
Menu sarapan sudah tersedia di meja makan. Semua orang satu persatu mulai keluar dari kamar menuju meja makan. Pak Haris dan bu Novi datang hampir bersamaan. Terlihat pak Haris masih kesal terhadap bu Novi. Kemudian Rayhan dan Izzah turun bersamaan menuju meja makan.
Bi Inah membuat sup hangat dan ayam goreng sebagai lauk sarapan pagi ini. Semenjak kehadiran orang tua Izzah, Rayhan menyesuaikan diri untuk asupan makanan setiap paginya. Biasanya dulu setiap pagi Rayhan hanya sarapan dengan roti. Namun saat ini Rayhan sudah mulai terbiasa dengan menu sarapan dengan nasi. Meski kadang-kadang Rayhan acap kali sarapan dengan menu berbeda dibanding yang lainnya yaitu dengan roti atau cereal.
Denting suara piring beradu dengan sendok dan garpu. Tak ada percakapan selama sarapan berangsung. Karena bagi Rayhan saat makan bersama, pantang untuk berbicara. Pak Haris dan bu Novi begitu menghormati Rayhan, lebih tepatnya segan. Mereka begitu berhati-hati dalam bersikap dihadapan Rayhan.
Hingga sarapan selesai, Hani sama sekali tak menampakkan batang hidungnya. Izzah melihat ke arah kamar Hani yang berdampingan dengan kamar orang tuanya. Rayhan lalu mengelus pundak Izzah.
"Sayang, abang boleh ke kantor gak hari ini?" tanya Rayhan.
"Tentu saja bang. Kenapa abang harus nanya." balas Izzah.
Rayhan hanya tersenyum.
"Sayang baik-baik saja kan?" tanya Rayhan lagi.
"Izzah baik-baik saja bang. Lebih baik abang berangkat gih, nanti terlambat." ucap Izzah.
"Kalau gitu abang berangkat dulu ya sayang." ucap Rayhan lalu mencium kening Izzah.
"Ayah, ibu Rayhan berangkat dulu. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam." jawab ketiganya.
Rayhan kemudian berangkat menuju kantor. Sementara Izzah dan orang tuanya tetap duduk di ruang makan.
"Bu, Hani kok belum keluar ya?" tanya Izzah.
"Ya jelas dia masih kecewa karena acara pertunangannya batal. Lagian kamu gak usah tanya ibu mu. Ini semua juga terjadi gara-gara dia." ucap pak Haris.
Bu Novi menunduk penuh rasa bersalah.
"Ayah, maafin ibu." balas bu Novi.
"Sudahlah." ucap pak Haris lalu pergi.
Izzah menatap bu Novi dengan iba. Mata bu Novi kembali berair, semalaman dia menangis mengutuk dirinya sendiri. Atas kesalahannya di masa lalu terhadap Izzah, menjadi karma untuk anak kandungnya sendiri.
"Ibu harus gimana Zah?" tanya bu Novi.
Izzah mendekati bu Novi, lalu menuntunnya untuk duduk di ruang keluarga.
"Bu, sebaiknya ibu bicara dengan Hani. Cobalah untuk membuat Hani tidak marah terhadap ibu. Kasian dia bu, belum keluar dari kamar." ucap Izzah.
"Baiklah, ibu ke kamar Hani dulu ya." balas bu Novi beranjak menuju kamar Hani.
Tok! Tok! Tok!
__ADS_1
Pintu kamar Hani di ketuk berulang-ulang oleh bu Novi. Tapi sama sekali tak ada tanda-tanda Hani akan membukanya. Bu Novi menghela nafas kasar.
"Hani, sayang... Buka pintunya nak, ini ibu. Ibu mau bicara." ucap bu Novi.
Namun tak ada balasan dari Hani, hening. Izzah menatap bu Novi dari ruang keluarga.
"Hani, ayolah nak. Kita perlu bicara, jangan mengurung diri terus nak."
Bukk....!!! Entah suara apa yang terdengar di lempar Hani ke pintu, membuat bu Novi kaget dan beringsut mundur.
"Pergi.... Hani gak mau bicara sama ibu. Pergiiiiii...." teriak Hani.
"Tapi nak....."
"Aku bilang pergi......" teriak Hani lagi.
Bu Hani kemudian beringsut mundur, lalu mendekati Izzah.
"Gimana bu?" tanya Izzah.
Bu Novi menggeleng lalu menangis.
"Dia tidak mau bicara pada ibu. Hani sangat membenci ibu Zah." isak bu Novi.
Izzah merangkul bu Novi, dia merasa begitu kasihan pada bu Novi. Anak yang begitu di sayanginya kini begitu membenci bu Novi.
Tenang ya bu, sekarang Izzah yang coba bicara dengan Hani." ucap Izzah.
"Izzah maafkan ibu ya. Ibu sudah begitu jahat padamu, namun kau tetap saja peduli pada ibu."
"Sudahlah bu, semua itu hanya masa lalu. Yang penting sekarang ibu sudah berubah dan keluarga kita sudah berkumpul lagi. Oh ya Izzah coba ke kamar Hani dulu ya." ucap Izzah.
Bu Novi mengangguk, Izzah kemudian menuju dapur mengambil sepiring nasi beserta lauknya. Izzah kemudian membawa nasi, lauk serta air minum menggunakan nampan menuju kamar Hani.
"Hani, sayang. Buka pintunya, ini kak Izzah." ucap Izzah.
Tak lama pintu kamar Hani terbuka. Hani terlihat kacau, matanya sembap, rambutnya acak-acakan. Pakaiannya pun masih mengenakan kebaya di acara pertunangannya.
"Astagfirullah Hani, kamu kenapa begini?" ucap Izzah.
Izzah menatap Hani penuh rasa iba. Kemudian masuk kamar Hani, lalu meletakkan nampan diatas meja.
Izzah mendekati Hani yang duduk ditepian ranjang. Izzah mengelus kepala Hani, sontak Hani langsung memeluk Izzah dan menangis.
"Loh loh, kok malah nangis sih." ucap Izzah.
Hani semakin terisak.
__ADS_1
"Kak, kenapa disaat Hani sudah mulai berubah jadi lebih baik, masalah malah datang ke kehidupan Hani."
"Ini ujian dari Allah dek. Allah tengah menguji iman dan kesabaran kamu. Jika kamu berhasil meewati ujian ini. Insyaallah akan ada kebahagiaan yang menanti kamu nantinya. Kamu harus banyak berdoa, memohon petunjuk sama Allah dan meminta pertolongan. Semalam shalat gak? Tadi subuh?" tanya Izzah.
Hani menggeleng. Izzah menghela nafas panjang.
"Dek, seharusnya kita itu jika sedang diberi ujian harus semakin mendekatkan diri dengan Allah, bukan malah semakin menjauh. Tapi bukan berarti saat senang kita malah lupa menyebut nama Allah. Kamu harusnya selalu mendekatkan diri pada Allah dalam suka maupun duka."
Hani menyeka air matanya. Izzah kemudian mencoba merapikan rambut Hani yang berantakan dengan menguncirnya.
"Hani, kamu gak boleh larut dalam kesedihan seperti ini. Ayo bangkit, jangan seperti ini. Masa iya anak gadis jam segini belum mandi. Badan baunya udah kayak anak kambing. Mana ada cowok yang lirik kalau begini." lanjut Izzah.
"Kak, mana ada laki-laki yang mau sama Hani dengan kejadian kemarin. Kabar tentang ibu yang tega menjual anaknya sendiri pasti sudah tersebar kak. Gak akan ada orang tua yang mau berbesan dengan ibu." ucap Hani.
"Hubunganmu dengan Aldi belum putus kan? Kemarin kakak dengar sendiri Aldi teriak bilang cinta sama kamu. Jadi masih ada kesempatan untuk memperbaiki semuanya. Kak Izzah dengan kak Rayhan pasti akan bantu kamu untuk meluruskan semuanya." balas Izzah.
"Tapi kak, apa kak Izzah gak dengar apa yang diucapin mama nya kak Aldi semalam? Mama nya kak Aldi gak mau berhubungan dengan keluarga kita kak." ucap Hani.
"Sayang, kamu tenang aja. Bang Rayhan pasti akan usahain yang terbaik, apalagi hubungan bang Rayhan dengan orangtuanya Aldi sangat dekat."
Hani terdiam.
"Udah sana mandi dulu, terus sarapan. Itu kakak udah bawain makanan." ucap Izzah.
Hani tersenyum, lalu masuk ke kamar mandi. Izzah menunggu Hani sambil membereskan tempat tidur Hani. Tak lama Hani keluar dari kamar mandi, melihat kamarnya sudah rapi.
"Kakak kenapa bersihin kamar Hani sih? Hani bisa sendiri, lagian kak Izzah juga lagi hamil. Jadi gak boleh capek-capek." ucap Hani.
"Sudahlah dek, gak apa-apa. Ayo sarapan." perintah Izzah.
Hani kemudian mulai memakan makanan yang Izzah bawa. Tak lama ponsel Hani berdering, terdapat pesan masuk dari Aldi.
[Han, aku mau ketemu kamu. Kita ketemu di taman tempat biasa ya.]
Hani terlihat bingung, Izzah menatap Hani penuh tanda tanya.
"Pesan dari siapa Han?" tanya Izzah.
"Dari kak Aldi, ajak Hani ketemuan di taman." jawab Hani.
"Ya udah sana siap-siap untuk ketemu." ucap Izzah.
"Hani takut kak."
"Takut kenapa?"
"Takut kak Aldi marah dan membenci Hani."
__ADS_1
"Ya Allah, belum perang udah mengalah duluan. Temui dulu Aldi, pasti dia mau membahas hubungan kalian. Kak Izzah yakin dia pasti tidak akan marah ataupun kecewa. Dia terlihat sangat mencintai kamu."
Hani kemudian mengangguk, kemudian mulai bersiap untuk bertemu Aldi.