dari Marissa.


Wanita itu pun berkata, "oh jadi kau adalah teman dari Marissa. Kau begitu menggemaskan." Ucapnya.


Dia lalu mendekat ke arahku dan Dia langsung mencubit pipiku yang membuat aku meringis kesakitan. Dia wanita yang begitu ramah.


"Marissa sudah bicara banyak tentang dirimu. Kau bisa memanggil aku Bibi atau apapun yang kau suka. Ayo masuklah." Ucap Mama Marissa lagi.


Rumah Marissa tidak terlalu besar, tapi itu sangat nyaman dan membuat aku merasa seolah tengah berada di rumahku sendiri saat masuk ke dalamnya.


"Mama mu sangat baik." Ucapku kepada Marissa.


"Iya, tapi Mama selalu berteriak kepadaku jika aku mendapat nilai yang jelek." Ucap Marissa dengan raut wajah yang tampak kesal.


"Aku rasa itu sangat baik bagimu karena memiliki seseorang yang memarahi dirimu. Dia melakukan hal itu karena tentu saja dia peduli kepadamu." Ucapku kepada Marisa.


Mama Marissa lalu mengajak kami untuk makan malam. Aku tidak melihat Papa Marissa ada di rumah. Marissa pernah mengatakan kepadaku bahwa Papa nya kadang-kadang bekerja sampai larut malam, dan hari ini pasti salah satu dari hari lemburnya.


Setelah selesai makan malam, kami berdua naik ke lantai atas menuju kamar Marissa.


'Oh ya Tuhan....' ucapku dalam hati.


Kamar Marissa begitu penuh warna dan dipenuhi dengan gambar-gambar. Ada gambar pemandangan yang begitu indah dan ada gambar dari gadis kecil yang juga begitu berwarna sampai mataku bisa saja terasa sakit jika terus melihatnya.


"Apakah kau sudah melihat semuanya? Ini adalah kamar yang sebenarnya dari seorang gadis. Tidak seperti kamarmu yang warnanya tampak mati itu. Jujur saja, kamarmu itu seperti sebuah kuburan." Ucap Marissa tertawa. "Sekarang ayo kita bicarakan tentang sesuatu yang aku sukai." Lanjut Marissa.


Aku merasa senang akhirnya dia akan mengatakan semuanya padaku.


"Oh iya benar. Sekarang katakan padaku, siapa dia? Apakah dia tampan? Apakah dia dari kampus yang sama dengan kita? Apakah dia tinggu? Apakah dia...." Tanyaku bertubi-tubi seolah ingin segera mengetahui semuanya dengan tidak sabar.


"Ini dia. Coklat krim yang baru saja aku beli." Ucap Marissa.


Aku mendadak menganga setelah mendengar ucapan Marissa.


"Dasar sialan.!" Ucapku langsung mendorong kepala Marissa dengan kesal.


Aku sudah begitu tidak sabar untuk mengetahui siapa yang dia sukai. Namun ternyata dia hanya mengerjai aku saja.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2