
Arka, Alia, Devan dan asistennya sudah tiba di kediaman Reyhan dan Izzah. Mereka keluar dari dalam mobil secara bersamaan.
"Silahkan masuk Tuan." Ucap asisten Arka kepada mereka bertiga.
"Kalian masuklah lebih dulu, aku akan menyusul sebentar lagi." Ucap Devan dengan tersenyum.
Alia menganggukkan kepalanya dan dia dengan Arka pun masuk ke dalam rumah secara bersamaan.
Kedua orang tua Arka beserta Arsha, duduk di ruang tamu dan tampak tengah mendiskusikan sesuatu.
"Oh ya Tuhan, Alia." Ucap Izzah dengan wajah yang panik dan kemudian berdiri dari atas sofa.
Sementara Alia tersenyum dan memeluk mertuanya itu.
"Bagaimana keadaanmu sayang?" Tanya Izzah dengan suara yang penuh kasih sayang.
"Aku baik-baik saja Bu. Bagaimana dengan ibu?" Tanya Alia balik dengan tersenyum.
Izzah melihat tangan Alia yang terdapat memar berwarna keunguan karena disebabkan oleh ikatan tali tadi.
"Apa yang sebenarnya sudah terjadi?" Tanya Izzah dengan ekspresi yang tampak begitu khawatir.
"Tenang saja bu. Dia baik-baik saja sekarang. Terima kasih kepada Devan yang sudah membantuku." Ucap Arka tersenyum.
"Di mana dia sekarang?" Tanya Izzah.
"Dia masih di luar." Balas Arka.
Izzah lalu mengajak Alia untuk duduk bersama di ruang tamu. Tak lama setelah itu, Devan masuk dan langsung duduk disamping sang istri Arsha.
"Mas baik-baik saja?" Tanya Arsha.
"Aku baik sayang." Balas Devan mengusap perut Arsha yang begitu membuncit.
Reyhan dan Izzah lalu menanyakan apa yang sebenarnya sudah terjadi kepada Alia. Arka pun menjelaskan kepada kedua orang tuanya bahwa Alia diculik oleh nadia.
"Ibu penasaran, bagaimana kalian semua bisa tahu bahwa Nabila punya saudara kembar?"
"Kami menyelidiki semuanya." Balas Devan.
Reyhan sendiri menjelaskan bahwa dia pernah bertemu satu kali dengan Nadia setelah hari kematian Nabila. Saat itu Nadia datang dengan alasan ingin bertemu dengan saudara kandungnya yang sudah sering memberinya uang untuk biaya hidup.
Namun, saat Reyhan mengatakan bahwa Nabila sudah meninggal, Nadia tidak terima dan mengatakan kepada Reyhan bahwa dia akan menemui Arka dan meminta pertanggung jawabannya karena Nabila meninggal disebabkan karena memberikan keturunan kepada keluarga Wijaya.
Reyhan yang tahu benar bahwa Arka masih dalam keadaan berduka dan begitu down, akhirnya memutuskan untuk memberikan sejumlah uang kepada Nadia asal dia tidak muncul dihadapan Arka. Mengingat saat itu Arka benar-benar seperti orang gila yang kehilangan akal sehatnya disebabkan kehilangan sang istri tercinta.
Saat itu, Reyhan tidak mau jika Nadia menemui Arka, maka kondisi Arka akan semakin diluar kendali. Bagaimana tidak, seorang pria yang melihat istrinya meninggal, bahkan menguburkannya sendiri malah harus melihat sosok wanita yang sama persis dengan sang istri yang baru saja dikuburkan.
"Kenapa Ayah tidak mengatakan kepada kami sejak awal?" Tanya Izzah setelah Reyhan menjelaskan semuanya.
"Ayah hanya tidak mau membebani pikiran kalian terutama Arka. Begitu juga dengan Ibu dan Arsha. Ayah tahu benar kalian semua sangat dekat dengan Nabila. Jika Ayah memberi tahu pada Arka yang kondisinya tidak stabil saat itu, takutnya kondisi Arka akan diluar kendali. Jika Ayah memberi tahu Ibu, sepertinya Ibu juga sama kehilangannya dengan Arka. Dan untuk Arsha ataupun Devan, ayah tidak mau membebani kalian dengan hal seperti itu mengingat saat itu Arsha juga baru selesai melahirkan." Ujar Reyhan.
Izzah hanya bisa menghela napas lalu memegang tangan suaminya itu.
"Lain kali, jangan sembunyikan semuanya sendirian. Setidaknya beritahu Ibu, agar kita bisa menghadapinya sama-sama." Balas Izzah.
"Sudah berapa kali dia meminta uang kepada Ayah?" Tanya Arsha tiba-tiba.
"Hanya saat itu saja. Setelah itu, tak ada lagi kabar darinya. Bahkan Ayah sampai lupa jika dia pernah menemui Ayah." Balas Reyhan.
"Benar-benar wanita tamak." Ucap Devan menggelengkan kepalanya.
Sementara sejak tadi, Alia hanya terdiam. Dia hanya bisa mendengarkan semua pembicaraan yang dilakukan keluarga suaminya itu. Namun satu hal yang tak lepas darinya adalah genggaman tangan Arka.
"Terima kasih ya Alia, sejak kehadiran kamu, anak Ibu yang ini bisa tersenyum lagi." Ucap Izzah.
Alia tersenyum dan menatap Ibu mertuanya itu.
"Aku juga berterima kasih, karena keluarga ini sudah menerima aku sebagai orang baru yang hadir dalam keluarga ini." Balas Alia.
Semuanya tersenyum.
Keluarga itu akhirnya merayakan kebahagiaan mereka dengan mengadakan sebuah pesta kecil yang hanya dia dari mereka semua di halaman belakang rumah.
"Pesta tanpa aku." Teriak Dafa saat datang.
Alia berjalan mendekat kearah Dafa dan mengangkat tubuh Dafa lalu menggendong nya.
"Tidak sayang. Kau adalah bintang kecil kami dan tanpa bintang kecil, tidak akan ada pesta di sini." Ucap Alia dan mencubit pipi Dafa dengan gemas.
Sementara Dafa tertawa dan memeluk ibu sambungnya itu.
Setelah itu dia pergi untuk menyelami Opa dan Oma nya. Dan tak lupa juga dengan Arsha dan Devan juga dengan Denis sepupunya.
***********
Tepat saat tengah malam saat semua orang sudah tertidur. Alia tengah tertidur di atas ranjang nya sementara Arka tengah berdiri di dekatnya. Arka kemudian memegang tangan Alia dan membuatnya duduk kemudian berkata, "ayo bangun, kita pergi ke teras."
"Kenapa? Aku masih mengantuk." Blas Alia dan kembali berbaring di atas tempat tidur.
"Bangunlah Alia. Aku mohon." Ucap Arka dengan mata yang berbinar.
"Aarrgghh, baiklah." Ucap Alia kemudian bangun dari atas tempat tidur.
__ADS_1
Arka tersenyum dan memegang tangan Alia dengan erat kemudian membawanya pergi ke teras rumah.
Setelah beberapa menit kemudian, Arka duduk dan membuat Alia duduk di sampingnya.
" apa kita disini untuk menghitung bintang?" Tanya Alia dengan wajah yang kesal karena masih mengantuk.
"Yaah, kita bisa melakukan itu nanti." Ucap Arka dengan tertawa kecil.
Alia pun tersenyum kemudian menyandarkan kepalanya di bahu Arka.
"Jadi apa yang ingin kau katakan padaku?" Tanya Alia.
"Masih ada satu hal yang tidak kau ketahui." Ucap Arka dengan ekspresi yang serius.
Arka duduk di hadapan Alia dan membuat Alia melihat ke arah dirinya.
Setelah mendengar hal itu, Alia menjadi begitu serius dan siap untuk mendengarkan apa yang akan dikatakan Arka.
"Aku mau mengakui semuanya agar tak ada lagi yang harus aku tutupi." Ucap Arka.
"Katakan saja." Balas Alia.
"Sejak awal, aku tidak pernah menginginkan pernikahan kita terjadi. Aku tidak pernah mau menikahi siapapun. Aku bahkan tidak pernah berpikir untuk bisa mencintai siapapun. Jujur saja, dalam hati aku langsung membenci dirimu saat pertama kali melihatmu di hari pernikahan kita. Rasa benci itu semakin meningkat kala kau datang terlambat dan malah menampilkan wajah sedih mu di hari itu. Kau seolah hendak menunjukkan kepada semua orang bahwa kau terpaksa untuk menikahi aku. Meski sebenarnya aku tahu benar bahwa kau memang terpaksa. Kita berdua saat itu sama-sama terpaksa. Walau aku tidak tahu apa sebenarnya alasanmu sampai mau terpaksa menikah denganku. Dan saat ini, aku ingin mengatakan bahwa aku sangat mencintaimu. Aku tidak tahu sejak kapan itu terjadi, mengingat pernikahan kita baru seumur jagung. Aku tidak menyangka bahwa aku begitu cepat jatuh cinta padamu dan bisa melupakan mendiang Nabila dengan cepat. Dan aku juga minta maaf karena aku menyakitimu dengan masih menyimpan semua kenangan tentang Nabila di kamarku. Aku janji bahwa aku akan melepaskan semuanya dan...."
"Apa kau tidak bosan berbicara panjang lebar?" Tanya Alia memotong ucapan Arka.
Arka hanya tersenyum dan menggeleng.
"Aku mengerti semuanya. Kau tidak perlu mengatakan semuanya seperti orang yang tengah berpidato. Aku paham." Ucap Alia yang membuat Arka tertawa kecil. "Aku sendiri juga tidak tahu sejak kapan aku mulai jatuh cinta padamu. Tapi yang jelas saat ini, aku katakan bahwa aku sepenuhnya mencintaimu Arka Wijaya." Lanjut Alia.
Arka tersenyum, dia lalu memegang dagu Alia dan hendak menciumnya. Namun Alia dengan cepat menghindar.
"Ayolah, ini bukan di rumah kita. Orang bisa saja melihat." Ucap Alia.
"Siapa yang akan melihat? Semua orang sudah tidur." Balas Arka.
"Kheemmm...."
Tiba-tiba dari arah samping terdengar suara orang berdeham.
Saat Alia dan Arka melihat ke arah sumber suara, disana terdapat Reyhan dan Devan yang tengah duduk bermain catur.
Alia sontak menutup wajahnya kemudian berlari masuk ke dalam rumah. Sementara Arka duduk mematung dan perlahan menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Sejak kapan kalian berada disana?" Tanya Arka tampak gugup.
"Sejak tadi." Balas Devan.
"Ja.. jadi, kalian mendengar apa yang kami bicarakan?" Tanya Arka lagi.
Arka menggelengkan kepalanya kemudian berdiri lalu mendekati mereka berdua dan ikut duduk bergabung bersama mereka berdua.
"Lain kali lakukan di kamar." Ejek Reyhan.
"Seharusnya kalian beritahu kalau kalian ada disini." Protes Arka.
"Siapa suruh tidak lihat-lihat dulu ada orang atau tidak." Balas Devan.
"Tapi kan..."
"Sudah-sudah, lebih baik kau kejar saja istrimu sana." Ucap Reyhan lagi.
Arka menggeleng.
"Sudahlah." Balas Arka. "Oh ya, lebih baik Ayah tidur saja. Ini sudah larut, tidak baik bagi kesehatan Ayah jika masih terjaga apalagi sampai begadang di jam seperti ini."
"Kau itu sama cerewetnya seperti Ibu mu." Balas Reyhan. "Tidak bisa apa lihat Ayah senang main catur dengan lawan yang sesuai."
"Kali ini biar aku yang lawan Devan." Ucap Arka.
"Siapa bilang aku mau melawan mu bermain. Aku mau tidur, ayo Ayah besok saja kita lanjutkan. Lebih baik kau cepat temui istrimu." Ejek Devan.
"Kalian ini." Arka tampak kesal.
"Hahaha... Sudahlah, lebih baik sekarang kita istirahat saja." Ucap Reyhan kemudian berdiri bersamaan dengan Devan. "Oh ya Arka, Ayah sarankan, lebih baik kau bawa Alia liburan sekaligus berbulan madu. Tinggalkan Dafa disini bersama kami. Dan untuk urusan kantor, biarkan Ayah yang urus dibantu juga oleh Devan."
"Benar, sejak menikah kalian belum pernah kemanapun. Minta Alia cuti dari dunia model dulu untuk pergi liburan. Setidaknya kalian bisa punya waktu berduaan. Karena selama ini aku lihat, Dafa selalu ada diantara kalian." Ucap Devan lalu melangkah masuk menyusul Reyhan yang sudah berjalan lebih dulu setelah menepuk pundak Arka.
Arka terdiam sesaat, kemudian dia memikirkan tentang kemana ia harus membawa Alia untuk pergi berbulan madu.
"Benar apa yang dikatakan Ayah dan Devan. Aku harus membawa Alia pergi honeymoon. Tapi kemana? Apa aku harus bertanya padanya lebih dulu?" Ucap Arka kemudian melangkah masuk ke dalam rumah.
Arka lalu masuk ke dalam kamar dan mencari keberadaan Alia yang tidak ada diatas tempat tidur.
"Kemana dia?" Pikir Arka seraya beranjak ke arah kamar mandi yang ada di dalam kamar itu.
Tapi tetap saja, Alia tidak ada disana.
"Apa dia tidur dengan Dafa?" Ucap Arka seraya berjalan ke arah kamar yang memang disiapkan oleh Reyhan dan Izzah untuk kedua cucu mereka.
Saat Arka membuka pintu kamar itu, tampak Alia memang tertidur dengan memeluk Dafa.
Dafa sendiri tampak begitu nyenyak. Arka melihat ke arah tempat tidur yang satunya dimana seharusnya Denis ada disana. Tapi kenyataannya Denis tidak ada disana.
__ADS_1
"Mungkin dia tidur dengan Mama nya." Ucap Arka kemudian mendekat ke arah Alia dan juga Dafa.
Arka tersenyum melihat Alia yang tertidur pulas, begitu juga dengan Dafa.
Arka lalu mengusap kening Alia dan menciumnya.
"Selamat malam sayangku, tidurlah dengan nyenyak." Bisik Arka di telinga Alia.
Saat Arka hendak berbalik, Alia langsung memegang tangannya.
"Kau belum tidur?" Tanya Arka dengan berbisik.
"Tidurlah disini." Balas Alia seraya menepuk tempat tidur disisinya.
Arka tersenyum lalu naik ke atas tempat tidur yang tidak terlalu besar itu.
"Tempat tidur ini kecil, kau akan terjepit." Bisik Arka.
"Asal kau tidak banyak bergerak, dan tetap memeluk aku. Semuanya akan baik-baik saja." Balas Alia seraya kembali memeluk Dafa dengan posisi membelakangi Arka.
Arka tersenyum kemudian memeluk Alia dengan begitu erat. Keduanya pun tertidur dengan lelap.
**********
Keesokan paginya....
Semua orang sudah bangun dan duduk di ruang makan tepat pukul 7 pagi.
"Bagaimana kalau hari ini kita pergi ke makamnya Nabila." Usul Izzah yang membuat semua orang yang duduk untuk sarapan langsung terdiam.
Arka sendiri langsung menatap ke arah Alia.
"Maaf sebelumnya untuk Alia, Ibu tidak bermaksud untuk..."
"Aku paham Bu. Lagi pula aku sendiri memang sudah berencana untuk pergi kesana. Tapi sejak kemarin belum punya waktu yang tepat." Balas Alia.
"Alia...." Arka memegang tangan Alia dengan erat.
"Aku ingin bertemu dengannya, ingin mengirimkan doa untuknya." Ucap Alia.
Semua orang tersenyum mendengar ucapan Alia. Kecuali Denis dan Dafa yang sama sekali tidak mengerti siapa yang tengah dibicarakan oleh orang-orang dewasa disekitar mereka itu.
"Papa, siapa Nabila itu?" Tanya Dafa.
Semua orang tampak mematung.
"Kenapa diam?" Tanya Arka lagi.
Alia menghela napas lalu tersenyum. Ia kemudian kembali menyuapi Dafa.
"Sayang, habisin makanannya dulu. Nanti Mama jelasin ya." Ucap Alia dibalas anggukan Dafa.
Setelah selesai makan, Alia lalu berdiri dan berucap, "semuanya bersiap-siaplah. Kita akan pergi sebentar lagi."
Alia lalu pergi ke kamar dengan menggendong Dafa diikuti oleh Arka.
Mereka bertiga lalu duduk di tepian tempat tidur.
"Sayang, mama mau cerita sesuatu sama Dafa. Mau dengar tidak?" Ucap Alia.
"Hmmm...." Dafa mengangguk.
"Dafa tahu tidak kapan Dafa dilahirkan?" Tanya Alia.
"Tanggal xx bulan xx tahun xx..." Balas Dafa.
"Anak pintar." Balas Alia. "Lalu, apa Dafa tahu siapa yang melahirkan Dafa?"
"Mama..." Balas Dafa.
Arka tersenyum lalu mengusap kepala Dafa.
"Dafa tahu kan kalau Mama bukan orang yang melahirkan Dafa?" Tanya Alia lagi.
Dafa mengangguk, hal itu membuat Arka dan Alia tidak dapat berkata apa-apa.
"Dafa tahu kalau Mama bukan orang yang melahirkan Dafa. Mama kan baru saja menjadi Mama Dafa setelah menikah dengan Papa." Ucap Dafa.
Arka dan Alia tertegun mendengar ucapan bocah berusia empat tahun yang sudah fasih berbicara itu. Arka lalu memegang kedua pipi puteranya itu.
"Maafin Papa ya Nak, tidak pernah menjelaskan semuanya sama Dafa."
Dafa tersenyum dan mengangguk.
"Apa Dafa mau menjenguk Mama kandung Dafa?" Tanya Alia.
"Apa Mama kandung Dafa itu yang namanya Nabila?" Tanya Dafa polos.
Arka menganggukkan kepalanya kemudian mencium kening Dafa.
"Kalau begitu, tunggu apa lagi. Ayo kita berangkat." Ucap Dafa menggandeng tangan Alia.
Alia pun tersenyum. Setelah itu mereka semua bersiap untuk pergi ke makam Nabila untuk pertama kalinya dengan membawa Dafa dan juga Alia.
__ADS_1
'Ini adalah awal dari semuanya.' ucap Alia dalam hati saat masuk ke dalam mobil dengan menghela napasnya.
Bersambung...