
PoV Faradina
Tidak terasa Sofia sekarang sudah berusia 14 tahun, sementara Reyhan sudah 12 tahun. Berarti sudah 14 tahun yang lalu aku memulai perjalananku sebagai seorang ibu. Percaya tidak percaya rasanya. Semuanya benar-benar berjalan begitu cepat.
Sebelum Sofia lahir, aku dan Ammar tinggal di rumah baru kami hanya berdua selama satu tahun pernikahan sebagai pasangan pengantin yang menikah karena perjodohan. Meski kami menikah karena perjodohan, semuanya berjalan begitu baik dan jauh diluar yang aku pikirkan.
Awalnya aku berpikir jika pernikahan kami berdua akan berjalan menyulitkan bagi kami. Namun sejak malam pertama berstatus sebagai suami istri, aku dan Ammar bisa dekat dengan cepat. Tak ada rasa canggung diantara kami berdua seolah kami berdua sudah saling mengenal cukup lama.
Butuh waktu seratus hari bagiku untuk pada akhirnya mau menyerahkan seluruh jiwa dan ragaku kepada Ammar suamiku. Kami memang melewati masa bulan madu satu bulan. Tapi berbeda dengan pasangan pengantin baru lainnya yang menghabiskan waktu bulan madu dengan bermesraan dan bercumbu. Tapi kami menghabiskan waktu satu bulan itu untuk mengenal satu sama lain.
Tepat pada momen satu tahun usia pernikahan kami, aku akhirnya mengetahui bahwa aku tengah hamil hasil buah cinta kami. Aku bisa melihat bagaimana bahagianya dia saat aku memberikan kejutan kepadanya untuk memberitahukan tentang kehamilanku.
Kehamilan pertama cukup berjalan lancar bagiku, tapi tidak dengan Ammar. Aku tahu benar bahwa dia cukup kesulitan dengan ngidam yang aku rasakan. Aku sering sekali menyusahkan nya dengan membangunkannya setiap malam karena keinginan aneh ku. Tapi dia selalu mencoba menjadi suami yang siaga dan tetap mengikuti keinginan aneh dari istrinya yang tengah mengidam.
Sofia terlahir dengan lancar meski pada saat itu aku memang belum pernah merasakan bagaimana rasanya melahirkan. Aku jadi ingat kala kakak ipar dan sepupuku Amira mengatakan bahwa melahirkan itu rasanya tidak terlalu menyakitkan, apalagi jika melahirkan anak kedua.
Tapi apa yang terjadi padaku justru berbeda saat aku melahirkan si bungsu Reyhan. Waktu itu aku tidak menyangka kalau sakitnya akan terasa sangat sakit sekali.
Aku heran, kenapa Amira bisa mengatakan bahwa tidak sakit?
Aku masih bisa mengingat bagaimana sakitnya saat melahirkan Reyhan. Apalagi dengan adanya proses menjahit yang menurutku jauh lebih sakit daripada proses melahirkannya.
Reyhan saat itu lahir sebagai bayi yang mungil. Kepalanya saja jauh lebih kecil dari sebelah dadaku yang saat itu bengkak. Sebelumnya Sofia dua tahun sebelum Reyhan, lahir dengan berat 4 kg jadi dia langsung besar. Itu lah kenapa aku sempat bingung melihat Reyhan yang kecil sekali. Aku takut dia kurang gizi. Untungnya dokter mengatakan jika 2.75 kg itu normal.
"Sayang, apakah anak kita kekurangan gizi? Tapi selama ini aku selalu makan teratur dan juga banyak. Bahkan aku selalu mengikuti saran dokter." Isak ku pada Ammar kala aku melihat Reyhan yang baru saja terlahir ke dunia.
"Tidak sayang. Kau sudah dengar apa yang dikatakan dokter tadi. Bayi tampan kita dalam keadaan baik dan sehat. Tubuhnya memang kecil, tapi semuanya normal." Ujar Ammar.
"Sayang, Mama juga melahirkan kakakmu Denis dengan berat kurang dari 3 kg. Tapi setelah Mama rutin memberikan asi kepadanya, berat badannya berangsur naik dan malah dia menjadi bayi yang cukup gemuk." Ujar Mama ku.
Mama mertua juga terus berusaha meyakinkan aku untuk tetap tenang. Dan kenyatannya seperti yang semua orang katakan, Reyhan akhirnya bertambah gemuk dan menjadi anak yang begitu sehat. Aku merasa sangat bahagia melihat perkembangannya.
__ADS_1
Itu tentang Reyhan 12 tahun yang lalu. Dan sejak itu pula seluruh duniaku berubah setelah bertambahnya Reyhan sebagai anggota keluarga kami. Bersama Sofia dan Reyhan aku pun belajar menjelajah sisi baru dari diriku yang sama sekali belum pernah ku lalui. Banyak pilihan hidupku setelahnya yang sangat bergantung pada mereka berdua.
Sofia memang jauh lebih dekat dengan Ammar. Sementara Reyhan lebih dekat denganku. Keduanya tumbuh dengan minat dan kegemaran yang berbeda. Sofia lebih suka bermain dengan teman-teman seusianya. Sementara Reyhan berbeda. Mungkin karena dia sering melihat aku dan Ammar di depan komputer, maka sejak kecil Reyhan tertarik dengan komputer. Untungnya ada banyak guru-guru bertebaran untuknya dan bisa mengajari dirinya secara pribadi di rumah.
Satu karya yang pernah dibuatnya waktu kecil adalah video tentang dirinya dan teman-temannya. Diisi background rekaman suaranya ketika berusia 2 tahun.
"Reyhan benar-benar terlihat seperti Papa." Ucap Mama ku menitikkan air mata saat melihat rekaman video yang dibuat Reyhan itu.
Aku memeluk Mama ku dan kembali mengingat kenangan tentang Opa. Mama memang benar, Reyhan kecil memang terlihat seperti kembaran Opa Reyhan versi kecil. Bahkan saat aku membandingkan foto Reyhan dengan foto Opa saat masih kecil, seperti tidak ada perbedaan dari mereka berdua.
"Aku berharap bahwa Reyhan kecil kita bisa memiliki sikap dan kepribadian yang baik seperti Opa." Ucapku pada Mama.
"Tentu sayang." Balas Mama padaku.
...----------------...
Kini Reyhan mulai beranjak remaja. Satu hal yang menarik dari perkembangan Reyhan adalah kesukaannya membaca. Terus terang, karena aku ini penggemar komik & games, jadi anak-anakku pun akhirnya tumbuh menjadi penggemar komik & games. Walau di luar itu kami tetap menstimulus mereka dengan buku-buku anak bermutu, tapi kesukaan Reyhan kecil ya komik. Kalau ke toko buku pun yang dipilih adalah komik.
Aku rasa itu jadi momen pergeseran kesukaan membacanya. Sejak itu Reyhan mulai mencari-cari buku yang lebih tebal lagi. Waktu ujian ke luar kota, Reyhan terkesima melihat koleksi Tante Alia, istri Om Arka kakak kembar Mama, yang sarat dengan buku-buku keren. Reyhan bilang selesai ujian Reyhan ingin mulai mengoleksi buku-buku living book seperti koleksi Tante Alia.
"Ma, aku bolehkan mulai koleksi buku seperti yang dimiliki Oma Alia." Ucap Reyhan.
"Tentu saja sayang." Ucapku.
Ternyata, belum sempat pergi ke toko buku, ada kejutan datang tepat di hari ulang tahun Reyhan yang kesebelas waktu itu.
Sambil menyusun bukunya Reyhan berkata, "Ma, mulai sekarang aku betul-betul mau koleksi buku-buku seperti ini. Aku suka banget soalnya."
"Tentu saja sayang. Baca buku kan baik untuk pengetahuan." Balasku tersenyum seraya mengusap kepalanya dengan lembut.
Di sini aku merasa bahwa ternyata, walau Reyhan suka game, suka komik & suka nonton film, tapi semua itu tidak menyurutkan kesukaannya membaca buku-buku living book.
__ADS_1
Aku pernah bertanya kepadana.
Reyhan lebih suka mana antara nonton film, main game, baca komik dan baca buku novel?"
Reyhan tertawa dan mengatakan, "mana mungkin dibandingkan Ma, rasanya kan lain. Aku suka semuanya."
Ketika pertanyaannya aku ganti, "Menurut Reyhan, mana yang lebih bermanfaat, nonton film, main game, baca komik atau buku novel?"
Reyhan kembali menjawab, "Semuanya ada manfaatnya Ma. Walau mungkin ada satu kegiatan yang isinya cuma bikin aku bahagia, tapi kan bikin bahagia itu manfaatnya besar biar semangat mengerjakan yang lain."
Menghadapi anak remaja harus pintar tarik ulur. Semakin lama, posisiku mulai bergeser, tak hanya sekedar menyuruh tapi lebih ke memberi pengertian kenapa sebuah hal perlu dilakukan. Reyhan kecil kini sudah beranjak remaja. Begitu juga dengan Sofia, kakaknya yang sudah mulai beranjak menjadi gadis remaja. Dimana hal itu membuat Ammar jauh lebih protektif kepadanya karena takut jika Tuan Putri nya itu akan mengenal lawan jenis dengan cepat.
"Call me lebay sayang. Tapi aku benar-benar merasa waktuku bersama kedua anak kita tinggal sebentar. Tak lama lagi mereka berdua akan segera terbang untuk mencari jati diri & menjalani hidup mereka." Ucapku pada Ammar saat kami berdua duduk di teras belakang rumah melihat Sofia yang sibuk dengan teman-temannya.
Sementara Reyhan tampak sibuk membaca buku di sebuah gazebo yang ada di tengah-tengah taman samping rumah.
"Itulah hidup sayang. Semuanya berjalan maju, bukan mundur. Anak-anak kita semakin dewasa, dan kita beranjak tua. Aku hanya bisa berharap jika kita bisa seperti Oma Izzah dan Opa Reyhan yang memiliki kesempatan diberi umur panjang oleh Tuhan sampai bisa menyaksikan kelahiran cicit mereka." Balas Ammar.
Aku tersenyum mendengarkan apa yang dikatakan Ammar. Benar sekali, aku juga ingin kami diberikan kesempatan untuk hidup lebih lama sampai kami akhirnya nanti bisa melihat anak cucu sampai cicit kami bertumbuh kembang.
...----------------...
Tepat pukul 12 tengah malam, aku masuk membawa kue yang aku siapkan sejak siang hari bersama dengan Ammar dan Sofia masuk ke dalam kamar Reyhan yang memang jarang dikuncinya itu. Hari ini adalah ulang tahunnya yang ke 12 tahun.
Kami masuk dan melihatnya masih dalam posisi tertidur pulas dengan sebuah buku yang ada ditangannya.
'Selamat ulang tahun sayangku, semoga apapun yang kau lakukan di masa depan senantiasa selalu dalam lindungan Tuhan, dan semoga Tuhan berkenan menyampaikan mu pada takdir terbaikmu, menjadikanmu manusia yang bermanfaat bagi semesta Nya. I love you, pangeran ku!' ucapku dalam hati.
Setelah itu Sofia lantas berteriak menyanyikan lagu ulang tahun yang langsung membangunkan tidur lelap pangeran ku yang beranjak remaja itu.
"Happy Birthday Reyhaaaann...." Teriak Sofia.
__ADS_1
Bersambung...