Aku Wanita Simpanan

Aku Wanita Simpanan
Obrolan Hangat


__ADS_3

Tiba di rumah, Rayhan langsung diprotes Arsha.


"Ayaahh...." teriak Arsha.


Rayhan dan Arka yang baru masuk rumah tampak heran melihat Arsha yang tampak emosi.


"Nih anak kenapa sih, Ayah pulang bukannya salam dulu kek, malah teriak-teriak. Gak jelas banget." omel Arka.


Rayhan tersenyum melihat ekspresi yang ditunjukkan Arsha karena diomeli Arka.


"Ayaahh..." panggil Arsha lagi seraya duduk disamping Rayhan dengan bergelayut manja.


"Duuhh anak Ayah yang cantik ini kenapa lagi sih? Perasaan tiap hari ada aja masalahnya." ucap Rayhan menciumi kepala Arsha yang ditutupi hijab berwarna peach.


"Ayah gak usah pergi nge-gym lagi. Pokoknya Ayah gak boleh masukin foto ke sosmed kalau gak foto bareng Ibu." protes Arsha.


"Loh loh loh maksud kamu apa sih Sha?" tanya Rayhan heran.


"Aku gak suka komentar-komentar netizen tentang foto Ayah. Mereka tuh genit-genit semua." jawab Arsha.


"Kamu ngomong apaan sih Nak? Foto apa? Lagian Ayah gak pernah ngerasa posting foto ke akun sosmed Ayah."


"Iya, emang bukan Ayah, tapi noh si tukang eksis yang posting." ucap Arsha menunjuk Arka.


Rayhan menatap Arka penuh tanda tanya.


"Hehehe maaf ya Ayah. Aku gak izin dulu sama Ayah. Abis mau dong sekali-kali post foto pas lagi berdua. Masa posting foto Ayah sendiri gak boleh." ucap Arka.


"Nih coba Ayah lihat." ucap Arsha menyodorkan ponselnya pada Rayhan.


Terlihat dalam foto tersebut, Rayhan yang tengah berolahraga. Otot lengannya tampak mengencang karena tengah mengangkat barbel. Foto tersebut juga menampilkan otot perut Rayhan yang berbentuk kotak-kotak, seperti orang zaman sekarang menyebutnya dengan roti sobek.


"Arka..." ucap Rayhan.


"Iya..." jawab Arka.


"Lain kali tidak usah posting foto yang begini ya Nak. Ini mengundang dosa."


"Iya, iya. Maaf deh Yah." balas Arka.


"Hukum dia Yah, bila perlu tarik fasilitas yang Ayah berikan." ucap Arsha mengompor-ngompori Rayhan.

__ADS_1


"Huh dasar tukang ngadu. Karena kamu cerewet, lebih baik minuman ini aku kasih Ibu atau Kakek aja." ucap Arka seraya menggoyang-goyangkan cup minuman boba yang disukai Arsha.


"Aaaaa bobaaa...." teriak Arsha girang. Ia berlarian ke arah Arka. "Siniin dong Kak." ucap Arsha meminta pada Arka.


"Gak, aku mau kasih Ibu aja."


"Uuuuhhhh dasar Arka peliit...." teriak Arsha.


"Woy sopan dikit kalau bicara sama aku. Aku ini lebih dewasa dari kamu."


"Dewasa apanya, orang cuma lewat satu menit aja." balas Arsha.


Rayhan tertawa melihat tingkah kedua anaknnya yang sudah beranjak dewasa itu. Meski usia mereka sudah dua puluh tahun, keduanya tetap tampak seperti anak kecil dimata Rayhan.


"Eeehh Ayah sama Arka udah pulang ternyata." ucap Izzah.


"Udah dari tadi Bu, Ibu kemana aja?" tanya Arka seraya meraih tangan Izzah dan mengecupnya.


"Ibu habis buat kue di dapur. Tuh sekarang sudah masuk dalam oven." balas Izzah sambil mengelus lembut kepala puteranya.


Izzah lalu duduk disamping Rayhan lalu mencium tangan Rayhan.


"Sayang, jangan terlalu memaksakan diri untuk bekerja di dapur. Toh sudah ada ART kan yang mengurus semuanya." ucap Rayhan mengelus tangan Izzah.


Sejak Rayhan kembali setelah menghilang beberapa tahun akibat kecelakaan pesawat dulu, Izzah mengganti panggilan kepada Rayhan. Yang dahulunya Izzah terbiasa memanggil Rayhan dengan sebutan 'Abang', kini menjadi 'Ayah'. Begitupun dengan Rayhan, ia sudah tak lagi menyebut nama Izzah. Namun, Rayhan lebih sering memanggil Izzah dengan sebutan 'sayang'.


"Iya deh, tapi ingat, jarang sampai kecape'an." ucap Rayhan seraya mencium punggung tangan Izzah.


"Aaaaaaaa.... Romantisnya, jadi baper." ucap Arsha yang menyandar di bahu Arka. "Kak, nanti kalau udah nikah ikutin cara Ayah tuh perlakuin Ibu dengan romantis." lanjut Arsha.


"Nih anak, nikah mulu isi otaknya. Kebanyakan nonton Drakor kamu ini." balas Arka mendorong kepala Arsha.


"Awww... Sakit tau." ucap Arsha membalas dengan memukul pundak Arka. "Lagian kenapa emangnya kalau aku suka nonton Drakor. Masalah gitu?"


"Ya gak juga. Tapi isi otak kamu tuh ngehalu semua." balas Arka.


"Biarin aja." ucap Arsha kemudian berjalan menuju Rayhan dan Izzah kemudian duduk menyempit diantara kedua orang tuanya.


"Ayah, Ibu, mmmmmmm kira-kira aku boleh nikah muda gak?" tanya Arsha.


Arka yang tengah menikmati boba langsung tersedak dan terbatuk-batuk.

__ADS_1


"Pertanyaan macam apa itu!" seru Arka.


Izzah dan Rayhan tersenyum.


"Tentu saja, kenapa gak. Ya kan Yah?" balas Izzah seraya mengelus kepala Arsha.


"Iya tentu saja. Kalian berdua boeh menikah muda, asal.... Pastikan calon kalian itu orang baik-baik. Yang paling penting calon kalian harus taat kepada Allah." ucap Rayhan. "Emang anak gadis Ayah ini sudah punya calon ya? Kenapa gak kenalin sama Ayah?" tanya Rayhan.


"Isshh belumlah Yah. Aku kan masih kuliah. Lagian kalau aku mau nikah itu, calonnya harus persis sama sifat Ayah." jawab Arsha.


"Arka sendiri udah punya calon belum Nak?" tanya Izzah.


"Aahhh, kalau Arka belum mau nikah Bu. Masa muda Arka masih panjang. Arka masih mau kuliah, bila perlu sampai jadi professor." jawab Arka.


"Hahaha professor kan kepalanya botak." ucap Arsha.


"Huh, botak kepalamu. Makanya jangan kebanyakan ngehalu, pake acara mau nikah muda segala. Gak usah mimpi nikah muda deh, kalau goreng telur aja gosong." balas Arka.


"Biarin, bilang aja sirik." ucap Arsha.


"Sudah-sudah, kenapa malah jadi berantem begini." ucap Rayhan.


"Habis Kak Arka tuh duluan."


"Sudah, gak usah diterusin lagi. Ka, kalau ibu boleh tau, kriteria calon isteri Arka itu seperti apa?" tanya Izzah.


"Iya, Ayah juga pengen tau." sambung Rayhan.


"Paling juga kayak Lucinta Luna." balas Arsha cekikikan.


"Apaan sih, nyawut aja." balas Arka kesal. "Yang jelas Arka itu maunya wanita yang akhlaknya seperti Ibu. Dia gak mesti cantik, kaya, atau dari keluarga terpandang. Yang penting baik, taat kepada Allah, dan yang pasti berjilbab seperti Ibu. Gak seperti itu tuuhh, jilbab kok dililit-lilit. Udah kayak sate lilit aja." ejek Arka menunjuk Arsha.


"Tuh, Kakek bilang juga apa. Pakai jilbab itu sama seperti Ibu kamu. Benar kata Kakak kamu teh, pakai jilbab begitu persis seperti sate lilit." lanjut Mang Diman yang berjalan dari ruang keluarga.


"Iiihh Kakak sama Kakek, sama aja. Ayaahhh liat tuh mereka jahat." rengek Arsha bak anak kecil.


"Sayang, anak Ayah yang sholehah. Benar kata mereka, pakai jilbab yang benar menurut syariat itu yang menutupi hingga ke dada. Pakaian juga setidaknya harus longgar." ucap Rayhan.


"Tapi.... Ibu sama Ayah menghargai kok sayang kemauan kamu memakai hijab. Niatkan semuanya karena perintah Allah, perlahan-lahan berubahlah sesuai syariat. Insyaalah kamu pasti akan tampil lebih anggun." lanjut Izzah.


"Iya Bu. Nanti Arsha coba berubah pelan-pelan ya." balas Arsha.

__ADS_1


Begitulah keluarga Izzah, tiap harinya ada saja obrolan hangat diantara seluruh keluarga. Anak-anak Izzah tak sungkan membicarakan hal apapun pada kedua orang tuanya. Keduanya begitu terbuka pada Izzah dan Arka.


Terima kasih atas kebahagiaan ini Ya Allah, batin Izzah setiap harinya.


__ADS_2