
Semua orang panik, mencoba membangunkan Hani yang tak sadarkan diri. Bu Novi tak henti-hentinya menangis, meratapi nasib putri kesayangannya.
"Kenapa semua ini terjadi pada Hani-ku? Kenapa? Huuuu....uuuu...uuu" isak bu Novi.
Aldi tampak sangat emosi kepada Bella.
"What do you mean hah? Hamil? How it posibble? Sedangkan menyentuh kamu saja aku tidak pernah. Are you stupid?" bentak Aldi.
"Ya, I am stupid. It is because both of you." balas Bella sambil menunjuk Aldi dan Rayhan.
"You are really stupid." ucap Aldi.
"Lebih baik kamu pergi dari sini, jangan lagi buat keributan. Lihat sana, akibat ulah kamu Hani jadi tak sadarkan diri." ucap Rayhan.
"Aku gak perduli. Mau dia pingsan atau mati sekalipun, I dont care. Pokoknya kalian semua gak boleh bahagia." pekik Bella.
Izzah yang sedari tadi berusaha membangunkan Hani bangun untuk mendekati Bella.
Plakk!!! Bugh!!!
Semua mata tertuju pada Bella yang tersungkur, bersamaan dengan sadarnya Hani.
Izzah menampar lalu menendang perut Bella. Rayhan dan Aldi tampak terkejut melihat apa yang baru saja dilakukan Izzah.
Begitu juga dengan semua orang yang ada di ruangan itu. Mereka nampak tak percaya dengan apa yang mereka lihat. Izzah yang selama ini dikenal mereka sebagai wanita yang lemah lembut ternyata bisa melakukan hal itu.
Bella meringis kesakitan, tangan kirinya memegang pipinya yang memerah serta tangan kanannya memegang perutnya yang terasa ngilu karena di tendang Izzah dengan keras.
Izzah nampak begitu emosi, raut wajahnya sangat menunjukkan kemarahan yang besar pada Bella. Rayhan menatap Izzah dengan lekat. Sungguh Rayhan tak pernah melihat Izzah sampai semarah ini sejak pertama dia mengenal Izzah.
"Kurang ajar kau pelakor. Berani kau denganku ya." teriak Bella bangun berusaha menampar Izzah.
Dengan cepat Izzah menangkap tangan Bella lalu memutarnya ke arah belakang. Izzah mengunci tangan Bella hingga dia tak bisa bergerak.
"Aku sudah terlalu sabar sama kamu. Selama ini segala perbuatan buruk kamu selalu bisa ku maafkan. Bahkan aku sudah menganggap kamu sebagai saudara aku sendiri. Tapi berbagai macam cara kamu lakukan untuk merusak kebahagiaanku. Kali ini tidak lagi, aku gak akan memaafkan kamu atas apa yang kamu perbuat. Aku muak bersikap baik sama kamu. Aku heran ada ya di dunia ini wanita yang gak tau malu seperti kamu." ucap Izzah panjang lebar.
__ADS_1
"Kamu yang gak tau malu, dasar pelakor." potong Bella.
Izzah kembali memelintir tangan Bella membuatnya teriak kesakitan.
"Aaaawww sakit, lepasin aku." pekik Bella.
"Diam." teriak Izzah. "Kamu itu benar-benar ya. Ingat satu hal, kamulah yang jadi pelakor pada hubunganku dengan Rayhan, bukan aku. Apa kamu pura-pura lupa, kalau akulah yang menikah dengan Rayhan pertama kali. Jadi kalau kamu mau salahin aku atas kondisi kamu yang menyedihkan seperti sekarang ini, kamu salah besar. Karena semuanya salah kamu sendiri, siapa suruh kamu cintanya sama lelaki yang sudah mencintai orang lain. Siapa suruh kamu tidak mau bermadu. Aku pernah memberimu kesempatan untuk mau bermadu, tapi kamu sendiri yang tak mau dan bahkan siasat jahat selalu kamu lakukan terhadapku. Hingga bang Rayhan menceraikan kamu." ucap Izzah panjang lebar.
"Aku gak peduli, yang jelas kalian semua harus menderita seperti yang aku rasakan. Bila perlu sekalian saja kamu dan anak yang ada dalam kandunganmu itu mati." teriak Bella berusaha menendang perut Izzah.
Namun dengan cepat Izzah menghindar.
Izzah lalu menarik rambut Bella dan kembali menendang Bella, namun kali ini Izzah menendang kaki Bella dengan keras membuat tubuh Bella roboh ke lantai.
"Aaaaaawww..." teriak Bella lagi.
Rayhan mendekati Izzah.
"Sa...sa...sayang, sudah-sudah. Jangan terlalu banyak bergerak takut bayi kita kenapa-napa sayang." ucap Rayhan.
"Sialan kamu Izzah, semua ini karena kamu." teriak Bella berusaha bangun hendak meraih tubuh Izzah yang berdiri di hadapannya.
Bella menengok ke belakang, ternyata orang tuanya sudah berdiri disana melihat apa yang terjadi pada Bella.
"Mama...papa... toongin Bella, wanita licik ini memukili Bella." ucap Bella lirih.
Bu Mila dengan cepat mendekati Bella dan membantunya bangun. Bu Mila menangis melihat kondisi Bella. Rambut Bella sudah acak-acakan, pipinya memerah, dan untuk berdiripun sulit dilakukan Bella.
"Ma, pa... cepat bawa wanita sialan itu ke polisi. Dia sudah melakukan kekerasan pada Bella." lanjut Bella lagi.
Plakk!!! Plakk!!!
Lagi-lagi Bella mendapat tamparan keras, namun bukan dari Izzah melainkan dari pak Seno.
"Pa...papa... kenapa malah nampar Bella?" ucap Bella meringis.
__ADS_1
"Cukup, kamu gak usah ngomong apa-apalagi. Sudah sepantasnya kamu diberi pelajaran. Demi Tuhan, papa malu punya anak seperti kamu. Sudah berapa kali papa memberi kamu kesempatan untuk berubah. Namun apa? Kamu tetap saja membuat papa malu dengan kelakuan kamu. Sekarang sudah cukup bersikap lembut sama kamu. Malam ini juga kamu berangkat ke Jerman. Papa gak mau kamu ada disini lagi." ucap pak Seno panjang lebar.
"Tapi pa, kasihan Bella." ucap bu Mila.
"Diam kamu Mila, selama ini kamu terlalu memanjakan dia. Kalau kamu tak terima keputusanku, kamu juga boleh ikut dengannya ke Jerman."
"Maafin Bella pa." ucap Bella lirih.
"Sudah jangan harap wajah memelas kamu bisa merubah keputusan papa. Ingat sampai kau bisa berubah jadi manusia yang jauh lebih baik, saat itu kau bisa kembali lagi pulang ke Jakarta." jelas pak Seno.
Bella menangis tersedu-sedu dipelukan bu Mila. Sementara pak Seno berjalan mendekati Izzah serta keluarganya yang sudah berdiri disamping Izzah. Hani pun sudah bisa berdiri meski masih dipegangi bu Novi.
"Semuanya saya minta maaf atas kelakuan anak saya. Terutama padamu Izzah, aku harap kalian semua bisa memaafkan segala kesalahan yang selama ini diperbuat Bella. Saya berjanji mulai hari ini dan seterusnya Bella gak akan mengganggu kalian lagi. Saya permisi, selamat malam." ucap pak Seno kemudian menyeret Bella keluar dari rumah Izzah.
Semua orang bernapas lega setelah kepergian Bella. Mang Diman mendekati Izzah.
"Mamang gak sangka neng Izzah yang lembut bisa jadi singa ganas. Hihihi." celetuk mang Diman. "Penyihir cantik itu sudah kena batunya." lanjut mang Diman.
"Peyihir cantik?" seru bi Asih.
"Iya, Bella si penyihir cantik." jawab mang Diman tertawa.
"Bapak ada-ada saja." balas bi Asih.
Semua orang kemudian menatap Izzah.
"Sudah-sudah, gak usah lihat Izzah heran begitu. Sekarang lebih baik, ayo kita lanjutin acaranya. Toh pengantin wanitanya juga sudah sadar." ucap Izzah memegang tangan Hani yang berdiri disampingnya.
Hani menangis, lalu memeluk Izzah.
"Makasih ya kak." ucap Hani.
"Sudah, jangan nangis entar makeupnya luntur lagi. Udah sana siap-siap dulu. Kita lanjutin acaranya." balas Izzah.
Semua orang tersenyum, kemudian kembali duduk di posisi semula. Sementara Aldi dan Hani tengah di touch up oleh perias pengantin, agar terlihat lebih segar lagi. Karena kejadian tadi, sedikit membuat penampilan mempelai pengantin agak berantakan.
__ADS_1
"Wah mulai sekarang, abang gak berani macam-macam deh sama Izzah. Bisa-bisa jurus tendangan maut menghamtam perut abang." goda Rayhan mencubit pipi Izzah.
"Iihh abang." seru Izzah.