
Raut wajah Ana berubah pias. Ingin mengelak namun semua orang sudah melihat semuanya.
Apa yang harus aku lakukan, batin Ana.
Polisi mulai mendekati Pak Surya.
"Saudara Surya, anda kami tangkap atas kasus prostitusi yang melibatkan isteri anda sebagai penyedia jasa dan anda selaku mucikari. Mari ikut kami ke kantor." ucap Pak Arman.
"Jangan tangkap saya Pak, saya tidak bersalah. Ana sendiri yang suka bekerja sebagai PSK Pak. Saya hanya ikut-ikutan saja Pak." kilah Pak Surya.
"Apa??? Kamu ngomong apa? Kamulah yang memaksa aku dari dulu untuk bekerja sebagai wanita panggilan." teriak Ana.
Izzah yang melihat pemandangan tersebut merasa miris.
"Astaghfirullahal'adzim ya Allah." ucap Izzah mengelus dada.
"Bohong Pak, Ana sendiri yang suka bekerja sebagai PSK. Malah sejak kelas 1 SMA dia sudah bekerja seperti itu Pak." ucap Pak Surya ikut berteriak.
"Dia yang bohong Pak, saya akui memang saya bekerja seperti ini sudah lama. Itupun karena dia Pak. Dulu dia memperkosa saya Pak. Hingga saya terpaksa bekerja seperti ini." balas Ana yang mulai terisak duduk di lantai.
"Jangan dengerin dia Pak, dia perempuan yang haus akan lelaki Pak." teriak Pak Surya kembali.
"Sudah cukup, sekarang kalian berdua diaaaaammm." teriak Pak Arman.
Seketika Pak Surya dan Ana terdiam.
"Saudari Mariana anda diduga melakukan tindak pidana penipuan terhadap saudara Rayhan Aditya, selain itu anda juga diduga terlibat dalam kasus prostitusi. Sekarang anda harus ikut kami ke kantor polisi." ucap Pak Arman lagi.
"Saya gak salah Pak, sumpah semua ini karena saya dipaksa." pekik Ana.
__ADS_1
Pak Surya sudah digiring oleh dua orang Polisi lainnya menuju mobil polisi, sementara Ana menangis histeris.
"Silahkan jelaskan semuanya nanti di kantor." balas Pak Arman.
Ana semakin menangis meraung-raung.
"Uuuhh dasar eta awewe teh maneh gelo pisan, iiihh amit-amit punya keturunan macam dia." ucap Mang Diman.
Pak Haris hanya menghela nafas. Sementara Rayhan akhirnya bisa bernafas lega, ia merangkul Izzah yang tampak bingung dengan semua kejadian dihadapannya.
Ana keluar dari kamar mandi setelah diminta mengganti pakaiannya. Kemudian dua orang polisi kembali menggiring Ana untuk keluar kamar.
Saat melewati Rayhan, Ana berhenti dan menatap Rayhan.
"Mas, maafin Ana. Ini semua ulah Om Surya. Ana dijebak Mas. Tolong jangan ceraikan Ana." ucapnya.
Mang Diman dan Pak Haris saling pandang lalu tertawa.
"Ana Ana, urat malu kamu teh sudah putus ya? Dasar gelo..." ucap Mang Diman.
Ana mengernyitkan dahinya.
"Wanita macam apa kamu sebenarnya?" ucap Rayhan. "Kamu masih berstatus isteri orang dan kamu malah menikah denganku. Apa sebenarnya alasan kamu, ha?" lanjut Rayhan membentak Ana.
Ana tertunduk menangis.
"Sudah kamu teh gak usah mengeluarkan air mata biawak kamu itu." ucap Mang Diman.
"Biawak? Bukannya air mata buaya ya!." seru Pak Haris.
__ADS_1
"Buaya kan montok-montok Pak, nah dia kurus begitu kayak biawak." gelak Mang Diman. "Lebih baik kita arak saja dia." lanjut Mang Diman.
"Maaf sebelumnya, anda tidak boleh main hakim sendiri." ucap Pak Arman. Kalau begitu Pak Rayhan, mari kita lanjutkan interogasinya di kantor saja." sambung Pak Arman kemudian berlalu.
Ana pun dipaksa untuk berjalan keluar dari hotel.
"Terima kasih untuk semuanya Pak Agus." ucap Rayhan.
"Sudah tugas saya untuk membantu anda Tuan." balas Pak Agus. "Maaf Tuan, kami harus pergi dulu ke kantor polisi guna menjadi saksi atas kasus prostitusi ini." lanjutnya.
"Baik." balas Rayhan.
Pak Agus dan dua orang yang lain kemudian menyusul pergi ke kantor Polisi.
"Ayah, Mang Diman kalian boleh pulang beserta Izzah juga. Sekarang biar saya yang urus semuanya." ucap Rayhan.
Izzah dan Pak Haris mengangguk.
"Wah, saya ikut Den Rayhan saja. Mau liat si Ana itu ngakuin semuanya. Lagian juga kalau dirumah malah disuruh cuci piring nanti sama Ibu." ucap Mang Diman.
"Baiklah kalau begitu." balas Rayhan.
"Sayang, pulangnya diantar sopir aja ya. Abang sama Mang Diman mau langsung ke kantor Polisi buat ngurus semuanya." ucap Rayhan pada Izzah.
"Baik Bang, hati-hati ya." ucap Izzah sambil mencium tangan Rayhan. "Assalamualaikum." salam Izzah.
"Waalaikumsalam." balas Rayhan.
"Rayhan, Ayah dan Izzah jalan duluan ya. Kalian berdua berhati-hatilah." ucap Pak Haris.
__ADS_1
Rayhan mengangguk, kemudian Izzah dan Pak Haris lalu berjalan keluar hotel untuk pulang terlebih dulu.
Sementara Mang Diman dan Rayhan hendak bersiap-siap menuju kantor polisi.