Aku Wanita Simpanan

Aku Wanita Simpanan
Siap


__ADS_3

PoV Faradina


Kami akhirnya pindah ke rumah baru kami, tidak tinggal lagi dengan orang tua Ammar. Sejujurnya saja, aku merasa cukup betah untuk tinggal bersama dengan mereka semua. Terlebih karena mertuaku memperlakukan aku dengan sangat baik. Tapi tentu saja, seperti yang sering aku dengar dari teman-temanku yang sudah lebih dulu berumah tangga, bahwa akan lebih baik tinggal berdua dengan suami meski sebaik apapun mertua itu. Karena kita tidak tahu apa yang akan terjadi di masa depan.


Jadi aku dan Ammar pun memutuskan untuk pindah ke rumah baru kami setelah kami kembali dari agenda bulan madu kami.


Butuh waktu 2 hari untuk mengatur semua barang-barang di rumah baru kami. Kami berdua mulai mengemas pakaian kami dan tak lupa membawa foto pernikahan yang akan kami pajang nantinya di rumah baru. Kami juga membawa barang-barang lainnya, tak lupa juga makanan dan yang paling penting mengatur ruang kerja kami masing-masing.


"Fara besok, bisakah kita bertemu dengan teman-temanku untuk melakukan barbeque? Mereka mau menemui mu." Ucap Ammar saat kami berdua tengah menonton televisi.


"Iya tentu saja kita bisa pergi. Aku juga tidak sabar untuk bertemu dengan teman-temanmu." Ucapku tersenyum.


...----------------...


Aku menggunakan gaun warna merah tanpa lengan dengan motif bunga dan sebuah jaket berwarna denim sebagai outer nya. Kami pun berangkat ke tempat tujuan kami. Itu adalah tempat pesta barbeque dengan sebuah kolam renang di sisinya. Semua teman-teman Ammar hadir di sana saat kami tiba.


"Faradina..." Ucap sebuah suara yang tidak familiar ditelingaku.


Aku berbalik ke arah sumber suara itu dan tampak seseorang yang familiar tapi sebenarnya tidak terlalu familiar melihat ke arahku.


"Hana?" Ucapku.


"Kalian berdua saling mengenal satu sama lain?" Tanya Ammar dengan wajah yang penuh pertanyaan.


"Iya. Bagaimana mungkin aku melupakan penyelamatku. Dia membantu aku putus dengan mantan kekasihku, Alan." Ucap Hana dan mulai tertawa.


"Alan, kekasihmu saat di sekolah menengah dulu?" Ucap seorang pria yang merupakan teman dari Ammar.


"Lupakan itu, kita bisa mengetahui ceritanya nanti, aku Eva." Ucap seorang gadis lainnya seraya menjulurkan tangannya ke arahku untuk berjabat tangan.


"Hai aku Faradina." Ucapku tersenyum.


"Hai, ini adalah Marlo." Ucap seseorang.


"Aku Leo." Ucap orang lain lagi.


"Bianca." Ucap salah seorang lagi memperkenalkan diri mereka.


"Kita bisa memulai acara barbeque kita sekarang." Ucap Hana dan menarik Leo bersamanya.


Kami duduk dan mengobrol satu sama lain saat Eva berkata, "Bisakah kau mengambilkan aku tusukan daging itu?"


Aku menganggukkan kepalaku dan berjalan ke arah Hana dan Leo. Aku lalu membawa tusukan daging itu untuk Eva. Aku lalu kembali duduk di samping Ammar, saat Eva berkata lagi.


"Tunggu-tunggu.... Bisakah kau mengambil botol Jus itu?"


Aku kembali menganggukkan kepalaku dan berjalan ke arah meja saat Ammar menarik ku dan membuat aku duduk di pangkuannya.


"Bukankah kau punya kaki? Pergilah ambil sendiri." Ucap Ammar.


"Ammar, jangan bicara seperti itu. Itu hanya beberapa meter jaraknya dariku. Aku bisa mengambilnya." Ucapku meyakinkan Ammar.


Eva tertawa dan berdiri lalu mengambil botol jus itu.


"Baiklah, aku bisa melihat bahwa kau begitu peduli kepada istrimu. Aku sangat bangga kepadamu, tetaplah perlakukan istrimu dengan baik." Ucap Eva seraya menunjukan ibu jarinya.


Bianca berjalan ke arah kami dan melihat ke arah kami lalu berkata, "sepertinya Eva berhasil melakukan rencananya."


Saat itu juga aku menyadari bahwa aku tengah duduk di pangkuan Ammar. Aku langsung berdiri dengan cepat dan duduk di sebuah bangku kosong.


"Hmmm..... Pamer kemesraan di ruang publik." Ucap Leo tertawa.


Setelah selesai barbeque, kami berencana untuk pergi karaoke dan Ammar pergi untuk membooking tempat. Aku tetap ikut bersamanya dan kami melihat seorang wanita tua yang dimarahi oleh seorang manajer dan alasannya hanya karena wanita tua itu menampar seorang pemuda yang mempermalukannya di dalam toilet. Aku merasa kasihan kepadanya. Mereka memecat wanita tua itu untuk sebuah kesalahan yang tidak pernah dia ingin lakukan sebenarnya.


"Apakah aku harus memberikan uang kepadanya? Aku merasa kasihan kepadanya." Ucap Ammar.


"Tidak, jangan berikan dia uang. Berikan dia sebuah pekerjaan. Dia punya harga dirinya, jangan pernah merendahkan harga dirinya itu." Ucapku.


Ammar menganggukkan kepalanya, lalu aku berjalan ke arah wanita tua itu.


"Nenek, apakah nenek mau bekerja di rumahku sebagai asisten rumah tangga?" Tanyaku kepadanya.


...****************...


PoV Ammar


Kami berjalan menjauh dari nenek itu setelah memberikan nomor telepon kami dan alamat rumah kami. Kami juga mengatakan kepadanya untuk menelpon kami saat dia memutuskan apa yang akan dia lakukan.


Selanjutnya kami pergi ke ruang karaoke dan mulai menyanyi dan minum. Faradina benar-benar menikmati semuanya. Dia tampak akrab dengan teman-temanku dengan cepat.

__ADS_1


Dia tampak kelelahan dan aku bisa melihat hal itu di wajahnya.


"Apakah kau baik-baik saja? Haruskah kita pulang ke rumah?" Tanyaku kepadanya.


"Tidak, aku hanya ingin pergi ke toilet. Tunggu aku disini." Ucap Fara dan kemudian pergi.


Aku lalu pergi untuk membayar tagihan. Sudah 15 menit berlalu, tapi Fara belum juga kembali dari toilet. Aku rasa bahwa aku harus pergi untuk memeriksa dirinya.


Aku berjalan ke arah ruang karaoke saat melihat Leo dan Bianca tengah berciuman di lorong dan Fara melihat mereka.


'Apa yang akan dia lakukan sekarang?'


Banyak pikiran yang berlari di dalam kepalaku saat Fara tampak berdeham untuk mendapatkan perhatian mereka berdua.


Leo dan Bianca menjadi tersadar akan sekeliling mereka. Mereka langsung berpisah setelah melihat Fara yang menatap mereka berdua.


"Ini bukan seperti apa yang kau pikirkan, aku hanya terjatuh. Jadi bibir kami bersentuhan." Ucap Leo.


"Itu merupakan suatu kebohongan yang bodoh." Ucap Fara melipat tangan ke dadanya.


"Kami minta maaf tentang hal itu. Kami hanya tidak mau kau salah paham atas kami." Ucap Leo.


"Kenapa aku harus salah paham kepada kalian?" Tanya Fara lagi.


"Kami hanya tidak tahu apa yang ada di pikiranmu tentang kami." Ucap Leo.


"Sudahlah itu urusan kalian dan aku tidak mau ikut campur dengan apapun yang kalian lalui." Ucap Fara.


Leo dan Bianca tampak menghela nafas lega. Aku tahu bahwa Fara pasti merasa canggung setelah melihat apa yang mereka berdua lakukan, karena seperti yang Fara ketahui bahwa Bianca justru memiliki hubungan dengan Marlo.


Tiba-tiba aku melihat Fara menaruh tangannya di keningnya, aku dengan cepat berjalan ke arahnya.


"Ada apa?" Tanyaku kepadanya.


"Kepalaku terasa berputar aku bisa melihat 3 dari dirimu." Ucapnya tertawa.


"Apa kau mabuk? Ayo kita pulang ke rumah." Ucapku dan langsung menggendongnya.


"Tidak, aku tidak mabuk. Aku tidak minum apapun. Aku juga belum mengucapkan selamat tinggal kepada teman-teman kita. Bawa aku kepada mereka, lalu kita bisa pulang ke rumah." Ucapnya.


Aku lalu membawa dia masuk ke dalam ruangan karaoke itu, dia pun melambaikan tangannya kepada semua teman-temanku dan aku langsung nelpon sopir untuk segera menjemput kami. Fara langsung tertidur dalam gendonganku.


Tiba di rumah, aku langsung menaruhnya di atas tempat tidur dan menyelimuti tubuhnya. Lalu aku tidur di sisinya kemudian aku memeluknya.


...----------------...


Ini sudah satu minggu setelah kami pindah ke rumah baru kami dan kami berdua berkonsentrasi dengan profesi kami. Tapi kami tetap menghabiskan malam kami dan waktu libur kami bersama. Untuk pertama kalinya aku harus pergi meninggalkan dia untuk melakukan perjalanan bisnis. Tapi aku meyakinkan diriku sendiri mengatakan bahwa itu hanya 3 hari perjalanan dan aku bisa melakukan video call dengannya kapanpun aku merasa ingin melihatnya.


Aku baru saja melewati satu setengah hari dan aku sudah sangat merindukannya. Aku akan menelponnya sekarang.


"Halo Fara." Ucapku.


"Aku merindukanmu." Ucapnya dengan suara yang terdengar begitu pelan.


"Apakah kau baik-baik saja? Suaramu tidak terdengar baik." Ucapku dengan nada yang khawatir.


"Aku hanya merindukanmu, tidak ada masalah lain." Ucap Fara dengan suara yang mulai terdengar menangis.


"Aku juga merindukanmu, jangan menangis." Ucapku padanya dia hanya terdengar terisak.


"Apakah kau benar-benar baik-baik saja? Kau terus saja menangis." Ucapku.


"Semua ini terasa begitu frustrasi bagiku. Aku hanya tidak tahu kenapa aku terus menangis, tangisanku tidak mau berhenti." Ucapnya.


"Baiklah... baiklah... Semuanya akan baik-baik saja. Aku akan pulang besok. Pikirkan tentang bagaimana kita akan menghabiskan waktu 100 hari pernikahan kita." Ucapku kepadanya.


"Mmmm lusa barulah hari jadi pernikahan kita yang ke 100 hari." Ucap Fara tertawa.


"Baiklah jangan menangis, aku harus menutup teleponnya sekarang." Ucapku lalu menutup sambungan telepon itu setelah mendengar jawaban 'iya' darinya.


...----------------...


Akhirnya sekarang aku bisa pergi dan bertemu dengan Fara. Aku masuk ke dalam rumah hanya untuk melihat rumah yang begitu gelap dan dipenuhi dengan banyak lilin yang menerangi rumah. Fara berjalan keluar dari dapur dengan membawa dua piring di tangannya dan menaruhnya di atas meja. Aku bersembunyi di dalam kegelapan dan melihat ke arahnya. Dia berjalan kembali lagi ke arah dapur dan sekarang dia kembali dengan membawa sebotol minuman dan menuangkannya di dalam gelas yang ada di atas meja.


Dia terdengar tengah bersenandung sebuah lagu yang aku tidak terlalu familiar dengan lagu itu. Wajahnya dipenuhi dengan kebahagiaan. Dia tengah mencari sesuatu dan saat dia melihat ponselnya, wajahnya tampak sumringah.


Aku merasakan ponselku bergetar dan aku melihat ke arah pemanggil di layar ponsel ku, dan itu adalah Fara. Aku mengangkat ponsel dan berkata dengan suara yang pelan.


"Halo..." Ucapku.

__ADS_1


"Kapan kau akan kembali?" Tanya Fara padaku.


Aku berjalan ke arah belakangnya dengan perlahan dan berbisik di telinganya.


"Aku di belakangmu."


"Oh ya Tuhan." Ucap Fara melompat dengan ketakutan. "Kau menakuti aku." Ucapnya dan langsung memelukku.


Aku mengusap kepalanya, dia ternyata menyiapkan steak untuk kami. Kami mengobrol sambil makan malam. Dia lalu mengajakku untuk menonton sebuah film dan meminta aku untuk memilih film seperti apa yang ingin kami tonton.


"Bagaimana dengan film horor?" Ucapku kepadanya.


"Tidak, aku akan ketakutan. Selain itu tidak apa-apa." Ucap Fara.


Jadi aku pun memilih film romansa komedi dan duduk di sofa ruang tamu.


"Aku siap." Ucapnya.


"Siap untuk apa?" Tanyaku.


"Siap untuk menghabiskan sisa hidupku bersamamu." Ucapnya.


Aku terkejut dan duduk di sofa bersamanya. Aku merasa begitu bahagia. Aku lalu membaringkannya di sofa dan menciumnya perlahan dan penuh dengan hasrat. Dia mendorong ku dengan perlahan dan meminta aku untuk berhenti. Aku pun menghentikan aktivitasku dan melihat ke arah matanya.


"Tidak di sofa." Ucapnya dengan pipi yang merona.


Aku pun berdiri dan menggendongnya dalam lenganku dan membawa dia ke kamar kami. Aku pun menutup pintu dan menaruh tubuhnya di atas tempat tidur.


...----------------...


Aku terus menatapnya dan hanya Tuhan yang tahu sudah berapa lama aku terus menatapnya seperti itu. Dia tampak begitu cantik saat tertidur. Mungkin ada beberapa orang yang jauh lebih cantik dibandingkan dirinya di dunia ini, tapi bagiku saat ini tidak ada orang lain yang bisa menandingi kecantikannya.


Aku tersenyum seperti orang bodoh melihat ke arah wajahnya yang tertidur. Aku masih membayangkan apa yang sudah kami lalui semalam. Semuanya terasa seperti mimpi bagiku. Kami akhirnya bisa melakukan hubungan itu tepat di hari keseratus pernikahan kami.


Fara membuka matanya dan tampak mengedipkan matanya karena cahaya matahari yang melewati jendela menuju matanya.


"Apa yang sedang kau lihat?" Ucapnya bertanya dengan suara yang masih mengantuk.


"Kau istriku yang menggunakan pakaianku saat tertidur seperti putri yang sangat cantik." Ucapku.


"Benarkah?" Ucapnya.


"Tentu saja kau itu sangat cantik." Balas ku.


Dia pun tersenyum dan menutup matanya lagi. Aku lalu mencium keningnya.


"Itu tidak cukup, peluklah aku." Ucapnya dan aku tertawa kemudian aku memeluknya lagi.


"Bersiaplah sayang. Aku akan membawamu pergi berkencan." Ucapku dan menaruh sebuah kotak hadiah di atas tempat tidur kami dengan sebuah tulisan 'pakai aku'.


Setelah itu aku pun berjalan keluar dari dalam kamar.


...****************...


PoV Faradina


Aku berjalan keluar dari kamar mandi menggunakan handuk mandi dan melihat sebuah kotak hadiah di atas tempat tidur dan aku pun menggunakannya.


Aku pun menggunakannya sesuai dengan instruksi yang dituliskan di kertas itu. Ada sebuah celana jeans berwarna hitam dengan kaos berwarna putih dan jaket dan juga boot heels berwarna hitam serta sepasang anting-anting. Aku membiarkan rambutku terurai tanpa menggunakan aksesoris apapun.


Aku turun ke lantai bawah dan melihat sebuah kertas bertuliskan 'di dalam garasi'.


Aku lalu berjalan ke arah garasi dan di sana tampak Ammar tengah duduk di atas sebuah motor dengan satu tangan nya tengah memegang helm.


Dia memberikan aku helm itu dan berkata, "siap untuk pergi?"


Aku mengambil helm itu dari tangannya dan menganggukkan kepalaku kemudian naik ke atas motor.


Kami lalu mulai melewati jalanan dengan kecepatan yang cukup tinggi. Tempat yang kami kunjungi sedikit gelap dan teduh. Kami mungkin saja sudah berkendara selama 1 jam lebih sebelum motor itu berhenti. Ammar memegang tanganku dan menuntun aku masuk ke dalam hutan.


Ada sebuah meja yang diatur berada di dekat danau dengan lilin yang ada di atasnya dan kami berjalan lalu duduk di kursi. Seorang pelayan yang entah dari mana datangnya mendekat ke arah kami dan menaruh makanan di atas meja.


"Apakah kau suka kencan kita ini?" Tanya Ammar kepadaku.


"Iya tentu saja. Tapi kapan kau menyiapkan semua ini?" Tanyaku kepadanya dengan terkejut.


"Saat kau menangis dan mengatakan bahwa kau merindukan aku." Ucapnya dengan tertawa kecil.


"Oh aku tidak mau berkomentar apapun." Ucapku dan kami berdua pun tertawa bersama.

__ADS_1


Kami lalu kembali ke rumah saat hari sudah sore. Kami lalu menghabiskan waktu kami dengan berpelukan, berciuman dan mengobrol sampai kami akhirnya tertidur lelap.


Bersambung...


__ADS_2