Aku Wanita Simpanan

Aku Wanita Simpanan
2. Hari Pernikahan


__ADS_3

Satu jam berlalu dan Alia belum juga tiba. Orang-orang mulai mengobrol tentang dirinya seraya melihat ke arah Mia dan Herry juga Tuan Luiz.


"Di mana dia?" Tanya Tuan Luiz kepada Mia dengan perlahan.


"Aku akan menelponnya." Balas Mia yang terlihat khawatir.


'Alia, tolong jangan paksakan dirimu adik ku. Kau berhak bahagia.' Ucap Herry dalam hati dan ingin melihat Alia untuk tidak datang ke acara pernikahannya itu.


"Mama membenci aku ya?" Tanya Dafa kepada Herry dengan wajah yang terlihat begitu sedih.


Herry melihat kearah Dafa kemudian berjongkok.


"Tidak, dia tidak membencimu." Ucap Herry.


Izzah yang memegangi tangan Dafa kemudian memangku nya untuk duduk.


"Sayang, cucu Oma yang ganteng. Mama pasti sudah di jalan. Mama kan harus di dandani seperti puteri agar tampak cantik." Ucap Izzah seraya mencubit hidung Dafa.


"Apa Mama akan cantik seperti Oma?" Tanya Dafa lagi.


"Pasti lebih cantik." Balas Izzah.


Dafa yang merasa bosan duduk, lantas menarik tangan Reyhan dan mengajaknya berjalan berkeliling disekitar tempat acara pernikahan akan berlangsung.


Reyhan juga tak lupa menggandeng cucunya yang lain, Denis, anak dari Arsha agar bisa bermain dengan Dafa.


"Bu, kenapa pengantin wanitanya belum sampai juga? Semua keluarganya sudah hadir disini. Lantas kenapa tinggal dia sendiri yang belum sampai? Aneh banget kan!" Ucap Arsha berbisik.


"Sha, mungkin dia butuh waktu untuk berdandan. Kamu sendiri waktu menikah dulu persiapan dandannya sejak subuh. Apa bedanya dengan dia. Apalagi dia itu model yang pasti selalu tampil sempurna."


"Aku paham Bu, tapi aneh aja kan. Semua keluarga sudah disini, tinggal dia doang yang gak ada. Apa jangan-jangan dia terpaksa menikah sama Kak Arka? Awas aja kalau dia sampai ada niat terselubung. Apalagi sampai jahat sama Dafa selaku anak tirinya."


"Hus...." Izzah menepuk punggung tangan putrinya itu. "Sudah berapa kali Ibu ingatkan, jangan pernah berburuk sangka dengan orang lain. Dia pasti wanita yang baik. Kamu pikirkan saja, dia itu model profesional, sangat terkenal. Bisa kamu lihat para tamu undangan dari kalangan para artis yang merupakan sahabat dan kerabatnya yang datang kemari. Untuk apa dia mau menghancurkan karirnya demi menikah dengan pria duda dan punya anak satu?" Ucap Izzah seraya menatap Arsha. "Ibu bukannya merendahkan Arka, justru Ibu yakin banyak wanita di luaran sana yang mau menjadi istrinya. Tapi wanita ini, Alia ini adalah pilihan Ayah kamu. Dan kamu sendiri tahu benar, apapun yang sudah dipilih oleh Ayah mu itu. Pasti akan selalu menjadi yang terbaik untuk keluarganya." Ucap Izzah panjang lebar.


Arsha hanya bisa menganggukkan kepalanya. Dia lalu meminta sang suami untuk mengambilkannya air minum.


"Mas, aku haus. Bisa ambilkan aku minum?" Pinta Arsha.


"Tentu." Balas Devan lalu bergegas pergi.


Saat tengah asyik mengobrol tiba-tiba pandangan semua orang beralih ke arah gerbang saat calon mempelai wanita akhirnya tiba. Izzah tersenyum seraya berdiri, begitu juga dengan Arsha yang ikut berdiri.


Namun, senyum di wajah Izzah tiba-tiba menghilang saat dia melihat ekspresi sedih di wajah Alia yang berjalan masuk ke dalam hotel.


"Dia sangat cantik."


Semua orang mulai memuji Alia dengan segala macam pujian dan para reporter tengah mengambil gambar Alia mengingat dirinya adalah model terkenal.


Herry langsung berjalan ke arah Alia dan menjulurkan tangannya.


"Biarkan aku menggandeng mu sampai ke atas panggung." Ucap Herry dengan senyuman yang terlihat menyedihkan.


Alia tersenyum kembali dan memberikan tangannya.


Alia memegang lengan Herry kemudian berjalan bersamanya sampai ke arah panggung.


"Wow, Mama sangat cantik." Ucap Dafa saat melihat kearah Alia.


"Mama ku lebih cantik." Ucap Denis.


"Tidak, Mama ku yang cantik." Dafa bersikeras.


"Mama ku." Denis lebih keras lagi.


"Sudah-sudah. Mama kalian sama-sama cantik." Ucap Reyhan berusaha melerai kedua cucunya itu bertengkar.


Mia yang melihat pertengkaran kedua bocah itu hanya tersenyum.


"Hei, apa kau menyukai Mama mu?" Tanya Mia seraya memegang ujung hidung Dafa.

__ADS_1


Mia kemudian melihat ke arah Reyhan dan menganggukkan kepalanya.


"Iya." Balas Dafa tersenyum.


"Anak manis." Mia mengusap kepala Dafa. "Om, biarkan saya yang menemani Dafa." Ucap Mia kepada Reyhan yang terlihat kerepotan menghadapi Denis yang terus menariknya untuk kembali pada Mama nya.


"Baiklah, Om titip Dafa ya." Balas Reyhan kemudian menggendong Denis dan segera membawanya pergi.


Dari arah panggung, Arka yang sudah duduk berhadapan dengan penghulu menatap sang putra yang tampak bahagia dengan senyuman di wajahnya saat terus memandang calon Mama nya yang tengah berjalan ke arah panggung.


Dafa adalah dunia Arka. Arka akan melakukan apapun untuk kebahagiaan Dafa. Termasuk dengan pernikahan yang dilakukannya saat ini.


Arka kemudian melihat kearah alia yang terlihat tidak bahagia dengan pernikahan itu harga dapat mengerti hal itu dengan melihat ke ekspresi di wajahnya.


'Apakah dia terpaksa menikah denganku aku tidak pernah berpikir bahwa keluarga luiz akan mengorbankan putri mereka hanya untuk sebuah kesepakatan perjodohan.' ucap Arka dalam hati dan merasa kesal melihat kearah keluarga Luiz.


Herry memberikan tangan Alia kepada Arka kemudian berkata, "aku akan menguliti mu hidup-hidup, jika kau berani untuk menyakiti adikku." Ucap Herry dengan suara yang begitu menakutkan.


Arka mengambil tangan Alia dan menjawab, "aku bukanlah orang yang suka menyakiti seorang wanita."


"Kalau begitu, ingatlah dengan baik kata-katamu itu." Ucap Herry kemudian berjalan mundur.


Alia merasa begitu buruk setelah Arka memegang tangannya. Alia melihat ke arah bawah dengan ekspresi yang sedih.


'Jika dia begitu enggan, lalu kenapa dia setuju menikah denganku?' ucap Arka dalam hati dan merasa bermasalah dengan pernikahannya ini.


Acara pun dimulai. Penghulu mulai membacakan identitas mereka masing-masing dan bertanya apakah ada paksaan atau tidak dalam pernikahan itu sebelum acara dilanjutkan.


Alia terdiam sesaat sebelum menjawab 'tidak'.


Kemudian....


"Saahh...."


Para tamu undangan terutama sahabat kerabat alia bersorak senang kemudian mengucapkan selamat kepada kedua mempelai dan para keluarga.


Acara saat itu langsung dilanjutkan dengan resepsi pernikahan. Arka sendiri yang meminta tidak perlu pesta yang dilakukan malam hari. Setelah akad, mereka langsung menerima para tamu undangan.


Tuan Luiz naik ke atas panggung dan mulai berbicara.


"Sungguh suatu kehormatan bagi kami keluarga Luiz bisa menjalin tali kekeluargaan dengan menikahkan puteri kami dengan putera sulung keluarga Tuan Reyhan Aditya Wijaya. Selaku orang tua dari Alia Luiz, kami ingin menyampaikan sebuah pesan kepada menantu kami...


Menantuku, pada hari ini aku menikahkan dirimu dengan putri tercintaku. Mulai hari ini pula, tanggung jawab untuk menafkahi, melindungi dan membela putriku, ada pada dirimu.


Engkau harus tahu menantuku, bahwa aku akan selalu mencintai dan menyayangi putriku, seumur hidupku. Kendati ia telah menjadi istrimu, selamanya ia tetap anak perempuan tercintaku.


Maka pada hari ini, aku ingin menyampaikan beberapa pesan kepadamu. Termasuk pesan dari mendiang ibu putriku.


Kami aku dan seluruh keluarga Luiz, telah menerima dirimu sebagai menantu kami. Sebagai belahan jiwa dan kekasih hati putri kami. Sebagai anggota dari keluarga besar kami.


Ketahuilah, wahai menantuku, selama putriku hidup bersama kami, bahkan sejak masih begitu mungil, kami telah mencintainya. Kami telah menjaga, melindungi dan menghargainya.


Setelah ia dewasa, kami selalu mendampinginya, kami mendidiknya, kami menjaganya, kami selalu menyayanginya dengan sepenuh jiwa.


Seumur hidup, kami tidak pernah menyakitinya. Kami tidak pernah melukainya. Kami tidak pernah menyusahkan nya. Kami tidak pernah menelantarkannya.


Kami asuh ia dengan segenap jiwa raga. Kami rawat dengan sepenuh tanggung jawab dan sepenuh doa. Kami lindungi dari berbagai hal yang bisa mendatangkan mudharat baginya. Kami jaga dirinya dengan sepenuh cinta.


Maka kami tidak rela siapapun menyakiti dirinya. Kami tidak rela siapapun melukainya. Kami tidak rela siapapun membuatnya sengsara, termasuk kamu, wahai menantuku.


Kami tidak rela jika engkau menyia-nyiakannya. Kami tidak rela jika engkau membuatnya menderita. Kami tidak rela jika engkau membuatnya berduka.


Jangan pernah berlaku keras dan kasar kepadanya, karena kami tak pernah melakukannya. Jangan pernah membentak dan bertindak galak kepadanya, karena kami tak pernah mencontohkannya. Jangan pernah bertindak zalim kepadanya, karena kamipun tak pernah menzaliminya.


Kami mengerti putri kami memiliki kekurangan dan kelemahan, sebagaimana dirimu pun pasti memiliki kekurangan dan kelemahan. Tutupi lah kekurangan dan kelemahannya. Jangan engkau menyebarkannya.


Didik dan nasehati dengan kelembutan, ajak dirinya menggapai ridha Allah Ta'ala, bimbing tangannya menggapai surga bersama. Hiasi hidup kalian dengan taqwa, raihlah keberkahan, bukan kemegahan dan kemewahan.


Jika suatu hari nanti engkau tak lagi mencintainya, jangan katakan kepadanya. Itu akan menyakiti dan melukainya. Katakan saja pada kami, dan kami akan datang menjemputnya.

__ADS_1


Sebagaimana hari ini kami melepasnya untuk hidup bersamamu, maka apabila suatu hari nanti kamu tidak lagi bisa merawat dan menghargai dirinya, kami yang akan mengambil kembali dia darimu.


Engkau harus tahu, wahai menantuku, kami selalu menyediakan cinta untuknya. Seumur hidup kami. Sepanjang usia kami. Selalu ada cinta untuk putri kami. Selalu ada doa untuk putri kami."


Ucapan Tuan Luiz berakhir dengan air matanya yang berderai. Alia yang duduk disamping Arka juga tak kuasa menahan air matanya. Dia tidak pernah melihat Papa nya berbicara begitu panjang lebar mengenai cintanya terhadap dirinya itu.


Arka tidak tahu harus bertindak seperti apa. Ia hanya bisa diam dengan mata yang beralih menatap ke arah puteranya yang tengah sibuk menyantap makanan dengan disuapi oleh Oma nya.


Kali ini, giliran Reyhan yang naik ke atas panggung.


"Terima kasih kami ucapkan untuk keluarga Luiz yang sudah berkenan melepaskan puteri cantik mereka untuk menjadi bagian dari keluarga kami. Kami berjanji akan selalu menjaganya, dan akan membuat dia bahagia menjadi bagian keluarga Wijaya.


Alia Luiz selamat datang dalam keluarga besar kami. Tugas pertamamu sebagai menantu adalah menghafal nama anggota keluarga kami yang jumlahnya cukup banyak." Ucap Reyhan diselingi tawa para tamu undangan.


Izzah hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat sang suami yang mencoba membuat suasana tegang di wajah pengantin wanita mencair.


"Arka, izinkan Ayah mu yang tampan ini mengatakan sepatah dua patah kata untukmu." Ucap Reyhan lagi.


Arka tersenyum dan mengangkat tangannya kemudian memberikan jempolnya pada sang Ayah.


"Arka kami yang tampan, ingatlah bahwa hari ini kau sudah menikah. Ayah harap kebiasaan gila kerja hingga membuatmu pulang larut malam yang kau lakukan selama ini bisa menghilang. Ingat sudah ada istri yang menunggumu di rumah.


Lihatlah wanita cantik yang duduk di sampingmu itu. Dia sudah menerima dirimu sebagai suaminya. Itu artinya dia sudah menerima segala kekurangan dan kelebihan yang kau miliki. Janganlah kamu menyakiti hatinya, baik dengan ucapan maupun terlebih tindakan. Ingatlah luka hati akibat ucapan sama dalamnya dengan luka fisik akibat tindakan kekerasan. Dan jika terjadi luka-luka itu, maka kamu sepanjang hidupmu tak akan termaafkan olehnya


Pesan Ayah, jangan banding-bandingkan dia dengan wanita lainnya karena belum tentu jika dihitung kebaikan wanita lainnya itu lebih banyak dari yang istrimu punya."


Jleb! Mendengarkan hal itu, sontak langsung mengingatkan Arka akan sosok Nabila, mendiang istrinya.


"Ingatlah juga bahwa pernikahan itu tidak ada sekolahnya. Yang perlu dilakukan adalah menjalaninya. Ingatlah selalu janji pernikahan. Masa depan tak bisa diperkirakan. Mintalah Tuhan untuk selalu mendampingi kalian berdua sehingga selamat mengarungi bahtera sampai berdua pergi ke alam baka." Ucap Rayhan akhirnya selesai berbicara.


Pandangan Arka kosong, ia kembali memikirkan Nabila.


'Apa yang aku lakukan ini benar? Nabila apakah kau akan marah padaku karena aku menikah dengan orang lain setelah kepergian mu? Maafkan aku.' ucap Arka dalam hati kemudian menghela napas panjang.


Acara pun akhirnya selesai. Setelah selesai menyapa para tamu, Alia merasa begitu lelah. Dia kemudian pergi ke sudut ruangan dan kemudian duduk.


'Aku sudah menikah.' ucap Alia dalam hati dan menutup matanya.


"Mamaaaa....." Teriak Dafa dari jauh kemudian berlari ke arah Alia.


Saat Alia membuka matanya dan melihat kearah Dafa yang berlari ke arahnya ada apa datang dan langsung memeluknya dengan penuh kebahagiaan.


"Aku sangat bahagia." Ucap Dafa dengan tersenyum dan mencium pipi Alia.


Alia begitu terkejut dengan hal yang dilakukan dapat secara tiba-tiba alia kemudian tersenyum ke arah Dafa dan bertanya, "apa kau sangat bahagia?"


Dafa mengangguk kan kepalanya dan tersenyum penuh kebahagiaan. Alia tertawa kecil dan membuat Dafa duduk di pangkuan nya.


'Aku punya mama sekarang.' ucap Dafa dalam hati dan tiba-tiba air mata jatuh ke pipinya.


Alia merasa terkejut dia membuat Dafa melihat ke arahnya dan bertanya,


"Kenapa kenapa kamu menangis?" Tanya Alia dengan khawatir.


Dafa memeluk Alia dengan begitu erat dan berkata seraya mengusap air matanya.


"Sekarang, mereka tidak akan mengejek aku lagi."


Alia menjadi lebih terkejut, karena dia sudah terbiasa diejek karena tidak mempunyai ibu, yang mana hal itu membuatnya menjadi marah kepada anak-anak yang membully Dafa itu.


"Sssshhhh.... Sekarang aku adalah ibumu bukan, dan kau adalah anak yang sangat kuat." Ucap Alia seraya mengusap air mata Dafa dan menciumnya tepat di keningnya.


"Kau tidak akan meninggalkan ku bukan?" Tanya Dafa dengan sesenggukan.


"Tidak akan sayangku." Balas Alia dengan tersenyum.


Dari jarak kejauhan Arka melihat ke arah mereka. Dia tersenyum setelah melihat bahwa Alia adalah pilihan terbaik untuk menjadi ibu bagi Dafa.


Bersambung....

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan like serta komentar kalian ya....


__ADS_2