
Hari-haripun berlalu, dini hari Izzah merasakan perut dan pinggangnya begitu nyeri.
Apa aku akan melahirkan sekarang?
Izzah kemudian pergi ke kamar mandi karena merasa ingin buang air kecil. Saat dilihat ada bercak merah di ****** ***** miliknya.
"Astagfirullah." ucap Izzah spontan.
Dengan cepat Izzah membangunkan Rayhan yang masih terlelap tidur.
"Bang...Abang..." ucap Izzah menggoyangkan tubuh Rayhan.
"Iya sayang, ada apa?" tanya Rayhan bangun sambil mengucek mata.
"Kayaknya Izzah akan melahirkan Bang."
"A-apa?" seru Rayhan.
Detik berikutnya raut wajah Rayhan berubah panik. Dengan cepat Rayhan mengambil semua perlengkapan yang sudah disiapkan Izzah sebelumnya. Jika tiba saatnya melahirkan Rayhan akan dengan mudah membawanya.
Sebuah tas berukuran besar diambil Rayhan dari dalam lemari, lalu dengan sigap ia mengambil jaket dan jilbab yang akan dikenakan pada Izzah.
"Abang..." panggil Izzah.
Rayhan berlarian menuju tempat tidurnya saat mendengar Izzah memanggil.
"Iya sayang, sakit ya. Ayo pakai ini kita jalan sekarang juga ke Rumah Sakit." ucap Rayhan.
Izzah tersenyum melihat sikap siaga suaminya itu.
"Abang gak usah panik, Izzah baik-baik aja kok. Udah gih sana shalat subuh dulu, habis itu kita baru berangkat."
"Ta-tapi bukannya Izzah bilang mau melahirkan?"
"Iya, udah ada tanda-tandanya Bang. Tapi seperti yang sering Umi bilang walau sudah merasakan sakit di perut atau dipinggang, jika sakitnya itu masih bisa ditahan maka dede bayinya masih belum mau keluar. Kalaupun ke rumah sakit sekarang paling masih bukaan satu." ujar Izzah.
__ADS_1
"Bukaan satu? Apa itu?"
"Udah gak usah banyak nanya, sana cepetan shalat."
"Iya, iya."
Setelah selesai shalat subuh, Rayhan menelepon supirnya agar mempersiapkan mobil. Bu Ros yang diberi tahu Rayhan bahwa Izzah akan melahirkan pun sudah siap berangkat ke Rumah Sakit menemani Izzah.
Dalam perjalanan, Rayhan menelepon orang tua Izzah. Memberi kabar tentang keadaan Izzah. Tak lupa juga memberi kabar pada Mang Diman dan Bi Asih.
Sepanjang perjalanan Izzah selalu berdzikir memohon kelancaran akan kelahiran anak kembarnya. Sakit di perut dan dipinggang Izzah semakin terasa. Sesekali Izzah meringis karena sakit, namun tak lama sakit itu hilang, begitu seterusnya.
Mereka tiba di Rumah Sakit tepat matahari sudah terbit. Rayhan hendak menggendong Izzah, namun Izzah menolak dan memilih berjalan.
"Nanti Izzah capek. Ayo sini abang gendong aja, atau pakai kursi roda." ucap Rayhan panik.
"Izzah gak apa-apa Bang, justru dengan Izzah jalan begini akan mempercepat bayinya lahir." balas Izzah.
Memang semenjak hamil, Izzah menjadi sedikit keras kepala. Ia akan melakukan apapun sesuai keinginannya. Dan Rayhan tak dapat berbuat apa-apa selama hal tersebut tidak membuat Izzah lelah.
Orang tua Izzah datang bersamaan dengan Mang Diman dan Bi Asih.
"Yaa Allah Neng, lemes begitu. Ayo ini makan telur rebus yang bibi bawa, sebagai penambah tenaga Neng." ucap Bi Asih.
Izzah menggeleng pelan. Semua orang yang ada di ruangan menatap Izzah khawatir.
"Sayang ayo dimakan, atau kalau gak mau telur kasih tau abang. Izzah mau makan apa?" tanya Rayhan.
Lagi-lagi Izzah menggeleng pelan.
"Neng, kalau Neng Izzah teh gak makan apa-apa gimana mau ngelahirin nantinya Neng. Neng gak ada tenaga." ucap Mang Diman. "Ini Ibu juga begitu dulu, sama kayak Neng gak ada tenaga. Tapi karena Ibu mikirin bayinya, jadi Ibu mau makan. Tapi anehnya malah makan bakso. Gimana enggak jadinya si Lilis itu lahirnya bulet kayak bakso." lanjut Mang Diman.
Izzah tersenyum mendengar ucapan Mang Diman.
"Kali ini Umi setuju sama si Kalagondang ini sayang. Izzah memang harus makan untuk menambah tenaga Izzah buat ngejen nanti. Gimana coba kalau gak kuat ngejen." ucap Bu Ros.
__ADS_1
"Eeleeuuh-eleuh, tumben atuh si Mak Lampir setuju sama saya. Eeehh maaf sekarang sudah gak Mak Lampir lagi, sudah ganti jadi Mamah Dedeh, curhat dong..." ucap Mang Diman yang membuat senyum Izzah semakin mengembang.
Pak Haris dan Bu Novi juga tak ketinggalan meminta Izzah untuk makan.
"Iya-iya, Izzah makan." ucap Izzah.
Bi Asih kemudian memberikan telur rebus itu pada Izzah. Karena Izzah tak ingin makanan yang lainnya.
Sekitar tiga jam Izzah merasakan kontraksi. Sakit perut dan pinggangnya semakin intens. Semua orang senantiasa mendampingi Izzah. Sesekali Bi Asih memijat pinggang Izzah saat Izzah mengerang kesakitan.
Kemudian Izzah memutuskan untuk berjalan-jalan didalam ruangan sambil dipegangi Rayhan. Izzah berjalan mondar-mandir, saat sakitnya datang, Izzah berhenti dan memegangi tangan Rayhan kuat. Setelah sakitnya hilang Izzah kembali berjalan, begitu seterusnya berulang-ulang.
Hingga.....
"Abang.... Izzah udah gak kuat." pekik Izzah.
Semua orang menjadi panik, Mang Diman berlari keluar ruangan memanggil perawat. Kemudian dengan cepat Izzah di naikkan ke atas tempat tidur lalu di dorong menuju ruang bersalin.
"Aduuuhh sakit." lirih suara Izzah.
Bi Asih, Bu Ros bahkan Bu Novi meneteskan air mata melihat Izzah yang mengerang kesakitan.
"Sabar sayang."
"Istighfar Nak."
"Kamu harus kuat Izzah."
Kata-kata itu terlontar dari mulut para wanita yang semuanya sudah menjadi Ibu bagi Izzah.
"Anakku, doa Ayah selalu menyertaimu. Bertahanlah Nak, ingat selalu sebut nama Allah." pesan Pak Haris dengan deraian air mata saat Izzah dibawa masuk ke ruang bersalin.
Hanya Rayhan yang diperbolehkan masuk ke dalam menemani Izzah. Sementara ke lima orang-orang terkasih Izzah hanya dapat menunggu dengan harap-harap cemas diluar ruangan.
Mereka semua tak henti-hentinya berdzikir, air mata mengalir begitu saja. Mengingat raut wajah Izzah yang begitu kesakitan membuat kekhawatiran dihati mereka.
__ADS_1
Bahkan Mang Diman yang terkenal humoris tak mampu menahan air matanya. Mang Diman mengingat semua perjuangan Izzah di masa lalu untuk sampai pada titik kebahagiaan ini.